The Block Rockin’ Beats: Momentum Budaya Tandingan

Tulisan ini sejatinya adalah karya Felix Dass berjudul “Dethu dan Program Radio Bali The Block Rockin’ Beats” serta tayang pertama kali di jakartabeat.net pada 29 September 2010. Jakartabeat.net kebetulan memang sedang membahas radio-radio di seluruh Nusantara yang mendedikasi diri khusus untuk rock and roll.

Selain saya ubah tajuknya, artikel ini juga saya sedikit improvisasi dengan menambahkan beberapa gambar pendukung.


Tonite! A Glimpse Journey to the Past!

Radio streaming live: http://111.68.113.198:9850/listen.pls

Tonite! Wednesday, September 29, 2010; 8-10 PM

Upcoming R-n-R Exhibition: DEWA PALGUNA
A Glimpse Journey to the Past

:: Introduction and playlist, written and handpicked by Palguna Himself ::

Perkenalan saya dengan (pe)musik rock terjadi bersamaan dengan “kerja paruh waktu” yang saya lakoni secara mingguan sebagai anak jalanan di Terminal Kereneng lebih dari tiga puluh tahun lalu: menjadi pengasong koran mingguan dan majalah. Dari perkenalan itu berlanjut ke “percintaan” lewat poster-poster yang memenuhi kamar kos saya—seorang anak SMP kelas dua—yang berdinding gedek di sebuah gang sempit di Jalan Plawa, Denpasar Timur, Banjar Pagan Tengah namanya.

Percintaan itu berlanjut menjadi semacam kegilaan: dengan satu blocknote kecil berbentuk dompet yang ada resluiting-nya mulailah pertuangan saya memulung cerita tentang dan sekitar dunia musik dan bintang rock. Satu blocknote setebal dua jari selebar dompet, betapa pun “font” aksara dibuat sangat irit tatkala menulisinya, dalam waktu tiga tahun hanya menyisakan dua lembar kosong untuk saya tulisi. Tetapi dua lembar kosong itu tak kan pernah tersentuh aksara dari tangan saya lagi karena blocknote berwajah dompet itu rupanya menarik perhatian tukang copet. Ya, Anda benar: blocknote itu raib dicopet orang—sudah pasti karena dikira dompet penuh uang—dalam perjalanan antara Muntilan – Borobudur tahun 1981.

Berakhirkah “percintaan” saya dengan musik rock? Sama sekali tidak. 90 % isi “dompet” itu masih saya ingat ketika saya melamar jadi penyiar di radio FM pertama di Bali tahun 1987. Saya ingat betul bagaimana Pak Dedy Sonata, yang mewancarai saya, hampir tak percaya bagaimana dari mulut seorang dosen muda bidang hukum (ya, saat itu saya sudah mulai mengajar di almamater saya, Fakultas Hukum Universitas Udayana) meluncur bak air bah kisah-kisah tentang lagu dan penyanyi rock. Tak perlu berpanjang kata, lamaran saya jadi penyiar tak bertepuk sebelah tangan.

Para rock mania se-”iman,” hidup ini memang mengagumkan, penuh kejutan. Seperti halnya hari ini: enam jam setelah Anda mendengar lagu terakhir dalam playlist ini, ketahuilah bahwa saat itu saya sedang berhadapan dengan 8 orang guru besar dalam bidang ilmu hukum di Universitas Indonesia, Jakarta. Beliau adalah para profesor yang akan menguji saya dalam presentasi seminar hasil penelitian disertasi saya. Siapakah hari ini yang lebih berbahagia dari saya yang bahkan di saat ujian ketika usia telah melampaui kepala empat pun tetap ditemani oleh musik rock?


Sepucuk Ode Buat Kota

*For Indonesian version please click here

Bangkutaman, the indiepop veteran has just released Ode Buat Kota under the label Jangan Marah Records. This is their second full-length album, 7 years after the first one, Love Among The Ruins.

