<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Rudolf Dethu &#187; Socio-Politics</title>
	<atom:link href="http://www.rudolfdethu.com/category/social-politics/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.rudolfdethu.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Sat, 04 Feb 2012 03:36:39 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Negara dalam Keadaan Bahaya</title>
		<link>http://www.rudolfdethu.com/2011/09/18/negara-dalam-keadaan-bahaya/</link>
		<comments>http://www.rudolfdethu.com/2011/09/18/negara-dalam-keadaan-bahaya/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 18 Sep 2011 03:20:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rudolf Dethu</dc:creator>
				<category><![CDATA[Download]]></category>
		<category><![CDATA[Music & Art]]></category>
		<category><![CDATA[Socio-Politics]]></category>
		<category><![CDATA[Download MP3]]></category>
		<category><![CDATA[Politics]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.rudolfdethu.com/?p=6929</guid>
		<description><![CDATA[Aktivis hiphop mbalela Marzuki Mohammad alias Kill the DJ kali ini datang bersuara lantang, mengingatkan semua orang bahwa negeri ini sedang limbung dan goyang lewat tembang "Negara dalam Keadaan Bahaya".

Sangat direkomendasikan untuk disimak serta silakan diunduh bebas bea.

]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.rudolfdethu.com/wp-content/uploads/2011/09/KilltheDJ-Logo.jpg" ><img src="http://www.rudolfdethu.com/wp-content/uploads/2011/09/KilltheDJ-Logo.jpg"  alt=""  title="KilltheDJ-Logo"  width="250"  height="250"  class="alignnone size-full wp-image-6934" /></a></p>
<p style="text-align: left;" ><span style="text-decoration: underline;" >Sepucuk Surat</span></p>
<p style="text-align: center;" ><strong>NEGARA DALAM KEADAAN BAHAYA</strong></p>
<p>Saya, Marzuki Mohamad a.k.a Kill the DJ, penggagas Jogja Hip Hop Foundation (JHF), dengan segala kerendahan hati me-<em>release</em> sebuah <em>single</em> berjudul "Negara dalam Keadaan Bahaya". Secara singkat, lagu ini adalah semacam surat saya sebagai rakyat Indonesia untuk para penyelenggara negara agar benar-benar menjalankan amanat yang telah diberikan oleh rakyatnya. Terus terang saya lelah, dan kehilangan selera ngoceh perihal berbagai wacana dan isu besar melalui social media. Melalui lagu ini, saya kembali mengambil peran saya sebagai seniman, yaitu berbicara dengan karya.</p>
<p>Tema <em>single</em> ini meneruskan <em>single</em>-<em>single</em> sosial politik saya sebelumnya; "Cicak Nguntal Boyo" dan "Busung Lapar di Lumbung Padi", yang memang sengaja diciptakan untuk mendukung sebuah gerakan. Seperti juga saya menulis lirik "Jogja Istimewa" yang kemudian menjadi <em>soundtrack</em> bagi berbagai gerakan rakyat Yogyakarta.</p>
<p>Dari sisi musikalitas, ini adalah proyek solo yang saya gunakan untuk sejenak beristirahat dan mengambil jarak dari berbagai proyek JHF yang selalu mengulik literatur Jawa dan musik hip hop bernuansa tradisional Jawa. Saya butuh sesuatu yang segar untuk bisa kembali suntuk dengan bahasa dan tradisi Jawa. Saya memilih energi <em>old school</em> hip hop yang didominasi suara <em>real drum</em>, <em>string</em>, dan piano dengan menghindari nada-nada pentatonis. Saya juga memilih <em>reffrain</em>, bukan <em>hook</em> hip hop seperti biasanya.</p>
<p>Artinya, ijinkan saya sedikit menyanyi, meskipun saya tahu, bahwa saya tidak mempunyai suara bagus untuk menyanyi. Semua liriknya juga berbahasa Indonesia, meskipun saya tahu, bahwa saya tidak bisa berbahasa Indonesia dengan baik dan benar. Saya juga memilih menyusun kalimat yang sangat verbal, karena tanda-tanda dan simbol sudah sedemikian membosankan dalam tema sosial-politik.</p>
<p>Sebenarnya saya sudah menyiapkan beberapa lagu untuk sebuah album solo dengan gaya dan tema seperti tersebut di atas, yang semula saya rencanakan untuk di-<em>release</em> akhir tahun 2011 ini, sebelum kembali sibuk dengan jadwal padat untuk berbagai proyek dan tur di luar negeri bersama JHF tahun depan. Tapi dengan berbagai pertimbangan dan pemikiran, saya merasa mendesak untuk segera merilis <em>single</em> "Negara dalam Keadaan Bahaya" terlebih dahulu. Ini sudah menjadi resiko dari cara saya berkarya, karena hampir semua inspirasi diambil dari situasi sosial di lingkungan sekitar saya.</p>
<p>Semoga lagu yang saya ciptakan berguna.</p>
<p>Salam,<br/>
Kill the DJ</p>
<p>&#x266B; <a href="http://www.rudolfdethu.com/podcast/KilltheDJ-NegaradalamKeadaanBahaya.mp3" >Negara dalam Keadaan Bahaya ~ Kill the DJ</a> &#x266B;</p>
<p><a href="http://www.rudolfdethu.com/wp-content/uploads/2011/09/KilltheDJ.jpg" ><img src="http://www.rudolfdethu.com/wp-content/uploads/2011/09/KilltheDJ.jpg"  alt=""  title="KilltheDJ"  width="350"  height="567"  class="alignnone size-full wp-image-6933" /></a></p>
<p style="text-align: left;" ><span style="text-decoration: underline;" >Lirik</span></p>
<p style="text-align: center;" ><strong>NEGARA DALAM KEADAAN BAHAYA</strong></p>
<p>&#8230;Jangan bertanya apa yang negara berikan kepadamu, tapi kenapa tidak memberikan apa-apa dari dulu&#8230;</p>
<p><em>Hook</em><br/>
Negara dalam keadaan bahaya<br/>
Penguasa lupa amanat rakyatnya<br/>
Menutup mata derita bangsanya<br/>
Pertiwi manangis merintih dan berdoa</p>
<p>Bahaya! Bahaya!<br/>
Negara dalam keadaan bahaya<br/>
Karena penguasa dan mafia bekerjasama<br/>
Demokrasi digadaikan dan tersandra<br/>
Di mimbar mengumbar janji<br/>
Janji bohong dan bohong lagi<br/>
Rakyat sudah lelah memaklumi<br/>
Mau dibawa kemana negeri ini?<br/>
Bahaya! Bahaya!<br/>
Negara dalam keadaan bahaya<br/>
Politisi tan moral dan etika, pamer kebusukan di media, rakyat hanya bisa mengelus dada<br/>
Wakil miring di gedung rakyat<br/>
Bersatu padu dalam kongsi jahat<br/>
Musyawarah mufakat untuk menipu rakyat<br/>
Lupa siapa yang memberi amanat</p>
<p><em>Hook</em><br/>
Bahaya! Bahaya!<br/>
Negara dalam keadaan Bahaya<br/>
Karena penguasa lupa dasar negara<br/>
Di balik jubah agama menipu Tuhan pun bisa<br/>
Minoritas beribadah dalam ancaman<br/>
Negara gagal memberi rasa aman<br/>
Bhineka Tunggal Ika mati di Jalanan<br/>
Inilah orde pembangunan jalan menuju kehancuran<br/>
Bahaya! Bahaya!<br/>
Negara dalam keadaan bahayaaKarena tanah kaya bukan lagi milik rakyatnya<br/>
Mereka tersingkir dari tanah leluhurnya<br/>
Warga mendesak perubahan di Jakarta<br/>
Tapi di daerah ada yang ingin merdeka<br/>
NKRI adalah omong kosong belaka<br/>
Tanpa keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia</p>
<p><em>Hook</em><br/>
Lagu ini adalah surat dari rakyat<br/>
Kepada para pemegang amanat<br/>
Cinta rakyat pada negeri ini tanpa syarat<br/>
Hingga badan dikandung hayat<br/>
Lihatlah rakyat terus bekerja<br/>
Susah payah terus memupuk asa<br/>
Bercerminlah di kalbu mereka<br/>
Maka akan kau pahami apa itu Indonesia</p>
<p><em>Hook</em><br/>
Anak negeri yang mati di lumbung padi<br/>
Mengirim kabar pada pertiwi<br/>
Negara gagal melindungi kami<br/>
Masyarakat adil makmur hanya mimpi</p>
<p>__________________</p>
<p style="text-align: left;" ><span style="text-decoration: underline;" >Sejarah Kata-Kata</span></p>
<p>Seperti dalam lagu "Busung Lapar di Lumbung Padi", dalam lagu kali ini pun saya juga meminjam beberapa kalimat dari timeline twitter atau dari sumber lain yang pernah dipublikasikan oleh seseorang. Dan atas nama etika, saya selalu menyampaikan bahwa saya menggunakan kata-kata tersebut kepada yang bersangkutan.</p>
<p>Judul "Negara dalam Keadaan Bahaya" juga pernah digunakan oleh Melancholic Bitch (@simelbi) sebelumnya. Tapi masih berupa <em>draft</em>/demo. Saya pernah bertukar pikiran denga Ugoran Prasad (vokalis @simelbi) tentang hal ini sebelum UgoAakan menulis lagu itu dan ketika saya menulis lagu versi saya. Sebenarnya <em>reffrain</em>-nya saya meminta dia untuk mengisi, tapi karena miskoordinasi, dia keburu pergi ke Amsterdam. Dalam hal lirik, dalam tema sosial-politik saya selalu memilih kalimat verbal dan frontal, bahkan hingga berusaha untuk menghindari istilah-istilah intelek, dengan tujuan agar bisa dipahami oleh orang awam sekali pun. Dalam hal ini Ugo memberikan dukungan sepenuhnya berkaitan dengan urgensi komunikasi.</p>
<p>Kalimat ini dari twit @lantip "Jangan bertanya apa yang negara berikan padamu, tapi kenapa tidak memberikan apa-apa dari dulu" pas seorang TKI dipancung di Arab Saudi</p>
<p>Kalimat ini dari @roysayur "Wakil miring di gedung rakyat" pas ramai-ramainya kasus Bank Century.</p>
<p>"Kongsi Jahat" itu nama semacam <em>organizer underground</em> dari kota Yogyakarta (@dasojieA@masgufi)</p>
<p>"Lihatlah rakyat terus bekerja, tiada kata putus asa, cintanya pada negeri tanpa syarat" itu dari tulisan @aniesbaswedan di harian Kompas (25 Juli 2011)Aberjudul "Peringatan Untuk Pemimpin".</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.rudolfdethu.com/2011/09/18/negara-dalam-keadaan-bahaya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
<enclosure url="http://www.rudolfdethu.com/podcast/KilltheDJ-NegaradalamKeadaanBahaya.mp3" length="4846248" type="audio/mpeg" />
		</item>
		<item>
		<title>Maroon 5, Presale Tickets &amp; the Power of Twitter</title>
		<link>http://www.rudolfdethu.com/2010/12/14/maroon-5-presale-tickets-the-power-of-twitter/</link>
		<comments>http://www.rudolfdethu.com/2010/12/14/maroon-5-presale-tickets-the-power-of-twitter/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 14 Dec 2010 11:23:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rudolf Dethu</dc:creator>
				<category><![CDATA[Music & Art]]></category>
		<category><![CDATA[Socio-Politics]]></category>
		<category><![CDATA[The Beat Jakarta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.rudolfdethu.com/?p=4783</guid>
		<description><![CDATA[・<small>Versi Bahasa Indonesia silakan klik <a href= http://www.rudolfdethu.com/2010/12/14/maroon-5-presale-tickets-the-power-of-twitter">di sini</a></small>

Like it or not, you have to agree with the power of Twitter---or social network, at least. Look what happened with Maroon 5. They are scheduled to play in Jakarta on April 27, 2011. Java Musikindo, the promoter, started promoting the concert a month ago and opened the sale of presale tickets on Sunday, Dec 5; although the information about the presale tickets day was only published on Twitter and a few big banners ads, the 6000 tickets were sold out in less than 10 hours! 

A similar thing happened a few months earlier, Java Musikindo sold presale tickets of Pitbull, and 4,400 of them sold out in less than 24 hours. As with Maroon 5, Java Musikindo only promoted the presale tickets via Twitter, and it worked really well. Who would've thought that Pitbull would get that awesome response from the public?

Java Musikindo is also using this strategy for the upcoming Deftones gig, scheduled to play in Jakarta on Feb 8. Their presale tickets were sold on Nov 27, a few months before the gig. Although no proper data is published as to how many tickets were sold, if we look from the Twitter time line obviously the Deftones concert has created a lot of hype on that web platform. 

Earlier in October, JavaRockin'Land already proved how effective this Twitter marketing can be. By creating its own account which people can follow and know what's going on minute by minute with JavaRockin'Land (e.g. are Smashing Pumpkins confirmed to play? When are the presale tickets on sale?). The gig itself ended up a massive success: Almost 50,000 people came to witness the biggest rock concert in South East Asia. Maybe not all because of Twitter, but there's no doubt that Twitter played a major role here.

