<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Rudolf Dethu</title>
	<atom:link href="http://www.rudolfdethu.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.rudolfdethu.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Tue, 23 Feb 2010 19:36:58 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.4</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Altamont Speedway Free Festival</title>
		<link>http://www.rudolfdethu.com/2010/02/24/altamont-speedway-free-festival/</link>
		<comments>http://www.rudolfdethu.com/2010/02/24/altamont-speedway-free-festival/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 23 Feb 2010 19:36:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rudolf Dethu</dc:creator>
				<category><![CDATA[Knowledge is King]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.rudolfdethu.com/?p=1086</guid>
		<description><![CDATA[Bagi rekan-rekan yang telah lanjut usia&#8212;30 tahun ke atas, atau penggemar fanatik The Rolling Stones, atau punya ketertarikan gigantik pada so-called “Sex, Drugs &#38; Rock ‘n Roll”, pasti pernah menonton film dokumenter Gimme Shelter atau minimal sempat mendengar kisah legendaris tentang konser gratis pada 6 Desember 1969 di Altamont Speedway, California, Amerika Serikat.
Tonton trailer-nya di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: left;">Bagi rekan-rekan yang telah lanjut usia&#8212;30 tahun ke atas, atau penggemar fanatik The Rolling Stones, atau punya ketertarikan gigantik pada so-called “Sex, Drugs &amp; Rock ‘n Roll”, pasti pernah menonton film dokumenter <em>Gimme Shelter</em> atau minimal sempat mendengar kisah legendaris tentang konser gratis pada 6 Desember 1969 di Altamont Speedway, California, Amerika Serikat.</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://www.rudolfdethu.com/wp-content/uploads/2010/02/GimmeShelter-movietrailer.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1089" title="GimmeShelter-movietrailer" src="http://www.rudolfdethu.com/wp-content/uploads/2010/02/GimmeShelter-movietrailer.jpg" alt="GimmeShelter-movietrailer" width="400" height="260" /></a><em><small>Tonton trailer-nya <a href="http://www.youtube.com/watch?v=nPNeh4d9guk">di sini</a></small></em></p>
<p>Pertunjukan tanpa tiket—lebih populer dengan tajuk <em>Altamont Free Concert</em>—yang menghadirkan nama-nama besar macam Santana, Jefferson Airplane, The Flying Burrito Brothers, The Grateful Dead, Crosby, Stills, Nash, and Young; serta Mick Jagger &amp; co. sebagai penampil utama itu bukan saja mampu mengundang hingga 300 ribu orang untuk datang, seraya menyisipkan sisi tak terduga: 4 bayi dikabarkan lahir di arena konser, pula menyertakan sisi kelam: 2 orang tewas akibat kecelakaan bermotor, 1 orang tenggelam, dan—ini dia—1 orang terbunuh. Mari menyimak lebih jauh soal apa/siapa/kenapa sampai terjadi huru-hara berujung maut.<span id="more-1086"></span></p>
<p>Tadinya pagelaran ini hendak diselenggarakan di Golden Gate Park di San Fransisco, namun karena alasan perijinan kemudian pindah ke Sears Point Raceway, mentok lagi, hingga akhirnya disepakati memakai Altamont Raceway. Hari dan tanggal penyelenggaran: Sabtu, 6 Desember 1969. Dan—menurut sebuah versi—atas rekomendasi The Grateful Dead, geng motor Hell’s Angels dipakai sebagai tenaga keamanan. Dengan koordinator lapangan Ralph ‘Sonny’ Barger, ketua Hell’s Angels cabang Oakland. Dengan bayaran/barter segunung bir senilai 500 Dollar Amerika. Beberapa orang memberikan versi sama sekali berbeda, terutama Sam Cutler, road manager The Rolling Stones. Ia menolak anggapan bahwa Hell’s Angels memang disewa sebagai satuan pengaman.</p>
<blockquote><p>The only agreement there ever was … the Angels would make sure nobody tampered with the generators, but that was the extent of it. But there was no ‘They’re going to be the police force’ or anything like that. That’s all bollocks</p></blockquote>
<p>Pada pra dan masa awal, situasi aman terkendali, konser berjalan relatif damai (thanks to booze, LSD, and amphetamine). Penonton, yang hampir seluruhnya hippies, bergembira—tepatnya “high”—menikmati ajang musik cuma cuma itu. Sementara di seberangnya gerombolan Hell’s Angels menikmati suguhan bir bebas beanya. Di pertengahan, suasana berangsur memburuk. Tensi mendaki naik, berubah panas. Mabuk, giting, halusinasi, paranoid, overdosis, campur aduk jadi satu. Penonton—sebagian membawa mawar merah, asli hippies abis—dan Hell’s Angels yang sebelumnya tata-tentram-kerta-raharja, riang ria dan protagonis, beralih menjadi buruk rupa dan antagonis. Mulai terjadi pertengkaran kecil dan sporadis antar satu sama lain. Keributan besar meledak ketika Denise Jewkes, personel band asal San Fransicso, Ace of Cups; yang saat itu sedang hamil 6 bulan, terjengkang dan mengalami gegar otak akibat terkena lemparan botol bir. Kondisi instan carut marut. Hell’s Angels merangsek penonton agar mundur agak menjauh dari panggung yang tak cukup tinggi untuk konser semasif itu. Dilanjutkan dengan munculnya seorang wanita tambun telanjang bulat dari barisan penonton mendesak memaksa maju mendekati panggung, menyenggol dan mendaki apa pun yang menghalanginya. Hell’s Angels naik pitam dan menghajarnya hingga pingsan. Hell’s Angels makin membabi buta mengerasi siapa saja saat salah satu motor mereka yang ditempatkan di depan panggung dijatuhkan oleh penonton. Marty Balin, anggota Jefferson Airplane, yang notabene adalah salah satu pengisi acara pun tak luput dari penganiayaan. Dia ditinju hingga semaput oleh satu dari awak Hell’s Angels. The Grateful Dead, yang dijadwalkan main setelah Crosby, Stills, Nash, and Young; merespons anarki ini dengan spontan meninggalkan arena dan membatalkan penampilannya.</p>
<p><a href="http://www.rudolfdethu.com/wp-content/uploads/2010/02/gimmeshelter-edited.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1091" title="gimmeshelter-edited" src="http://www.rudolfdethu.com/wp-content/uploads/2010/02/gimmeshelter-edited.jpg" alt="gimmeshelter-edited" width="350" height="550" /></a></p>
<p>Ketika Rolling Stones sebagai penampil terakhir mendapat giliran beraksi, Altamont bak paceklik positivitas. 3000 – 4000 orang terdesak ke bibir panggung. Banyak di antaranya yang berusaha naik ke panggung mencoba membebaskan diri dari iklim nan non kondusif tersebut. Mick Jagger, biduan The Rolling Stones, berusaha sedikit meredakan kekacauan,  dengan tanpa jeda menyerukan agar penonton tak saling dorong,</p>
<blockquote><p>Just be cool down in the front there, don’t push around</p></blockquote>
<p>Masuk tembang ke-3, <em>Sympathy for the Devil</em>, keributan terjadi lagi. Berhenti sebentar, atraksi dilanjutkan kembali. Sampai lagu nomor enam pementasan berjalan lumayan aman. Klimaks huru-hara pecah tatkala <em>Under My Thumb</em> baru saja dikumandangkan. Meredith Hunter, pria muda berusia 18 tahun, bergerak mendekati panggung walau—menurut kisah Porter Bibb, produser <em>Gimme Shelter</em>—sang pacar, Patty Bredahoff, merajuk memohon-mohon agar ia tetap tinggal di tempat. Meredith Hunter&#8212;dalam tayangan video pertama, <em>In Defense of the Hell&#8217;s Angels</em> (lihat di bawah, menggunakan jaket hijau)&#8212;yang notabene sedang “on” berat akibat methamphetamine dan berjalan duhai sempoyongan, terus saja maju ke depan. Tiba-tiba Meredith mengeluarkan revolver dari saku jaketnya. Patty lalu berusaha merampasnya. Khalayak yang berada di dekatnya otomatis ketakutan dan berusaha menjauhi. Alan Passaro, anggota Hell’s Angels yang kebetulan sedang di sekitar TKP segera melesat menghampiri, mencabut belati, dan menghujamkannya hingga 5 kali ke tubuh Meredith. Meredith langsung meregang nyawa, menghembuskan nafas terakhir (sebagian saksi mengatakan bahwa saat Meredith terjungkal ke tanah, kerabat Hell’s Angels yang lain beramai-ramai menzaliminya pula). Meredith Hunter konon hendak membidikkan pistol ke Mick Jagger semata gara-gara cemburu karena sepanjang pertunjukan sang pacar terus-terusan bilang naksir Mick Jagger.</p>
<p>Akibat perbuatannya Alan Passaro langsung ditangkap dan diinterogasi. Belakangan Alan Passaro dibebaskan setelah sebuah rekaman video mustajab membuktikan bahwa tindakan Alan Passaro sekadar mempertahankan diri.</p>
<p>Kerusuhan yang terjadi tak begitu disadari oleh The Rolling Stones, mereka hanya menonton dari atas panggung, bingung, mencoba menebak-nebak apa yang terjadi. Tak lama kemudian kontingen asal Inggris tersebut melanjutkan penampilannya sampai kelar 15 lagu. Di lain kesempatan Ralph ‘Sonny’ Barger mengklaim bahwa The Rolling Stones bersedia meneruskan karena Sonny menyodorkan pistol ke Keith Richards serta mengancam akan membinasakannya jika sampai berani menyetop pertunjukan.</p>
<blockquote><p>You keep fuckin’ playing or you’re dead</p></blockquote>
<p style="text-align: center;"><a href="http://www.rudolfdethu.com/wp-content/uploads/2010/02/InDefense.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1092" title="InDefense" src="http://www.rudolfdethu.com/wp-content/uploads/2010/02/InDefense.jpg" alt="InDefense" width="400" height="256" /></a><em><small>Simak bagaimana Meredith Hunter dihujam belati <a href="http://www.youtube.com/watch?v=7v9WcwTbErw">di sini</a></small></em></p>
<p>No thanks to booze, LSD, and methamphetamine.</p>
<p style="text-align: center;">__________________</p>
<p>Simak juga video di bawah, terutama perhatikan bagian akhir, seorang wanita berbadan lebar tanpa busana memaksa naik ke panggung</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://www.rudolfdethu.com/wp-content/uploads/2010/02/Altamont-more.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1093" title="Altamont-more" src="http://www.rudolfdethu.com/wp-content/uploads/2010/02/Altamont-more.jpg" alt="Altamont-more" width="400" height="258" /></a><em><small>Nikmati filmnya <a href="http://www.youtube.com/watch?v=53E0zAOSE04&amp;feature=related">di sini</a></small></em></p>
<p><span style="color: #ff0000;">*</span><small>Artikel ini sudah sedikit direvisi, pertama kali saya publikasikan di Musikator pada 8 April 2009</small></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.rudolfdethu.com/2010/02/24/altamont-speedway-free-festival/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Rock-n-Roll Exhibition: UCOK HOMICIDE</title>
		<link>http://www.rudolfdethu.com/2010/02/23/rock-n-roll-exhibition-ucok-homicide/</link>
		<comments>http://www.rudolfdethu.com/2010/02/23/rock-n-roll-exhibition-ucok-homicide/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 23 Feb 2010 06:17:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rudolf Dethu</dc:creator>
				<category><![CDATA[Perspectives]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.rudolfdethu.com/?p=1058</guid>
		<description><![CDATA[Edition: December 16, 2009
Rock-n-Roll Exhibition: UCOK HOMICIDE
An Ode to Septian Dwicahyo and Random Mantras on Waking Up The Dead B-Boyism
:: Playlist, notes and photos, written and handpicked by Ucok Himself ::

&#8230;Kalender menunjukkan 1982 saat gelombang pertama hiphop mampir di Indonesia,
tepatnya saat breakdance booming pertama kali
dan mendadak generasi Catatan si Boy menari kejang di setiap lapangan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Edition: December 16, 2009</p>
<p><strong>Rock-n-Roll Exhibition: UCOK HOMICIDE<br />
<em>An Ode to Septian Dwicahyo and Random Mantras on Waking Up The Dead B-Boyism</em></strong></p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>::</strong></span> Playlist, notes and photos, written and handpicked by Ucok Himself <span style="color: #ff0000;"><strong>::</strong></span></p>
<p><a href="http://www.rudolfdethu.com/wp-content/uploads/2010/02/Rock-n-RollExhibition-UCOKHOMICIDE.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1059" title="Rock-n-RollExhibition-UCOKHOMICIDE" src="http://www.rudolfdethu.com/wp-content/uploads/2010/02/Rock-n-RollExhibition-UCOKHOMICIDE.jpg" alt="Rock-n-RollExhibition-UCOKHOMICIDE" width="400" height="400" /></a><em><br />
&#8230;Kalender menunjukkan 1982 saat gelombang pertama hiphop mampir di Indonesia,<br />
tepatnya saat breakdance booming pertama kali<br />
dan mendadak generasi Catatan si Boy menari kejang di setiap lapangan volley kosong.<br />
Mungkin saat itu pertama kalinya saya berkenalan dengan skema bernama Rap, dan musik bernama Hiphop.</em></p>
<p><em>Long story short, Hiphop was my first love, menggugah dan menginspirasi.<br />
Membangkang dan menyalakan nyali.<br />
Sesuatu yang sulit didapat jika kalian mendengar hiphop hari ini</em></p>
<p><em>So in the name of the shadows of Septian Dwi Cahyo’s moonwalk sight,<br />
celana sport merecet, sarung tangan kulit, headband dan spirit melawan kebosanan,<br />
here goes the list of 31 cuts,<br />
chosen randomly to represent the spectre of once banality-bashing passion called Hiphop&#8230;</em></p>
<p>The Playlist:</p>
<p><a href="http://www.rudolfdethu.com/wp-content/uploads/2010/02/q-unique.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1060" title="q-unique" src="http://www.rudolfdethu.com/wp-content/uploads/2010/02/q-unique.jpg" alt="q-unique" width="350" height="233" /></a><strong>01. Q-Unique &#8211; Bring Back The Raw Hiphop</strong><br />
<em>&#8230;Hiphop needs me like I need guns in my waist<br />
Like George Bush needs to get punched in his face&#8230;</em><br />
Track yang cocok dipake jadi pembuka mixtape. Furious flow, wicked metaphors, dan melanjutkan tradisi <em>Death Certificate</em> Ice Cube yang menggabungkan gun-totingism dan politik radikal, Q-Unique never goes out of style.<span id="more-1058"></span></p>
<p><strong>02. El-P &#8211; Deep Space 9mm</strong><br />
Dari debutnya <em>Fantastic Damage</em> pasca Company Flow bubar, El-Producto mencampur paksa imaji sci-fi dengan urban tale ala NY dan dikawinkan dengan salah satu beat paling sakit dalam sejarah hiphop. Sampai sekarang tak habis pikir bagaimana dia bisa menciptakan beat seperti ini yang sangat masang dengan suara desis seperti ampli bocor di belakangnya.</p>
