Artikel ini saya peroleh dari Transparency International Indonesia. Sepertinya layak untuk kita ketahui. Semoga saja yang akhirnya terpilih adalah sosok yang kompeten sehingga penyakit kronis korupsi di negeri ini bisa segera habis dibasmi. Semoga saja.
read more...
That’s right, don’t give up the fight, back in full-effect: Pecha Kucha Night!
Friday, August 06, 2010; 7 PM – end, at Sanur Village Festival.
read more...
by Hera Diani
Conservative and liberal Muslims in Indonesia are taking their fight for hearts and minds to Twitter. Is that good or bad?
read more...
Sejarah adalah pengetahuan untuk semua, bukan hanya objek nostalgia untuk mereka yang mengalami suatu peristiwa sejarah.
Sejarah terus menerus berada dalam proses menjadi, diciptakan kembali oleh setiap pemberi makna dan generasi.
Setiap generasi punya hak untuk mengakses bukti sejarah yang diarsipkan.
Setiap generasi punya hak menciptakan ruangnya sendiri untuk mengunjungi kembali sejarah.
Bali is inundated with Yayasans (charities) ranging from free eye operations, education, recycling to animal shelters. A number of these Yayasans are doing good work and have made a positive impact on island life. One such organisation is Onedollarformusic, the brainchild of Raoul Thomas Augustine Maria Wijffels a Dutch national residing in Bali.
When I first came across this organisation I assumed it was another scheme to make money off unsuspecting bleeding hearts with a conscience that continually beseeches them to ‘contribute’ to ‘causes’. However, after meeting Raoul (who has over 20 years experience in music, arts, education and management including working as a teacher and music pedagogue at the Conservatories of Amsterdam, Utrecht and Rotterdam) and the Indonesian chairman Rudolf Dethu, it became apparent that this is an organisation that has the potential of becoming a major force in the creative and economic development of young potential musicians across the Indonesian archipelago.
read more...
Tulisan ini saya buat dalam rangka merespons seni instalasi Ebullience yang merupakan kolaborasi bineka seniman berbakat Denpasar, Bali; di Denpasar Festival pada 28 – 30 Desember 2009
read more...
Kiamat mungkin memang sudah dekat.
Keadilan untuk semua bisa jadi cuma dusta, fana
Kebahagiaan abadi, surga-neraka, semata tinja
Tapi jangan pernah putus berhasrat
Harus ogah menyerah
Sebab tinggal asa, harapan, yang kita punya
Agar senyum senantiasa benderang di wajah kita
Bagai musafir, melanglang berkelana, berlari
Kejar mimpi
Kejar mimpi
Kejar terus mimpi
Berharap, bermimpi, berlari
SELAMAT TAHUN BARU 2010
Bersulang,
RUDOLF DETHU
Kebetulan tidak jauh dari tempat saya biasa numpang tinggal di Jakarta, di Kebayoran Baru, belum lama ini dibuka mal baru kelas premium, Pacific Place. Nah, di lantai 6 (atau 7?) terdapat jaringan bioskop rivalnya kelompok Cineplex 21 bernama Blitz Megaplex yang sebagian besar sahamnya dimiliki oleh Ananda Siregar, anak mantan gubernur Bank Indonesia Arifin Siregar.
Yang saya suka dari Blitz Megaplex di antaranya adalah konsep interiornya yang post-mo (well, saya sebenernya gak terlalu paham apa mazhab arsitektur tersebut tepat untuk menyebut gaya yang dianut blitzmegaplex, pokoknya modern minimalis, banyak bentuk kubus, dim lighting, aksen metal di beberapa sudut, sedikit futuristik). Seolah kita sedang berada di tempat berbeda, di megapolitan makmur mana gitu. Pokoknya kayak bukan di Jakarta. Sentuhan artistik millenium namun tetap relatif hangat. Masih cukup bernyawa. Kalo di musik mungkin bisa diumpamakan sebagai post-punk (think Talking Heads, The Fall, New Order, Public Image Ltd.). Tetap tersimak nyeni, tidak kelewat sintetik. Tidak sedingin komposisi, katakanlah, Gary Numan. See what I mean?
read more...
Berikut saya sisipkan beberapa foto para The Beautiful People saat menghadiri festival film Cannes dari tahun ke tahun. Artikel ini dipinjam dari men.style.com (portal virtual untuk majalah pria Details & GQ). Menurut men.style.com festival film Cannes tak melulu tentang motion picture an sich, tapi juga tentang sang bintang beserta busananya…
read more...
Berikut adalah tulisan tentang Men Tempeh yang tadinya hendak saya sertakan di Bali A to Z part 3. Cuman karena projek tulisan itu (sudah mulai ditulis sejak pertengahan 2007) masih tertunda hingga detik ini, biar gak basi, salah satu topik bahasannya, Men Tempeh, tak share aja dah. Mind you, saat tulisan ini dibuat, Men Tempeh sedang dalam transisi dari sekadar “warung makan” (pretty much uncivilized) naik pangkat menjadi “restoran” (civilized, most likely). Sekarang sih Men Tempeh sudah lumayan flashy (should I say, tackily flashy? Ada gak bahasa Inggris seperti itu? Hiks).
Yeah, it’s still a bit tacky. Tapi persetanlah, yang penting makanannya—meniru gaya Enny Arrow—enaakhsss…
read more...