Yes mister, the super power of Twitter! ]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color: #0000ff;" ><strong>&raquo;</strong></span> <small>English version please scroll down</small><br/>
<a href="http://www.rudolfdethu.com/wp-content/uploads/2010/12/Maroon5-mnpg.jpg" ><img class="alignnone size-full wp-image-4785"  title="Maroon5-mnpg"  src="http://www.rudolfdethu.com/wp-content/uploads/2010/12/Maroon5-mnpg.jpg"  alt=""  width="350"  height="350" /></a></p>
<p>Sebuah peristiwa fenomenal baru saja terjadi&#8212;barangkali belum pernah sebelumnya&#8212;dalam jagat hiburan musik di Indonesia: Pada hari Minggu, 5 Desember, 6.000 karcis konser Maroon 5 ludes cuma dalam 10 jam! Tak cuma mencengangkan karena licin tandas dalam hitungan kurang dari setengah hari, promo yang minim (hanya melalui Twitter dan segelintir baliho), juga calon penonton bak tak peduli dengan harga tiket yang tergolong mahal: Rp 600 hingga Rp 800 ribu. Oh, belum lagi soal pertunjukannya di Jakarta yang masih jauh, empat setengah bulan lagi, 27 April 2011.</p>
<p>Memang promotor Java Musikindo sempat juga mencatat rekor serupa saat menggelar konser rapper asal Florida, AS, Pitbull, di bulan Mei silam. Kala itu 4.400 tiket terjual habis kurang dari 24 jam. Namun sang CEO, Adrie Subono, tampaknya lebih ternganga dengan fenomena Maroon 5 yang menurutnya sudah ultra heboh bahkan sejak awal diumumkan lewat Twitter sebulan sebelumnya. Modus operandi yang mirip sejatinya diterapkan pula terhadap grup nu metal dari California, AS, yang dijadwalkan tampil pada 8 Februari 2011. Adrie agresif mengumumkan tanggal konser Chino Moreno dkk lewat akun Twitter miliknya seraya menegaskan bahwa <em>presale</em> tiket berharga lebih murah dari harga normal cuma sehari yaitu pada 27 November. Walau sambutan yang didapat bisa disebut meriah, tapi prestasi Deftones ini tidaklah semonumental Pitbull apalagi Maroon 5.<br/>
<a href="http://www.rudolfdethu.com/wp-content/uploads/2010/12/deftones-mnpg.jpg" ><img class="alignnone size-full wp-image-4786"  title="deftones-mnpg"  src="http://www.rudolfdethu.com/wp-content/uploads/2010/12/deftones-mnpg.jpg"  alt=""  width="500"  height="333" /></a></p>
<p>Promotor musik besar lainnya, Original Production, mengambil langkah kurang lebih sejenis. Untuk mempromosikan aksi Iron Maiden tahun depan, 17 Februari di Jakarta dan 20 Februari di Bali, di tanggal 14 November, di hari itu saja, dijual tiket <em>presale</em> dengan diskon khusus. Seberapa efektif strategi ini berjalan, belum didapat data yang sahih. Namun di garis waktu Twitter benderang tergambar bahwa <em>hype</em>-nya telah terbangun dengan baik. Paling tidak para hulubalang metal Jakarta terkesan begitu bersemangat berbicara soal karcis <em>presale</em> Iron Maiden ini. Begitu juga Java Festival Production, ketika menyelenggarakan JavaRockin&#8217;Land Oktober lampau, antara 1-2 bulan sebelumnya telah menjual tiket <em>presale</em> dengan harga lebih rendah dari standar plus promosi masif di jagat maya (Twitter, Facebook, website, dsb) &amp; dunia nyata. Kiat ini terbukti manjur, pengunjung yang datang selama 3 hari konser JavaRockin&#8217;Land melimpah ruah, acaranya sukses besar. Puluhan ribu orang datang tiap harinya&hellip;</p>
<p><em>The power of Twitter! The magic work of social network!</em><br/>
<a href="http://www.rudolfdethu.com/wp-content/uploads/2010/12/Twitter-logo-more.jpg" ><img class="alignnone size-full wp-image-4787"  title="Twitter-logo-more"  src="http://www.rudolfdethu.com/wp-content/uploads/2010/12/Twitter-logo-more.jpg"  alt=""  width="300"  height="300" /></a></p>
<p><span style="text-decoration: underline;" >English version</span></p>
<p>Like it or not, you have to agree with the power of Twitter&#8212;or social network, at least. Look what happened with Maroon 5. They are scheduled to play in Jakarta on April 27, 2011. Java Musikindo, the promoter, started promoting the concert a month ago and opened the sale of presale tickets on Sunday, Dec 5; although the information about the presale tickets day was only published on Twitter and a few big banners ads, the 6000 tickets were sold out in less than 10 hours!</p>
<p>A similar thing happened a few months earlier, Java Musikindo sold presale tickets of Pitbull, and 4,400 of them sold out in less than 24 hours. As with Maroon 5, Java Musikindo only promoted the presale tickets via Twitter, and it worked really well. Who would&#8217;ve thought that Pitbull would get that awesome response from the public?</p>
<p>Java Musikindo is also using this strategy for the upcoming Deftones gig, scheduled to play in Jakarta on Feb 8. Their presale tickets were sold on Nov 27, a few months before the gig. Although no proper data is published as to how many tickets were sold, if we look from the Twitter time line obviously the Deftones concert has created a lot of hype on that web platform.</p>
<p>Earlier in October, JavaRockin&#8217;Land already proved how effective this Twitter marketing can be. By creating its own account which people can follow and know what&#8217;s going on minute by minute with JavaRockin&#8217;Land (e.g. are Smashing Pumpkins confirmed to play? When are the presale tickets on sale?). The gig itself ended up a massive success: Almost 50,000 people came to witness the biggest rock concert in South East Asia. Maybe not all because of Twitter, but there&#8217;s no doubt that Twitter played a major role here.</p>
<p>Yes mister, the super power of Twitter!</p>
<p>__________________</p>
<p><span style="color: #0000ff;" ><strong>*</strong></span><small>This article was originally published on The Beat (Jakarta) mag # 28, December 2010</small></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.rudolfdethu.com/2010/12/14/maroon-5-presale-tickets-the-power-of-twitter/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Awas Serigala!</title>
		<link>http://www.rudolfdethu.com/2010/12/09/awas-serigala/</link>
		<comments>http://www.rudolfdethu.com/2010/12/09/awas-serigala/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 09 Dec 2010 12:50:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rudolf Dethu</dc:creator>
				<category><![CDATA[Socio-Politics]]></category>
		<category><![CDATA[Human Rights]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.rudolfdethu.com/?p=4747</guid>
		<description><![CDATA[Manusia serigala bertebaran di sekitar kita. Sepertinya ungkapan tersebut tepat untuk menggambarkan fenomena yang kian kerap terungkap di negeri Ini. Coba kita kilas balik, tentu masih lekat di ingatan kejadian memalukan sekaligus menyedihkan dimana perempuan yang menjadi korban: Syekh Puji (praktek pedofilia, menikahi gadis di bawah umur), A’a Gym (poligami sumbang, ingkar janji), Anand Krishna (pelecehan seksual), serta yang terbaru Zainuddin MZ (pelecehan seksual).]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.rudolfdethu.com/wp-content/uploads/2010/12/SyekhPuji.jpg" ><img class="alignnone size-full wp-image-4752"  title="SyekhPuji"  src="http://www.rudolfdethu.com/wp-content/uploads/2010/12/SyekhPuji.jpg"  alt=""  width="400"  height="260" /></a></p>
<p>Manusia serigala bertebaran di sekitar kita. Sepertinya ungkapan tersebut tepat untuk menggambarkan fenomena yang kian kerap terungkap di negeri Ini. Coba kita kilas balik, tentu masih lekat di ingatan kejadian memalukan sekaligus menyedihkan dimana perempuan yang menjadi korban: Syekh Puji (praktek pedofilia, menikahi gadis di bawah umur), A'a Gym (poligami sumbang, ingkar janji), Anand Krishna (pelecehan seksual), serta yang terbaru Zainuddin MZ (pelecehan seksual).</p>
<p>Kisah barusan sungguh memalukan sebab melibatkan sosok kondang yang notabene pemuka agama/tokoh spiritual yang justru memberi contoh prilaku buruk, berbudi pekerti negatif, kontra-agama, berlawanan dengan apa yang selama ini mereka gembar-gemborkan. Amat menyedihkan karena semua korbannya adalah perempuan yang relatif tidak berdaya serta berusia muda. Dan muslihat yang digunakan untuk melenggangkan jalannya dalam mencapai tujuan adalah dengan memanfaatkan jabatan plus kekayaan yang mereka miliki. Sebut saja Syekh Puji misalnya. Ia jelas-jelas telah melanggar Pasal 7 Undang-Undang No. 1 Tahun 1974A yang menyebutkan bahwa perkawinan hanya diizinkan jika pihak wanita sudah mencapai umur 16 tahun, juga menyalahi Undang Undang Perlindungan Anak yaitu menyetubuhi anak di bawah umur. Sementara Ulfa, gadis yang dinikahinya, saat itu baru berusia 11 tahun 10 bulan (dalam sebuah kesempatan pria bernama asli Pujiono ini malah pernah berkoar hendak menikahi bocah berumur 9 dan 7 tahun).<br/>
<a href="http://www.rudolfdethu.com/wp-content/uploads/2010/12/AaGym-rszd.jpg" ><img class="alignnone size-full wp-image-4753"  title="AaGym-rszd"  src="http://www.rudolfdethu.com/wp-content/uploads/2010/12/AaGym-rszd.jpg"  alt=""  width="450"  height="270" /></a></p>
<p>Lain lagi A'a Gym. Dai yang di setiap ceramahnya sering mengusung tema keluarga yang rukun dan terkesan menghargai perempuan&#8212;makanya ia kemudian melimpah memiliki penggemar dari kalangan ibu-ibu&#8212;ternyata faktanya bohong belaka. Abdullah Gymnastiar, nama A'a Gym di KTP, dusta pada apa yang diajarkannya dengan mengelabui istrinya lalu menikah lagi. Kemudian Anand Krishna beserta Zainuddin MZ tercemar reputasi adiluhungnya akibat tindakan tercela berupa pencabulan terhadap gadis-gadis remaja (antara 16 hingga 19 tahun).<br/>
<a href="http://www.rudolfdethu.com/wp-content/uploads/2010/12/AnandKrishna.jpg" ><img class="alignnone size-full wp-image-4754"  title="AnandKrishna"  src="http://www.rudolfdethu.com/wp-content/uploads/2010/12/AnandKrishna.jpg"  alt=""  width="350"  height="263" /></a></p>
<p>Yang mengenaskan dari segala cerita di atas adalah penyelesaian kasusnya. Cuma di awal saja aparat penegak hukum terkesan serius menanganinya: Tokoh ini diambil paksa dari rumahnya, Dai itu diharuskan segera menghadap, si guru spiritual dimintai keterangan intensif, pihak berwajib telah mengamati serius kejahatan kelamin oleh oknum tertentu, dan seterusnya. Semakin bulan situasi yang tadinya "panas" pelan-pelan dibiarkan mengecil apinya hingga berakhir mati, membeku mendingin. Para perempuan yang jadi korban akhirnya terperosok kebingungan, kelimpungan tak tahu harus berbuat apa lagi, tak tahu minta pertanggungjawaban ke siapa lagi.</p>
<p>Nah, dari ragam contoh kelam tersebut, kaum perempuan bisa belajar banyak. Bahwa orang-orang yang tampaknya baik, bijak bestari, teguh beragama, bisa saja hanya terlihat demikian di permukaan. Bisa jadi ia adalah sosok licin lagi berbahaya. Makin berbahaya lagi ketika oknum tersebut merupakan orang yang mempunyai jabatan tinggi, termasuk orang terpandang. Karena akan lebih mudah baginya menipu dan memanipulasi lingkungan sekitarnya. Para wanita musti pintar menjaga diri, piawai membaca situasi. Jangan sampai tergiur mulut manis, janji-janji kosong, gemah ripah hadiah, dari pria-pria bejat ini. Istilah Inggrisnya: "There's no free lunch" alias "tiada makan siang gratis" alias ketika kalian para perempuan muda tiba-tiba didekati pria manula&#8212;apalagi tokoh terkenal&#8212;bisa dijamin mereka pasti, pasti sekali, ada maunya. Kalian harus pintar menjaga diri, selalu awas, stay alert.<br/>
<a href="http://www.rudolfdethu.com/wp-content/uploads/2010/12/ZainuddinMZ.jpg" ><img class="alignnone size-full wp-image-4755"  title="ZainuddinMZ"  src="http://www.rudolfdethu.com/wp-content/uploads/2010/12/ZainuddinMZ.jpg"  alt=""  width="500"  height="273" /></a></p>
<p>Dan jika semuanya sudah terlambat, alias kalian telah terjebak perangkap, jangan cepat putus asa, masih ada jalan:<br/>
1. Bicara terus terang kepada orang tua. Jangan disimpan saja.<br/>
2. Hubungi pihak berwajib, tentunya.<br/>
3. Di saat yang sama, kontak juga yayasan-yayasan yang fokus pada perlindungan perempuan.<br/>
4. Gunakan jejaring sosial di internet sebagai instrumen penekan lainnya. Lihat apa yang terjadi pada Prita Mulyasari, tekanan publik lewat internet terbukti ampuh membantu penyelesaian kasus agar ditangani serius.</p>
<p>Tapi yang paling utama wahai para wanita: Awas serigala!</p>
<p>____________________</p>
<p>*<small>Tulisan ini pertama kali tayang di situs Yayasan Indonesia Untuk Kemanusiaan YSIK <a href="http://www.ysik.org" >www.ysik.org</a></small><br/>
*<small>Foto Syekh Puji di halaman depan dipinjam dari <a href="http://indonesia.faithfreedom.org" >indonesia.faithfreedom.org</a></small><br/>
*<small>Kartun Syekh Puji dipinjam dari situs Wahyu Kokkang <a href="http://wahyukokkang.wordpress.com" >wahyukokkang.wordpress.com</a></small><br/>
*<small>Foto A&#8217;a Gym dipinjam dari situs<a href="http://wartakota.co.id" > wartakota.co.id</a></small><br/>
*<small>Foto Anand Khrisna dipinjam dari situs <a href="http://anandashram.wordpress.com" >anandashram.wordpress.com</a></small><br/>
*<small>Foto Zainuddin MZ dipinjam dari situs <a href="http://ayam-berkokok.blogspot.com" >ayam-berkokok.blogspot.com</a></small></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.rudolfdethu.com/2010/12/09/awas-serigala/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Never Say Die, Jakarta Rock Parade</title>
		<link>http://www.rudolfdethu.com/2010/10/18/never-say-die-jakarta-rock-parade/</link>
		<comments>http://www.rudolfdethu.com/2010/10/18/never-say-die-jakarta-rock-parade/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 18 Oct 2010 00:52:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rudolf Dethu</dc:creator>
				<category><![CDATA[Music & Art]]></category>
		<category><![CDATA[Socio-Politics]]></category>
		<category><![CDATA[Festival]]></category>
		<category><![CDATA[Rock Concert]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.rudolfdethu.com/?p=4186</guid>
		<description><![CDATA[Tulisan---lebih tepatnya curhat---yang bermaksud menyemangati Jakarta Rock Parade ini sejatinya adalah materi lawas (tayang di Musikator  pertama kali pada Juli 2009), walau pamali untuk dibilang usang. Memang, di kala itu belum ada konser rock lokal berskala gigantik. Belum ada yang nekat-berani mati menyelenggarakannya. Dan saya tidak rela jika Jakarta Rock Parade layu sebelum berkembang. Saya memimpikan Indonesia memiliki festival musik rock sekaliber Ozzfest. Syukurnya tidak lama berselang muncul kemudian Java Rockin'Land, yang bukan cuma bermutu tinggi, tapi juga termegah se-Asia Tenggara. Artinya spirit Jakarta Rock Parade menolak dimatikan. Yay.