<p><strong>03. Saul Williams feat. Zack Dela Rocha- Act III Scene 2</strong><br />
Saul Williams lebih banyak dianggap sebagai spoken words artist, tapi lagu ini menunjukkan ia memiliki skill MC yang cukup berbahaya dan ternyata sangat cocok berdampingan dengan suara nasal Zack Dela Rocha.<br />
<em>&#8230;You&#8217;re the one they&#8217;re asking to go carry a gun<br />
Warfare ain&#8217;t humanitarian<br />
You&#8217;re scaring me, son<br />
Why not fight to feed the homeless, jobless, fight inflation?<br />
Why not fight for our own healthcare and our education?!&#8230;</em></p>
<p><a href="http://www.rudolfdethu.com/wp-content/uploads/2010/02/Ill_Bill.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1061" title="Ill_Bill" src="http://www.rudolfdethu.com/wp-content/uploads/2010/02/Ill_Bill.jpg" alt="Ill_Bill" width="250" height="250" /></a><strong>04. Ill Bill &#8211; Awaiting The Hour</strong><br />
Sang MC yang mendeklarasikan diri &#8220;Im a Slayer album personified&#8221; akhirnya benar-benar men-sample lagu Slayer untuk track brutal ini, tepatnya riff dari <em>Raining Blood</em> berlayer dengan drum loop ber-kick 808. Track ini makin istimewa dengan hadirnya verse dari Killah Priest yang cukup kondang dengan rima apokaliptiknya. Sejak Public Enemy yang men-sample <em>Angel of Death</em> di tahun 1989, saya selalu menganggap men-sample riff Slayer sebagai bagian dari tradisi hiphop yang hilang <img src='http://www.rudolfdethu.com/wp-includes/images/smilies/icon_razz.gif' alt=':P' class='wp-smiley' /> </p>
<p><a href="http://www.rudolfdethu.com/wp-content/uploads/2010/02/virtuoso.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1062" title="virtuoso" src="http://www.rudolfdethu.com/wp-content/uploads/2010/02/virtuoso.jpg" alt="virtuoso" width="300" height="301" /></a><strong>05. Virtuoso with Akrobatik &#8211; Military Intelligence</strong><br />
One of the greatest anti-Bush song ever. Virtoso berduet dengan Akrobatik memberondong blasphemy untuk sang warmonger dengan pelecehan tanpa ampun pada patriotisme Amrik dan tentaranya yang mencoba jadi polisi dunia.</p>
<p><a href="http://www.rudolfdethu.com/wp-content/uploads/2010/02/Immortal-tech.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1063" title="Immortal-tech" src="http://www.rudolfdethu.com/wp-content/uploads/2010/02/Immortal-tech.jpg" alt="Immortal-tech" width="250" height="254" /></a><strong>06. Immortal Technique &#8211; The 3rd World</strong><br />
<em>&#8230;I&#8217;m from the only place democracy is acceptable<br />
Is if America candidate is electable&#8230;</em><br />
Fuck yeah, The most lethal MC on earth is back on the map. Kali ini akhirnya menemukan produser beat yang cocok dengan rima brutal nya, Green Lantern men-supply beat sederhana dengan flute panik sebagai kanvas kosong dimana Tech menggambarkan dengan detail, tajam, tanpa basa-basi bagaimana korporasi dan negara adidaya mem-plot imperialisme di dunia ketiga. Dan jika Nas dan lainnya menaruh harapan pada Obama, Tech adalah salah satu MC yang tidak percaya pada elit untuk revolusi global;<br />
<em>&#8230;And they might even have a black president, but he&#8217;s useless<br />
&#8216;Cause he does not control the economy, stupid!&#8230;</em><br />
<strong><br />
<a href="http://www.rudolfdethu.com/wp-content/uploads/2010/02/non-phixion.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1064" title="non-phixion" src="http://www.rudolfdethu.com/wp-content/uploads/2010/02/non-phixion.jpg" alt="non-phixion" width="275" height="275" /></a>07. Non-Phixion with Arsonist &#8211; 14 Years of Rap</strong><br />
<em>&#8230;Exaggerated existence of commercial sounds<br />
Like pussy politicians got political prisoners locked down&#8230;</em><br />
A collabo monster track from two legendary underground crews in 90&#8217;s. One of the best posse cut ever.</p>
<p><strong>08. Ras Kass &#8211; Behind The Musick</strong><br />
<em>&#8230;Hiphop used to be the expression of struggle with rhymes<br />
Corporate monopolized, only certain shit shines<br />
CNN owned by by AOL, own Time Warner<br />
Trickle down effect of the New World Order&#8230;</em><br />
Lirik tajam ala Ras Kass yang menyerang konspirasi industri rekaman lengkap dengan peta koneksitasnya dengan hal-hal buruk yang terjadi di dunia (ehm, baca: industri militer). Diambil dari album Kass pasca keluar penjara. Dengan single seganas ini, tak habis pikir mengapa sampe sekarang Kass tak pernah bisa bikin album yang solid.</p>
<p><strong>09. Cannibal Ox &#8211; A B-Boys Alpha</strong><br />
Ox adalah istilah jalanan untuk silet, mewakili seperti apa rima mereka yang meski abstrak namun tajam menyilet dengan flow super lambat. Dari album klasik mereka <em>The Cold Vein</em> yang dianggap sebagai salah satu album hiphop masterpiece pasca era Golden Age melenyap. Dan satu-satunya album mereka sebelum bubar.</p>
<p><a href="http://www.rudolfdethu.com/wp-content/uploads/2010/02/GuiltySimpson.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1065" title="GuiltySimpson" src="http://www.rudolfdethu.com/wp-content/uploads/2010/02/GuiltySimpson.jpg" alt="GuiltySimpson" width="250" height="249" /></a><strong>10. Guilty Simpson &#8211; Almighty Dreadnughtz</strong><br />
Hustler/thug anomali di antara tumpukan alt-funk-soul hiphop di katalog Stone Throw Records. Albumnya pun bersuara unik, sound ala Madlib dicampur flow bermalas-malasan ala MC Eiht dan cerita-cerita hustling ala Detriot.</p>
<p><a href="http://www.rudolfdethu.com/wp-content/uploads/2010/02/dalek.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1066" title="dalek" src="http://www.rudolfdethu.com/wp-content/uploads/2010/02/dalek.jpg" alt="dalek" width="250" height="244" /></a><strong>11. Dalek &#8211; Gutter Tactics</strong><br />
Jika Bomb Squad masih meneruskan tradisi <em>Bring The Noise</em>-nya di era 2000-an, mungkin Public Enemy akan bersuara seperti ini. Grup yang kondang gara-gara memasukan berlayer noise, drones dan ambience di atas beat-beat hiphop era Black Moon dan Mobb Deep. My Bloody Valentines meets Main Source, Merzbow meets EPMD.</p>
<p><a href="http://www.rudolfdethu.com/wp-content/uploads/2010/02/edan.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1067" title="edan" src="http://www.rudolfdethu.com/wp-content/uploads/2010/02/edan.jpg" alt="edan" width="300" height="300" /></a><strong>12. Edan &#8211; Rock and Roll</strong><br />
Saat rata-rata beat-maker menggali sample dari katalog funk soul Motown, men-sample Pink Floyd dan psychedelic rock tentu saja bukan sesuatu yang normal. Plus lirik-lirik abstrak dicampur baraggadocio ala Beasties. Memang zaman Edan&#8230;</p>
<p><strong>13. DJ Shadow &#8211; Number Song</strong><br />
Hiphop memang musik sample, tapi tak ada sebelum DJ Shadow yang membuat aransemen hiphop rumit yang semuanya dibangun lewat MPC.</p>
<p><a href="http://www.rudolfdethu.com/wp-content/uploads/2010/02/Lordz-of-Brooklyn.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1068" title="Lordz-of-Brooklyn" src="http://www.rudolfdethu.com/wp-content/uploads/2010/02/Lordz-of-Brooklyn.jpg" alt="Lordz-of-Brooklyn" width="300" height="300" /></a><strong>14. Lordz of Brooklyn &#8211; Straight Outta Brooklyn</strong><br />
Fall in love with this crew since Arian13 passed me their CD ten years ago. Straight up hardcore freestyle from NY finest white boys since Beastie Boys and Non-Phixion.</p>
<p><strong>15. KRS One &#8211; Sound of The Police</strong><br />
<em>&#8230;Check out the message in a rough stylee<br />
The real criminals are the C-O-P&#8230;</em><br />
Bold slammin boombap, heavy bass, riddm style flow, anti-cop lyrics. What else do you need for KRS classic? <em>Return of The Boombap</em> is a record that reminds you of why you listen to hip hop in the first place.</p>
<p><strong>16. DJ Muggs vs GZA &#8211; All in Together</strong><br />
Kolaborasi dua ikon yang banyak dinanti orang, DJ Cypress berduet dengan Lyricist terbaik Wu-Tang, track tribute untuk Old Dirty Bastard yang mati over-dosis semalam sesudah show reuni Wu-Tang. Tragis.</p>
<p><a href="http://www.rudolfdethu.com/wp-content/uploads/2010/02/la-coka-nostra.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1069" title="la-coka-nostra" src="http://www.rudolfdethu.com/wp-content/uploads/2010/02/la-coka-nostra.jpg" alt="la-coka-nostra" width="250" height="250" /></a><strong>17. La Coka Nostra &#8211; Gun In Your Mouth</strong><br />
New hiphop supergroup, dari sisa-sisa House of Pain dan Non Phixion ditambah extended members dari Soul Assassin, Uncle Howie Posse, Special Teamz dan Psycho Realmz. Bill and Everlast sound so vicious in this album. Well, this is why Everlast should&#8217;ve quit that Santana-wanna-be blues bullshit long time ago. Hehehehe.</p>
<p><strong>18. Nephlim Modulation Systems &#8211; Fendi Shoe Bomber</strong><br />
Pasca Co-Flow bubar, Big Juss melanjutkan petualangan dalam menciptakan eksperimen hiphop avantgarde-nya lewat album-album solo dan kemudian grup barunya ini. Mengapa oh mengapa Company Flow tak jadi reuni?????</p>
<p><a href="http://www.rudolfdethu.com/wp-content/uploads/2010/02/NWA.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1070" title="NWA" src="http://www.rudolfdethu.com/wp-content/uploads/2010/02/NWA.jpg" alt="NWA" width="300" height="300" /></a><strong>19. N.W.A &#8211; Approach to Danger</strong><br />
Bukan lagu NWA terpopuler memang, tapi ini track paling gelap dan berisik yang pernah dihasilkan NWA. Men-sample soundtrack <em>Dirty Harry</em>, menghasilkan track yang melampaui zaman-nya dan tak mungkin Dre ulang lagi sampe sekarang. Oh ya, track ini sama sekali tidak bersuara seperti G-Funk.</p>
<p><strong>20. Run DMC &#8211; Beats to the Rhyme</strong><br />
Saya cukup beruntung dahulu sempat melihat grup legendaris ini manggung di Bandung, sebelum Jam Master Jay terbunuh dan akhirnya para pioneer dari Queens, NY ini tinggal legenda. Saya selalu menganggap <em>Tougher Than Leather</em> lebih solid dari <em>Raising Hell</em>, track ini cukup mewakili alasannya. Salah satu album paling solid yang pernah diproduseri Rick Rubin di era Def Jam. Well, setelah <em>It Takes A Nation&#8230;</em> dan <em>Reign in Blood</em> mungkin. Juga satu contoh track dimana kalian bisa melihat betapa digdayanya almarhum Jam Master Jay. Rest In Peace, Jay.</p>
<p><a href="http://www.rudolfdethu.com/wp-content/uploads/2010/02/Necro.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1071" title="Necro" src="http://www.rudolfdethu.com/wp-content/uploads/2010/02/Necro.jpg" alt="Necro" width="250" height="251" /></a><strong>21. Necro &#8211; Mutilate The Beat</strong><br />
Pada album <em>Death Rap</em>, Necro meneruskan eksperimen pada album <em>The Prefix For Death</em> yang mengeksplorasi kombinasi rap dan death metal. Namun ironisnya, track terbaik dari album itu justru berbentuk dalam track pure hiphop klasik seperti ini. Mid-tempo beat ala Ice-T zaman O.G dan hanya dipasang dengan satu hook sederhana, menjadi lanskap sempurna bagi lirik Necro yang gory seperti biasa plus flow maut yang pamer kesempurnaan breath-control yang dimilikinya.<br />
.<em>..The skills of my intellect, allow me to kill you in a sec<br />
fill you up with Percoset, power drill you in the neck<br />
Brilliantly like when Quentin directs, the quintessential, villian in-effect&#8230;</em></p>
<p><a href="http://www.rudolfdethu.com/wp-content/uploads/2010/02/nas.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1072" title="nas" src="http://www.rudolfdethu.com/wp-content/uploads/2010/02/nas.jpg" alt="nas" width="300" height="399" /></a><strong>22. Nas &#8211; Thief&#8217;s Theme</strong><br />
Membuat debut album <em>Illmatic</em> dan kemudian menjadi sebuah mahakarya bisa jadi sebuah kutukan buat Nas, karena sesudahnya ia tak pernah lagi bisa menyamai apa yang ia buat tahun 93 dulu. Tapi di setiap album (sejelek apapun album itu), Nas selalu membuat track klasik, ini contohnya.</p>
<p><strong>23. Juggaknots &#8211; Trouble Man</strong><br />
One of the most slept-on NY crews.</p>
<p><strong>24. Darc Mind &#8211; Rhyme Zone</strong><br />
Album <em>Darc Mind</em>, sebenarnya direkam di tahun 95-97, namun entah mengapa masternya hilang dan baru ditemukan dan dirilis 4 tahun ke belakang. Bersuara persis seperti apa hiphop di era 90an awal, uptempo beats, horns, heavy basslines, jazzy hooks, dan rima-rima gelap abstrak. Covering braggadocio and politico stylings, Darc Mind reminds us why NY was at the top of its game in the 90’s, even as the West was rising. Jika saja album ini dirilis pada waktunya, mungkin akan sejajar dengan album-album klasik di era itu, Illmatic, Breaking Atoms atau Funcrusher Plus misalnya.</p>
<p><a href="http://www.rudolfdethu.com/wp-content/uploads/2010/02/organized-konfusion.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1073" title="organized-konfusion" src="http://www.rudolfdethu.com/wp-content/uploads/2010/02/organized-konfusion.jpg" alt="organized-konfusion" width="300" height="302" /></a><strong>25. Organized Konfusion &#8211; Thirteen</strong><br />
Jika ada katalognya mungkin lagu ini ada di tempat teratas dalam kategori flow ter-maut yang pernah ada sejak metode nge-rap ditemukan. Kadang cepat, kadang melambat, kemudian bernyanyi beberapa detik, kembali kebut dan tiba-tiba berhenti di sembarang tempat. Kabar baiknya; konon mereka akan reuni.</p>
<p><a href="http://www.rudolfdethu.com/wp-content/uploads/2010/02/onyx.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1074" title="onyx" src="http://www.rudolfdethu.com/wp-content/uploads/2010/02/onyx.jpg" alt="onyx" width="250" height="250" /></a><strong>26. Onyx &#8211; Betta Off Dead</strong><br />
Meski <em>Bacdafucup</em> banyak diakui merubah wajah hiphop di tahun 93, saya menganggap album kedua mereka <em>All We Got Iz Uz </em>adalah karya magnum opus mereka. Bersuara lebih gelap, lebih ilustratif dan lebih grimmy, dan bahkan flow Sticky Fingaz terdengar lebih mengerikan dalam BPM rendah.</p>
