<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Rudolf Dethu &#187; Linguistics</title>
	<atom:link href="http://www.rudolfdethu.com/category/languages/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.rudolfdethu.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Sat, 04 Feb 2012 03:36:39 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Terrifically Derelict</title>
		<link>http://www.rudolfdethu.com/2011/02/18/terrifically-derelict/</link>
		<comments>http://www.rudolfdethu.com/2011/02/18/terrifically-derelict/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 18 Feb 2011 10:43:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rudolf Dethu</dc:creator>
				<category><![CDATA[Linguistics]]></category>
		<category><![CDATA[Languages]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.rudolfdethu.com/?p=5239</guid>
		<description><![CDATA[This small yet unique question and answer between Devendra Banhart and Joanna Newsom was originally published on Uncut mag, Take 164, January 2011; right after Newsom's <i>Have One On Me</i> won Uncut's Album of the Year.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.rudolfdethu.com/wp-content/uploads/2011/02/DevendraBanhart.jpg" ><img class="alignnone size-full wp-image-5240"  title="DevendraBanhart"  src="http://www.rudolfdethu.com/wp-content/uploads/2011/02/DevendraBanhart.jpg"  alt=""  width="300"  height="199" /></a></p>
<p><strong>Devendra Banhart</strong>: Next to yours, any great linguist&#8217;s vocabulary looks Lilliputian. Do you remember what your first favourite word was? And what is your current favourite word?<br/>
<a href="http://www.rudolfdethu.com/wp-content/uploads/2011/02/JoannaNewsom.jpg" ><img class="alignnone size-full wp-image-5241"  title="JoannaNewsom"  src="http://www.rudolfdethu.com/wp-content/uploads/2011/02/JoannaNewsom.jpg"  alt=""  width="350"  height="244" /></a></p>
<p><strong>Joanna Newsom</strong>: Hah! I remember for a long time my favourite word was "derelict". Because I really like the Webster&#8217;s dictionary definition of it. It was highly&#8212;and probably accidentally&#8212;poetic. It had multiple layers of meaning, and I liked them all. Nowadays I kinda like the adverb "terrifically", not for any poetic reason, but because classy old men use that word a lot. When they use it in the sense of: "Oh, I was terrifically drunk."<br/>
I remember a documentary on the Mamas And The Papas, where David Crosby was being interviewed, and he said that Mama Cass was "terrifically fat". It&#8217;s so incredibly disparaging, but the word "terrifically" gives it some odd quaint feel. I find that hilarious.</p>
<p>__________________</p>
<p><strong><span style="color: #0000ff;" >*</span></strong><small>This question and answer between musicians was originally published on Uncut mag, Take 164, January 2011; right after Joanna Newsom&#8217;s <em>Have One On Me</em> won Uncut&#8217;s Album of the Year</small></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.rudolfdethu.com/2011/02/18/terrifically-derelict/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hikayat Pemakzulan &amp; Senggama Terputus</title>
		<link>http://www.rudolfdethu.com/2010/11/11/hikayat-pemakzulan-senggama-terputus/</link>
		<comments>http://www.rudolfdethu.com/2010/11/11/hikayat-pemakzulan-senggama-terputus/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 11 Nov 2010 01:26:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rudolf Dethu</dc:creator>
				<category><![CDATA[Linguistics]]></category>
		<category><![CDATA[Languages]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.rudolfdethu.com/?p=4478</guid>
		<description><![CDATA[Mencabut alat kemaluan sesaat sebelum ejakulasi alias <i>coitus interruptus</i> ternyata, dahulu kala, pernah bermakna serupa dengan "pemakzulan". Karena pada dasarnya, <i>'azl</i> (bahasa Arab), berarti mencabut. Entah mencabut seseorang dari tanah airnya (mengasingkan) entah mencabut penis dari vagina. 

Silakan baca argumen Qaris Tajudin di halaman dalam, ketika ia mencoba memberi sudut pandang berbeda terhadap tulisan Saidi A. Xinnalecky di edisi Tempo sebelumnya: <i>Hikayat Pemakzulan</i>.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sejawat Patriot Bahasa Indonesia,</p>
<p>Mencabut alat kemaluan sesaat sebelum ejakulasi alias <em>coitus interruptus</em> ternyata, dahulu kala, pernah bermakna serupa dengan "pemakzulan". Karena pada dasarnya, <em>&#8216;azl</em> (bahasa Arab), berarti mencabut. Entah mencabut seseorang dari tanah airnya (mengasingkan) entah mencabut penis dari vagina.</p>
<p>Silakan baca argumen Qaris Tajudin di bawah ini, ketika ia mencoba memberi sudut pandang berbeda terhadap tulisan Saidi A. Xinnalecky di edisi Tempo sebelumnya: <em><a href="http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2010/10/25/BHS/mbm.20101025.BHS134895.id.html" >Hikayat Pemakzulan</a></em>.<br/>
<a href="http://www.rudolfdethu.com/wp-content/uploads/2010/11/QT-01-mnpg.jpg" ><img class="alignnone size-full wp-image-4479"  title="QT-01-mnpg"  src="http://www.rudolfdethu.com/wp-content/uploads/2010/11/QT-01-mnpg.jpg"  alt=""  width="225"  height="312" /></a></p>
<p><strong>MAKZUL</strong><br/>
<strong>Qaris Tajudin</strong></p>