Ya, artikel ini sengaja tetap saya tampilkan di situs pribadi saya ini demi mendokumentasikan perspektif yang pernah saya tuangkan agar menjadi lebih rapi, tak lagi berceceran tak beraturan, bisa menjadi arsip yang sahih lagi sinambung.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><small>Tulisan&#8212;lebih tepatnya curhat&#8212;yang bermaksud menyemangati Jakarta Rock Parade ini sejatinya adalah materi lawas (tayang di <a href="http://www.musikator.com" >Musikator</a> pertama kali pada Juli 2009), walau pamali untuk dibilang usang. Memang, di kala itu belum ada konser rock lokal berskala gigantik. Belum ada yang nekat-berani mati menyelenggarakannya. Dan saya tidak rela jika Jakarta Rock Parade layu sebelum berkembang. Saya memimpikan Indonesia memiliki festival musik rock sekaliber Ozzfest. Syukurnya tidak lama berselang muncul kemudian Java Rockin&#8217;Land, yang bukan cuma bermutu tinggi, tapi juga termegah se-Asia Tenggara. Artinya spirit Jakarta Rock Parade menolak dimatikan. Yay.</small></p>
<p><small>Ya, artikel ini sengaja tetap saya tampilkan di situs pribadi saya ini demi mendokumentasikan perspektif yang pernah saya tuangkan agar menjadi lebih rapi, tak lagi berceceran tak beraturan, bisa menjadi arsip yang sahih lagi sinambung.</small><br/>
<a href="http://www.rudolfdethu.com/wp-content/uploads/2010/10/JRP-mnpg.jpg" ><img class="alignnone size-full wp-image-4189"  title="JRP-mnpg"  src="http://www.rudolfdethu.com/wp-content/uploads/2010/10/JRP-mnpg.jpg"  alt=""  width="600"  height="133" /></a></p>
<p>Dalam konteks saya sebagai "putra daerah", sebagai orang Bali, terang saya merasa beruntung bisa datang langsung terlibat dalam acara sekolosal Jakarta Rock Parade (JRP). Suicidal Sinatra dan Discotion Pill, 2 band yang saya "luangkan waktu khusus", kebetulan mendapatkan kesempatan tampil di acara gede tersebut&#8212;belakangan saya ketahui, kontingen berbakat dari Bali lainnya, Nymphea, ternyata diundang main juga. Word up.</p>
<p>Secara pribadi, saya punya ekspektasi masif terhadap JRP. Saya sudah bosan&#8212;beberapa jengkal dari muak&#8212;dengan format beberapa acara konser yang, memang gede nan megah sih, tapi bandnya itu lagi, itu lage, itu lageeee. Belum lagi pilihan artisnya yang frontal menggambarkan "selera pasar" banget. Iya, memang, acara "patuh pada kemauan pasar" tersebut hampir selalu sukses, sanggup mendatangkan banyak orang, cuman ya gitu, jangan terus-terusan pilih penampil yang "full-selingkuh" melulu dong. Bagi musik Indonesia kebiasaan "main aman" kayak gini pelan tapi pasti akan menciptakan Indonesia nan homogen, penyeragaman selera secara masif, miskin identitas, kurang sehat, kembali ke Orde Baru. Saya makanya susah percaya dengan ujaran klasik "50,000 screaming-fans can't be wrong". Sang pencipta frase tersebut mungkin belum pernah mampir ke Indonesia dan pergi menonton pertunjukan musik paling akbar di negeri ini. Coba juga iseng tanya Indonesianis macam Jeffrey Winters, dia bisa jadi akan menambahkan, "50,000 people can't be wrong? &hellip;Well, you've never been to Indonesia, fella&hellip;" lalu menyebutkan ratusan juta penduduk Nusantara yang hingga puluhan tahun ditindas oleh 2 diktator berbeda. 50,000 people can't be wrong? Think again.</p>
<p>Sampai dimana tadi, iya, saya sebenarnya memiliki harapan ultra besar kepada JRP. Sebab Indonesia amat butuh alternatif. Skena musik Indonesia butuh bebas dari uniformitas. Publik muda Indonesia perlu acara macam Woodstock, Lollapalooza, Ozzfest, Vans Warped Tour, Hard Rock Hell, dsb, yang cukup cutting-edge, relatif lepas dari tekanan kapital besar, tak terlalu tergantung pada so-called "selera pasar"&#8212;malah sebaliknya, mendidik pasar, membangun "niche" baru.</p>
<p>Di banyak aspek JRP memenuhi spesifikasi tersebut:</p>
<p><strong>1. Berani Berbeda</strong><br/>
Perhatikan saja barisan artisnya, dari 100+ penampil, yang bisa dikategorikan gigantik dan ramah-televisi palingan Nidji, Naif, dan The Changcuters. Selebihnya, itu para "50,000 screaming-fans can't be wrong" saat ditanya kenal apa tidak dengan band-band JRP lainnya, 100% garansi akan kompak menjawab: "Wallahuallam bisawab!". Artinya manuver JRP ini adalah sebuah langkah bagus &amp; berani, i.e. menolak penyeragaman.</p>
<p><strong>2. Edukatif</strong><br/>
Simak sisipan band lawasnya serta varian formasi reuninya. Dari kalangan veteran direncanakan untuk hadir antara lain Sharkmove, Gipsy &amp; Gank Pegangsaan, Noor Bersaudara; generasi berikutnya ada El Pamas, Powerslaves, Voodoo, Roxx, hingga kontingen huh-say-that-again?, tenar-di-ibukota-saja-tapi-pengaruhnya-vital-dus-cakupannya-regional macam Rumah Sakit. Pula reuni Pas Band, Netral, dan sebagainya. Ini inisiatif adiluhung plus sungguh signifikan bagi kemaslahatan musik Indonesia. Dari sinilah generasi berikutnya bisa belajar mengenai sejarah perjalanan musik (Rock) Indonesia. Wih, asli tak gampang untuk mengumpulkan muka-muka lama. Saya yakin, sumpah bukan perkara mudah untuk membujuk, katakanlah, Richard Mutter, berbagi panggung lagi dengan sejawat seperjuangannya jaman dulu. Artinya, JRP secara tidak langsung adalah juga ajang pendidikan, crucial crash-course. Kepingan-kepingan penting yang membentuk musik Indonesia dikumpulkan jadi satu, publik bisa "pelajari", "kursus kilat" cuma 3 hari. Dude, perlu bergalon Viagra untuk kerjaan sekolosal itu.</p>
<p><strong>3. Aku Cinta Indonesia</strong><br/>
Dengan menghadirkan sosok seperti Andy Tielman yang&#8212;bersama kelompoknya Tielman Brothers&#8212;merupakan band Indonesia pertama yang mampu go-international (dalam arti sebenarnya, sebab, ahem, tampil di depan TKI belumlah layak disebut go-international) pula partisipasi Young &amp; Restless, kuintet dengan mastermind dua bersaudara asal Indonesia, Karina &amp; Nugie Utomo, yang bermukim di Australia serta keberadaannya lumayan mahsyur utamanya di Canberra; diajaksertanya sosok-sosok tadi seyogianya bisa membuka mata orang lokal lalu menumbuhkan kepercayaan diri kolektif bahwa Indonesia juga bisa. Setuju, kita mampu kalau kita mau. Jika memang cinta Indonesia, cukup sudah berteori dan sok menjadi pengamat. Lakukan tindakan nyata. Segera dorong perubahan. JRP (maunya) membuktikan itu: mendorong perubahan sekaligus menumbuhkembangkan nasionalisme via musik.<br/>
<a href="http://www.rudolfdethu.com/wp-content/uploads/2010/10/JRP-01.jpg" ><img class="alignnone size-full wp-image-4190"  title="JRP-01"  src="http://www.rudolfdethu.com/wp-content/uploads/2010/10/JRP-01.jpg"  alt=""  width="450"  height="301" /></a><br/>
<small><em>Bersama sejawat di JRP. Superglad tampak di latar belakang sedang beraksi</em></small></p>
<p>Sayangnya segala elemen ideal tersebut berujung kontraproduktif, berakhir jadi fantasi semata. Duhai paceklik penonton&#8212;bahkan, ketika klimaks, kurang dari 10% kapasitas venue (Suicidal Sinatra hanya dipelototi oleh tak lebih dari 30 orang&#8212;sudah termasuk crew. Discotion Pill sedikit lebih beruntung, penikmatnya agak lebih banyak). Belum lagi, dari sisi internal, kepanitiaannya kacau balau. Selain saya mendapat bocoran dari orang dalam sendiri tentang riuh friksi horizontal, juga tampak lewat pengorganisasian jalannya acara. Band ini belum dibayar, artis itu baru dibayar setengah, liason officer yang menjalankan tugasnya dengan setengah hati. Pendeknya, mega-berantakan.</p>
<p>Sejak tiba di venue yang maha luas di Senayan, spirit saya spontan anjlok ke titik terendah saat disuguhi lanskap, orang Bali bilang, sepi dingkling. Padahal setting-an venuenya sudah keren. 4 panggung megah, soundsystem gahar, booth dengan pilihan makanan beragam (eh, tapi kok gak jual bir seeeh?), pokoknya, infrastrukturnya relatif memuaskanlah. Namun, ya percuma saja jika sepi pengunjung. Semangat semua pihak instan ambrol. Atmosfer lunglai, patah arang, lemah syahwat, telah mencemari udara sejak senja hari pertama itu. Pergantian dari satu band ke band lain, dari satu panggung ke panggung lain, berjalan datar-datar saja. Saya yang notabene masif minat menonton band yang reguler ditulis di majalah Gadis saat Bens Leo masih berkarir di situ, Acid Speed, Rolling Stones-nya Indonesia; terlanjur disfungsi ereksi terhadap JRP. Gairah Rock sudah hampir sirna. Atraksi Acid Speed di depan mata sekali pun tak sanggup mengacengkan lagi penis Rock 'N' Roll saya (pardon me, Mr. Rico Jagger, we'll catch up next time&#8212;if I'm lucky enough). Hanya 4 pertunjukan di penghujung saja, The Upstairs, Pas Band, KOIL, dan terutama Shaggydog; yang agak sanggup menghidupkan nyala api Rock di JRP hari pertama. JRP hari ke-2 saya, well, ke Senayan sih tapi, um, batal datang ke JRP lalu memutuskan membelokkan kendaraan ke Jakarta Un-Rock Parade a.k.a. diskotek X2 di Plaza Senayan. JRP hari ke-3? Another Jakarta Un-Rock Parade: nonton orang main "prosotan setan" di Mal FX, masih di bilangan Senayan. Sorry, I had lost my appetite, could not help it.<br/>
<a href="http://www.rudolfdethu.com/wp-content/uploads/2010/10/JRP-02.jpg" ><img class="alignnone size-full wp-image-4191"  title="JRP-02"  src="http://www.rudolfdethu.com/wp-content/uploads/2010/10/JRP-02.jpg"  alt=""  width="450"  height="338" /></a><br/>
<small><em>Jakarta Un-Rock Parade day 2 - berpelesir ke X2</em></small><br/>
<a href="http://www.rudolfdethu.com/wp-content/uploads/2010/10/JRP-03.jpg" ><img class="alignnone size-full wp-image-4192"  title="JRP-03"  src="http://www.rudolfdethu.com/wp-content/uploads/2010/10/JRP-03.jpg"  alt=""  width="450"  height="338" /></a><br/>
<small><em>Jakarta Un-Rock Parade day 3 - main prosotan di Mal FX</em></small></p>
<p>Menurut saya, faktor terbesar dari kegagalan JRP adalah harga tiket yang terlalu tinggi. Bandingkan saja dengan, katakanlah, Soundrenaline. Lepas dari masalah selera, simak deretan bintang-bintang yang ditampilkan. Slank, Padi, Dewa19, Sheila On 7, Peterpan, Samson, dkk. Dengan pilihan band-band seperti itu, tanpa perlu otak sekelas Einstein di atas kertas band-band tersebut akan mendatangkan massa berjumlah besar. Pasti acaranya jadi ramai, penuh penonton. Tapi apa iya, jika harga karcis dinaikin jadi Rp 200 ribu, akan tetap bisa menciptakan tumpah ruah manusia? Belum tentu kan? Biar kata dia Slankers, Sobat Padi, atau Baladewa nan militan, menghabiskan uang sejumlah Rp 200 ribu ya musti menyesuaikan dengan Upah Minimum Regional pribadi, atau membujuk ortu dengan histeris, atau berantem gede-gedean dulu dengan bini. Di negeri miskin-kacrut bernama Indonesia, Rp 200 ribu itu nilainya hampir setengah bulan gaji. Pilih kasih makan anak istri atau berdendang mengikuti Ariel Peterpan? Kecuali anda penganut Habibienomics (baca: skala prioritas di luar logika), maka dengan mudah anda menjatuhkan pilihan, tahu mana yang harus didahulukan. Dengan sorot perspektif sesederhana dan sebegitu banal, maka gampang diprediksi ketika JRP menetapkan harga tanda masuk semenjulang itu, Rp 200 ribu, maka JRP niscaya akan melarat di kuantitas penonton. Saya berani menyimpulkan demikian sebab, dalam skala kecil, saya juga lumayan reguler menyelenggarakan pertunjukan musik, utamanya Rock (meaning: tough, difficult, very small money, vertigo-guaranteed). Saya selalu lebih memilih menawarkan harga tanda masuk semurah mungkin, sebab saya amat sadar bahwa komunitas Rock ini sangat price-sensitive. Jika ternyata dari hasil kalkulasi dan negosiasi ternyata pertunjukan yang hendak saya buat, misalnya harga tanda masuk menurut saya over price maka saya lebih memilih untuk membatalkan niat bikin acara. Daripada acara saya sepi dingkling, mending nonton aja sambil beer-drinking. Dan itu pun dari sebegitu rutin bikin acaraadengan format berpikir murah-meriah tadiatak juga menjadi jaminan bahwa pertunjukan yang saya bikin akan berujung sukses, selalu banjir pengunjung, apalagi untung. Trus, bagaimana dengan konser seperti My Chemical Romance, kan harga tiketnya anjing banget tuh, sampe setengah juta lebih, kok tetep rame aja? Itu jenis penontonnya sedikit berbeda (dan tak mengenal Suckerhead atau Fable, pastinya), DAN konsepnya mengikuti selera pasar. Hanya saja levelnya di high-end. Dipahami?</p>