<p><a href="http://www.rudolfdethu.com/wp-content/uploads/2010/02/Jedi+Mind+Tricks.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1075" title="Jedi+Mind+Tricks" src="http://www.rudolfdethu.com/wp-content/uploads/2010/02/Jedi+Mind+Tricks.jpg" alt="Jedi+Mind+Tricks" width="400" height="234" /></a><br />
<strong>27. Jedi Mind Tricks &#8211; Heavy Metal Kings</strong><br />
Vinne Paz team up with Ill Bill spittin sick and heavy rhymes, lagu terbaik Jedi Mind Tricks dari seluruh diskografi nya.</p>
<p><a href="http://www.rudolfdethu.com/wp-content/uploads/2010/02/Street-Sweeper-Social-Club.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1076" title="Street-Sweeper-Social-Club" src="http://www.rudolfdethu.com/wp-content/uploads/2010/02/Street-Sweeper-Social-Club.jpg" alt="Street-Sweeper-Social-Club" width="500" height="250" /></a><strong>28. Street Sweeper Social Club &#8211; Promenade</strong><br />
Dua orang marxis dari latar belakang berbeda bersatu membuat album protes bernuansa funk-rock-hiphop paten, Tom Morello ex-gitaris RATM dengan Workers Union-nya, dan Boots Riley dari grup political hiphop ikonik, The Coup dengan Progressive Labour Party/Black Phanter-nya. Saya pernah mengira hanya soal waktu dua orang ini untuk membuat album karena mereka memiliki obsesi yang sama pada Funkedelic/Parliament dan Marxisme/politik radikal.</p>
<p><a href="http://www.rudolfdethu.com/wp-content/uploads/2010/02/public-enemy.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1077" title="public-enemy" src="http://www.rudolfdethu.com/wp-content/uploads/2010/02/public-enemy.jpg" alt="public-enemy" width="400" height="248" /></a><strong>29. Public Enemy &#8211; War at 33 1/3</strong><br />
Hanya sedikit grup rap yang memproduksi album yang sempurna tanpa cacat seperti <em>Fear of A Black Planet</em>. Bahkan nyaris 20 tahun kemudian&#8230;, album ini bersuara lebih fresh dari 99% rilisan hiphop kekinian! Ini track paling brutal PE, di zaman Bomb Squad dan DJ Terminator X masih menjadi bagian dari mereka. Fast, furious, raw and uncut. PE style.</p>
<p><strong>30. Ill Bill with Immortal Technique and Max Cavalera &#8211; War is My Destiny</strong><br />
BIll mengundang rapper paling maut hari ini Immortal Technique dan Max Cavalera pada ref yang mengingatkan saya pada lagu legendaris Sepultura Refuse/Resist. Dengan hard-beat ala hiphop Brooklyn plus sample yang seolah mengundang sepasukan string dibelakangnya, lagu ini mungkin lagu terbaik dalam album terbaru Bill.</p>
<p><a href="http://www.rudolfdethu.com/wp-content/uploads/2010/02/el-p.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1078" title="el-p" src="http://www.rudolfdethu.com/wp-content/uploads/2010/02/el-p.jpg" alt="el-p" width="350" height="233" /></a><strong>31. El-P &#8211; Tasmanian Pain Coaster</strong><br />
Lagu pembuka album di rilisan terakhirnya, namun entah mengapa justru ini cocok untuk menutup playlist. Mewakili proses evolusi hiphop menjadi sesuatu yang progresif tanpa harus kehilangan nuansa origin-nya. Mars Volta berkontribusi di menit terakhir, mempermanis tanpa berlebihan.</p>
<p><small>Note: Ucok a.k.a. Morgue Vanguard was the virtuoso behind Homicide (R.I.P). The most political, ultra-brilliant, anti-military, local Hiphop b-boy. The sharpest, wickedest, loudest lyricist, in Indonesia&#8217;s Rap history. Septian Dwi Cahyo should be proud</small></p>
<p>_____________________</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>::</strong></span> If you wanna listen to the songs, click the Streampad icon <a href="http://www.rudolfdethu.com/wp-content/uploads/2010/02/Strampad-icon.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-1080" title="Strampad-icon" src="http://www.rudolfdethu.com/wp-content/uploads/2010/02/Strampad-icon.jpg" alt="Strampad-icon" width="100" height="24" /></a> at the bottom and then pick the playlist <strong><span style="color: #ff0000;">::</span></strong><a href="http://www.rudolfdethu.com/wp-content/uploads/2010/02/Strampad-icon.jpg"><br />
</a></p>
<p>See y’all again next Wednesday!</p>
<p>Boozed, Broozed, and Broken-boned,<br />
RUDOLF DETHU</p>
<p>*<small>subject to change</small></p>
<p>___________________</p>
<p><em>The Block Rockin’ Beats<br />
Every Wednesday, 8 – 10 PM<br />
The Beat Radio Plus – Bali, 98.5 FM</em></p>
<p><em>120 minutes of cock-melting tunes.<br />
No bullcrap.<br />
Zero horse shit.<br />
Rad-ass rebel without a pause.</em></p>
<p><em>Shut up and slamdance!</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.rudolfdethu.com/2010/02/23/rock-n-roll-exhibition-ucok-homicide/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Fedora-O-Rama</title>
		<link>http://www.rudolfdethu.com/2010/02/22/fedora-o-rama/</link>
		<comments>http://www.rudolfdethu.com/2010/02/22/fedora-o-rama/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 22 Feb 2010 14:53:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rudolf Dethu</dc:creator>
				<category><![CDATA[Knowledge is King]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.rudolfdethu.com/?p=1034</guid>
		<description><![CDATA[Jika menyebut nama Slash, selain rambut keriting serta kepiawaiannya bergitar, apa yang paling benderang kita ingat dari dia?  Topinya, tentu. Begitu juga The Blues Brothers serta Brian Johnson biduan AC/DC, sama sebangun, segendang sepenarian, ciri khas mereka ada pada aksesori yang dikenakan di kepalanya.
Cuman, giliran ditanyain penutup kepala nan panjang yang gemar dipakai oleh pria [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Jika menyebut nama Slash, selain rambut keriting serta kepiawaiannya bergitar, apa yang paling benderang kita ingat dari dia?  Topinya, tentu. Begitu juga The Blues Brothers serta Brian Johnson biduan AC/DC, sama sebangun, segendang sepenarian, ciri khas mereka ada pada aksesori yang dikenakan di kepalanya.</p>
<p style="text-align: left;">Cuman, giliran ditanyain penutup kepala nan panjang yang gemar dipakai oleh pria bernama asli Saul Hudson itu tepatnya bernama apa, saya berani jamin pasti sebagian besar dari anda bakal bengong kebingungan. Hey, sebutan tepatnya adalah &#8220;Top Hat”. Sementara topi khas The Blues Brothers dikenal dengan “Fedora”.</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://www.rudolfdethu.com/wp-content/uploads/2010/02/tophatslash.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1035" title="tophatslash" src="http://www.rudolfdethu.com/wp-content/uploads/2010/02/tophatslash.jpg" alt="tophatslash" width="235" height="313" /></a><em>Slash ber-Top Hat<span id="more-1034"></span></em></p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://www.rudolfdethu.com/wp-content/uploads/2010/02/fedorabluesbrothers.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1036" title="fedorabluesbrothers" src="http://www.rudolfdethu.com/wp-content/uploads/2010/02/fedorabluesbrothers.jpg" alt="fedorabluesbrothers" width="235" height="291" /></a><em>Fedora, identitas kental The Blues Brothers</em></p>
<p style="text-align: left;">Sementara aksesori wajib Brian Jones dijuluki “Newsboy Cap”, yang kebetulan masih keluarga dekat “Flat Cap”. Di Indonesia sendiri Flat Cap lebih populer sebagai “Topi Pak Tino Sidin”—anak band era sekarang yang kerap memakainya di antaranya Heru Shaggy Dog.</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://www.rudolfdethu.com/wp-content/uploads/2010/02/brianjohnsonnewsboycap.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1040" title="brianjohnsonnewsboycap" src="http://www.rudolfdethu.com/wp-content/uploads/2010/02/brianjohnsonnewsboycap.jpg" alt="brianjohnsonnewsboycap" width="235" height="257" /></a><em>Newsboy Cap</em></p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://www.rudolfdethu.com/wp-content/uploads/2010/02/flatcap.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1041" title="flatcap" src="http://www.rudolfdethu.com/wp-content/uploads/2010/02/flatcap.jpg" alt="flatcap" width="235" height="133" /></a><em>Flat Cap</em></p>
<p>Indeed, jika seksama diperhatikan, Newsboy Cap cenderung berbentuk lebih bulat serta di tengah-tengahnya terdapat “pentolan”.</p>
<p>Simak juga foto-foto berikut:</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://www.rudolfdethu.com/wp-content/uploads/2010/02/beanietheedge.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1042" title="beanietheedge" src="http://www.rudolfdethu.com/wp-content/uploads/2010/02/beanietheedge.jpg" alt="beanietheedge" width="235" height="237" /></a><em>The Edge, sang penggemar “Beanie”</em></p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://www.rudolfdethu.com/wp-content/uploads/2010/02/tambobmarley.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1043" title="tambobmarley" src="http://www.rudolfdethu.com/wp-content/uploads/2010/02/tambobmarley.jpg" alt="tambobmarley" width="235" height="298" /></a><em>“Tam”, topi wajib kaum Rastafari</em></p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://www.rudolfdethu.com/wp-content/uploads/2010/02/peakedcapscottweiland.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1044" title="peakedcapscottweiland" src="http://www.rudolfdethu.com/wp-content/uploads/2010/02/peakedcapscottweiland.jpg" alt="peakedcapscottweiland" width="235" height="307" /></a><em>Scott Weiland mengenakan “Peaked Cap”</em></p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://www.rudolfdethu.com/wp-content/uploads/2010/02/beretcheguevara.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1045" title="beretcheguevara" src="http://www.rudolfdethu.com/wp-content/uploads/2010/02/beretcheguevara.jpg" alt="beretcheguevara" width="235" height="357" /></a><em>Che Guevara dengan “Beret” legendarisnya</em></p>
<p>Ada juga beberapa varian dalam “Cowboy Hat” yang tak diberi nama secara spesifik. Perhatikan perbedaan antara Mike Ness &amp; Lemmy.</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://www.rudolfdethu.com/wp-content/uploads/2010/02/mikenesscowboyhat.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1046" title="mikenesscowboyhat" src="http://www.rudolfdethu.com/wp-content/uploads/2010/02/mikenesscowboyhat.jpg" alt="mikenesscowboyhat" width="400" height="400" /></a><em>Mike Ness dengan &#8220;Cowboy Hat&#8221; klasik</em></p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://www.rudolfdethu.com/wp-content/uploads/2010/02/cowboyhatlemmy.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1047" title="cowboyhatlemmy" src="http://www.rudolfdethu.com/wp-content/uploads/2010/02/cowboyhatlemmy.jpg" alt="cowboyhatlemmy" width="400" height="300" /></a><em>&#8220;Cowboy Hat&#8221; Lemmy melengkung jauh ke dalam, lengkap dengan pernak-pernik Metal modern</em></p>
<p>Bagaimana dengan Hip Hop? Run DMC identik lewat “Bucket Hat” (utamanya produk keluaran Kangol). Dan “Trucker Hat”&#8212;turunan dari “Baseball Cap”&#8212;bak jadi bagian tak terpisahkan dari kultur Rap (dan belakangan Punk juga).</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://www.rudolfdethu.com/wp-content/uploads/2010/02/buckethatrundmc.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1048" title="buckethatrundmc" src="http://www.rudolfdethu.com/wp-content/uploads/2010/02/buckethatrundmc.jpg" alt="buckethatrundmc" width="400" height="271" /></a><em>Run DMC, Bucket Hat &amp; Kangol</em></p>
<p><a href="http://www.rudolfdethu.com/wp-content/uploads/2010/02/truckerhatmore.jpg"></a><a href="http://www.rudolfdethu.com/wp-content/uploads/2010/02/TruckerBaseballCap.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1050" title="Trucker&amp;BaseballCap" src="http://www.rudolfdethu.com/wp-content/uploads/2010/02/TruckerBaseballCap.jpg" alt="Trucker&amp;BaseballCap" width="400" height="182" /></a></p>
<p style="text-align: center;"><em>Trucker Hat &amp; Baseball Cap, masih satu famili</em></p>
<p>Nah, kalau seperti foto berikut julukannya “Pork Pie” serta “Walking Hat”.</p>
<p><a href="http://www.rudolfdethu.com/wp-content/uploads/2010/02/porkpie.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1051" title="porkpie" src="http://www.rudolfdethu.com/wp-content/uploads/2010/02/porkpie.jpg" alt="porkpie" width="235" height="353" /></a></p>
<p><a href="http://www.rudolfdethu.com/wp-content/uploads/2010/02/walkinghat.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1052" title="walkinghat" src="http://www.rudolfdethu.com/wp-content/uploads/2010/02/walkinghat.jpg" alt="walkinghat" width="235" height="353" /></a></p>
<p>Yang bikin penasaran, topi yang dipakai oleh Angus Young&#8212;lihat foto bawah, berdasi &amp; membawa gitar, in case you don’t know&#8212;saya belum ketemu jawabannya. Entah sebutannya apa.</p>
<p><a href="http://www.rudolfdethu.com/wp-content/uploads/2010/02/newsboy-cap.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1039" title="newsboy-cap" src="http://www.rudolfdethu.com/wp-content/uploads/2010/02/newsboy-cap.jpg" alt="newsboy-cap" width="500" height="323" /></a></p>
<p>Mungkin anda bisa bantu? Cheers!</p>
<p><span style="color: #ff0000;">*</span><em><small>Artikel ini sudah sedikit direvisi. Pertama kali tayang di Musikator pada 29 Oktober 2008</small></em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.rudolfdethu.com/2010/02/22/fedora-o-rama/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tika and the Dissidents: The Beauty of No Expectations</title>
		<link>http://www.rudolfdethu.com/2010/02/08/tika-and-the-dissidents-the-beauty-of-no-expectations/</link>
		<comments>http://www.rudolfdethu.com/2010/02/08/tika-and-the-dissidents-the-beauty-of-no-expectations/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 08 Feb 2010 09:17:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rudolf Dethu</dc:creator>
				<category><![CDATA[Perspectives]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.rudolfdethu.com/?p=1026</guid>
		<description><![CDATA[
She&#8217;s not just a singer. She&#8217;s an excellent singer—a diva, to be precise.