<p>"<em>Impeachment</em> bukan pemakzulan." Demikian Saidi A. Xinnalecky memulai tulisannya di rubrik ini dalam kolom berjudul "Hikayat Pemakzulan" (<em>Tempo</em>, 25-31 Oktober 2010). Xinnalecky mengatakan kata <em>makzul</em> tidak tepat untuk menggantikan impeachment karena dalam bahasa aslinya (Arab) <em>makzul</em> tidak berarti menurunkan penguasa.</p>
<p>Ada banyak dalil yang ia utarakan, termasuk mengutip pengertian kata <em>&#8216;azala</em> (kata kerja dari <em>ma&#8217;zul</em>) di kamus-kamus bahasa Arab. Karena itu, Xinnalecky mengusulkan pencarian kata selain <em>pemakzulan</em> untuk menerjemahkan <em>impeachment</em>.</p>
<p>Ada banyak yang benar dari hujahnya, tapi tak sedikit juga yang kurang tepat. Untuk mengetahui ketidaktepatan itu, kita bisa memakai dua pertanyaan sebagai alat bantu. Pertama: benarkah orang Arab tidak memakai kata <em>ma&#8217;zul</em> (bentukan dari kata kerja <em>&#8216;azala</em>) dengan arti menurunkan penguasa dari kekuasaannya?</p>
<p>Pertanyaan kedua: kalaupun itu benar, apakah kita harus mengikuti makna asli makzul dalam bahasa Arab? Apakah kata serapan itu tak boleh memiliki makna sendiri saat berganti "paspor"?</p>
<p>Mari kita jawab pertanyaan pertama. Xinnalecky tidak salah saat mengatakan bahwa di teks-teks kuno&#8212;termasuk <em>Maqtal al-Husain</em> yang dikutipnya&#8212;kata <em>ma&#8217;zul</em> dipakai dengan arti mengasingkan. Tapi itu bukan satu-satunya arti. Dalam buku fikih kuno, kata <em>&#8216;azl</em> justru populer dengan arti <em>coitus interruptus</em>: mencabut alat kemaluan menjelang ejakulasi. Maklum, di masa itu tak ada kondom dan pil KB (keluarga berencana). Intinya, makna asli dari <em>&#8216;azl</em> adalah mencabut, entah mencabut seseorang dari tanah airnya (mengasingkan) entah mencabut alat kemaluan.</p>
<p>Jika Xinnalecky melanjutkan bacaannya pada buku-buku politik modern atau koran abad ke-21 (plus situs kantor berita asing berbahasa Arab), dia akan mendapatkan kata <em>&#8216;azl</em> yang berarti mencabut penguasa dari kursi kekuasaannya. Hal ini bisa dilihat dari berita <em>Reuters</em> (bahasa Arab) pada 25 Oktober lalu. Judul berita itu mengatakan, "<em>Haakim Afghani saabiq yaquul innahu &#8216;uzila li-intiqadihi Iran</em>." Artinya: "Mantan penguasa Afganistan mengatakan dia dimakzulkan (<em>&#8216;uzila</em>) karena kritis terhadap Iran."</p>
<p>Demikian juga dengan berita di situs <em>Aljazeera.net</em> pada 2 Juli 2010, tentang pemecatan seorang gubernur di Yaman. Situs itu juga memakai kata <em>&#8216;azala</em> dengan arti memecat. Itulah mengapa kata tersebut terkadang dipakai untuk menerjemahkan kata <em>impeachment</em>, terutama saat sang penguasa bisa digulingkan (saat masih berupa tuduhan, <em>makzul</em> kurang cocok dipakai).</p>
<p>Seharusnya, dengan jawaban pertanyaan pertama itu, kita tak perlu lagi menjawab pertanyaan kedua ("apakah kita harus mengikuti makna asli <em>makzul</em> dalam bahasa Arab?"). Toh, <em>makzul</em> dalam bahasa Indonesia bermakna sama dengan <em>ma&#8217;zul</em> dalam bahasa Arab: penggulingan penguasa. Tapi mari kita kini berandai-andai. Seandainya kata <em>ma&#8217;zul</em> dalam bahasa Arab itu tidak berarti penggulingan penguasa, apakah kita tidak bisa mengartikan <em>makzul</em> sebagai <em>impeachment</em>?</p>
<p>Menurut saya, setiap kata yang berganti kewarganegaraan (diserap) akan bebas diartikan berbeda. Jika terpaku pada makna asli, kita akan membongkar <em>Kamus Besar Bahasa Indonesia</em> habis-habisan. Contohnya kata "kalimat" (<em>kalimah</em>). Dalam bahasa Arab, kalimah berarti "kata" (<em>word</em> dalam bahasa Inggris), bukan susunan kata yang ditutup dengan titik. Kalimat (<em>sentence</em>) dalam bahasa Arab adalah <em>jumlah</em>.</p>
<p>Yang harus dihapus juga dari kamus bahasa Indonesia adalah kata "madrasah aliyah". Di dunia Arab mana pun&#8212;dari Maroko sampai Madinah&#8212;tidak ada SMA yang namanya "madrasah aliyah". Di sana, SMA (Islam, sekuler, Kristen) disebut "madrasah tsanawiyah".</p>
<p>Kata <em>makzul</em> memang tidak pas seratus persen untuk mengartikan <em>impeachment</em> secara tekstual. Tapi tak salah juga bila ada yang menulis berita berjudul: "Anggota DPR Ingin <em>Memakzulkan</em> Presiden Susilo Bambang Yudhoyono".</p>
<p>___________________</p>
<p><span style="color: #0000ff;" ><strong>*</strong></span><small>Artikel ini dipinjampakai dari majalah Tempo edisi 8-14 November 2010</small></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.rudolfdethu.com/2010/11/11/hikayat-pemakzulan-senggama-terputus/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Disodomi Genderuwo</title>
		<link>http://www.rudolfdethu.com/2010/10/15/disodomi-genderuwo/</link>
		<comments>http://www.rudolfdethu.com/2010/10/15/disodomi-genderuwo/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 15 Oct 2010 01:04:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rudolf Dethu</dc:creator>
				<category><![CDATA[Linguistics]]></category>
		<category><![CDATA[Languages]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.rudolfdethu.com/?p=4142</guid>
		<description><![CDATA[Berikut adalah sebuah tulisan menarik oleh Eric Sasono, seorang kritikus film, yang dimuat di majalah Tempo edisi Maret 2010 silam. Eric, yang juga redaktur <a href="http://www.rumahfilm.org">www.rumahfilm.org</a>, menelisik isu linguistik, tentang seberapa "tembak langsung" judul film ini: <i>Diperkosa Setan</i>.