<p>Oh well, walau bisa disebut gagal, saya pribadi masih berharap akan diadakan lagi Jakarta Rock Parade seri 2. Sebab konsepnya sudah amat bagus: pelesir campur pendidikan, simultan berjalan berbarengan. That's totally awesome.</p>
<p>Terakhir, semoga sudut pandang ini bisa jadi salah satu bahan pertimbangan seandainya ada yang nekat menyelenggarakan Jakarta Rock Parade seri 2 atau pertunjukan "berbahaya" sejenis. Jangan dulu putus asa, maju terus musik Indonesia!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.rudolfdethu.com/2010/10/18/never-say-die-jakarta-rock-parade/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Countdown to Music Armageddon</title>
		<link>http://www.rudolfdethu.com/2010/10/09/countdown-to-music-armageddon/</link>
		<comments>http://www.rudolfdethu.com/2010/10/09/countdown-to-music-armageddon/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 09 Oct 2010 14:14:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rudolf Dethu</dc:creator>
				<category><![CDATA[Music & Art]]></category>
		<category><![CDATA[Socio-Politics]]></category>
		<category><![CDATA[The Beat Jakarta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.rudolfdethu.com/?p=4009</guid>
		<description><![CDATA[*<small>For Indonesian version please click <a href="http://www.rudolfdethu.com/2010/10/09/countdown-to-music-armageddon">here</a></small>

Aquarius Pondok Indah, one of the biggest record stores in Indonesia and located in the South of Jakarta, will soon be closed. The shop, first opened in 1995, has simply run out of business. Mid-August saw them start selling tens of thousands of items in their collection with a massive discount. A few months before that, in February, Aquarius Surabaya, after operating for 7 years, went bankrupt and Aquarius Dago, which used to be one of the coolest hangout spots for kids who lived in Bandung, was shut down in December 2009 after 19 years of guts and glory.

Disc Tarra, another national record retail chain, consisting of 78 stores to be precise, is  apparently in a similar situation and although they haven’t closed any of their stores yet, some in significant cities like Jakarta, Surabaya, and Denpasar, have been resized, some down to 50% smaller. This phenomenon, most people believe, is caused by the digital trend. MP3s and iPods took over the world. They are more popular than cassettes or cds and walkmans or tape recorders, and piracy is exacerbating the problem. Even the gigantic-size record stores like Virgin have lost the add-on “Megastore” in their title, switching now to become Virgin Store only. HMV, idem ditto, they get tinier. Not to mention Tower Records, once considered a major influential music institution in their heyday, called it a  day in 2006.

With the many DVD and CD shops that line many of Indonesia’s streets, the Indonesian government must come up with a strategy to put a stop to piracy and illegal copies. If they fail to do this, the countdown to music armageddon will continue…]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><span style="color: #0000ff;" >*</span></strong><small>For English version please scroll down</small><br/>
<a href="http://www.rudolfdethu.com/wp-content/uploads/2010/10/AquariusPondokIndah-mnpg.jpg" ><img class="alignnone size-full wp-image-4011"  title="AquariusPondokIndah-mnpg"  src="http://www.rudolfdethu.com/wp-content/uploads/2010/10/AquariusPondokIndah-mnpg.jpg"  alt=""  width="400"  height="267" /></a></p>
<p>Di masa sekarang, ketika melihat pemandangan toko kaset/cakram digital membludak dilimpahi pengunjung jangan dulu direspons girang. Pengumuman besar tentang diskon gigantik untuk seluruh koleksinya jangan dulu disambut riang. Sebab di era kini, fenomena macam demikian biasanya pertanda buruk: institusi tersebut sedang merugi.</p>
<p>Lihat saja apa yang terjadi dengan Aquarius Pondok Indah sebulan silam. Salah satu ritel kaset/cakram digital terbesar di Indonesia ini pada pertengahan Agustus lalu tampak dibanjiri publik. Rupanya toko yang telah eksis sejak 1995 itu sedang menyelenggarakan rabat gila-gilaan. Puluhan ribu barang dilego jauh lebih murah dari biasanya. Dampaknya: lahan parkir sungguh penuh hingga harus menggunakan badan jalan, tiap orang bak berlomba memborong apa saja yang ada, antrian manusia bertumpuk di depan kasir. Pemandangan seperti ini belakangan sungguh jarang terjadi. Bisa dibilang, relatif di setiap gerai penjualan album rekaman di Nusantara tingkat kunjungan kian hari kian merosot. Omset setinggi langit sekadar jadi kisah masa lalu&#8212;bisa <em>break even</em> saja sudah bersyukur. Dan benar saja, menjulangnya derajat kedatangan masyarakat ke Aquarius Pondok Indah ternyata karena perusahaan yang bernaung di bawah bendera Aquarius Musikindo itu hendak tutup untuk selamanya. Sebelumnya, Aquarius Dago (Bandung) yang dibuka sejak 1990 berhenti beroperasi pada Desember 2009. Sementara Aquarius Surabaya terpaksa dibekukan pada Februari 2010 lampau setelah berjalan tujuh tahun.</p>
<p>Segendang sepenarian dengan toko kaset/cakram digital tingkat nasional lainnya, Disc Tarra. Walau tak sampai harus menutup barisan tokonya&#8212;menurut data tahun 2009 ada 78 toko Disc Tarra di seluruh Indonesia&#8212;namun indikasi rapuh tercuat gamblang dengan pengurangan luas area toko hingga setengahnya seperti yang terjadi di di Jakarta, Bandung, dan Bali. Varian artis yang disodorkannya pun cenderung yang "aman", yang gampang laku. Gairah masyarakat berburu album musik dalam bentuk fisik dalam tempo singkat tersimak berkurang duhai cepat, terjadi merata di berbagai kota.<br/>
<a href="http://www.rudolfdethu.com/wp-content/uploads/2010/10/TowerRecords-mnpg.jpg" ><img class="alignnone size-full wp-image-4012"  title="TowerRecords-mnpg"  src="http://www.rudolfdethu.com/wp-content/uploads/2010/10/TowerRecords-mnpg.jpg"  alt=""  width="500"  height="375" /></a></p>
<p>Dalam blantika internasional, Tower Records tumbang terjungkal pada 2006. Virgin Megastore yang tadinya berjumlah ratusan di seluruh dunia, kini hanya tinggal seratusan toko dengan cakupan wilayah yang terus menyempit. Segendang sepenarian dengan HMV, skala bisnisnya terus dan terus tergerus. Selain karena kecenderungan global yang serba digital&#8212;anak muda lebih mengakrabi MP3 dan iPod dibanding kaset/cd &amp; pemutar audio tradisional&#8212;ditambah lagi pembajakan yang masih merdeka merajalela, utamanya di Indonesia. Benar, sengkarut ini menggejala di seluruh jagat raya, tak cuma di Nusantara.</p>
<p>Memang, yang dimatikan cuma 3 toko Aquarius&#8212;sekarang tinggal satu saja: Aquarius Mahakam&#8212;dan induk usahanya, PT Aquarius Musikindo, masih mampu bertahan. Tapi sampai kapan? Sebab jika pemerintah tetap ogah serius mengurusi pembajakan di negeri ini maka seluruh sendi industri rekaman akan cepat tamat. Maka bersiaplah: kiamat sudah semakin dekat.<br/>
<a href="http://www.rudolfdethu.com/wp-content/uploads/2010/10/VirginMegastore-mnpg.jpg" ><img class="alignnone size-full wp-image-4013"  title="VirginMegastore-mnpg"  src="http://www.rudolfdethu.com/wp-content/uploads/2010/10/VirginMegastore-mnpg.jpg"  alt=""  width="400"  height="300" /></a></p>
<p><span style="text-decoration: underline;" >English version</span></p>
<p>Aquarius Pondok Indah, one of the biggest record stores in Indonesia and located in the South of Jakarta, will soon be closed. The shop, first opened in 1995, has simply run out of business. Mid-August saw them start selling tens of thousands of items in their collection with a massive discount. A few months before that, in February, Aquarius Surabaya, after operating for 7 years, went bankrupt and Aquarius Dago, which used to be one of the coolest hangout spots for kids who lived in Bandung, was shut down in December 2009 after 19 years of guts and glory.</p>
<p>Disc Tarra, another national record retail chain, consisting of 78 stores to be precise, isA apparently in a similar situation and although they haven't closed any of their stores yet, some in significant cities like Jakarta, Surabaya, and Denpasar, have been resized, some down to 50% smaller. This phenomenon, most people believe, is caused by the digital trend. MP3s and iPods took over the world. They are more popular than cassettes or cds and walkmans or tape recorders, and piracy is exacerbating the problem. Even the gigantic-size record stores like Virgin have lost the add-on "Megastore" in their title, switching now to become Virgin Store only. HMV, idem ditto, they get tinier. Not to mention Tower Records, once considered a major influential music institution in their heyday, called it aA day in 2006.</p>
<p>With the many DVD and CD shops that line many of Indonesia's streets, the Indonesian government must come up with a strategy to put a stop to piracy and illegal copies. If they fail to do this, the countdown to music armageddon will continue&hellip;</p>
<p>___________________</p>
<p><strong><span style="color: #0000ff;" >*</span></strong><small>This article was originally titled "Industri Rekaman: Letih, Lelah, Lemah, Loyo Lagi Lesu" and was published on The Beat (Jakarta) mag, edition # 23, September 2010</small><br/>
<span style="color: #0000ff;" ><strong>*</strong></span><small>Photo of Tower Records is taken from manhattan.about.com</small></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.rudolfdethu.com/2010/10/09/countdown-to-music-armageddon/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>The Block Rockin&#8217; Beats: Momentum Budaya Tandingan</title>
		<link>http://www.rudolfdethu.com/2010/09/30/the-block-rockin-beats-momentum-budaya-tandingan/</link>
		<comments>http://www.rudolfdethu.com/2010/09/30/the-block-rockin-beats-momentum-budaya-tandingan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 30 Sep 2010 02:06:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rudolf Dethu</dc:creator>
				<category><![CDATA[About Me]]></category>
		<category><![CDATA[Music & Art]]></category>
		<category><![CDATA[Socio-Politics]]></category>
		<category><![CDATA[Block Rockin' Beats]]></category>
		<category><![CDATA[Rock-n-Roll Trivia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.rudolfdethu.com/?p=3513</guid>
		<description><![CDATA[Tulisan ini sejatinya adalah karya Felix Dass berjudul "Dethu dan Program Radio Bali The Block Rockin' Beats" serta tayang pertama kali di jakartabeat.net pada 29 September 2010. Jakartabeat.net kebetulan memang sedang membahas radio-radio di seluruh Nusantara yang mendedikasi diri khusus untuk rock and roll.