With that kind of quality, it should&#8217;ve been pretty easy for her to get signed by any huge record label (meaning: better exposure, better promotions, better—and bigger—financial backup), but she prefers to go the Do-It-Yourself way a.k.a. minimum wage, maximum work, more headache, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.rudolfdethu.com/wp-content/uploads/2010/02/TikaandTheDissidents-resized.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1027" title="TikaandTheDissidents-resized" src="http://www.rudolfdethu.com/wp-content/uploads/2010/02/TikaandTheDissidents-resized.jpg" alt="TikaandTheDissidents-resized" width="300" height="452" /></a></p>
<blockquote><p>She&#8217;s not just a singer. She&#8217;s an excellent singer—a diva, to be precise.<br />
With that kind of quality, it should&#8217;ve been pretty easy for her to get signed by any huge record label (meaning: better exposure, better promotions, better—and bigger—financial backup), but she prefers to go the Do-It-Yourself way a.k.a. minimum wage, maximum work, more headache, less sleep.</p></blockquote>
<p>Is she happy with what she&#8217;s doing?</p>
<p><strong>Q: Tika, as you know, Aksara Records just closed a couple of weeks ago. That&#8217;s one of the strongest indie labels to have ever existed in Indonesia and it failed. And you still have this certain faith with D.I.Y.?</strong><br />
A: Yeah, it was quite a sad news, them closing down. I consider Aksara to be the home I was born and raised in, as far as music goes. But one thing for sure, Aksara’s failure has nothing to do with the bands. The bands keep thriving and that’s what matters most to me. If your question is about my faith in the D.I.Y. system, frankly faith is a too strong word. I do what I do because that’s what made sense at the moment. I didn’t wanna wait around for some big label to discover me and slap on an artificial image on my ass. But on the other hand, I am not the type of musician who boasts proudly about being indie, or D.I.Y. either. We had a choice to go ahead and release this album ourselves, start our own label, we’ll see what happen. And that’s what we did.</p>
<p><strong>Q: Any special strategies to survive in the music industry?</strong><br />
A: You know what, none of us knew what we were doing when we started our own label. What we knew is what we wanted. We want to get through to this market. We want to play in these types of gigs. And then we worked hard to make it happen. Some things work and some don’t. But to our surprise, most of them actually worked, and we got unexpected responses. So as far as strategy goes, I think we survived (this time) because we made the call ourselves. We’re the one who knows our music better then anyone else.<span id="more-1026"></span></p>
<p><strong>Q: What about TV, have you ever considered performing on TV—early in the morning, and doing lip-sync? You agree with this not-really-singing concept? </strong><br />
A: TV… oh boy… I could talk on and on about TV… hahaha… but let’s just answer your question specifically. Lip-syncing is like playing air guitar. It is a joke, is what it is. It shouldn’t be a high rating show, unless people who are watching it knew it’s a joke. But I don’t see anyone in the audience laughing.<br />
Will we lip-sync on morning shows? Yeah, we’ll do it for laughs. We’ll probably switch positions. Me on the drums, my bass player on the mic, my drummer on the bass, and my guitar player would probably look cool playing the harp. Hahaha.</p>
<p><strong>Q:  Now about your albums. February 2006 you released <em>Defrosted Love Songs</em>. And the next one, The Headless Songstress, was in July 2009. Three years between albums, isn&#8217;t it a bit too far apart? I bet you&#8217;ll lose some fans since they can&#8217;t wait that long. Reason? Opinion?</strong><br />
A: You’re right. It’s like starting from scratch again, actually. Add to that the transformation from TIKA to Tika &amp; the Dissidents. But some fans are really loyal and patient. Their constant demand for us to get the album done was our main motivation. We had the song materials since late 2006, but problems after problems kept stalling us. But we finally made it.</p>
<p><strong>Q: Let&#8217;s talk general. How do you find the music scene in Indonesia? Progressing? Or, the other way round: regressing?</strong><br />
A: It’s a paradox. On one side you see the lip-syncing, same-hair-cut-it-might-as-well-be-wigs bands with template songs. On the other side, musicians are sick and tired of this monotony, and as a result, it makes them write better. I can’t recall just how many time in this past year I was amazed to hear the stuff people are making. I think we’re climbing up a peak in music creativity in this country, better and stronger then ever before. And we gotta thank those morning music shows for being a great booster.</p>
<p><a href="http://www.rudolfdethu.com/wp-content/uploads/2010/02/TikaandtheDissidents-02-resized.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1028" title="TikaandtheDissidents-02-resized" src="http://www.rudolfdethu.com/wp-content/uploads/2010/02/TikaandtheDissidents-02-resized.jpg" alt="TikaandtheDissidents-02-resized" width="350" height="527" /></a></p>
<p><strong>Q: How&#8217;s the response from the local audiences—or/and abroad? How do you see the future with Tika and the Dissidents?</strong><br />
A: It’s amazing. It’s far more then we expected. Before we released this album we were skeptical. Is anyone going to listen to these music? It’s not trendy. It’s not now. It doesn’t even have a genre. But that’s the beauty of no expectations. We are still jumping up and down like little girls everytime we get a great review, make the top chart, or get an award… Of course by we I mean me. The boys don’t jump up and down…hehehe. I do see a future with the Dissidents, I wanna keep making music with Susan, Okky, Iga, Iman. But what that future holds, it’s up to the future.</p>
<p><strong>Q: The simple one but always interesting to find out, who&#8217;s your fave music artists?</strong><br />
A: Nina Simone.</p>
<p><strong>Q: Is there any dream that you really wanted, say, doing a collaboration with a Punk Rock band or making a full-orchestra album?</strong><br />
A: My dream collaboration prayers have been answered when I collaborated with Vina Panduwinata last year. It was surreal. It’s hard to top that. But lately I have been daydreaming of a perfect concert. We’ll have an adult choir, a children’s choir, a marching band, a theatrical set, it would be just like Mardi Gras with an Indonesian flair. Of course finding anyone who will fund that kinda concert is the hardest part. But who knows. It could happen.</p>
<p><strong>Q: Anything left unsaid?</strong><br />
A: Too many to mention here. Hahahaha….</p>
<p><em>Tika and the Dissidents will be the main act—and share stage with Navicula, Amazing in Bed + The Authentics—for the first ever Rock Fest presented by The Beat Jakarta at Hard Rock Cafe Jakarta on February 18, 2010.</em></p>
<p><span style="color: #ff0000;">*</span><small>Wawancara antara saya dengan Tika ini pertama kali tayang di majalah The Beat Jakarta, awal Februari 2010</small></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.rudolfdethu.com/2010/02/08/tika-and-the-dissidents-the-beauty-of-no-expectations/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>You Gotta Dance with The Authentics</title>
		<link>http://www.rudolfdethu.com/2010/02/08/you-gotta-dance-with-the-authentics/</link>
		<comments>http://www.rudolfdethu.com/2010/02/08/you-gotta-dance-with-the-authentics/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 08 Feb 2010 09:03:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rudolf Dethu</dc:creator>
				<category><![CDATA[Perspectives]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.rudolfdethu.com/?p=1017</guid>
		<description><![CDATA[
Eksistensi kelompok asal Jakarta ini amat pararel dengan hidup matinya Ska di Nusantara. Terang saja sebab tinggal segelintir kumpulan musisi yang menjaga keberlangsungan musik yang bermula di Jamaika ini. The Authentics merupakan satu dari secuil itu.
Perkenalan kongsi yang beranggotakan Dawny (biduan), Arnold (bas), Dani (gitar, vokal latar), Zendi (sax, vokal latar), Ceky (kibor, vokal latar) [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.rudolfdethu.com/wp-content/uploads/2010/02/TheAuthentics-resized.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1018" title="TheAuthentics-resized" src="http://www.rudolfdethu.com/wp-content/uploads/2010/02/TheAuthentics-resized.jpg" alt="TheAuthentics-resized" width="500" height="250" /></a><br />
Eksistensi kelompok asal Jakarta ini amat pararel dengan hidup matinya Ska di Nusantara. Terang saja sebab tinggal segelintir kumpulan musisi yang menjaga keberlangsungan musik yang bermula di Jamaika ini. The Authentics merupakan satu dari secuil itu.</p>
<p>Perkenalan kongsi yang beranggotakan Dawny (biduan), Arnold (bas), Dani (gitar, vokal latar), Zendi (<em>sax</em>, vokal latar), Ceky (kibor, vokal latar) + anggota bukan tetap Diaz (drum), Ucok (<em>trombone</em>), Dika (<em>trumpet</em>); dengan Ska pun sejatinya telah berjalan lama. Dawny—lebih dikenal sebagai Dawo—serta Zendi tadinya merupakan personel Jun Fan Gung Foo, salah satu grup pelopor Ska di Indonesia yang sempat jaya wijaya lewat tembang <em>Bruce</em> <em>Lee</em>. <span id="more-1017"></span></p>
<p>Sejarah terbentuknya kongegrasi ini dimulai pada 2005 ketika dua anak muda berselera musik seragam, Dawny &amp; Arnold, bersepakat bersekutu di bawah nama The Authentics. Pemilihan titel band sedemikian rupa semata karena mereka menginginkan bunyi-bunyian yang otentik, merepresentasikan keaslian, sebagaimana para pengusung Ska di masa-masa awal. Sudah begitu, di era permulaan The Authentics kerap meng-<em>cover</em> lagu-lagu milik The Slackers, Hepcat, The Skatalites, dan serbaneka Ska tradisional. Namun dalam rentang evolusinya mereka kemudian mulai melebarkan jelajah musikalnya dengan menciptakan senandung yang lebih sederhana, mudah dicerna, kental nuansa bersenang-senang juga ramah-dansa alias <em>danceable</em>; tanpa sama sekali tercerabut dari akar Ska-Swing-Soul-Blues.</p>
<p>Walau mereka baru bulan depan, Februari 2010, berencana merilis album perdananya, tapi jam terbang mereka mengisi panggung-panggung di Jakarta &amp; sekitarnya sudah terbilang tinggi plus cukup sukses membangun <em>fanbase</em> di banyak penjuru. <em>Single</em> mereka, <em>Untukmu</em>, bisa didengarkan di radio-radio mulai pekan depan. Sementara videoklip untuk karya andalan tersebut, pengambilan gambarnya akan dimulai pada 22 Januari. Jika penasaran menonton aksi mereka, silakan datang ke Hard Rock Cafe Jakarta pada 18 Februari. The Authentics akan tampil bersama-sama dengan Amazing in Bed, Navicula serta Tika &amp; The Dissidents dalam konser Rock—ini yang paling pertama, punya nilai historikal—yang diselenggarakan oleh majalah The Beat Jakarta.</p>
<p>Simak garansi mereka mengenai  gubahan yang mereka mainkan: &#8220;The Authentics memberikan jaminan kalau musiknya bisa membuat anda mengangguk-anggukkan kepala, menghentakkan kaki, bahkan membuat anda beranjak meninggalkan kursi, bernyanyi dan berdansa sepanjang malam!&#8221;</p>
<p style="text-align: center;">_________________</p>
<p><em>The Authentics is a new cool Ska outfit from Jakarta. Some of the band members are actually veterans of Ska scene. Dawny (vocal) and Zendi (sax, backing vocal), used to be in Jun Fan Gung Foo, one of a few Indonesia&#8217;s Ska pioneer which made big buzz with their single, </em>Bruce Lee<em>, in late 90s.<br />
Check them out on February 18th, 2010, share stage with Amazing in Bed, Navicula and Tika &amp; The Dissidents at Hard Rock Cafe Jakarta for the first ever rock fest presented by The Beat Jakarta</em></p>
<p><span style="color: #ff0000;">*</span><small>Tulisan ini pertama kali dipublikasikan di majalah The Beat Jakarta pada Januari 2010</small></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.rudolfdethu.com/2010/02/08/you-gotta-dance-with-the-authentics/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Lani Leyli</title>
		<link>http://www.rudolfdethu.com/2010/02/08/lani-leyli/</link>
		<comments>http://www.rudolfdethu.com/2010/02/08/lani-leyli/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 08 Feb 2010 08:36:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rudolf Dethu</dc:creator>
				<category><![CDATA[Perspectives]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.rudolfdethu.com/?p=1012</guid>
		<description><![CDATA[
She&#8217;s a teacher, a model and a (great) singer.