Memang, makin ke sini para penggiat film lokal tersimak makin berani. Tak hanya terang-terangan mengajakserta bintang film porno sebagai pemicu atensi---sudah pasti berujung riuh kontroversi---tapi juga blak-blakan di urusan memberi judul sinemanya. Eksotika bahasa, akrobat cantik demi menghasilkan titel yang bernas bahkan beradab bukan lagi menjadi prioritas. Komunikasi, antara pembikin dan penyuka film, cenderung satu arah, nihil basa-basi. Di perkara pemberian tajuk, yang lebih dikedepankan justru sisi sensasi. Jika di masa lalu masih mencoba berimprovisasi cukup sopan lalu menyorongkan sebatas <i>Gairah Malam</i> serta <i>Ranjang Yang Ternoda</i>, kini makin miskin estetika sama sekali. Coba perhatikan: <i>Diperkosa Setan</i>. Bukan mustahil dalam waktu dekat akan kian berani lagi, tiada tedeng aling-aling lagi, bombastis skala paling maksi: <i>Disodomi Genderuwo</i>.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sejawat Patriot Bahasa Indonesia,</p>
<p>Berikut adalah sebuah tulisan menarik oleh Eric Sasono, seorang kritikus film, yang dimuat di majalah Tempo edisi Maret 2010 silam. Eric, yang juga redaktur <a href="http://www.rumahfilm.org" >www.rumahfilm.org</a>, menelisik isu linguistik, tentang seberapa "tembak langsung" judul film ini: <em>Diperkosa Setan</em>.</p>
<p>Memang, makin ke sini para penggiat film lokal tersimak makin berani. Tak hanya terang-terangan mengajakserta bintang film porno sebagai pemicu atensi&#8212;sudah pasti berujung riuh kontroversi&#8212;tapi juga blak-blakan di urusan memberi judul sinemanya. Eksotika bahasa, akrobat cantik demi menghasilkan titel yang bernas bahkan beradab bukan lagi menjadi prioritas. Komunikasi, antara pembikin dan penyuka film, cenderung satu arah, nihil basa-basi. Di perkara pemberian tajuk, yang lebih dikedepankan justru sisi sensasi. Jika di masa lalu masih mencoba berimprovisasi cukup sopan lalu menyorongkan sebatas <em>Gairah Malam</em> serta <em>Ranjang Yang Ternoda</em>, kini makin miskin estetika sama sekali. Coba perhatikan: <em>Diperkosa Setan</em>. Bukan mustahil dalam waktu dekat akan kian berani lagi, tiada tedeng aling-aling lagi, bombastis skala paling maksi: <em>Disodomi Genderuwo</em>.<br/>
<a href="http://www.rudolfdethu.com/wp-content/uploads/2010/10/EricSasono.jpg" ><img class="alignnone size-full wp-image-4143"  title="EricSasono"  src="http://www.rudolfdethu.com/wp-content/uploads/2010/10/EricSasono.jpg"  alt=""  width="200"  height="300" /></a></p>
<p><strong>DIPERKOSA SETAN<br/>
Eric Sasono</strong></p>
<p>Akhirnya muncul juga judul film seperti judul tulisan di atas ini. Judul ini mengandung sekaligus empat unsur daya tarik dasar sebuah film: kekerasan, seks (pada kata "perkosa"), horor ("setan"), serta kisah fantastis (setan memperkosa). Kisah fantastis&#8212;bedakan dengan fantasi&#8212;seperti kata kritikus sastra Tzvetzan Todorov (1970), adalah ketika figur supernatural mengambil peran penting dalam mayapada kekisahan yang nyata.</p>
<p>Perpaduan unsur macam ini bisa jadi sudah ditemukan dalam banyak film lain di Indonesia, tetapi memasukkan semuanya sebagai judul tanpa tedeng aling-aling bisa jadi merupakan sebuah fenomena baru. Pada pertengahan dekade 1990, film Indonesia juga pernah punya judul yang langsung pada pokok soal (ketika itu, pokok soalnya adalah seks) seperti <em>Gairah Malam</em>, <em>Limbah Asmara</em>, dan <em>Ranjang Yang Ternod</em>a. Ada dua perbedaan judul film lawas tahun 1990-an itu dengan judul kontemporer macam <em>Tali Pocong Perawan</em>, <em>Suster Keramas</em>, <em>Hantu Binal Jembatan Semanggi</em>, atau <em>Hantu Puncak Datang Bulan</em> (yang akhirnya dipermasalahkan dan kemudian beredar dengan judul lain) atau <em>Diperkosa Setan</em> itu tadi.</p>
<p>Pertama, judul film-film lawas itu kalah dalam soal kelengkapan unsur. Mereka tak punya unsur horor dan fantasi sekaligus, padahal film <em>Gairah Malam</em>, misalnya, tergolong film dengan kisah fantastis, tepatnya film laga. Kedua, film dekade 1990 masih punya lingua poetica; masih ada usaha membuat judul itu lebih artistik. Perhatikan penggunaan kata "asmara" yang merupakan diksi&#8212;puitis, atau penggunaan kata sifat&#8212;"ternoda" ketimbang kata benda "noda" untuk menimbulkan kesan dramatis: noda itu ada di sana akibat sebuah proses panjang yang terjadi sebelumnya. Bandingkanlah dengan pilihan kata dan frasa yang maknanya lebih denotatif pada film belakangan ini seperti "perawan" atau "datang bulan" dan puncaknya: "diperkosa".</p>