Selain saya ubah tajuknya, artikel ini juga saya sedikit improvisasi dengan menambahkan beberapa gambar pendukung.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><small>Tulisan ini sejatinya adalah karya <a href="facebook.com/pelukislangit" >Felix Dass</a> berjudul "Dethu dan Program Radio Bali The Block Rockin&#8217; Beats" serta tayang pertama kali di <a href="http://jakartabeat.net/musik/391-dethu-dan-program-radio-bali.html" >jakartabeat.net</a> pada 29 September 2010. Jakartabeat.net kebetulan memang sedang membahas radio-radio di seluruh Nusantara yang mendedikasi diri khusus untuk rock and roll.</small></p>
<p><small>Selain saya ubah tajuknya, artikel ini juga saya sedikit improvisasi dengan menambahkan beberapa gambar pendukung.</small><br/>
<a href="http://www.rudolfdethu.com/wp-content/uploads/2010/09/JakartaBeatNet.jpg" ><img class="alignnone size-full wp-image-3521"  title="JakartaBeatNet"  src="http://www.rudolfdethu.com/wp-content/uploads/2010/09/JakartaBeatNet.jpg"  alt=""  width="600"  height="114" /></a></p>
<p>Di sebuah malam di tahun 2007, saya duduk bersama dua orang yang saya kagumi; Achmad Marin dan Edwin Sandy&#8212;Well, ini bukan cerita tentang mereka. Kami berdiskusi tentang sebuah program radio. Buat saya dan Marin, kesempatan malam itu adalah pengambilan gambar kedua kami turun gelanggang membina sebuah program radio. Yang sebelumnya, bisa dibilang gagal. Bertemu dengan Edwin merupakan sebuah pergumulan yang mencerahkan. Kami sepakat, sebuah arena baru perlu dikandung untuk kemudian dilahirkan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.</p>
<p>Hanya dalam hitungan minggu, kami bertiga memiliki sebuah program radio sendiri. Saya bertahan setahun membesarkan dan merawat program radio ini. Menyenangkan rasanya bisa meluangkan sedikit waktu dalam seminggu, memilih playlist sendiri dan memainkannya untuk orang banyak. Proses cuap-cuap, kemudian menjadi tidak penting ketika beberapa pesan singkat masuk dan bertanya tentang lebih lanjut tentang lagu-lagu yang diputar.</p>
<p>Dan itu meninggalkan memori yang tidak lekang dimakan waktu sampai sekarang, hampir tiga tahun setelah pertemuan itu terjadi.</p>
<p>***</p>
<p>Karena paham akan esensinya, maka saya bisa mengerti sepenuhnya kenapa seorang Putu Wirata Wismaya memperpanjang tentakelnya di <em>scene</em> lokal Bali dengan berbagai macam program radionya.</p>
<p>Tunggu, merasa asing dengan nama Putu Wirata Wismaya? Bagaimana kalau nama itu ditukar dengan Rudolf Dethu? Sudah cukup familiar?</p>
<p>Oke, kalau belum familiar. Mari kita lihat seberapa detail saya bisa mengisahkan kiprah seorang Rudolf Dethu untuk anda semua. Sembari mencari ide, bisa juga masuk ke <a href="http://www.rudolfdethu.com/" >http://www.rudolfdethu.com/</a></p>
<p><strong>Dari Superman is Dead hingga Radio</strong></p>
<p>Perkenalan saya dengan Dethu, panggilan populernya, dimulai sekitar tahun 2002. Saya yang waktu itu, adalah seorang mahasiswa yang terkesan luar dalam dengan gestur <em>classy</em>-nya sebagai seorang propagandis yang sekaligus menjadi tulang belakang kelompok musik Superman is Dead.</p>
<p>Dethu menjalankan Superman is Dead, clothing linenya Suicide Glam (beserta milis <em>cult</em>-nya), dan Suicide Beat Show di Radio Plus, Bali.</p>
<p>Seluruh kiprahnya menawan hati. Saya berkenalan lebih dalam via sejumlah pertukaran email dan kemudian memutuskan untuk membawa Superman is Dead memainkan pertunjukan pertama mereka di Bandung.</p>
<p>Suicide Glam pun sempat menjadi buah bibir kala itu ketika kerja keras Dethu mempropagandakan produknya terdengar luas oleh banyak insan di tanah Jakarta. Lewat serangkaian kunjungan kerja super efektif, sayapnya berkembang lebar.</p>
<p>Satu yang menurut saya mencuri perhatian adalah Suicide Beat Show di Radio Plus, Bali. Saya yang waktu itu tinggal di Bandung, tentunya akrab dengan berbagai macam program radio yang mampu memfasilitasi banyak kepentingan anak muda. Tapi itu Bandung, bukan Bali.</p>
<p>Di tempat asal saya, Jakarta, program radio adalah sebuah barang mewah yang dikuasai elitis korporasi yang menutup rapat ruang untuk sebuah kebudayaan alternatif. Sesuatu yang ada di bawah permukaan, sulit untuk menembus lapisan tebal guna bisa terlihat di atas permukaan.</p>
<p>Bali, buat saya adalah sebuah teritori asing yang sama sekali tidak bisa diprediksi. Superman is Dead adalah duta besar musik Bali yang levelnya sama dengan Ramos Horta untuk Timor Leste. Otak di balik band itu&#8212;saat itu&#8212;adalah Dethu. Dan Dethu mengelola sebuah program radio.</p>
<p><em>How cool is that?</em></p>
<p>Sebelum perkenalan dengan Dethu dan Superman is Dead-nya, saya tidak tahu apakah Bali itu punya <em>scene</em> alternatif yang menarik atau tidak.</p>
<p>Ternyata, Suicide Beat Show adalah sebuah lini perlawanan terhadap keadaan. Setelah fakta itu terungkap beberapa tahun yang lalu, sekarang saya harus menarik ke belakang cerita tentang sosok Rudolf Dethu. Dia ternyata lebih dahsyat ketimbang apa yang sudah saya pahami selama ini. Terlebih kontribusinya untuk <em>scene </em>lokal Bali via musik-musik alternatif yang dia sebarkan perlahan.</p>
<p>"Saya memperoleh kesempatan bekerja di kapal pesiar&#8212;antara 1993 hingga 1998&#8212;saya bak memperoleh akses musikal nan tak terbatas untuk mengikuti kata hati saya. Gaji saya selanjutnya dominan tersedot untuk membeli cd dan majalah musik (serta baju bagus). Dari situ saya kemudian giat membikin album kompilasi sendiri dan saya tambahkan info serta perspektif penting atau tidak penting di tiap lagu," terangnya tentang persetubuhan pertamanya dengan program radionya di Radio Cassanova, Bali.</p>
<p>"Sahabat saya, Rude Boy Dodix, yang pacarnya kebetulan menjadi <em>program director</em> di radio Cassanova langsung menawari saya membuat <em>radio show</em> sendiri. Benar, tanpa dites kemampuan cuap-cuap di radio atau ditagih lembar pengalaman soal pernah kerja di radio atau tidak. Belum genap sebulan kembali di Bali saya sudah punya program radio sendiri, seminggu sekali. Itu adalah masa kelahiran Alternative Airplay, acara radio saya yang perdana. Konsepnya adalah membahas musik secara tuntas. Fondasi acaranya adalah pendidikan, berbagi informasi."<br/>
<a href="http://www.rudolfdethu.com/wp-content/uploads/2010/09/fm-105.jpg" ><img class="alignnone size-full wp-image-3518"  title="fm-105"  src="http://www.rudolfdethu.com/wp-content/uploads/2010/09/fm-105.jpg"  alt=""  width="150"  height="77" /></a></p>
<p>Dethu percaya siapa yang menguasai informasi adalah mereka yang akan memegang arah perjalanan dunia. Oleh karena itu, dalam skala yang super kecil, dia melakukan kontribusi aktif pada perkembangan scene lokal Bali yang pada waktu itu nihil terdengar di nusantara.</p>
<p>"Waktu itu, acara radio saya jadi ajang hangout para aktivis underground Bali. Bertukar informasi, berdiskusi, membaca buku atau majalah yang saya bawa pulang, dan minum arak tentunya," kenangnya.</p>
<p>Jangan pernah berpikir bahwa keseriusan ada di prioritas pertama perjalanan Alternative Airplay. Dethu paham bagaimana mengerjakan sesuatu atas dasar senang-senang. Dengan tanpa memberikan tarikan kendor pada perjalanan program ini, ia dan kameradnya tetap berjibaku melewati waktu berbagi informasi itu dengan definisi &#8216;senang-senang&#8217; tadi. "<em>Half the time, I was drunk or hangover or on something</em>," kelakarnya.</p>
<p>"<em>But Alternative Airplay took Bali by storm!</em>" katanya melanjutkan.</p>
<p>Waktu berjalan dan kemudian menghadirkan sebuah wajah baru hasil pergumulan idealisme baru; Suicide Beat Show.</p>
<p>"Saya membawa nama Suicide Glam dan berkolaborasi dengan majalah The Beat," terangnya. Di era baru ini, ia membuka pintu lebar pada kehadiran Tuhan baru: Internet.</p>
<p><strong>Dethu, Radio dan Internet</strong></p>
<p>Jika sebelumnya Bali adalah tanah antah berantah untuk musik dan jauh lebih kondang dikenal karena pariwisata dan kiprah Dewa-Dewi yang nyata, kepulangan Dethu ke tanah leluhurnya membawa sebuah revolusi jarak jauh yang terasa sampai Jakarta.</p>
<p>Internet memangkas jarak ribuan kilometer yang terbentang dan setiap perkataan Dethu hampir selalu menjadi inspirasi untuk saya.</p>
<p>Dalam hati, saya berpikir keras, "Bagaimana mungkin orang ini baru muncul ke permukaan dan dia mengabarkan sebuah revolusi musikal di tanah leluhurnya. Ini yang benar-benar diperlukan oleh Nusantara."</p>
<p>Saya bergabung di <em>mailing list</em> Suicide Glam?yang masih aktif sampai hari ini?hanya demi mengikuti sepak terjang Dethu (salah satunya via Suicide Beat Show) dan menikmati gaya menulisnya yang sangat elegan dan kaya warna. Dan sebaliknya, mailing list tersebut memasukkan banyak sekali informasi.</p>
<p>Satu yang saya ingat adalah kontribusi masif Dethu yang memperkenalkan saya dengan genre punk rock yang lebih beragam?yang agak berbeda dengan apa yang sudah saya konsumsi di tanah Jakarta dan Bandung?dan rockabilly. Karena sejujurnya, saya tidak akrab dengan dua jenis musik ini. Kalaupun tahu hanya selepas lalu saja. Tidak pernah benar-benar mengikat diri dengannya.</p>
<p>Dan untuk sumbangan ini, saya berhutang padanya.</p>
<p>Suicide Beat Radio berganti muka ketika Dethu hijrah ke Oz Radio yang baru membuka cabang di Bali. Saya sedikit paham dengan Oz Radio, karena mereka berasal dari Bandung dan kebetulan cukup kenal dengan music director pertama Oz Radio Bali, Kemir Maulana. Saya dan Kemir kenal di Bandung, tempat saya tinggal waktu itu.</p>
<p>Dethu pun semakin menajamkan pisau ilmu pengetahuannya dengan peran serta internet yang lebih besar. Lahirlah Oz Clash Pistol (OCP).</p>
<p>"Saya baru benar-benar mengaktifkan fasilitas internet untuk menyebarkan propaganda serta benar-benar menyusun program dengan rapi, terstruktur, dan terukur," tuturnya.</p>
<p>Dari namanya sudah jelas bisa dicerna; Clash diambil dari nama The Clash dan Pistol diambil dari nama The Sex Pistols. Masih perlu penjelasan siapa mereka? Silakan tanya sama Om Google saja ya.</p>
<p>"Namun baru setahun belakangan saya sadar bahwa seharusnya akan lebih baik jika di masa OCP saya sudah mempunyai website pribadi seperti sekarang. OCP akan terdokumentasi lebih baik serta efeknya ke publik bisa menjangkau lebih lebar. Saya ingat sekali, Ryan Koesuma dari Deathrockstar sejatinya pernah menyarankan agar saya sudah mulai bikin website sendiri atau sejenisnya. Menurut Ryan agar informasi dan propaganda berharga itu terdokumentasi baik, tak tercecer serampangan. Ryan benar. Ketika saya mulai mengumpulkan lagi remah-remah OCP (dan tak semua edisi saya bisa temukan) saya jadi bingung saat hendak mempublikasikannya lagi di era sekarang, sebab sudah tak kontekstual." demikian Dethu menuturkan pada saya.<br/>
<a href="http://www.rudolfdethu.com/wp-content/uploads/2010/09/OCP.jpg" ><img class="alignnone size-full wp-image-3517"  title="OCP"  src="http://www.rudolfdethu.com/wp-content/uploads/2010/09/OCP.jpg"  alt=""  width="700"  height="351" /></a><br/>
<em><small>Salah satu edisi Oz Clash Pistol di tahun 2006 di milis SuicideGlamNation</small></em></p>
<p>Perjalanan waktu adalah sebuah ujian berat untuk menyusun kembali seluruh partikel masa lalu tersebut. Tapi, sembari menengok ke belakang, Dethu juga memalingkan wajahnya ke arah masa depan dan terus berkarya.</p>
<p><strong>Dethu dan program radio The Block Rockin&#8217; Beats</strong></p>