She&#8217;s Australian who&#8217;s been living in Jakarta for quite a while now—and loves it so much.
Let&#8217;s hope she will stay longer—I bet some of the boys would prefer forever—in Indonesia.
Q: Lani, first things first. What brought you to Indonesia?
A: Haha&#8230; luck. I actually just got bored in [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.rudolfdethu.com/wp-content/uploads/2010/02/LaniLeyli01-resized.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1013" title="LaniLeyli01-resized" src="http://www.rudolfdethu.com/wp-content/uploads/2010/02/LaniLeyli01-resized.jpg" alt="LaniLeyli01-resized" width="300" height="450" /></a></p>
<blockquote><p>She&#8217;s a teacher, a model and a (great) singer.<br />
She&#8217;s Australian who&#8217;s been living in Jakarta for quite a while now—and loves it so much.<br />
Let&#8217;s hope she will stay longer—I bet some of the boys would prefer forever—in Indonesia.</p></blockquote>
<p><strong>Q: Lani, first things first. What brought you to Indonesia?</strong><br />
A: Haha&#8230; luck. I actually just got bored in Australia and was looking for somewhere to go. I had already been to Bali, and had made a few friends so I figured Indonesia was a good place to venture to.</p>
<p><strong>Q: Why Jakarta, why not Bali?</strong><br />
A: well actually cause it’s kinda hard to get a job in Bali, the first job I was offered was in Jakarta, and I figured it’s close enough that if I get bored or want to see my friends I can go for a weekend or something.</p>
<p><strong>Q: How did you end up singing in the band Amazing in Bed and where did the name come from?</strong><br />
A: Haha&#8230; the name is from a song, I don’t actually know too much about that part as I joined 4 years after the band started. A friend of mine used to be the publicist for AiB and when they were looking for a new singer she threw me in, it all clicked and here we are!<span id="more-1012"></span></p>
<p><strong>Q: You’ve released an album, right? Are there more coming?</strong><br />
A: yeah AiB has released an EP, <em>Get up and Do Your Job</em>, one album, self titled, and has joined in on a few compilations. We’re actually getting our second album ready now, we’ve just released our new single, <em>Hancur dan Berserak</em>, and are getting ready to record asap.</p>
<p><strong>Q: How do you find the music scene in Indonesia? </strong><br />
A: I love it! It seems to be a lot more open than in Australia, I mean it seems like people get a chance to play here. There are a lot of indie gigs and festivals and such. It’s great to see that the people who really want to play, or really want to follow the music, can.</p>
<p><a href="http://www.rudolfdethu.com/wp-content/uploads/2010/02/LaniLeyli02-resized.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1014" title="LaniLeyli02-resized" src="http://www.rudolfdethu.com/wp-content/uploads/2010/02/LaniLeyli02-resized.jpg" alt="LaniLeyli02-resized" width="500" height="299" /></a></p>
<p><strong>Q: How do you see the future with Amazing in Bed?</strong><br />
A: Uh… I don’t know, I can’t look very far ahead really. I try to think about now, if it&#8217;s going well today and we&#8217;re having fun then that’s fantastic. If you’re too worried about everything in the future then you don’t enjoy it so much now. If possible I would love music to be my life, my job and everything but we’ll have to see how that goes haha. For now im happy with all the opportunities we have been given and are getting.</p>
<p><strong>Q: The simple one but always interesting to find out, who&#8217;s your fave music artists?</strong><br />
A: Wah… that’s actually a really hard one to answer for me. I have always loved Brian Setzer, especially his orchestra, and Slipknot from my younger days haha&#8230; But it changes every few weeks I guess… At the moment the All American Rejects, Paramore and the Yeah Yeah Yeahs.</p>
<p><strong>Q: And then jumping into the modelling world. Wow, would you mind sharing some stories?</strong><br />
A: Uh… it actually just all happened by accident. I modelled in Australia a bit but when I moved here I didn’t pursue it as I have a lot of tattoos, and I though it would be really hard, which is true most of the time. Tommy Siahaan was the first person I shot with, he needed a model and persuaded me in getting back into it. Since then everything has gone really well, I’ve done heaps now and made a lot of good friends from it. My favourite though is shooting music videos for bands, even though it’s a really long day its really fun working with other ‘music people’.</p>
<p><strong>Q: What do you think about the modelling scene in Jakarta?</strong><br />
A: Honestly it’s really biased. If you have white skin you’re a model. Don’t get me wrong the models here are gorgeous there are just so many more girls around that are gorgeous too that I feel wouldn’t get a chance because they have darker skin. But, hey, I’m so thankful I was given the opportunity to give it a go and I’ve had so much fun being a part of it! Also the fashion is great here, and it’s ahead of a lot of the world, there are so many great Indonesian designers!</p>
<p><strong>Q: Which do you prefer, being a teacher, a singer, or a photo model?</strong><br />
A: Singer! Haha&#8230; music is the best part of my life! As I said before if it could be everything it would be! I sing in a few cafés around Jakarta just for fun with my fiancé and a few friends. They’re the days of the week I most look forward to.</p>
<p><strong>Q: Anything left unsaid?</strong><br />
A: A big thank you to everyone that’s helped us and supported us along the way! And hi Mum!</p>
<p><em>Lani and her band, Amazing in Bed, will share the stage with Tika &amp; The Dissidents, Navicula and The Authentics on February 18, 2009, at Hard Rock Cafe Jakarta for the first ever rock fest presented by The Beat Jakarta. </em></p>
<p><span style="color: #ff0000;">*</span><small>Wawancara antara saya dan Lani ini pertama kali dimuat di majalah The Beat Jakarta edisi Februari 2010</small></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.rudolfdethu.com/2010/02/08/lani-leyli/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Rockabali</title>
		<link>http://www.rudolfdethu.com/2010/02/08/rockabali/</link>
		<comments>http://www.rudolfdethu.com/2010/02/08/rockabali/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 08 Feb 2010 00:44:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rudolf Dethu</dc:creator>
				<category><![CDATA[Perspectives]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.rudolfdethu.com/?p=528</guid>
		<description><![CDATA[
Oleh Alfred Pasifico Ginting
Dari Bali mereka menolak keseragaman selera bermusik. Dengan tato, alkohol dan, simbol-simbol judi, memainkan Rockabilly lebih menarik minat wanita.
“Sekali lagi pertanyaannya, Brian Setzer adalah vokalis dari A &#8211; Stray Cats, atau B &#8211; Bee Gees. Kita tunggu jawabannya. Ada hadiah dua voucher Rp 150.000 dari Suicide Glam untuk dua pengirim SMS. Obrolan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.rudolfdethu.com/wp-content/uploads/2010/02/rocka2.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1004" title="rocka2" src="http://www.rudolfdethu.com/wp-content/uploads/2010/02/rocka2.jpg" alt="rocka2" width="300" height="450" /></a></p>
<p><small>Oleh Alfred Pasifico Ginting</small></p>
<p>Dari Bali mereka menolak keseragaman selera bermusik. Dengan tato, alkohol dan, simbol-simbol judi, memainkan Rockabilly lebih menarik minat wanita.</p>
<p>“Sekali lagi pertanyaannya, Brian Setzer adalah vokalis dari A &#8211; Stray Cats, atau B &#8211; Bee Gees. Kita tunggu jawabannya. Ada hadiah dua <em>voucher</em> Rp 150.000 dari Suicide Glam untuk dua pengirim SMS. Obrolan kita mengenai Rockabilly bersama Dethu dan Wis akan dilanjutkan setelah yang ini: Stray Cats dengan <em>Rock This Town</em>.”</p>
<p>Rabu malam itu Rudolf Dethu mendatangkan Wis, gitaris band The Hydrant ke ruang studio Radio Oz FM Bali untuk berbicara tentang Rockabilly. Sejak Januari 2006 Dethu menjadi penyiar tamu dalam segmen <em>Oz Clash Pistol</em>. Manajer band Superman Is Dead (SID) ini mengklaim dirinya sebagai propagandis subkultur Rockabilly di Bali.<span id="more-528"></span></p>
<p>Ada tulisan “The Next John Travolta” pada kaos hitam yang dikenakan Dethu. Banyak tampilan Travolta di film. Tapi Travolta yang dimaksud kaos Dethu adalah perannya sebagai Danny Zuko dalam <em>Grease</em>, film produksi tahun 1978. <em>Grease</em> bersetting tahun 1957, tentang anak sekolah menengah yang menggilai dansa dan kompetisi, baik dalam balap mobil maupun cinta. Khas remaja.</p>
<p>Setelah <em>Saturday Night Fever</em>, <em>Grease</em> mengesahkan status Travolta sebagai raja dansa. Film ini diinspirasi dari <em>greaser</em>, istilah <em>slang</em> untuk anak muda yang akrab dengan minyak; baik pelumas untuk mobil atau sepeda motornya dan juga <em>pomade</em> untuk rambutnya. Rambut disisir rapi, jaket kulit dan celana denim. Berandalan yang senang berdandan. Persis karakter Marlon Brando sebagai Johnny Stabler, pimpinan geng bermotor dalam <em>The Wild One</em> (1953). Peran itu membuat Brando menjadi simbol generasi muda Amerika pasca Perang Dunia II dan sampai kini gayanya diamini sebagai <em>trademark</em> penunggang Harley Davidson.</p>
<p>Gaya <em>greaser</em> dipopulerkan kembali oleh Stray Cats di ujung dekade 70an. Band asal New York ini menarik karena cara bermusik yang unik. Lee Rocker memainkan <em>stand up bass</em>, sementara Slim Jim Phantom memainkan drum set yang tak lengkap dengan berdiri. Stray Cats meredefinisi Rockabilly dengan <em>attitude</em> Punk Rock seperti tato. Meski hanya berusia lima tahun&#8212;bubar tahun 1984&#8212;Stray Cats menjadi model bagi band Rockabilly modern. Termasuk The Hydrant yang terbentuk tahun 2004.</p>
<p>“Stray Cats adalah mentor buat The Hydrant. Mereka punya <em>style</em>, musik dan lagu bagus, juga spirit yang dimilik band-band Punk. Brian Setzer itu jenius,” kata Wis.</p>
<p>Meski mengagumi Setzer, Wis tidak meniru seratus persen gaya bermusiknya. “Saya masih meraba-raba sebenarnya, tapi cenderung pada sound gitar Surf Rock,” kata Wis. Surf Rock gaya bermusik yang mencampurkan elemen musik Surf dan Rock-n-roll dengan karakter <em>staccato</em> cepat seperti yang dimainkan The Ventures.</p>
<p>“Memang tidak ingin mengikuti Setzer?”</p>
<p>“Kalau suka sama seseorang saya tidak akan makan mentah-mentah, saya akan mencari dia sukanya siapa. Saya lihat langsung sumbernya. Ternyata Setzer dipengaruhi oleh Cliff Gallup, gitaris Gene Vincent and The Blue Caps. Dari situ <em>influence</em> meluas,” kata Wis.</p>
<p>Memainkan drum berdiri seperti Morris langka ditemui dalam penampilan band dalam negeri. “Tidak capek main drum berdiri?” tanya saya.</p>
<p>“Lebih capek main duduk,” jawab Morris.</p>
<p>“Hernia,” Wis menimpali dan tertawa.</p>
<p>“Awal-awalnya pegal juga. Kursi tidak terlalu penting, kalau berdiri aksi panggung lebih bebas. Awalnya saya bawa empat <em>cymbal</em>. Sekarang malas bawa banyak-banyak. Minimalis,” kata Morris.</p>