<p>Coba bayangkan, betapa beratnya usaha membuat orang keluar dari rumah agar mau membeli tiket bioskop dan menghabiskan waktu sekitar dua jam di sana. Maka diambillah jalan pintas dengan membuat judul yang sebisa mungkin membuang "basa-basi" semacam lingua poetica atau aspek artistik lainnya. Bisa jadi judul-judul ini menarik perhatian, tapi belum tentu mengundang penonton. Yang lebih tertarik pada judul itu malahan para agamawan (tepatnya ulama). MUI Samarinda, misalnya, menyatakan kata "keramas" pada judul <em>Suster Keramas</em> mendatangkan konotasi bahwa sang suster itu baru saja "mandi junub" (keramas&#8212;dalam bahasa sehari-hari). Seandainya film <em>Hantu Puncak</em> diganti judulnya tanpa kata "datang bulan", pesan pendek berbau ancaman kepada pengelola bioskop yang akan memutarnya tak akan bermunculan.<br/>
<a href="http://www.rudolfdethu.com/wp-content/uploads/2010/10/DiperkosaSetan-mnpg.jpg" ><img class="alignnone size-full wp-image-4144"  title="DiperkosaSetan-mnpg"  src="http://www.rudolfdethu.com/wp-content/uploads/2010/10/DiperkosaSetan-mnpg.jpg"  alt=""  width="175"  height="243" /></a></p>
<p>Judul memang menentukan. Tapi bukan hanya dalam soal laku-tidak-nya film, melainkan juga sebagai pintu masuk bagi tanggapan terhadap film. Sekalipun film adalah representasi, yaitu rangkaian pilihan bebas para pembuat film dalam menyusun ulang kenyataan, tetap saja film diserap sebagai refleksi, yaitu cermin dari kenyataan. Berdasarkan refleksi ini kita ingat Aa Gym dulu marah lantaran film <em>Buruan Cium Gue</em> ia rasa tak menggambarkan perilaku remaja Indonesia sesungguhnya. Ya memang tidak, karena gambaran remaja di film itu karangan para pembuat film saja.</p>
<p>Inilah sebenarnya jebakan sensasi bahasa yang sedang dihasil-kan oleh sebagian pembuat film lewat judul-judul itu. Kita jadi mencurahkan perhatian buat judul belaka, padahal isinya tak ada apa-apanya dibanding DVD porno bajakan yang ditawarkan di bawah jembatan Glodok, Jakarta, sambil menarik-narik tangan calon pembeli. Artinya, kita sedang membicarakan pepesan kosong, ketika pelanggaran hukum di depan mata dibiarkan, sementara kesalahpahaman lantaran judul bikin kita jadi ancam-mengancam. Sekalipun saya mengerti orang lapar digoda terus-menerus dengan bau pepesan kosong bisa marah, saya tetap merasa bentuk kemarahan dengan ancam-mengancam sedang memajalkan kemampuan kita berdemokrasi.</p>
<p>Ada dampak sensasionalisme ini terhadap kehidupan kita bersama. Dengan ketidakdewasaan bersama yang dimiliki oleh sang penghasil judul maupun yang menerimanya, kita berhadapan dengan kesalahpahaman yang saling dipelihara dan pembangunan wacana yang berjalan makin lama makin berjauhan.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.rudolfdethu.com/2010/10/15/disodomi-genderuwo/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>What The Goddamn F-k Is Wrong With You? Your Grammar Makes Me [Sic]!</title>
		<link>http://www.rudolfdethu.com/2010/07/19/what-the-goddamn-f-k-is-wrong-with-you-your-grammar-makes-me-sic/</link>
		<comments>http://www.rudolfdethu.com/2010/07/19/what-the-goddamn-f-k-is-wrong-with-you-your-grammar-makes-me-sic/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 19 Jul 2010 00:15:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rudolf Dethu</dc:creator>
				<category><![CDATA[Linguistics]]></category>
		<category><![CDATA[Languages]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.rudolfdethu.com/?p=2168</guid>
		<description><![CDATA[A new, interesting, in-your-face, razor-sharp, ghetto-smart way to learn linguistics]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.rudolfdethu.com/wp-content/uploads/2010/07/WhatGFWrong.jpg" ><img class="alignnone size-full wp-image-2169"  title="WhatGFWrong"  src="http://www.rudolfdethu.com/wp-content/uploads/2010/07/WhatGFWrong.jpg"  alt=""  width="400"  height="545" /></a></p>
<p>A new, interesting, in-your-face, razor-sharp, ghetto-smart way to learn linguistics. Totally f-king beautiful.</p>
<p>Read more <a href="http://wearevane.com/lifestyle/2010/05/28/what-the-goddam-fuck-is-wrong-with-you/" >here</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.rudolfdethu.com/2010/07/19/what-the-goddamn-f-k-is-wrong-with-you-your-grammar-makes-me-sic/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>QT: Aku, Chairil Anwar, dan Cinta Laura</title>
		<link>http://www.rudolfdethu.com/2010/04/16/qt-aku-chairil-anwar-dan-cinta-laura/</link>
		<comments>http://www.rudolfdethu.com/2010/04/16/qt-aku-chairil-anwar-dan-cinta-laura/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 16 Apr 2010 15:48:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rudolf Dethu</dc:creator>
				<category><![CDATA[Linguistics]]></category>