<p>Yang paling mutakhir sudah berusia lewat satu tahun. Namanya The Block Rockin&#8217; Beats, ruang tayangnya berada di The Beat Radio. Yang kali ini, agak sedikit berbeda.</p>
<p>"Sejatinya konsepnya mirip dengan acara yang sudah-sudah. Hanya saja The Block Rockin&#8217; Beats tidak memakai penyiar, hanya memutar lagu-lagu saja sepanjang dua jam," jelas Dethu tentang mainan barunya.</p>
<p>Masih atas nama penyebaran informasi, Dethu memutar sudut pandang ceritanya. Jika sebelumnya ia yang mencari detail informasinya, sekarang ia hanya berperan sebagai kurator. The Block Rockin&#8217; Beats menyajikan playlist-playlist favorit orang-orang yang dipilih sendiri olehnya.</p>
<p>"Tiap orang bisa bikin <em>playlist</em>. Tapi tidak setiap orang bisa membuat <em>playlist</em>-nya dilirik orang lain. Kenapa? Karena dangkal, tidak menciptakan kedekatan, tidak mendorong terjadinya interaksi, sekadar daftar saja. Tapi jika <em>playlist</em> tersebut diberikan sejumput kisah barulah orang akan tertarik untuk melirik," paparnya.</p>
<p>Semua orang yang diundang untuk melakukan eksebisi merupakan kenalan Dethu dan tersebar luas di seluruh penjuru nusantara.</p>
<p>"Orang-orang yang saya kenal secara pribadi dan wawasan musiknya saya hormati, diberi kesempatan memainkan <em>playlist</em> yang mempengaruhi hidupnya. Dan masing-masing lagu yang diputar tersebut musti diberi penjelasan," imbuhnya.</p>
<p>Keberagaman adalah kata kuncinya. Dethu menyulam dengan baik pergumulannya dengan berbagai macam orang dengan latar belakang musik; ada yang musisi paruh waktu, ada yang pegawai korporasi multinasional, ada yang aktivis kemanusiaan, penulis, hingga pencinta keriaan.</p>
<p>Dan The Block Rockin&#8217; Beats menjadi sebuah panggung maha agung yang perlahan tapi pasti sudah mendapatkan pengikut setia, mereka yang sudah mau bergabung pada perjamuan suci setiap minggunya. Di beberapa kesempatan?karena memang memuat penjelasan orang-orang yang melakukan eksebisi?The Block Rockin&#8217; Beats seolah menjelma menjadi pelajaran ekstra kurikuler yang terlalu manis untuk dilewatkan.</p>
<p>"Misi dari The Block Rockin&#8217; Beats adalah berbagi ilmu, berbagi sudut pandang tentang musik. Musik juga tak melulu harus didengar, bisa juga dibaca, dipahami lewat penjelasannya," kata Dethu.</p>
<p>Dia benar. Musik juga tidak melulu untuk didengar. Kadang, dengan paparan maha misterius, musik bisa menerabas batasan dan berbicara dengan bahasa yangA sederhana; enak atau tidak enak, disukai atau tidak disukai.</p>
<p>Ada yang menarik ketika The Block Rockin&#8217; Beats melewati ulang tahun pertamanya beberapa minggu yang lalu. Dethu mengontak seluruh orang yang pernah berpartisipasi di program ini dan meminta mereka untuk mengirimkan satu lagu perpisahan yang menjadi favorit masing-masing orang itu. Dia akan memutarkannya sebagai sebuah kesatuan <em>playlist</em>.</p>
<p>Semoga saja, ini bukan pertanda ia akan menghentikan acara ini. Dari cerita di atas, ia beberapa kali menemui akhir. Dan sebuah perpisahan bukanlah hal yang asing untuknya.</p>
<p>"Sebuah acara radio saya, harus dihentikan kebanyakan karena tidak bisa mengatur waktu. Suicide Beat Show dan Oz Clash Pistol harus berhenti akibat manajemen waktu saya berantakan. Sebab acara radio saya tak sekadar datang ke radio lalu berpidato. Ada porsi propagandanya, ada risetnya, ada cuap-cuapnya. <em>Time-consuming</em> sekali," kenangnya.</p>
<p>Sejauh ini, The Block Rockin&#8217; Beats adalah yang paling memberikan centang perenang cerita bagi Dethu. Misalnya ketika ia mendapatkan teguran dari aparat berwenang, "Saya mendapat teguran dari aparat karena menayangkan lagu <em>Genjer-Genjer</em> pada saat eksebisinya Adib Hidayat. Biasalah, disuruh hati-hati karena bisa dianggap pro-PKI, subversif. Hari gini?"</p>
<p>Selain itu, dari kacamata budaya tandingan, perkongsian kontribusi ini membawa ia merekatkan sebuah simpul jaringan yang maha kuat. Nusantara mengenal gerbong budaya tandingan Bali yang dibawa Dethu dalam bingkai musik dan sebaliknya, Bali mengenal nusantara via eksebisi simultan bermedium suara ini.</p>
<p>"Secara signifikan sih jejaring perkawanan yang jadi makin kuat. Orang-orang yang saya ajak berpartisipasi di Block Rockin&#8217; Beats rata-rata adalah sosok yang diperhitungkan prestasinya. Dengan mendapat dukungan dari orang-orang penting tersebut maka, secara tidak langsung, kita bisa kompak sama-sama berjuang mengusung budaya tandingan. Agar sebagian generasi muda punya identitasnya sendiri, tak mudah disetir oleh korporasi besar. Plus musik tak jadi seragam dan membosankan," ceritanya.<br/>
<a href="http://www.rudolfdethu.com/wp-content/uploads/2010/09/WhamBang.jpg" ><img class="alignnone size-full wp-image-3519"  title="WhamBang"  src="http://www.rudolfdethu.com/wp-content/uploads/2010/09/WhamBang.jpg"  alt=""  width="250"  height="250" /></a><br/>
<em><small>Edisi dirgahayu The Block Rockin&#8217; Beats tahun pertama</small></em></p>
<p>Dethu paham luar dalam apa yang ia lakukan. Pola pikirnya kadang radikal, tapi kontribusinya tidak bisa dipandang sebelah mata.</p>
<p>"Saya resah akibat fakta sahih yang banyak terjadi di lapangan bahwa ultra berlimpah penyiar radio yang semata piawai di isu cuap-cuap saja, sementara di urusan pengetahuan tentang musiknya mengkhawatirkan," ucapnya blak-blakan.</p>
<p>Tapi tenang, dia tidak akan berhenti dalam waktu dekat. Setidaknya, selama hasrat berbagi informasi masih ada di dalam benaknya, hasil karyanya masih ada di sekitar kita semua.</p>
<p>Masa depan adalah layar cerah yang begitu menggoda untuk dijelang. Di alam pikirannya, sebuah <em>dedicated radio</em> sedang dirangkai. "Ini lucu, salah satu pemegang saham The Beat Radio Plus malah bilang seraya bercanda, &#8216;Kamu sebenarnya sudah pantas untuk bikin radio sendiri. Nanti jika fasilitas radio streaming sudah gampang dimiliki oleh orang per orang maka kamu sudah tidak perlu lagi sama kita.&#8217; Nanti website pribadi saya ke depannya akan memiliki fasilitas radionya sendiri. Catat itu," ujarnya pada saya.</p>
<p>Dethu menutup cerita ketika secara berkelakar saya bertanya, kapan ia akan berhenti. Dia menjawab, "Ketika negara ini mengadopsi undang-undang yang berlaku di Brunei Darussalam: alkohol divonis haram."</p>
<p>_____________________</p>
<p><span style="color: #0000ff;" >*</span><small>Foto di halaman depan saya pinjam-pakai dari <a href="revoltvideo.deviantart.com" >revoltvideo</a></small></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.rudolfdethu.com/2010/09/30/the-block-rockin-beats-momentum-budaya-tandingan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Profil Umum 7 Calon Pimpinan KPK 2010</title>
		<link>http://www.rudolfdethu.com/2010/08/16/profil-umum-7-calon-pimpinan-kpk-2010/</link>
		<comments>http://www.rudolfdethu.com/2010/08/16/profil-umum-7-calon-pimpinan-kpk-2010/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 16 Aug 2010 01:20:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rudolf Dethu</dc:creator>
				<category><![CDATA[Socio-Politics]]></category>
		<category><![CDATA[Politics]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.rudolfdethu.com/?p=2495</guid>
		<description><![CDATA[Artikel ini saya peroleh dari Transparency International Indonesia. Sepertinya layak untuk kita ketahui. Semoga saja yang akhirnya terpilih adalah sosok yang kompeten sehingga penyakit kronis korupsi di negeri ini bisa segera habis dibasmi. Semoga saja.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><small>Artikel ini saya peroleh dari Transparency International Indonesia. Sepertinya layak untuk kita ketahui. Semoga saja yang akhirnya terpilih adalah sosok yang kompeten sehingga penyakit kronis korupsi di negeri ini bisa segera habis dibasmi. Semoga saja.<br/>
</small></p>
<p style="text-align: center;" ><span style="text-decoration: underline;" ><strong>PROFIL UMUM 7 CALON PIMPINAN KPK 2010</strong></span></p>
<p><strong><a href="http://www.rudolfdethu.com/wp-content/uploads/2010/08/Bagindo.png" ><img class="alignleft size-full wp-image-2497"  title="Bagindo"  src="http://www.rudolfdethu.com/wp-content/uploads/2010/08/Bagindo.png"  alt=""  width="89"  height="106" /></a>DR. SUTAN BAGINDO FAHMI, SH. MH.</strong><br/>
Lahir di Pariaman, Sumatera Barat, 13 September 1951, berumur 59 tahun saat mendaftar sebagai calon pimpinan KPK. Latar belakang pekerjaan sebagai Jaksa, dengan jabatan terakhir Direktur Tata Usaha Negara Kejaksaan Agung RI. Selama menjabat pernah menangani sejumlah kasus kontroversial, seperti kasus Ruislag antara Bulog dengan PT. Goro Batara Sakti dengan terdakwa Tommy Soeharto, Beddu Amang dan Ricardo Gelael.</p>
<p>Selain menangani kasus Ruislag Bulog, calon ini juga menangani kasus dana non-budgeter Bulog dengan terdakwa Akbar Tandjung, Dadang Sukandar dan Winfried Simatupang; kasus Technical Assistant Contract, dengan terdakwa Ginandjar Kartasasmita, IB Sudjana; serta kasus korupsi dan pembalakan liar Adelin Lis di Medan. Di tingkat Pengadilan Negeri pada bulan Oktober 2007, Adelin divonis bebas. ICW melakukan eksaminasi publik terhadap kasus ini. Salah seorang majelis eksaminasi yang berasal dari mantan Jaksa, M.H. Silaban dalam legal anotasinya menyatakan dakwaan tidak jelas, alat bukti tidak akurat dan keterangan yang sudah dicabut di persidangan ternyata masih digunakan di berkas tuntutan pidana.</p>
<p>Hasil pemeriksaan internal Kejaksaan Agung pun menjatuhkan sanksi penurunan pangkat dan mutasi sebagai staf ahli Jaksa Agung RI. Perkara akhirnya di ajukan ke tingkat Kasasi, dan berkat tekanan publik yang luar biasa, Mahkamah Agung memutus bersalah Adelin Lis dan menghukum 10 tahun penjara.</p>
<p><strong><a href="http://www.rudolfdethu.com/wp-content/uploads/2010/08/Jimly.png" ><img class="alignleft size-full wp-image-2499"  title="Jimly"  src="http://www.rudolfdethu.com/wp-content/uploads/2010/08/Jimly.png"  alt=""  width="93"  height="107" /></a>PROF. DR. JIMLY ASHIDIQIE, SH</strong>.<br/>
Lahir di Palembang, 17 April 1956, berumur 54 tahun saat mendaftar sebagai calon pimpinan KPK. Bekerja sebagai tenaga pengajar di Fakultas Hukum Universitas Indonesia, pernah menjadi Ketua Mahkamah Konstitusi RI, Dewan Etik Komisi Pemilihan Umum dan mantan Dewan Pertimbangan Presiden RI. Saat mencalonkan sebagai pimpinan KPK, Jimly mengajukan pengunduran diri dari Wantimpres.</p>
<p>Selama menjadi Hakim Mahkamah Konstitusi, Jimly pernah memutus dua perkara kontroversial, yaitu Judicial Review terhadap UU Komisi Yudisial dan UU Komisi Pemberantasan Korupsi. Putusan terhadap UU KY dinilai sebagai bentuk delegitimasi dan pelemahan terhadap lembaga reformasi tersebut. MK saat itu menghilangkan hampir semua kewenangan pengawasan KY, dan membebaskan diri dari jangkauan pengawasan KY. Hal ini dikecam banyak pihak, karena KY sesungguhnya sangat dibutuhkan sebagai penyeimbang, pengawas ekternal dan bahkan untuk memberikan terapi kejut di tengah virus Mafia Peradilan yang meluas. Hingga saat ini, revisi UU KY tidak pernah berhasil dilakukan. Putusan MK benar-benar menyandera kelembagaan KY, dan terkesan memenangkan arogansi Mahkamah Agung yang anti pengawasan saat itu.</p>