<p>“Minimalis ujung-ujungnya males,” Wis kembali menimpali.</p>
<p>Di panggung Morris hanya memainkan empat instrumen dari drum set, <em>crash cymbal</em> dan <em>ride cymbal</em>, <em>snare</em> dan <em>bass drum</em>. “Kadang kalau nggak enak, nggak pakai <em>crash</em>. Begitu aja udah asyik,” kata Morris.</p>
<p>Bila disimak, drum dalam Rockabilly berfungsi membangun Beat, menyerupai Swing Jazz tapi dalam tempo cepat dengan hentakan pada snare. “Swing itu tidak seperti beat biasa. Hentakannya mirip be-bop, tapi be-bop hentakan di hi-hat.”</p>
<p>Be-bop gaya permainan jazz yang ditandai dengan tempo cepat dan improvisasi pada struktur harmoni daripada melodi. “Kalau rockabilly di ride juga ada sentuhan tersendiri, kayak orang masak susah dijelaskan,” kata Morris.</p>
<p>Pada mulanya Wis mendalami <em>skill</em> gitar Blues. Dia dan Zio (<em>bass</em>) sempat memainkan aliran Pop Rock dalam Hydra. Grup band jebolan festival musik yang digelar Log Zhelebour itu sempat menelurkan satu album. “<em>Band</em> itu nggak bisa lanjut, tapi saya dan Zio mau tetap bermusik, kita ajak Morris,” kata Wis.</p>
<p>“Kenapa pilih Rockabilly?”</p>
<p>“Waktu baru belajar gitar saya pernah dengar Setzer. Tapi semangat mendalami Blues, yang lain nggak saya perhatikan. Tahun 2004 ada teman yang menyarankan saya memainkan musik Stray Cats. Dia pinjamkan kaset, saya langsung jatuh cinta. Saya bilang ke teman-teman ‘kita harus mainkan ini’,” kata Wis. “Kebetulan sekali kita ketemu Marshello yang mengklaim diri Elvis-nya Bali. Klop.”</p>
<p>Marshello yang bekerja sebagai penjaga pantai di Kuta adalah sihir yang unik dalam penampilan The Hydrant. Aksi panggungnya sangat atraktif. Tampil klimis, minyak rambut kelewat banyak dan tak berhenti mengitari luas panggung berdansa dengan gerakan kaki yang lincah ala Elvis Presley. Sesekali dia mengeluarkan sisir kecil dari kantongnya sambil sedikit menggerutu, “gara-gara jingkrak-jingkrak terus, rambut gue jadi berantakan. Sisiran dulu ah.”</p>
<p>Marshello yang di panggung suka meracau berpidato dengan logat Bali, memetik gitar akustik atau meniup harmonika tampaknya paham hakekat industri <em>entertainment</em>. Tak hanya penyanyi, dia seorang penghibur. Keunikan itu yang membuat EMI Indonesia berniat meminang The Hydrant. “Mereka punya potensi untuk masuk dengan genre musik yang di luar pakem. Kami sudah membuat MoU untuk menuju kontrak,” kata M Wirasto, artist &amp; repertoire EMI Indonesia, yang biasa disapa Kiwir.</p>
<p>Kiwir ‘menemukan’ The Hydrant sekitar enam bulan silam ketika menjadi juri dalam sebuah perhelatan musik di Bali. Kiwir terpukau melihat The Hydrant memainkan <em>Rockin’ the Rock</em>, <em>Jalan Jalan</em> dan <em>Kukukakikukaku</em>. “Saya dengar ada sesuatu, ada energi, magnet. Mereka punya totalitas dan talenta. Dua minggu setelahnya saya hubungi lagi. Sampai sekarang kita terus berdiskusi.”</p>
<p>“Sudah ada materi lagu yang dibicarakan?”</p>
<p>“Mereka sudah kasih materi, sekitar 30 lagu. Mungkin kita akan pilih 12.”</p>
<p>“Rencana kontrak untuk berapa album?”</p>
<p>“Kontrak biasanya 3 album dulu. Diharapkan dalam 3 kesempatan itu ada hasil yang konkret,” kata Kiwir.</p>
<p>“Anda merasa yakin musik mereka bisa menjual?”</p>
<p>“Potensi musik ini berhasil masih <em>fifty-fifty</em>. Kalau <em>record</em> label lainnya pasti hitung-hitung dulu,” kata Kiwir yang di EMI menangani band-band baru seperti Kapten, Triniti, dan Tahta.</p>
<p>“Kenapa?”</p>
<p>“Kalau dilihat sejarah penjualan rekaman di Indonesia yang berhasil selalu Pop. Tapi kami percaya dalam tren musik ada titik jenuh, orang akan kembali ke retro. The Hydrant bisa menjawab rasa kangen terhadap bunyi gitar era 60an yang sudah jarang terdengar,” kata dia. “Mudah-mudahan benar hitung-hitungan kita.”</p>
<p>“The Hydrant punya karakter di panggung dan sound <em>vintage</em> yang khas. Bagaimana menggarap produksinya agar kekhasan itu tidak hilang dalam rekaman?” tanya saya.</p>
<p>“Memang itu problem <em>band</em> yang daya tariknya di panggung. <em>Recording pure</em> audio, jelas beda dengan atraksi di panggung. PR kita bagaimana membuat hasil rekaman mereka tetap terdengar seperti di panggung, penuh energi dan mempertahankan kesan <em>vintage</em> seperti kualitas rekaman Elvis.”</p>
<p>***</p>
<p>Pada sebuah malam yang hangat di musim panas. 5 Juli 1954. Elvis Presley, Scotty Moore dan Bill Black dalam sesi rekaman di Sun Records, Memphis, Tennessee. Susah payah mereka mencapai hasil terbaik memainkan <em>Harbor Lights</em>, <em>hit</em> dari Bing Crosby dan lagu country <em>I Love You Because</em>.</p>
<p>Mereka mengambil jeda, menyeruput Coke dan kopi. “Tiba-tiba Elvis bernyanyi, melompat ke sana ke mari dan bertingkah aneh,” kenang Moore. Elvis menyanyikan <em>That’s All Right Mama</em>, tembang Blues yang pernah direkam Arthur Crudup tahun 1946, dalam tempo yang lebih cepat. “Bill mengambil <em>bass</em> dan ikut-ikutan bertingkah aneh, dan aku pun ikut bermain dengan mereka.”</p>
<p>Pintu ruang kontrol setengah terbuka. Di dalam ada Sam Phillips, pemilik Sun Records. Phillips melongokkan kepalanya dari pintu ruang kontrol dan berkata, “Apa yang kalian lakukan?”</p>
<p>“Entah.”</p>
<p>“Rekam,” kata Sam. “Ambil tempat untuk mulai dan lakukan lagi.”</p>
<p>Malam itu dirayakan sebagai hari jadi Rockabilly.</p>
<p>Pelaku Rockabilly awal sebenarnya tidak pernah menggunakan istilah itu sampai terjadi kebangkitan Rockabilly di tahun 70an yang dimotori Stray Cats. Istilah Rockabilly pertama kali tercetak dalam sebuah majalah dagang pada Juni 1956. Tidak terlacak penjelasan lebih detail mengenai kelahiran istilah ini namun kemungkinan disingkat dari “Hillbilly Rock-n-Roll.”</p>
<p>Elvis menancapkan pengaruh yang kuat sebagai penanda gaya vokal Rockabilly seperti efek <em>echo</em>, gaya bernyanyi liar dan ekstrem, namun dengan emosi dan perasaan. Penanda dari segi musik adalah berstruktur Blues, irama dan ritme kuat, solo gitar, pengaruh Blues yang energik, <em>stand up bass</em> terutama dimainkan dengan <em>slapping</em>, bertempo sedang sampai cepat.<br />
Rockabilly dideskripsikan sebagai “perkawinan Blues dan Country yang menjadi Rock-n-Roll,” atau “gaya awal Rock-n-Roll (kulit) putih yang mencampur Blues dengan Country.” Carl Perkins mendefinisikannya sebagai “lagu orang Country dengan ritme orang kulit hitam.” Phillips telah lama punya obsesi menemukan “musik baru” seperti Elvis. Dia beberapa kali mengatakan, “kalau aku bisa menemukan orang kulit putih dengan suara Negro, aku bisa membuat miliaran Dolar.”</p>
<p>Untuk miliaran Dolar itu, selama delapan bulan dia banting tulang mengangkut <em>vinyl</em> rekaman Elvis ke atas Cadillac-nya, berkendara ke kota-kota lain selama enam jam sehari. Suara Elvis pun semakin sering terdengar di radio-radio. Dalam tiga tahun dia didapuk sebagai King of Rock n Roll. Dia mewakili “American dream,” pencapaian kemakmuran dari titik berangkat kemiskinan dengan modal kerja keras.</p>
<p>John Lennon pernah mengatakan “Sebelum Elvis, tidak ada apa-apa,” tapi sebelum ada Sam Phillips, Elvis bukan apa-apa. Sayangnya Phillips pernah menganggap Elvis ‘bukan apa-apa.’ Tahun 1955 dia menjual kontrak dengan Elvis kepada RCA Records senilai US$35.000. “Aku tahu Elvis akan menjadi besar, tapi tidak sebesar itu,” kata Phillips.</p>
<p>Phillips pula yang ‘menemukan’ Johnny Cash, pekerja bengkel Chevrolet yang bermain musik Country dengan teman kerjanya dua bersaudara, Luther dan Marshall Perkins. Cash berjuang agar Phillips bersedia mengaudisinya. Phillips yang sibuk mempromosikan album pertama Elvis baru memberi kesempatan pada Maret 1955.</p>
<p>Film <em>Walk the Line</em> yang dibintangi Joaquin Pheoenix sebagai Cash, menggambarkan audisi itu tak sedap pada awalnya. Sesudah mendengarkan Cash melantunkan lagu gospel, dengan wajah bosan Phillips berkata, “pulang lah dan berbuat dosa, lalu kembali ke sini dengan lagu yang bisa kujual.”</p>
<p>Gagal dengan gospel, Cash melantunkan <em>Folsom Prison Blues</em>. Phillips terpukau. Cash membuat lagu itu ketika masih di Angkatan Udara, setelah menonton film <em>Inside the Walls of Folsom Prison</em>. Lagu itu bercerita tentang kebosanan narapidana di balik tembok penjara. Selanjutnya, tema-tema lagu Cash dekat dengan hidup kaum marjinal, tentang kesengsaraan dan penyesalan.</p>
<p>Lagu Cash banyak diinspirasi masa kecil sebagai anak petani yang miskin di tengah deraan era depresi. Kejadian banjir yang menggenangi ladang kapas keluarganya memicu <em>Five Feet High and Rising</em>. Kematian abangnya Jack karena kecelakaan mesin potong kayu dianggap menyumbang trauma yang membentuk sisi gelap hidupnya. Lama Cash berkubang dalam jeratan <em>amphetamine</em> dan obat penenang. Meski kelakuannya sembarangan, Cash yang selalu membuka penampilannya di panggung dengan kalimat, “Hello I’m Johnny Cash,” adalah seorang yang memikat.</p>
<p>Dia pernah didakwa karena truknya terbakar dan melahap separuh hutan nasional. Hakim bertanya kenapa dia melakukan itu. Cash menjawab dengan sembrono, ”bukan aku yang melakukannya, tapi trukku, dan dia mati jadi Anda tidak bisa bertanya padanya.”</p>
<p>***</p>
<p>Johnny Cash mempengaruhi banyak musisi, di antaranya band punk Social Distortion. Sebagai penyuka Social Distortion, Gede Ari Astina atau Jerinx , menghormati Cash.</p>
<p>“Saya baca interview dengan Social D tahun 2000, mereka bilang terpengaruh Johnny Cash. Sebelumnya yang saya tahu Cash penyanyi Country. Kok Social D bisa suka. Saya beli CD-nya, lihat liriknya. Suram, sedikit religius, bercerita tentang narapidana, orang-orang kelas bawah yang kerja sebagai tukang pipa atau di pompa bensin,” kata drummer Superman Is Dead (SID) ini. “Saya langsung suka.” tutur Jerinx.</p>
<p>Saya menemui Jerinx di Twice Bar di Jl Poppies Lane II, Legian. Tiga malam dalam sepekan di bar itu tampil <em>band</em>-<em>band</em> lokal. Twice Bar dibuka Jerinx tahun 2003 dari hasil royalti yang dia terima dari Sony Indonesia untuk album pertama SID. “Uang royalti saya kembalikan supaya <em>band</em> lain bisa gampang main. Hitung-hitung nolong <em>band</em> yang susah main.”</p>
<p>Jerinx berkenalan dengan simbol-simbol Rockabilly pada tahun 1997. Di jalan dia berpapasan orang yang mengenakan helm dengan stiker bertuliskan “Social Distortion” dengan gambar tengkorak memegang gelas martini. Jerinx langsung jatuh cinta. Dan penasaran. Kebetulan kakak seorang temannya punya kaset Social D album <em>Somewhere Between Heaven and Hell</em>. “Saya pinjam, baca liriknya langsung benar-benar kena dengan apa yang saya rasakan.”</p>
<p>“Kena bagaimana?”</p>
<p>“Lirik-lirik Rockabilly itu banyak tentang patah hati, mabuk atau mobil, tentang politik sedikit. Saya merasakan <em>image</em> seorang berandalan yang sok ganteng. Ada selera humornya.”</p>
<p>“Satir?”</p>