		<category><![CDATA[Languages]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.rudolfdethu.com/?p=1270</guid>
		<description><![CDATA[Sejawat Penyuka Bahasa Indonesia, Ini ada tulisan menggelitik dari Qaris Tajudin yang saya pinjam-pakai dari rubrik "Bahasa!" majalah Tempo, edisi 18 Agustus 2008. Qaris, sang Redaktur Halaman Nasional Koran Tempo, amat jeli mengamati&#8212;sekaligus menguliti&#8212;gejala sosial kecil nan signifikan yang sedang terjadi di keseharian kita. Pria tamatan universitas di Kairo ini ultra cermat membaca dinamika di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sejawat Penyuka Bahasa Indonesia,</p>
<p>Ini ada tulisan menggelitik dari Qaris Tajudin yang saya pinjam-pakai dari rubrik "Bahasa!" majalah Tempo, edisi 18 Agustus 2008. Qaris, sang Redaktur Halaman Nasional Koran Tempo, amat jeli mengamati&#8212;sekaligus menguliti&#8212;gejala sosial kecil nan signifikan yang sedang terjadi di keseharian kita. Pria tamatan universitas di Kairo ini ultra cermat membaca dinamika di sekelilingnya. Coba saja baca.</p>
<p><a href="http://www.rudolfdethu.com/wp-content/uploads/2010/04/QarisTajudin-AkuCintaChairil.jpg" ><img class="alignnone size-full wp-image-1271"  title="QarisTajudin-AkuCintaChairil"  src="http://www.rudolfdethu.com/wp-content/uploads/2010/04/QarisTajudin-AkuCintaChairil.jpg"  alt=""  width="350"  height="465" /></a></p>
<p style="text-align: center;" ><a href="http://www.rudolfdethu.com/wp-content/uploads/2010/04/QarisTajudin-AkuCintaChairil.jpg" ><br/>
</a>____________________</p>
<p style="text-align: center;" ><strong>Aku, Chairil Anwar, dan Cinta Laura</strong></p>
<p>Enam puluh lima tahun lalu Chairil Anwar menulis puisi yang kemudian dikenang sepanjang masa: Aku. Ada keangkuhan pada kalimat "Aku ini binatang jalang". "Aku" dan bukannya "saya" yang dia pilih untuk kata ganti orang pertama, karena Chairil memang ingin menegaskan keangkuhan itu. "Saya" tidak dapat menjalankan tugas menepuk dada, seperti yang "aku" lakukan. "Aku" adalah "saya" dengan ego yang meluber.<span id="more-1270" ></span></p>
<p>Kata ganti orang pertama yang beragam ini memang keunikan bahasa Indonesia (atau Melayu) yang tidak dimiliki sebagian besar bahasa lain. Bahasa daerah yang bertingkat, seperti Jawa dan Sunda, memiliki beberapa kata ganti orang pertama. Bedanya, pemilihan kata tersebut tidak berdiri sendiri, tapi satu paket dengan pemilihan tingkat bahasa, seperti ngoko atau kromo inggil. Yang ada bukan perbedaan makna, melainkan perbedaan tingkat kehalusan bahasa.</p>
<p>Dalam bahasa Indonesia, selain "saya" yang netral dan "aku" yang angkuh, ada "hamba" yang dipakai untuk merendahkan diri. "Hamba" untuk menunjuk orang pertama sudah tak lagi digunakan seiring dengan hilangnya kerajaan dan pengaruh keraton. Tapi, di Kerajaan Malaysia, saat berbicara dengan Yang Dipertuan Agong, masih ada orang yang memakai kata "hamba" untuk menunjuk dirinya.</p>
<p>Di Indonesia, "hamba" memang tidak dipakai lagi untuk kata ganti orang pertama. Maknanya kembali menyempit menjadi budak. Sedangkan "aku" dan "saya" tetap bertahan. Masalahnya, meski masih bertahan, ada perubahan makna yang luar biasa. Terutama untuk "aku". "Aku" Chairil Anwar 65 tahun lalu jauh berbeda, bahkan benar-benar bertolak belakang, dengan "aku" milik generasi Cinta Laura.</p>
<p>Saat Chairil memilih "aku" untuk mewakili dirinya, kita tahu ada keangkuhan, ketegaran, dan ketidakinginan untuk dikalahkan di sana. Tapi, saat Cinta Laura mengatakan "aku" (Cinta memang selalu memakai "aku", bukan "saya"), yang tertangkap adalah kemanjaan remaja belasan tahun. Bukan keliaran, tapi kegemasan. Kesan ini tidak hanya dapat kita tangkap saat Cinta yang mengatakannya, tapi juga saat remaja perempuan lain mengatakan hal yang sama.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.rudolfdethu.com/2010/04/16/qt-aku-chairil-anwar-dan-cinta-laura/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>ESF: Titik Dua</title>
		<link>http://www.rudolfdethu.com/2010/04/10/efs-titik-dua/</link>
		<comments>http://www.rudolfdethu.com/2010/04/10/efs-titik-dua/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 10 Apr 2010 01:11:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rudolf Dethu</dc:creator>
				<category><![CDATA[Linguistics]]></category>
		<category><![CDATA[Languages]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.rudolfdethu.com/?p=1262</guid>
		<description><![CDATA[Sejawat Penyuka Bahasa Indonesia,

Berikut adalah tulisan nan menggelitik bertajuk <i>Titik Dua</i> dari Eep Saefulloh Fatah yang dimuat di majalah Tempo edisi 12 Januari 2009 di kolom Bahasa.