<p>Sedangkan, pada Judicial Review UU KPK, MK saat itu membatalkan keberadaan Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, dan bahkan merekomendasikan agar kewenangan penyadapan KPK ditinjau ulang dan diatur kembali. Putusan ini pun dinilai sebagai pintu gerbang kematian KPK dan Pengadilan Tipikor. Meskipun memberikan tenggat waktu 3 tahun, akan tetapi putusan tersebut hampir saja melumpuhkan KPK. Beruntung, akibat desakan publik yang luar biasa, akhirnya DPR menuntaskan UU Nomor 46 tahun 2009 tentang Pengadilan Tindak Pidana Korupsi beberapa saat sebelum jangka waktu berakhir. Jika saja UU tersebut tidak selesai, maka pemberantasan korupsi akan kembali ke Pengadilan Umum.</p>
<p>Pada tahun 2000 pernah melaksanakan ibadah umroh bersama isteri dari Dana Abadi Umat (DAU). Kasus DAU inilah yang membuat mantan menteri Agama, Said Agil Al-Munawar dijerat Timtastipikor dengan delik korupsi karena penyalahgunaan DAU dan pembayaran haji di tahun 2005/2006. Akan tetapi, dalam makalahnya kepada Pansel KPK, Jimly mengatakan dia tidak sedang menjadi pejabat saat menerima DAU. Namun, jika dicermati, dua tahun sebelumnya (1998-1999), Jimly sebenarnya menduduki jabatan yang sangat strategis, yaitu: Asisten Wakil Presiden RI dan Sekretaris Dewan Penegakan Keamanan dan Sistem Hukum Indonesia di tahun 1998-1999.</p>
<p><strong><a href="http://www.rudolfdethu.com/wp-content/uploads/2010/08/Chaerul1.png" ><img class="alignleft size-full wp-image-2504"  title="Chaerul"  src="http://www.rudolfdethu.com/wp-content/uploads/2010/08/Chaerul1.png"  alt=""  width="83"  height="125" /></a>IRJEN. POL. (PURN). DRS. CHAERUL RASJID, SH. MH</strong>.<br/>
Lahir di Lubuk Linggau Sumsel, 17 Januari 1949 (61 tahun). Pendidikan kedinasan yang pernah diikuti adalah Akabri tahun 1972, PTIK tahun 1981, SESPIM tahun 1987, dan SESKO tahun 1994. Selama dinas, Chaerul juga menempuh pendidikan S1 Ilmu Hukum di UI Jakarta (lulus 1994), Pasca Sarjana UNDIP Semarang (lulus 2008) saat ini masih menempuh program Doktoral di UNDIP Semarang. Sedangkan pendidikan formal adalah suami dari Tasniaty ini memiliki 3 orang anak.</p>
<p>Mengawali karirnya sebagai Kasi Sabbhara Polresta Pekanbaru Polda Riau pada tahun 1973, dalam perjalannan karirnya jabatan strategis yang pernah dipegangnya antara lain:AA Wakapolda Kalsel (1998-1999), Kapolda Kalbar (1999-2000), Wakil Gubernur Akpol Semarang(2000-2001), Kapolda Aceh (2001-2002) , Gubernur Akpol Semarang (2002-2003), Waka Babinkam Polri )2003-2004) dan terakhir adalah Kapolda Jawa Tengah (2004-2006).</p>
<p>Dalam Makalahnya ke Pansel KPK, Chaerul menyatakan selama menjabat sebagai Kapolda Jawa Tengah, dari 48 kasus korupsi yang ditangani Polda Jawa Tengah, sebanyak 78 % terselesaikan. Sedangkan sisanya belum selesai karena persoalan izin pemeriksaan. Tercatat pernah mencalonkan sebagai Gubernur Jawa Tengah pada tahun 2008 dan salah satu purnawirawan Jenderal Polisi yang memberikan dukungan terhadap pencalonan Wiranto-Jusuf Kalla sebagai Calon Presiden dan Wakil Presiden pada Pemilihan Umum tahun 2009 lalu.</p>
<p><strong><a href="http://www.rudolfdethu.com/wp-content/uploads/2010/08/Melli1.png" ><img class="alignleft size-full wp-image-2505"  title="Melli"  src="http://www.rudolfdethu.com/wp-content/uploads/2010/08/Melli1.png"  alt=""  width="126"  height="90" /></a>MELLI DARSA, SH. LLM</strong>.<br/>
Melli Darsa adalah seorang advokat yang memfokuskan diri pada penanganan masalah hukum kegiatan ekonomi. Lahir di Bogor, 19 September 1966, Melli merupakan putri dari seorang Duta Besar/Wakil Tetap RI di PBB Jenewa, Swiss, era 80an ini sudah menggeluti profesinya selama 20 tahun belakangan ini. Alhasil, firma hukum yang dipimpinnya berhasil meraih beberapa penghargaan prestisius seperti Asia Legal Business Employer of choice 2009 for Indonesia. Dan ia seringkali mewakili perusahaan-perusahaan besar di Indonesia. Melli merupakan Advokat senior dalam Melli Darsa &amp; Co.</p>
<p>Alumnus Harvard Law School, Cambridge, ini memiliki 2 orang anak. Sebagai seorang wanita,AA ia termotivasi untuk mengabdi dan memupus asumsi masyarakat yang sering beranggapan bahwa yang cocok memimpin KPK hanyalah pria saja. Melli beranggapan KPK dan masa depan Negara Hukum Indonesia sedang di persimpangan jalan. Maka yang diperlukan adalah sosok yang jujur, kompeten, memegang prinsip, bersih, mapan secara finansial dan tanpa kepentingan tertanam tertentu.</p>
<p><strong><a href="http://www.rudolfdethu.com/wp-content/uploads/2010/08/Busjro1.png" ><img class="alignleft size-full wp-image-2506"  title="Busjro"  src="http://www.rudolfdethu.com/wp-content/uploads/2010/08/Busjro1.png"  alt=""  width="135"  height="106" /></a>MUHAMMAD BUSJRO MUQODDAS, SH. MHUM.</strong><br/>
Busjro yang lahir di Yogyakarta, 17 Juli 1952, merupakan sosok yang tumbuh dan besar dalam gerakan Islam Muhammadiyah, sehingga hal itu mewarnai corak aktivitasnya selama ini. Ayahnya merupakan pegawai Departemen Agama dan Ibunya merupakan guru agama Islam di Madrasah Mu'allimat Muhammdiyah, Yogyakarta. Busyro kemudian juga pernah menjadi pangurus Muhammadyah, baik di pimpinan pusat, maupun di tingkat ranting.</p>
<p>Sebelum menduduki jabatannya saat ini, Busjro mengabdi sebagai dosen pada almamaternya. Di lingkungan kampus, ia juga pernah diamatkan menjadi Dekan Fakultas Hukum UII. Selain mengajar, aktivitas lain yang dijalaninya adalah sebagai advokat jalanan (prodeo). Salah satu kasus yang pernah ditanganinya adalah kasus gugatan terhadap Bupati Wonosobo atas nama pedagang pasar tradisional pada tahun 1997.</p>
<p>Busjro termotivasi menjadi pimpinan KPK, untuk mewujudkan "jihad kemanusiaan" yang bertujuan untuk memerdekakan rakyat dan bangsa dari kondisi dan fenomena perilaku kumuh secara etika dan moral. Pengalaman menjadi Ketua Komisi Yudisial sejak 2005 lalu dianggapnya menjadi modal untuk aktif memberantas korupsi. Selain di Komisi Yudisial, Busjro juga masih aktif sebagai Dosen Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta.</p>
<p><strong><a href="http://www.rudolfdethu.com/wp-content/uploads/2010/08/Sudirta.png" ><img class="alignleft size-full wp-image-2502"  title="Sudirta"  src="http://www.rudolfdethu.com/wp-content/uploads/2010/08/Sudirta.png"  alt=""  width="95"  height="117" /></a>I WAYAN SUDIRTA, SH</strong><br/>
I Wayan Sudirta yang lahir di Pidpid, Bali, 20 Desember 1950, &amp; dibesarkan di lingkungan keluargaAA militer. Sejak kecil hampir seluruhnya mengenyam pendidikan di Pulau Jawa. Gelar S1 Fakultas Hukumnya didapatkan pada tahun 1976 di Universitas Brawijaya, Malang, dan setelah lulus beliau meneruskan karier di bidang hukumnya di LBH Jakarta sejak tahun 1977 di bawah pimpinan Adnan Buyung Nasution. Kariernya di LBH Jakarta hanya berjalan selama 3 tahun.</p>
<p>Selama kariernya di bidang hukum, Wayan juga pernah melakukan pembelaan terhadap masyarakat kecil. Pada tahun 1989, ketika masa orde baru masih berjaya, Wayan pernah melakukan pembelaan terhadap 100 Kepala Keluarga warga Kerandan Desa Culik di Kabupaten Karangasem, Provinsi Bali, yang terancam dikriminalisasi, dibakar rumahnya dan akhirnya diusir karena membela kesucian tempat pemujaan ibadahnya. Pengalaman lainnya, Wayan, pernah membela pengungsi Timtim eks transmigran Bali pada tahun 1999, dimana sekitar 2000 jiwa pulang ke Bali dari Timtim memisahkan diri dari referendum dan Wayan berhasil memperjuangkan transmigran tersebut untuk mendapatkan tempat tinggal yang layak. Catatan lain seperti pembelaan terhadap petani Pecatu yang berjumlah ratusan kepala keluarga melawan PT. Bali Pecatu Graha milik Tommy Soeharto yang mengambil alih lahan garapannya.</p>
<p>I Wayan Sudirta tidak hanya dikenal sebagai Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Republik Indonesia dari daerah pemilihan Bali, ia juga dikenal sebagai Ketua kaukus Anti Korupsi DPD RI. Selain itu Wayan juga menjabat sebagai Ketua Panitia Perancang Undang-undang (PPUU) DPD RI.</p>
<p><a href="http://www.rudolfdethu.com/wp-content/uploads/2010/08/Bambang.png" ><img class="alignleft size-full wp-image-2507"  title="Bambang"  src="http://www.rudolfdethu.com/wp-content/uploads/2010/08/Bambang.png"  alt=""  width="135"  height="106" /></a><strong>DR. BAMBANG WIDJOJANTO, SH.MH.</strong><br/>
Advokat yang lahir di Jakarta, 18 Oktober 1950 meraih gelar Doktor pada tahun 2009 di Program Ilmu Hukum di Fakultas Hukum Universitas Padjajaran. Separuh dari karier di bidang hukum dilakukan bekerja bersama masyarakat sipil melalui Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). Tercatat tahun 1984 - tahun 2000 Bambang Widjojanto (BW) berkarier di LBH Jakarta, LBH Jayapura (1986-1993), dan Yayasan LBH Indonesia menggantikan Adnan Buyung Nasution menjadi Dewan Pengurus Yayasan LBH Indonesia (1995-2000). Selama periode tahun 2001 sampai saat ini, Bambang yang dikenal dengan singkatan BW ini membangun kelompok masyarakat sipil dengan fokus tertentu dan bekerja di berbagai LSM. Khususnya, bergerak di bidang antikorupsi, reformasi hukum dan pemilihan umum serta good governance. Di antaranya, pendiri lembaga seperti Indonesian Corruption Watch, KontraS, Konsorsium Reformasi Hukum, Lembaga Reformasi Agraria, Lembaga Independen Pemantau Pemantau Mahkamah Agung, Indonesia Monitoring Court; Serta terlibat intensif di Central Electoral Reform (CETRO), Partnership for Governance Reform serta berbagai LSM lainnya.</p>
<p>Pada periode yang sama BW membantu beberapa lembaga Negara maupun non struktural lainnya, seperti Bappenas, Mahkamah Agung, Mahkamah Konstitusi, KPK, Komisi Yudisial, Komisi Nasional Kebijakan Governance, Kejaksaan Agung dan BUMN. Selain berkarier di bidang hukum, BW juga merupakan dosen pengajar di fakultas hukum Universitas Trisakti.</p>
<p>Beberapa aktivitas konkrit yang dilakukan oleh BW selama kariernya di bidang hukum: Kesatu, ketika di LBH Jayapura pernah diancam oleh Asistem Intel Kodam Cendrawasih untuk tidak menggunakan UU Subversi dalam penanganan kasus pidana politik di Papua (1986). Kedua, sewaktu di Yayasan LBH Indonesia melakukan diversifikasi program dan kegiatan pasca lengsernya Presiden Soeharto dengan membetuk lembaga-lembaga seperti ICW, KRHN, LERAI dan Voice of Human Rights suatu lembaga yang melakukan advokasi melalui media online dan radio. Ketiga, Mengajukan gagasan program antikorupsi dengan melibatkan Muhammadiyah dan NU, serta program percepatan pemberantasan korupsi bersama Bappenas dan lembaga lainnya yang sekarang menjadi strategi Nasional Pemberantasan Korupsi. Keempat, melakukan penolakan terhadap klien yang memaksa melakukan upaya penyuapan untuk memenangkan perkara. Selain itu BW dikenal berani karena pernah menyobek Rancangan Komisi Konstitusi produk MPR, atas perbuatan tersebut BW dituduh telah berbuat anarkis.</p>
<p><small>Dokumentasi Indonesia Corruption Watch 2010<br/>
Diolah dari berbagai Sumber</small></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.rudolfdethu.com/2010/08/16/profil-umum-7-calon-pimpinan-kpk-2010/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>SVF ~ Saha Nuhur: Hurrah, Pecha Kucha Comin&#8217; Atcha!</title>
		<link>http://www.rudolfdethu.com/2010/07/29/svf-saha-nuhur-hurrah-pecha-kucha-comin-atcha/</link>
		<comments>http://www.rudolfdethu.com/2010/07/29/svf-saha-nuhur-hurrah-pecha-kucha-comin-atcha/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 29 Jul 2010 00:41:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rudolf Dethu</dc:creator>
				<category><![CDATA[Socio-Politics]]></category>
		<category><![CDATA[Festival]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.rudolfdethu.com/?p=2255</guid>
		<description><![CDATA[That's right, don't give up the fight, back in full-effect: Pecha Kucha Night!