This group originally are from Jakarta. But they started their career when they went to university in Yogya. The name Bangkutaman taken from a place in their University in Yogyakarta where they used to write poems and talk to each other, to sharing their musical interests. Their brilliant reputation came not only from their well-written songs, but also their intense spirit of Do-It-Yourself, which is quite abnormal for a pop band to adopt—and force—into this underground ethos.

With its current formation, J. Irwin (guitar), W. Nugroho (vocal, bass, harmonica), D. Eryanto (drum), the band sing about the dynamics of the city, the business-as-usual of Jakarta life, and how they adapt the new chapter: the natural transformation from being university students to 9-to-5 people.

Don’t miss their performance in Kick Andy, Metro TV, October 1st, 9.30 PM Jakarta time. Or visit their Facebook page by writing “bangkutaman” in its “search” column.


Tonite! Riot Grrrl & Queens of Noise!

Tonite! Wednesday, September 22, 2010; 8-10 PM

Riot Grrrl & Queens of Noise: Yesterday and Today

Jen Smith, personel Bratmobile, di suatu ketika di tahun 1991 pernah bilang, “This summer’s going to be a girl riot” (versi lain menyebutkan “We need to start a girl riot”). Dan tak lama setelahnya, Wolfe serta Molly Neuman bekerjasama dengan Kathleen Hanna + Tobi Vail menerbitkan fanzine Riot Grrrl.

Namun sejatinya pergerakan ini telah dimulai sejak tahun 1990, berpusat di Olympia, Washington, AS. Saat itu Punk Rock sedang melanda Olympia. Etos Do-It-Yourself sungguh diminati para anak mudanya. Perempuan-perempuan yang merasa suaranya kurang terdengar lalu berlomba-lomba mengambil peluang dengan menerbitkan fanzine, mengekspresikan pendapat pribadinya. Lalu di tahun 1991 stasiun radio KAOS di Olympia berinisiatif memberikan ruang kepada para wanita yang resah dengan membuat program Your Dream Girl.

Fenomena Riot Grrrl kemudian direspons baik di International Pop Underground Convention dengan membikin konser khusus musisi perempuan saja pada hari pertama, 20 Agustus 1991, bertajuk Love Rock Revolution Girl Style Now.

Secara musikal para aktivis Riot Grrrl pekat mempraktekkan ideologi Punk Rock yang kecil peduli pada kepiawaian bermain instrumen. Musik mereka terkesan mentah, lo-fi, amatiran. Slogannya: “Play just ’cause you wanna, no matter what”.

Riot Grrrl ini juga amat dekat dengan gerakan feminisme. Isu-isu yang sering diusung adalah mengenai pemerkosaan, pelecehan seksual, KDRT, pengakuan eksistensi lesbian, serta penguatan perempuan. Band-band yang kerap dikaitkan dengan Riot Grrrl di antaranya Bikini Kill, Bratmobile, Heavens to Betsy, Sleater-Kinney, Team Dresch, Excuse 17, Huggy Bear, dsb.

Di edisi BlokRokinBeats kali ini, Riot Grrrl & Queens of Noise: Yesterday and Today, saya pilih artis-artis yang baik secara langsung memang terlibat di skena Riot Grrrl macam Bratmobile, Bikini Kill, Team Dresch, dan Heavens to Betsy; juga kumpulan seniman perempuan yang besar menginspirasi gerakan persamaan derajat di Rock-n-Roll semisal Suzi Quatro, Patti Smith, Chrissie Hynde (Pretenders), Poly Styrene (X-Ray Spex), The Slits, Exene Cervenka (X), Wendy O Williams, Joan Jett, pula Lita Ford; serta sosok-sosok wanita yang walau tak terkait langsung dengan fenomena Riot Grrrl namun tersimak punya peran menonjol, kental kesan pemberontak, in-your-face, bingar lagi bising, di blantika musik seperti Peaches, Brody Dalle (The Distillers), Lesbians On Ecstasy, Kittie, Le Tigre, Shonen Knife, plus lainnya.