Eep, selain merupakan pengamat politik muda yang bernas adalah juga suami mutakhir dari Sandrina Malakiano (para lelaki Bali seumuran anggota boyband New Kids On The Block pasti tahu siapa wanita cantik dan pintar ini). Eep kali ini pecicilan soal kebahasaan. <i>And he does it well. Really well.</i>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sejawat Penyuka Bahasa Indonesia,</p>
<p>Berikut adalah tulisan nan menggelitik bertajuk <em>Titik Dua</em> dari Eep Saefulloh Fatah yang dimuat di majalah Tempo edisi 12 Januari 2009 di kolom Bahasa.</p>
<p><a href="http://www.rudolfdethu.com/wp-content/uploads/2010/04/EepSaefullohFatah.jpg" ></a><a href="http://www.rudolfdethu.com/wp-content/uploads/2010/04/EepSaefullohFatah.jpg" ><img class="alignnone size-full wp-image-1263"  title="EepSaefullohFatah"  src="http://www.rudolfdethu.com/wp-content/uploads/2010/04/EepSaefullohFatah.jpg"  alt=""  width="350"  height="482" /></a></p>
<p>Eep, selain merupakan pengamat politik muda yang bernas adalah juga suami mutakhir dari Sandrina Malakiano (para lelaki Bali seumuran anggota boyband New Kids On The Block pasti tahu siapa wanita cantik dan pintar ini). Eep kali ini pecicilan soal kebahasaan. <em>And he does it well. Really well</em>.</p>
<p style="text-align: center;" >____________________</p>
<p style="text-align: center;" ><strong><br/>
TITIK DUA</strong></p>
<p>Setiap kali mengirim kolom untuk media massa, saya selalu mencemaskan nasib "titik dua" saya. Sangat sering terjadi, sang "titik dua" tak jadi muncul dalam kolom yang diumumkan ke khalayak. Ia dihabisi para editor. Malang nian nasibnya.</p>
<p>Padahal, sebagai penulis kolom, saya menggemari titik dua. Bagi saya, ia wakil terbaik dari gagasan ekonomi kata sekaligus penggaris bawah yang efektif.</p>
<p>Dengan tampilan bersahaja, titik dua mampu menggantikan banyak alat ungkap bahasa yang lebih boros: yaitu, yakni, adalah, berikut ini, sebagai berikut, seperti terinci berAikut, sebagaimana terpapar berikut, sebagaimana tergambar berikut ini. Sumbangannya pada ekonomi kata pun bukan main.</p>
<p>Ia juga alat penggarisbawahan nan tandas. Ketika kita hendak memaparkan tiga pokok pikiran utama, sekadar misal, titik dua bisa dipakai pada alinea pembuka paparan itu. Di situ, titik dua berfungsi menggarisbawahi secara ringkas bahwa ketiga hal yang hendak kita paparkan itu penting belaka. Ia juga membantu pembaca untuk tak tersesat, tetap terikat pada sang pokok pikiran utama.</p>
<p>Karena itulah saya menggemariAnya. Sebuah kolom mesti cerdas bersiasat dengan keterbatasan ruang halaman surat kabar dan majalah. Semakin canggih siasat itu semakin lebar peluang pengelanaan gagasan di tengah keringkasan sebuah kolom. Di sinilah kita bersua guna titik dua.</p>
<p>Perkenalan saya dengan titik dua terjadi sejak guru bahasa Indonesia di sekolah dasar mulai mengajari kami bermahir-mahir dengan tanda baca. Namun pertemanan dekat saya dengannya mulai terbangun ketika menjalani sekolah menengah atas. Goenawan Mohamad adalah sang mak comblang. Waktu itu saya mulai teratur membaca majalah Tempo,A sekalipun selalu telat dua pekan karena saya membelinya di kios majalah bekas.</p>
<p>Saya pun mulai lumayan teratur membaca Catatan Pinggir sambil sesekali tak memahaminya. Di sinilah saya kerap bertemu dengan titik dua yang ditampilkan Goenawan dalam bentuk terbaiknya: meringkas sekaligus menggarisbawahi paparan. Goenawan mengubah pandangan saya tentang titik dua dari sekadar tanda baca biasa menjadi perangkat penting seorang penulis.</p>
<p>Titik dua menjelma menjadi azimat sakti pelawan pemborosan kata&#8212;sang musuh besar media massa di era serba cepat dan ringkas sekarang ini. Maka, dalam posisi ini, titik dua secara teoretis selayaknya menjadi teman baik para penulis dan editor kolom surat kabar dan majalah.</p>
<p>Tapi, itulah. Kadang kala praktek tak selalu sesuai dengan teori. Musuh terbesar saya justru para editor itu. Mereka lumayan senang membunuhi titik dua saya dan menggantinya dengan "yaitu" atau "yakni" atau "sebagai berikut". Alih-alih menyokong ekonomi kata, para editor itu menghambur-hamburkan empat hingga 16 karakter dalam sekali tebasan penyuntingan.</p>
<p>Saya pun senantiasa mencemaskan titik dua saya setiap kali mengirimkan kolom. Hingga tulisan ini dibuat, kecemasan itu selalu tersimpan dalam senyap hati. Agak tak nyaman jika acap kali mengirim kolom saya harus memberi editor catatan, "Tolong, jangan buang titik dua saya. Saya sungguh menyukainya."</p>
<p>Pertanyaannya, mengapa titik dua tak terlampau digemari bahkan di kalangan yang semestinya menjadi penganut paling fanatik gagasan ekonomi kata? Mengapa alat peringkas kata dan penandas gagasan ini gampang terpinggirkan?</p>
<p>Saya khawatir tak bakal mampu memberikan jawaban spesifik. Tapi saya duga ini berkait dengan kecenderungan umum dalam berbahasa Indonesia: menghindar yang ringkas-ringkas, senang berpanjang-panjang.</p>
<p>Dibandingkan dengan bahasa Inggris, misalnya, bahasa Indonesia tak punya banyak "wakil tunggala&euro;", yakni satu kata untuk menggambarkan sebuah gejala. Banyak gejala mesti dijelaskan dengan satu rumpun kata yang terkadang berupa sebuah frasa panjang.</p>
<p>Dalam tataran bahasa lisan, gejala ini bahkan lebih tegas. Agak sulit menemukan seorang pembicara, pembicara publik paling mahir sekalipun, sebagai pengguna bahasa Indonesia yang ringkas dan padat sekaligus penyampai pesan yang efektif.</p>
<p>Pemanjangan paparan atau pemborosan kata dibentuk oleh banyak hal, dari upaya penghalusan (eufemisme) hingga dramatisasi (hiperboAlisme). Namun, apa pun pembentuknya, saya yakin perlawanan atasnya harus dimulai oleh para pengguna bahasa di garda terdepan, terutama para pelaku media.</p>
<p>Media memiliki peranan genting membangun dan mendinamisasi bahasa. Bukankah hikayat Tempo senAdiri membuktikannya? Media punya peranan penting memfasilitasi komunitas dan masyarakat secara luas untuk bekerja bersama mematangkan bahasa. Bukankah setiap bahasa di mana saja tak pernah dibangun sekali untuk selamanya?</p>
<p>Setidaknya, manakala media massa sudah semakin sadar akan peran genting dan pentingnya itu, saya tak perlu lagi mencemaskan sang "titik dua" acap kali melayangkan sepucuk kolom.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.rudolfdethu.com/2010/04/10/efs-titik-dua/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Anagrammatic Pop Pseudonym</title>
		<link>http://www.rudolfdethu.com/2009/09/07/anagrammatic-pop-pseudonym/</link>
		<comments>http://www.rudolfdethu.com/2009/09/07/anagrammatic-pop-pseudonym/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 07 Sep 2009 14:33:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rudolf Dethu</dc:creator>
				<category><![CDATA[Linguistics]]></category>
		<category><![CDATA[Music & Art]]></category>
		<category><![CDATA[Rock-n-Roll Trivia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.rudolfdethu.com/?p=78</guid>
		<description><![CDATA[Tahukah anda bahwa Iggy Pop saat lahir oleh ibunya diberi nama James Newell Osterberg, Jr; dan Nikki Sixx dikenal sebagai Frank Carlton Serafino Ferrana. Sementara di KTP dan SIM milik Ol' Dirty Bastard yang tertera justru Russell Tyrone Jones. Dan di ijazah Remy Sylado identitas yang tercantum malah Yapi Panda Abdiel Tambayong.