Friday, August 06, 2010; 7 PM - end, at Sanur Village Festival.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>That&#8217;s right, don&#8217;t give up the fight, it&#8217;s Pecha Kucha Night!</em></p>
<p>Friday, August 06, 2010; 7 PM - end, at Sanur Village Festival.</p>
<p>And these are the participants/themes/titles:</p>
<p><a href="http://www.rudolfdethu.com/wp-content/uploads/2010/07/PechKuch-resized.jpg" ><img class="alignnone size-full wp-image-2257"  title="PechKuch-resized"  src="http://www.rudolfdethu.com/wp-content/uploads/2010/07/PechKuch-resized.jpg"  alt=""  width="500"  height="375" /></a></p>
<p>01. Agung Bawantara - theme: Blues Rock wayang / title: Merindukan Rok Belus, Kemasan Ekspresi Baru dari Bali<br/>
02. Anton Muhajir (balebengong.net) / Citizen journalism / Jurnalisme Warga Memberi Ruang Warga untuk Bercerita<br/>
03. Bulantrisna Djelantik / Reducing city noise / Less Noise Cities<br/>
04. Iwan Darmawan / The story behind Ayu Manda&#8217;s novel / Ayu Manda<br/>
05. SAMAS Bike Community / Bicycle, the green transportation / Bike for Life<br/>
06. Jeff Kristianto / Empowering diffable people / A Wheelchair Access&#8217; Toilet is Not Enough<br/>
07. Little Tree / The story behind Little Tree / Little Tree<br/>
08. Yetty Kuhn / Remembering love in the 21st century / Love is Red<br/>
09. Made Kris Adiastra / Knowledge about earthquake &amp; Tsunami / Save Southern Coastline for Tsunami Mitigation<br/>
10. Saylow Alrite (Bali Blogger Community) / Fun crash-course about IT / KAsTI ~ Kelas Asik Teknologi Informasi<br/>
11. Blue Green Community (in confirmation)</p>
<p>+DJ: Sound Bwoy Dodix spinnin&#8217; Dub/Ska/Reggae.</p>
<p>Be hip. Get a grip. Gettin&#8217; jiggy with it. Yip yip.</p>
<p><small>for further info please e-mail rudolfdethu@rudolfdethu.com or call/SMS +628123866364</small></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.rudolfdethu.com/2010/07/29/svf-saha-nuhur-hurrah-pecha-kucha-comin-atcha/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Twitter Wars in Asia</title>
		<link>http://www.rudolfdethu.com/2010/07/24/twitter-wars-in-asia/</link>
		<comments>http://www.rudolfdethu.com/2010/07/24/twitter-wars-in-asia/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 24 Jul 2010 01:44:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rudolf Dethu</dc:creator>
				<category><![CDATA[Socio-Politics]]></category>
		<category><![CDATA[Politics]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.rudolfdethu.com/?p=2189</guid>
		<description><![CDATA[<small><i>by Hera Diani</i></small>

Conservative and liberal Muslims in Indonesia are taking their fight for hearts and minds to Twitter. Is that good or bad?]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.rudolfdethu.com/wp-content/uploads/2010/07/TwitterWars.jpg" ><img class="alignnone size-full wp-image-2190"  title="TwitterWars"  src="http://www.rudolfdethu.com/wp-content/uploads/2010/07/TwitterWars.jpg"  alt=""  width="400"  height="250" /></a></p>
<p><small><em>by Hera Diani</em></small></p>
<p>Conservative and liberal Muslims in Indonesia are taking their fight for hearts and minds to Twitter. Is that good or bad?</p>
<p>Read more <a href="http://the-diplomat.com/2010/06/22/twitter-wars-in-asia/" >here</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.rudolfdethu.com/2010/07/24/twitter-wars-in-asia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sejarah Bagi Publik, Untuk Ruang Publik</title>
		<link>http://www.rudolfdethu.com/2010/03/27/sejarah-bagi-publik-untuk-ruang-publik/</link>
		<comments>http://www.rudolfdethu.com/2010/03/27/sejarah-bagi-publik-untuk-ruang-publik/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 27 Mar 2010 03:51:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rudolf Dethu</dc:creator>
				<category><![CDATA[Music & Art]]></category>
		<category><![CDATA[Socio-Politics]]></category>
		<category><![CDATA[Exhibition]]></category>
		<category><![CDATA[Festival]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.rudolfdethu.com/?p=1182</guid>
		<description><![CDATA[Sejarah adalah pengetahuan untuk semua, bukan hanya objek nostalgia untuk mereka yang mengalami suatu peristiwa sejarah.
Sejarah terus menerus berada dalam proses menjadi, diciptakan kembali oleh setiap pemberi makna dan generasi.
Setiap generasi punya hak untuk mengakses bukti sejarah yang diarsipkan.
Setiap generasi punya hak menciptakan ruangnya sendiri untuk mengunjungi kembali sejarah.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: left;" ><a href="http://www.rudolfdethu.com/wp-content/uploads/2010/03/FLYER_PublikUntukRuangPublik_2010-edited.jpg" ></a><a href="http://www.rudolfdethu.com/wp-content/uploads/2010/03/SejarahBagiRuangPublik-mnpg.jpg" ><img class="alignnone size-full wp-image-1773"  title="SejarahBagiRuangPublik-mnpg"  src="http://www.rudolfdethu.com/wp-content/uploads/2010/03/SejarahBagiRuangPublik-mnpg.jpg"  alt=""  width="325"  height="461" /></a></p>
<p style="text-align: left;" >Sejarah adalah pengetahuan untuk semua, bukan hanya objek nostalgia untuk mereka yang mengalami suatu peristiwa sejarah.<br/>
Sejarah terus menerus berada dalam proses menjadi, diciptakan kembali oleh setiap pemberi makna dan generasi.<br/>
Setiap generasi punya hak untuk mengakses bukti sejarah yang diarsipkan.<br/>
Setiap generasi punya hak menciptakan ruangnya sendiri untuk mengunjungi kembali sejarah.</p>
<p>Demikian propaganda utama dari <em>Sejarah adalah Sekarang (History is Now)</em> edisi ke empat. Aktivitas tahunan ini pertama kali diselenggarakan pada tahun 2007. Acara yang rutin diselenggarakan tiap Maret ini diprakarsai oleh kineforum Dewan Kesenian Jakarta dengan bantuan dari Pemerintah Daerah DKI Jakarta, sumbangan masyarakat, serta pemeliharaan alat oleh Studio 21. Latar belakang penyelenggaraan program berkala ini adalah untuk merespons riuhnya wacana yang muncul di generasi muda tentang keingintahuan mereka soal sejarah Indonesia&#8212;utamanya minat mereka dengan film-film produksi lokal. Mereka amat antusias ingin mencari dan menggali dokumen/rekaman yang ada untuk dikumpulkan, lalu diapresiasi bersama-sama, serta kemudian meneruskan histeria ini ke rekan-rekannya yang lain.</p>
<p style="text-align: left;" >
<p>Pengejawantahan dalam menjawab maunya para penerus bangsa itu akhirnya bisa terwujud pada Maret 2007 dan cukup lumayan menarik minat 1.500an orang untuk datang. Berlanjut tahun berikutnya, 2.900an orang bertandang. Di penyelenggaraan ketiga, sambutan meningkat ultra tajam, lebih dari 8.700 peminat berbondong-bondong bergabung.</p>
<p>Dan di tahun yang ke-4 di tahun 2001 ini <em>Sejarah adalah Sekarang</em> diberi tajuk spesial: <em>Publik untuk Ruang Publik</em>. Konsep acaranya pun tidak melulu berhenti pada ritual menonton film belaka. Dipersembahkan pula konser musik, diskusi, hingga pesta kostum segala.</p>
<p>Yang menarik untuk disimak terutama&#8212;pertama&#8212;pada Minggu, 14 Maret 2010, bertempat di Taman Ismail Marzuki, dimana pada sore harinya diadakan pemutaran khusus film <em>Duo Kribo</em>. Film keluaran 1978 dengan bintang utama Ucok AKA dan Achmad Albar ini sengaja diputar untuk merayakan ditemukannya kembali kopi film di Inter Studio, Pasar Minggu, Jakarta. Beberapa jenak setelahnya diadakan diskusi <em>Musik Rock, Film &amp; Anak Muda</em>. Lalu, di bawah komando Indra Ameng, salah satu figur maha penting di ranah berkesenian alternatif Jakarta, dilanjutkan dengan menampilkan konser musik dengan  macam The Gribs, That's Rockefeller, dll.<em>band</em></p>
<div id="attachment_1184"  class="wp-caption alignnone"  style="width: 410px" ><em><em><a href="http://www.rudolfdethu.com/wp-content/uploads/2010/03/IndraAmeng-edited.jpg" ><img class="size-full wp-image-1184"  title="IndraAmeng-edited"  src="http://www.rudolfdethu.com/wp-content/uploads/2010/03/IndraAmeng-edited.jpg"  alt=""  width="400"  height="498" /></a></em></em><p class="wp-caption-text" >Indra Ameng</p></div>
<p><em> </em>Kedua pada Rabu, 31 Maret 2010. Rencananya bakal diputar film produksi 1956 yang dibintangi salah satunya oleh Mieke Wijaya, <em>Tiga Dara</em>. Lalu musisi sekelas Tika &amp; The Dissidents, Endah N' Resha, serta Frau, menjadi penutup rangkaian seluruh acara. Oh, pagelaran ini sekaligus merupakan pesta penggalangan dana bagi kineforum dan Sinematik Indonesia.</p>
<p>Mari rangkul bersama prinsip dasar kineforum yaitu: Tekanan pada tindakan (<em>me</em>nonton, <em>me</em>maknai, <em>me</em>nilai dan <em>me</em>nyumbang).</p>
<p><span style="color: #ff0000;" >*</span><small>Artikel ini pertama kali dimuat di majalah The Beat Jakarta edisi Maret 2010</small></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.rudolfdethu.com/2010/03/27/sejarah-bagi-publik-untuk-ruang-publik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