<p>“Ya. Berandalan yang tidak mencoba untuk kelihatan macho tapi lebih pada sok ganteng dan dia tahu kalau dia sok. Bukan sok arogan, menyenangkan diri aja. Ada selera humornya,” Jerinx tertawa. “Persis Elvis. Dia kan kayak badut. Makin tua makin nggak jelas. Suaranya sok berwibawa. Tapi kita lihat dia melakukan itu dari hati, nggak palsu. Dia tahu kalau kita tahu dia sok-sokan. Kadang-kadang pakai gaya Kungfu. Dan matinya overdosis. Kartun banget.”</p>
<p>Kecintaan Jerinx pada simbol-simbol Rockabilly terus berlanjut. Tahun 1998 dia membuat tato berciri Rockabilly di lengan kanannya, bergambar wanita dan tulisan “King of Fools.” Lirik lagu Social D itu mengekspresikan sikap satir khas rockabilly.</p>
<p><em>I was born a king of fools<br />
most people think I’m just a playboy breaking rules.<br />
but they don’t know<br />
that when it comes around to love I always lose<br />
that’s why I call myself the king of fools</em></p>
<p>Rockabilly tidak mengharamkan lirik cengeng. “Cash kalau buat lirik patah hati, dia tahu itu akan kedengaran cengeng. Beda dengan lirik cengeng band Indonesia yang kita tahu dia bikin itu supaya kedengaran cengeng. Dengar lagu cengeng Rockabilly itu bikin orang bertanya-tanya, kok tampang kayak gini lagunya gitu sih.” Jerinx tertawa.</p>
<p>Lirik lagu Rockabilly mengagungkan kemanusiaan dan menganggap kesalahan sebagai kewajaran. “Tapi menceritakan kesalahannya tidak dengan cara yang sedih. Sok gagah, udah tahu salah,” kata Jerinx.</p>
<p>Jerinx mencontohkan lagu <em>Sue Jack Daniels</em> dari Reverend Horton Heat yang mengekspresikan kekesalan seorang pecandu Jack Daniels.</p>
<p><em>I’m gonna sue Jack Daniels<br />
for hitting me with a trunk of a big ol’ live oak tree<br />
he hurt me this morning with the bright sun light<br />
I’m gonna sue Jack Daniels<br />
for what he did to my face last night</em></p>
<p>Lirik-lirik lagu Punk Rock yang bernafaskan Rockabilly sarat ekspresi keseharian kaum <em>white trash</em>. Sebutan ini ditujukan bagi warga kulit putih penghuni gerbong kelas rendah masyarakat Amerika. <em>White trash</em> bukan kategorisasi demografis dan jarang digunakan dalam konteks yang sopan. Dalam film-film Hollywood, hidup kaum <em>white trash</em> kerap digambarkan dengan pola makan buruk atau obesitas; bermasalah dengan alkohol, mariyuana atau kokain; tinggal di apartemen kumuh, rumah sewa atau <em>trailer</em>; mengendarai Chevy Corsica, Ford Tempo atau Camaro butut.</p>
<p>Mereka dipersepsikan minus dalam tata krama dan budaya, umumnya tidak lulus sekolah menengah, buta huruf atau tidak bisa berbicara bahasa Inggris yang baik dan benar; memelihara anjing agresif seperti Pitbull atau Rottweiler; bersudut pandang rasis, homofobia dan miskin ambisi; tubuh penuh rajah.</p>
<p>Meski dilekatkan dengan makna peyoratif, <em>white trash</em> juga dipandang sebagai perayaan gaya hidup Amerika. Mereka menjalani “American dream” dengan caranya sendiri. Menikmati hasil kerja keras yang tak seberapa dengan musik keras, mobil bermesin besar, bir dingin, menonton <em>pro-wrestling</em> atau Nascar, membelanjakan pengembalian pajaknya untuk televisi layar lebar daripada baju untuk anaknya.</p>
<p>Figur pria <em>white trash</em> lekat dengan <em>stereotype</em> memakai singlet, seperti penyanyi Kid Rock. Pakaian dalam ini kerap disebut <em>wifebeater</em>, yang diilhami dari <em>stereotype</em> pria <em>white trash</em> yang suka memukuli istri atau perempuan di sekitarnya. “Pulang kerja kasar, mabuk, sampai di rumah mukul istri,” kata Jerinx tertawa.</p>
<p>Dalam film <em>A Streetcar Named Desire</em> (1951), karakter Stanley Kowalski (Marlon Brando) yang sering memakai singlet putih mengasari dan memperkosa adik iparnya. Peran Robert De Niro sebagai petinju dalam <em>Raging Bull</em> (1980) selalu memakai singlet di rumah dan dalam salah satu <em>scene</em> dia memukuli istrinya. “Orang <em>white trash</em> biasa bilang, ‘nice wife beater, Man’ untuk singlet yang banyak bekas noda darahnya,” kata Jerinx.</p>
<p>***</p>
<p>SID sebenarnya lebih kental memainkan musik Punk Rock dengan pengaruh Green Day dan NOFX pada usia awalnya. “Kena racun Rockabilly karena Social D. Kami tetap band Punk Rock dengan <em>image</em> yang ditonjolkan bernafaskan Rockabilly,” kata Jerinx. “Tidak hanya penampilan tapi juga <em>attitude</em>, seperti tampilan mobil tua dan wanita dengan karakter wajah dan dandanan yang agak menor ala tahun 1950an. Kita berani bilang sebelum ada SID belum ada band dengan <em>image</em> mobil tua, tato, alkohol,” kata dia.</p>
<p>“Kenapa memilih image Rockabilly,” tanya saya.</p>
<p>“Karena secara pribadi kami merasa cocok, keren. Kedua, kenapa harus selalu ikut dengan Jakarta? Kami ingin melawan sentralisasi. Selama ini kan kultur itu kalau tidak dari Jakarta, Bandung. Ini bentuk <em>counter culture</em> untuk selera musik. Kita merasa bangga punya perbedaan dari yang lain,” kata Jerinx yang juga punya proyek band Devildice.</p>
<p>Di Devildice, Jerinx sebagai vokalis sekaligus bermain gitar, keahlian yang baru dia pelajari sejak lima tahun silam. Jerinx membentuk Devildice untuk menyalurkan stok lagu ciptaannya yang tidak selalu cocok untuk karakter musik SID. Devildice memainkan Punk Rock ala Chicano, kultur orang Meksiko. Agak mirip Rockabilly, dengan simbol-simbol mobil tua, geng, singlet, dan tato. Lagu-lagunya tidak terlalu kencang, memberikan ruang pada instrumen terompet. Jerinx menyebutnya sebagai musik berandalan yang eksotis.</p>
<p>Bagi Jerinx, Rockabilly dan Punk Rock masih punya benang merah dalam simbol-simbol yang dipakai. “Anak-anak Street Punk suka pakai jaket kulit, suka tato, <em>boots</em>. Mirip dengan kultur rockabilly,” kata dia.</p>
<p>Tato Rockabilly bukan sekadar rajah tubuh, ada ciri-ciri khusus pada warna dan penggambaran bentuk. Objek utamanya burung walet, mawar, tengkorak, jantung tertusuk pedang dan simbol-simbol judi seperti kartu remi, dadu, dan bola 8 (<em>billiard</em>). Burung walet yang kawin hanya sekali dalam hidupnya melambangkan cinta sejati dan jantung untuk patah hati.<br />
“Bola 8, kartu remi dan dadu itu mengingatkan hidup sebagai sebuah permainan. Kamu akan bisa memenangkannya kalau tahu cara memainkannya,” kata Jerinx.</p>
<p>“Karena hidup adalah sebuah perjudian?” tanya saya.</p>
<p>“Ya. Hidup itu sebuah pilihan. Selalu ada yang dipertaruhkan, nggak pakai duit, tapi nyawa.”</p>
<p>“Simbol-simbol Rockabilly kan sangat provokatif, kenapa bisa berkembang di Bali?”</p>
<p>“Karena masyarakat Bali cenderung lebih terbuka terhadap kebudayaan lain.”</p>
<p>“Karena masyarakat Bali umumnya tidak bermasalah dengan tato, alkohol, dan judi?”</p>
<p>“Di kampung-kampung orang bertato biasa, secara tradisi orang Bali kuat minum arak dan sabung ayam. Jadi secara nggak langsung, simbol-simbol Rockabilly sudah lama hidup di Bali,” kata dia.</p>
<p>“Baru sadar juga saya. Rockabilly Bali itu harusnya jangan pakai dadu, tapi ayam jago dua, Rockabali.” Dia tertawa.</p>
<p>***</p>
<p>Bulan April lalu, SID merilis <em>Black Market Love</em>, album ketiga di bawah naungan Sony BMG Indonesia. Lagu <em>Kita vs Mereka</em> mereka dedikasikan untuk Inul yang mereka anggap sebagai simbol orang tertindas. “Kami ingin berada di pihak orang-orang seperti Inul. Orang seperti dia banyak. Tapi mereka diam, karena yang dilawan fasis yang berlindung di balik agama. Jadi susah melawan.”</p>
<p>“Kenapa isi <em>Black Market Love</em> banyak bernuansa kritik sosial?”</p>
<p>“Supaya orang nggak hanya melihat kita sekadar band yang hedon. Aslinya kita juga tidak terlalu hedon. Kalau <em>party</em> juga nggak yang mewah-mewah,” kata Jerinx tertawa. “Kita pikir Punk Rock nggak hanya terletak pada 3 kunci, alkohol dan tato. Punk Rock itu ada di lirik. Musik Dangdut pun kalau berontak bisa punk rock.”</p>
<p>“Ini seperti mengulang, pada tiga album awal sewaktu masih indie, ada beberapa lagu berlirik politis?”</p>
<p>“Wajar lah dulu sebagai band Punk yang baru pasti ingin terlihat berontak supaya didengar. Bisa dibilang dulu sok kritis, padahal nggak tahu apa-apa. Darah muda. Setelah banyak jalan ke daerah lain, mata kami semakin terbuka. Banyak persoalan yang menggelisahkan. Karena alasan-alasan itu tadi makanya di album terakhir kita semakin banyak memakai lirik bahasa Indonesia,” kata Jerinx.</p>
<p>“Kenapa dengan bahasa Indonesia?”</p>
<p>“Karena kita sadar dengan bahasa Inggris terus orang susah mengerti, padahal kita banyak punya pesan.”</p>
<p>“Dulu tidak peduli pesan tersampaikan atau tidak?”</p>
<p>“Dulu tema-temanya tentang <em>party</em>, mabuk, nggak penting lah pesan itu,” Jerinx tertawa.</p>
<p>“Kalian mulai keberatan dengan citra suka <em>party</em> dan mabuk?”</p>
<p>“Tidak. Kami lebih memprihatinkan orang yang terlalu cepat mengambil kesimpulan. Orang yang pegang botol bir bukan berarti suka bikin rusuh, orang yang bertato cewek telanjang nggak berarti dia cari perek setiap hari, orang yang berjudi itu belum tentu orang jahat,” kata Jerinx. “Walau di sini tato, minum dan judi hal biasa tapi dari statistik tingkat kejahatan di sini masih lebih rendah dibanding daerah lain.“</p>
<p>“Karena angka pengangguran relatif rendah?”</p>
<p>“Ya. Tapi kondisinya semakin berubah sejak Bom Bali II. Contohnya istri teman saya penjahit, order makin sepi dia balik ke kampung, bertani. Efek bom terus menambah jumlah pengangguran.”</p>
<p>***</p>
<p>Tidak hanya SID yang risau memandang persoalan Bali terkini. Suicidal Sinatra juga punya kegelisahan serupa yang mempengaruhi cara pandang mereka sebagai musisi. “Sampai 2004 efek bom Bali pertama secara ekonomi belum terasa, baru setelah bom Bali kedua semuanya semakin sulit. Banyak teman-teman yang kehilangan pekerjaan. <em>Job</em> kita pun menurun,” kata Ida Bagus Novi Darma Yoga atau Opie, vokalis Suicidal Sinatra.</p>
<p>“<em>Job</em> manggung menurun?”</p>
<p>“Ya lumayan berkurang. Mulai susah bikin acara, izin keramaian dulu gampang, sekarang agak susah. Padahal Bali kan tempat bikin ramai.”</p>
<p>Kemuraman situasi di Bali mempengaruhi nuansa lagu yang tengah digarap Suicidal Sinatra untuk album ketiganya di bawah label indie Electrohell Records. “Untuk album ketiga kami mulai mengangkat masalah sosial, seperti bencana alam dan kritik untuk Indonesia,” kata Opie.</p>
<p>“Kritik seperti apa?”</p>
<p>“Tahu sendiri di Indonesia ini terlalu banyak omong kosong. Orang sekarang di mana-mana saling hantam, bukan berusaha memperbaiki diri sendiri. Sebagai musisi kami nggak mungkin berdemo, jadi kami lampiaskan lewat musik. Kami juga punya amarah, dan kami tuangkan dalam lirik. Karena penyerbuan kantor Playboy di Jakarta kami bikin lagu, <em>Polisi Moral</em>.”<br />
Menurut Opie, pada dasarnya dia dan kawan-kawannya tidak bisa membuat lirik yang merayu wanita. “Dua album pertama itu temanya banyak melecehkan wanita. Gonta-ganti pacar, abis ML sekali, kabur,” tambah Opie.</p>
<p>“Selain lirik apa yang berubah secara musikalitas di album ketiga?”</p>
<p>“Sampai album kedua kami masih <em>pure</em> Nu Skool rockabilly, sekarang kami mulai memasukkan pengaruh Psychobilly,” kata Opie.</p>
<p>Psychobilly percampuran gaya Rockabilly Amerika tahun 50an dan Punk Rock Inggris tahun 70an dengan lirik dalam tema besar horor. Band Psychobilly seperti Tiger Army, Reverend Horton Heat, Nekromantix, Mad Sin, dan The Horrorpops kerap mengangkat tema kekerasan, eksploitasi, seksualitas yang menyeramkan dan hal-hal yang sering dianggap tabu.<br />