Nah, penggunaan nama alternatif, identitas alias, A.K.A. (Also Known As), seperti ini diistilahkan sebagai <i>Pseudonym</i>.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: left;" >Bagi rekan penyuka tembang cadas pasti familiar dengan Iggy Pop dan Nikki Sixx, bukan?<a href="http://www.rudolfdethu.com/wp-content/uploads/2009/09/IggyTheStooges.jpg" ><img class="alignnone size-full wp-image-79"  title="IggyTheStooges"  src="http://www.rudolfdethu.com/wp-content/uploads/2009/09/IggyTheStooges.jpg"  alt=""  width="375"  height="375" /></a><em><br/>
Iggy Pop era The Stooges<br/>
<a href="http://www.rudolfdethu.com/wp-content/uploads/2009/09/MotleyCrue.jpg" ><img class="alignnone size-full wp-image-80"  title="MotleyCrue"  src="http://www.rudolfdethu.com/wp-content/uploads/2009/09/MotleyCrue.jpg"  alt=""  width="400"  height="235" /></a><br/>
</em><em><br/>
Nikki Sixx&#8212;ayo tebak yang mana&#8212;di kala muda</em></p>
<p style="text-align: left;" >Jika mengaku penggemar Hip Hop jelas kenal dengan Ol&#8217; Dirty Bastard dong?<a href="http://www.rudolfdethu.com/wp-content/uploads/2009/09/Odb_welfare.jpg" ><img class="alignnone size-full wp-image-81"  title="Odb_welfare"  src="http://www.rudolfdethu.com/wp-content/uploads/2009/09/Odb_welfare.jpg"  alt=""  width="400"  height="316" /></a><em><br/>
Ol&#8217; Dirty Bastard pasca Wu-Tang Clan</em></p>
<p style="text-align: left;" >Untuk skala lokal, tentu mengakrabi seniman mbeling mantan redaktur majalah musik legendaris Aktuil, Remy Sylado.<a href="http://www.rudolfdethu.com/wp-content/uploads/2009/09/Aktuil.jpg" ><img class="alignnone size-full wp-image-82"  title="Aktuil"  src="http://www.rudolfdethu.com/wp-content/uploads/2009/09/Aktuil.jpg"  alt=""  width="375"  height="493" /></a><em><br/>
Salah satu edisi Aktuil</em></p>
<p>Namun tahukah anda bahwa Iggy Pop saat lahir oleh ibunya diberi nama James Newell Osterberg, Jr; dan Nikki Sixx dikenal sebagai Frank Carlton Serafino Ferrana. Sementara di KTP dan SIM milik Ol&#8217; Dirty Bastard yang tertera justru Russell Tyrone Jones. Dan di ijazah Remy Sylado identitas yang tercantum malah Yapi Panda Abdiel Tambayong.</p>
<p>Nah, penggunaan nama alternatif, identitas alias, A.K.A. (Also Known As), seperti ini diistilahkan sebagai <em>Pseudonym</em>.</p>
<p>Mundur ke belakang, geliat Pseudonym sebenarnya telah dimulai sejak jaman kerajaan. Semisal George III of the United Kingdom (1738&#194;&#160; - 1820) bernama asli George William Frederick. Atau yang lebih lawas lagi bisa dilihat pada julukan yang diberikan kepada para Paus (Pope), pemimpin umat Katolik yang berkedudukan di Roma. Ambil satu contoh saja, Pope Gregory IX, yang menduduki posisi Paus sejak 1227 hingga 1241. Yang tertulis di akte kelahirannya amatlah berbeda: Ugolino di Conti.</p>
<p>Lain dari itu Pseudonym banyak diaplikasikan oleh pengarang buku, penulis puisi, artis teater &amp; film, pejuang gerilya, sampai computer hackers. Sementara di blantika musik Pseudonym dilakukan kerap dengan alasan untuk menghindari konflik dengan label tempat mereka bernaung. Iya, bagi yang belum ngeh, ketika seorang artis bergabung dengan sebuah label&#8212;apalagi label mayor&#8212;maka segala aktivitas berkeseniannya harus mendapatkan persetujuan dari label. Si artis dari label Sony&#8212;katakanlah begitu&#8212;tak bisa sembarangan, misalnya, berkolaborasi dengan musisi label Warner lalu merilis hasil karya tersebut di bawah Warner. Maka kiat "aman" yang sering jadi pilihan adalah memunculkan jati diri berbeda. Ini diterapkan oleh Jerry Samuel ketika menerbitkan single <em>They&#8217;re Coming to Take Me Away Ha-Haaa!</em> pada 1966. Dia menyebut dirinya Napoleon XIV guna berkelit dari isu legal formal yang mungkin datang dari labelnya. Segendang sepenarian dengan George Harrison, mantan personel The Beatles. Partisipasinya di sebuah lagu Cream, <em>Badge</em>, disembunyikannya lewat sosok "bidadari misterius": L&#8217;Angelo Misterioso</p>