“A movement formed by a handful of girls who felt empowered, who were angry, hilarious, and extreme through and for each other. Built on the floors of strangers’ living rooms, tops of Xerox machines, snail mail, word of mouth and mixtapes, riot grrrl reinvented punk”
- Beth Ditto

» Radio streaming live click here


Black and Proud

A low budget videoclip—and pretty bad editing. But totally a great song with ultra sharp lyrics.

♫ Can’t stop the bum rush―no sell out, no sell out ♬


Candy

Beautiful song, amazing duo, and cheesy lyrics—oh, the dance and the dress, they don’t match, as well.

There you go, Iggy Pop and Kate Pierson (she’s from The B-52′s), with Candy


Rock-n-Roll Exhibition: JIMI MULTHAZAM

Edition: September 15, 2010

Rock-n-Roll Exhibition: JIMI MULTHAZAM
Hanya Aku, Musik dan Lantai

:: Introduction and playlist, written and handpicked by Jimi Himself ::?

Semua lagu di list ini, band-nya gue ambil secara asal menurut abjad. Yang gak bikin gue bergoyang gue delete.

Lalu gue setel dengan volume keras. Yoieah!
Semua karya mereka bikin gue jumpalitan, salto, sliding di kamar sendirian.
Ini pesta pribadi, tapi jika elo mau ikut dengan gue…..hayo silakan.

Kalo lagu ini terlalu keras buat kuping elo, tandanya elo udah uzur!
Kalo lo merasa sound mereka busuk, tandanya selera lo bermasalah.
Gak usah mikir susah-susah. Rasakan beat-nya merasuk dalam darah.
Biarkan sound mereka menjalari kulit lo dan biarkan kaki lo zig zag di sela-sela irama yang berhimpitan.


Sampul Album Cadas Monumental: AROUND THE FUR

Around the Fur merupakan album major label kedua Deftones setelah Adrenaline. Dirilis pada 1997, dengan menjagokan singel My Own Summer (Shove It) serta Be Quiet and Drive (Far Away) rekaman ini sanggup mengantarkan kontingen asal Sacramento, California, ini ke eselon terhormat jajaran artis Alternative Metal (bersama Korn, System of a Down, dsb).

Terjual hingga mencapai hampir sejuta kopi, bisa jadi salah satu faktornya ditunjang oleh sampul depannya yang provokatif. Coba simak gambar sebelah kiri.


Alternative Classic Southern-Rock Press

Artikel?mungkin lebih tepat disebut “curhat” (atau malah “curcol”?)?yang membahas migrasi saya dari majalah Alternative Press ke Classic Rock ini sejatinya adalah materi lama, walau tak juga bisa dibilang sudah usang. Sengaja tetap saya tampilkan di situs pribadi saya ini demi mendokumentasikan perspektif yang pernah saya tuangkan agar menjadi lebih rapi, tak lagi berceceran tak beraturan, bisa menjadi arsip yang sahih lagi sinambung.


Tonite! Hanya Aku, Musik dan Lantai!

Tonite! Wednesday, September 15, 2010; 8-10 PM

Upcoming R-n-R Exhibition: JIMI MULTHAZAM
Hanya Aku, Musik dan Lantai

:: Introduction and playlist, written and handpicked by Jimi Himself ::

Semua lagu di list ini, band-nya gue ambil secara asal menurut abjad. Yang gak bikin gue bergoyang gue delete.

Lalu gue setel dengan volume keras. Yoieah!
Semua karya mereka bikin gue jumpalitan, salto, sliding di kamar sendirian.
Ini pesta pribadi, tapi jika elo mau ikut dengan gue…..hayo silakan.

Kalo lagu ini terlalu keras buat kuping elo, tandanya elo udah uzur!
Kalo lo merasa sound mereka busuk, tandanya selera lo bermasalah.
Gak usah mikir susah-susah. Rasakan beat-nya merasuk dalam darah.
Biarkan sound mereka menjalari kulit lo dan biarkan kaki lo zig zag di sela-sela irama yang berhimpitan.

» Radio streaming live click here


designed by: Saylow