<p>Sebagian lagi menerapkan Pseudonym demi mempertegas &amp; memperkuat imej yang hendak diusung ke publik. Brian Hugh Warner pastinya punya ide tertentu ketika memilih predikat baru Marilyn Manson yang notabene merupakan gabungan dari nama bintang film sensual Marlyin Monroe dengan pembunuh berantai nan berdarah dingin Charles Manson. Masuk akal banget. Coba saja bandingkan antara Simon John Ritchie dengan Sid Vicious, John Joseph Lydon dengan Johnny Rotten, Christopher Millar dengan Rat Scabies (The Damned), mana lebih kental kadar "Punk"nya? You tell me.</p>
<p style="text-align: left;" >Varian lain dari Pseudonym yang digunakan beberapa musisi adalah <em>Anagram</em>. Yang ini semata permainan kata. Pernah tahu Kajagoogoo?&#160; Biduan kelompok asal Inggris itu namanya Limahl. Benar, Limahl adalah improvisasi dari Hamill&#8212;nama lengkapnya Christopher Hamill. Vokalis The Doors, Jim Morrison, sempat juga beranagram. Di salah satu gita tenar mereka, <a href="http://www.metrolyrics.com/la-woman-lyrics-the-doors.html" ><em>L.A. Woman</em></a>, ia berwujud sebagai "Mr. Mojo Risin&#8217;".<br/>
<a href="http://www.rudolfdethu.com/wp-content/uploads/2009/09/Kajagoogoo.jpg" ><img class="alignnone size-full wp-image-83"  title="Kajagoogoo"  src="http://www.rudolfdethu.com/wp-content/uploads/2009/09/Kajagoogoo.jpg"  alt=""  width="400"  height="400" /></a><em><br/>
Christopher Hamill (baju merah) di masa Kajagoogoo</em></p>
<p>Di bawah ini saya beberkan sebagian identitas sejati, apa dan siapa, di jazirah Rock &#8216;n&#8217; Roll.</p>
<p>Dee Dee Ramone - Douglas Colvin<br/>
Joey Ramone - Jeffrey Hyman<br/>
Johnny Ramone - John Cummings<br/>
Marky Ramone - Marc Bell<br/>
Tommy Ramone - Tommy Erdelyi<br/>
CJ Ramone - Christopher Joseph Ward<br/>
Richie Ramone - Richard Reinhardt<br/>
King Adrock (Beastie Boys) - Adam Horovitz<br/>
MCA (Beastie Boys) - Adam Yauch<br/>
Tori Amos - Myra Ellen Amos<br/>
Adam Ant &#8212; Stuart Leslie Goddard<br/>
Stiv Bators (Dead Boys) - Steven John Bator<br/>
Frank Black (The Pixies) - Charles Michael Kitridge Thompson IV<br/>
Bono (U2) - Paul David Hewson<br/>
David Bowie - David Robert Jones<br/>
50 Cent- Curtis Jackson<br/>
Captain Sensible (The Damned) - Ray Burns<br/>
Elvis Costello - Declan Patrick McManus<br/>
Chuck D (Public Enemy) - Carlton Ridenhour<br/>
Flavor Flav (Public Enemy) - William Drayton<br/>
Glenn Danzig (Misfits) - Glenn Allen Anzalone<br/>
Tr&#195;&#169; Cool (Green Day) - Frank Edwin Wright III<br/>
Alice Cooper - Vincent Damon Furnier<br/>
C. C. DeVille (Poison) - Bruce Anthony Johannesson<br/>
Ronnie James Dio (Dio) - Ronald James Padavona<br/>
Dr. Dre (N.W.A.) - Andr&#195;&#169; Romel Young<br/>
Eazy-E (N.W.A.) - Eric Lynn Wright<br/>
The Edge (U2) - David Howell Evans<br/>
Jello Biafra (Dead Kennedys) - Eric Boucher<br/>
Eminem - Marshall Bruce Mathers III<br/>
Flea - Michael Balzary<br/>
Serge Gainsbourg - Lucien Ginzburg<br/>
Ghostface Killah (Wu-Tang Clan) - Dennis Coles<br/>
MC Hammer - Stanley Kirk Burrell<br/>
Ice Cube - O&#8217;Shea Jackson<br/>
Ice T - Tracy Marrow<br/>
Billy Idol - William Michael Albert Broad<br/>
Lux Interior (The Cramps) - Erick Lee Purkhiser<br/>
Kid Rock - Robert Ritchie<br/>
Yngwie Malmsteen - Lars Johann Yngve Lannerb&#195;&#164;ck<br/>
Meat Loaf - Marvin Lee Aday<br/>
Ozzy Osbourne (Black Sabbath) - Jonathan Michael Osbourne<br/>
Pink - Alicia Beth Moore<br/>
Queen Latifah - Dana Elaine Owens<br/>
Twiggy Ramirez (Marilyn Manson) - Jeordie Francis White<br/>
Lee Rocker (Stray Cats) - Leon Drucker<br/>
Axl Rose (Guns &#8216;N Roses) - William Bruce Bailey<br/>
Sting (The Police) - Gordon Matthew Sumner<br/>
Vanilla Ice - Robert Van Winkle<br/>
Rob Zombie (White Zombie) - Robert Cummings</p>
<p>Apakah anda sendiri juga mempraktekkan Pseudonym?</p>
<p style="text-align: left;" >_____________________</p>
<p><strong><span style="color: #0000ff;" ><em>*</em></span></strong>Artikel ini sudah sedikit direvisi. Pertama kali dimuat di <a href="http://www.musikator.com/wtf-anagrammatic-pop-pseudonym/" >Musikator</a> pada 28 Juni 2009</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.rudolfdethu.com/2009/09/07/anagrammatic-pop-pseudonym/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