Pada awalnya Opie, Kappe, Leo dan Ajie menggemari Rock-n-Roll. Tapi untuk mengasah <em>skill</em> mereka memilih memainkan heavy metal, nama bandnya SOS, singkatan Soul of Speed. “Setelah kira-kira lima tahun main Heavy Metal kami merasa sulit mengembangkan musiknya,” kata Opie.</p>
<p>“Kenapa sulit?” tanya saya.</p>
<p>“Kurang komersil. Masyarakat Bali juga susah menerima Heavy Metal. Lalu kita diskusi, kenapa kita nggak kembali ke basic kita dulu Rock-n-Roll, ada campuran Blues, Rock dan Punk. Kami mulai main dimana-mana, <em>influence</em>-nya dari Living End,” kata Opie.</p>
<p>The Living End band beraliran Punkabilly asal Melbourne, Australia. Pada usia awalnya, Suicidal Sinatra kerap membawakan lagu Frank Sinatra seperti <em>Get Kick Out of You</em> yang digubah dalam langgam Nu Skool Rockabilly. Tahun 2004 band ini merilis album indie pertamanya, <em>Valentine Ungu</em>.</p>
<p>Semakin dekat dengan Rockabilly, Opie dan kawan-kawannya memutuskan mengganti nama band. “Soul of Speed itu berbau Metal sekali. Biar lebih serius di jalur yang baru kita ambil dari nama Frank Sinatra, untuk mengambil <em>image</em> Rockabilly dan ditambah ‘Suicidal’ supaya lebih <em>dark</em>, garang.”</p>
<p>“Waktu itu langsung pakai <em>stand up bass</em>?”</p>
<p>“Di Rockabilly, <em>stand up bass</em> itu ‘<em>password</em>’-nya. Perjuangan juga untuk punya <em>stand up bass</em> karena harganya mahal, apalagi yang elektrik. Saya beli bekas dari teman,” kata Komang Pariana atau Kappe, sang bassis.</p>
<p>“Dimodifikasi jadi elektrik?”</p>
<p>“Saya sempat bawa ke beberapa orang tapi nggak ada yang mau ngubah jadi elektrik. Saya coba-coba bikin instrumen elektriknya dengan pelat besi. Tapi belum dapat karakter suaranya. Sekarang saya pakai pelat bekas adaptor, hasilnya maksimal.”</p>
<p>Tapi umur <em>bass</em> itu tidak panjang, pecah karena Kappe menaiki bassnya. Di panggung Kappe biasa memutar-mutar, mengangkat, membalikkan dan memainkan dengan kaki, bahkan menaiki bassnya. “Belajar dari pengalaman, <em>bass</em> yang baru saya bongkar dulu, dipasang rangka di dalamnya. Jadi sekarang aman kalau saya naiki.”</p>
<p>Ketika tur, membawa instrumen seberat 12 kilogram itu cukup merepotkan. “Kalau dengan <em>hardcase</em> 38 kilogram. Kappe selalu butuh kendaraan ekstra,” Opie tertawa. “Kalau naik pesawat, yang lain harus ngalah, bawaan nggak boleh banyak karena bagasi dia pasti <em>overweight</em>.”</p>
<p>“Lebih susah main Rockabilly atau Heavy Metal?”</p>
<p>“Setelah kita jalani, ternyata lebih susah dari Heavy Metal. Dari Heavy Metal ke Rock-n-Roll itu seperti dari Timur ke Barat. Main Heavy Metal, kita tidak susah mengejar hasil yang waktu latihan dengan di panggung. Kalau Rockabilly, sip di latihan di panggung berubah,” kata Opie.</p>
<p>“Berubah?”</p>
<p>“Mungkin karena emosi. Karena senang lihat massa rame dan pogo, eh nadanya lewat. Tapi sekarang lebih <em>fun</em>.”</p>
<p>“Karena di panggung bisa mabuk?”</p>
<p>“Dulu minum air satu galon sebelum main, nggak makan makanan berminyak supaya suaranya tetap tinggi dan bulat. Kalau serak sedikit hancur semuanya, jadi sebelum main saya selalu tegang,” kata Opie. “Sekarang sebelum main justru harus mabuk dulu biar suara jadi rendah dan serak, pokoknya bebas. Main Rockabilly jauh lebih <em>fun</em>. Penonton cewek lebih banyak, dan mudah-mudahan semakin banyak. Metal mana ada cewek yang nonton.”</p>
<p>Ketika baru pindah jalur, sebenarnya Opie dan kawan-kawan masih buta mengenai Rockabilly. Dandanan mereka pun sempat terpeleset. “Kalau manggung kita pakai jas kayak ke kondangan,” kata Kappe.</p>
<p>Dalam suatu acara di tahun 2004, Rudolf Dethu kebetulan memperhatikan penampilan SOS. “Dethu bilang, ‘musik kalian ini Rockabilly’. Kita kan nggak tahu. Dia menjelaskan. Setelah itu kita cari tahu tentang Rockabilly,” kata Opie.</p>
<p>Dethu banyak memberi nasehat tentang cara berpakaian, dari ujung rambut sampai ke ujung kaki. Gaya mereka pun berubah, jel wajib supaya rambut berdiri. Cukup melelahkan perjuangan mereka memenuhi tuntutan berdandan ala Rockabilly. Lagu <em>White Shoes</em> menceritakan peliknya usaha mereka mencari sepasang sepatu putih yang mereka idam-idamkan. “Topi, jaket, rantai udah dapat. Sepatu kulit bercorak sampai keliling-keliling di Bali nggak ada juga. Mau pakai sepatu golf, tapi nggak cocok. Akhirnya ketemu di Bandung, beli satu dan kita tiru modelnya di sini.”</p>
<p>Tidak hanya dandan, mereka pun beradaptasi dengan tato. “Di Sinatra ada sedikit kewajiban untuk bertato. Saya dengan Leo dalam tiga bulan satu tangan penuh tato. Kalau ada duit, badan lagi fit, langsung ke Liong,” kata Opie.</p>
<p>Liong atau Putu Nuarsa artis Creative Tatto Studio di Jl. Hanoman, Ubud. Banyak artis tato di Bali, tapi hanya Liong yang dianggap mumpuni untuk tato gaya Rockabilly.</p>
<p>“Sekarang kalian sadar ternyata punya bakat suka bersolek?” saya bergurau.</p>
<p>“Sejak jadi Rockabilly, kalau mau main jam tujuh, jam empat udah mandi, jam lima dandan, setengah tujuh baru berangkat. Dandan di rumah masing-masing, waktu ngumpul ngaca lagi, permak lagi rambutnya. Jadinya hancur lah semua,” Opie tertawa.</p>
<p>“Tidak merasa dibebani penampilan?”</p>
<p>“Itu resiko kita mengambil jalur ini, <em>attitude</em> pakaiannya sudah begitu. Dan ternyata semua bisa menikmati. Awal-awalnya memang perjuangan,” kata Opie. “Dulu beli sepatu paling Rp 200.000, sekarang sepatu creeper minimal Rp 500.000. Lumayan membangkrutkan diri, tapi kita senang melakukannya.”</p>
<p><a href="http://www.rudolfdethu.com/wp-content/uploads/2010/02/rocka.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1005" title="rocka" src="http://www.rudolfdethu.com/wp-content/uploads/2010/02/rocka.jpg" alt="rocka" width="500" height="333" /></a></p>
<p>Rudolf Dethu begitu menyukai musik dan mengeksplorasi sejarah kreatif musisi. Beruntung dia pernah bekerja di kapal pesiar selama lima tahun sampai 1998. Setiap kali menyentuh daratan, Dethu menyambangi toko musik, mencari album yang tak pernah bisa dia dapatkan di Bali, terutama musik Punk Rock dan New Wave. Dia dibesarkan kedua aliran itu, Depeche Mode dan Dead Boys idolanya.</p>
<p>“Dari koleksi baru itu gua bikin kompilasi. Setiap lagu gua beri deskripsi, kirim ke teman-teman di Denpasar. Ternyata album itu menyebar, di-<em>copy</em> sana-sini. Setiap pulang gua diskusi dengan teman-teman tentang musik,” kata Dethu.</p>
<p>Dethu berhenti kerja di kapal tahun 1998, ketika Punk Rock mewabah gara-gara Green Day. Suatu ketika dia dikenalkan dengan Jerinx. “Gua datang pakai scarf, baju beludru. Dia bilang ‘gua pikir lu <em>mohawk</em>’. Dia pernah dengar kompilasi yang gua buat, dia pikir gaya gua Punk Rock.” Dethu tertawa.</p>
<p>Dethu mendapat tawaran menjadi penyiar di sebuah radio. Di situ dia membuat program khusus, sebulan sekali dia memutar demo <em>band</em>-<em>band</em> lokal. Dethu sempat menolak tawaran Jerinx untuk menjadi manajer SID. Lalu Dethu berhenti sebagai penyiar.</p>
<p>Sembari bekerja di sebuah perusahaan garmen, Dethu merintis bisnis <em>clothing</em>-nya Suicide Glam. Nama yang berbahaya kalau melihat ‘suicide’ sebagai tindakan <em>glamour</em>. Modal awalnya Rp 20 juta, Dethu patungan dengan Made, yang kini lebih banyak menangani urusan desain. Tokonya meminjam ruangan di sebelah Twice Bar ketika masih berlokasi di pinggir jalan Legian. Benang merah desain produknya busana Punk Rock.</p>
<p>Ketika itu Dethu belum mengerti konsep busana Rockabilly, meski secara tak sadar dia sudah lama menyukainya. “Waktu balik gua bawa baju berkerah motif kulit macan, beli di Kanada. Pengalaman gua dengan busana Rockabilly itu yang pertama tapi belum disadari,” kata dia.</p>
<p>Dua tahun bekerja di perusahaan garmen, Dethu mengundurkan diri. “Tahun 2002 gua datang ke SID. Gua tanya apa posisi manajer masih kosong. Mereka bilang silakan. Jadi mereka bisa lebih fokus ke musik gua yang ngurus propaganda.”</p>
<p>Perkenalan Dethu dengan konsep busana Rockabilly berjalan alamiah. “Di sekitar Twice Bar banyak berseliweran orang-orang yang bergaya seperti Elvis. Merekalah orang California yang mempengaruhi kita. Secara artifisial kami mulai paham. Tapi pemahaman yang lebih teoritis belum,” kata dia.</p>
<p>Bila dilakukan pelacakan dari dokumen yang tercecer, menurut Dethu, Jerinx lah yang pertama kali menggunakan simbol Rockabilly. “Di foto album <em>Bad Bad Bad</em> (tahun 2002), Jerinx sudah pakai simbol-simbol bola 8, <em>buckle</em> (gesper) Chevrolet. Tapi kita belum mendefinisikan itu sebagai Rockabilly.”</p>
<p>Secara musikalitas, SID semakin akrab dengan warna musik Rockabilly, terlihat dari lirik lagu <em>Vodkabilly</em> dan <em>Graveyard Blues</em> dan pada album <em>Kuta Rock City</em> (2003). Ini album pertama SID sejak digandeng Sony Music Indonesia. Ketika itu dalam resensi-resensi di media, beberapa lagu SID digambarkan bernuansa “musik ala Amerika Utara”.</p>
<p>Transformasi wacana terjadi dengan sendirinya ketika Twice Bar milik Jerinx menjadi semacam poros sebagian komunitas musik di Bali. “Pelan-pelan kita bikin baju dengan sablon bola 8 atau kartu remi. Akhirnya pemakaian simbol-simbol itu semakin intensif terjadi. Dan tahun 2004 gua mulai intensif mencari teori, literaturnya. Awalnya benang merah produk Suicide Glam Punk Rock 50 persen dan Las Vegas 50 persen. Lalu kita proklamirkan sebagai Glampunkabilly, basic tetap Rockabilly tapi dipadukan dengan glam dan Punk Rock,” kata Dethu.</p>
<p>“Rockabilly kan sama sekali tidak glam?”</p>
<p>“Gua nggak milih Rockabilly murni karena asosiasinya dekat dengan <em>hillbilly</em>, bule-bule gunung seperti Elvis di tahun-tahun awal, atau <em>redneck</em>, yang rasis. Gua kurang suka. Gua lebih suka gaya hidup <em>biker</em> di Southern California, dimana suasana pantai tapi orang bergaya Rockabilly dengan motor chopper atau hot rod.”</p>
<p>Di Bali, Dethu pun menggandeng afiliasi dengan penggemar motor chopper dan hot rod. “Anak-anak motor itu sekarang cari referensi musik Rockabilly ke sini. Dengan adanya club chopper berafiliasi, makin lengkap.”</p>
<p>“Jadi mereka tidak Rolling Stones lagi?”</p>
<p>“Iya. Dulu karena ilmu pengetahuan masih kurang atau nggak mau eksplorasi, masih kebawa The Doors, Rolling Stones. Bukan soal salah benar. Tapi orang-orang chopper dan hot rod di Southern Calfornia itu Rockabilly abis.”</p>
<p>Dethu rajin memberi nasehat busana bagi <em>band</em> yang baru meniti di jalan rockabilly. “The Hydrant itu awalnya gua lihat bawa musik Elvis lalu mereka naik ke Stray Cats. Awalnya mereka suka pakai baju kotak-kotak. Gua tanya ke mereka arahnya ke mana. ‘Kalau Stray Cats, dandanan kalian salah persepsi. Ini buang, ini <em>hillbilly</em> bukan Rockabilly’,” kata Dethu. “Sekarang mereka sudah bisa jalan sendiri.”</p>
<p>Lewat senarai-senarai Dethu rajin melempar kabar apa saja tentang dinamika Rockabilly di Bali. Dia pun rajin menulis di media musik. Dia sering ditanggap jurnalis seputar tema musik lokal Bali. “Gua rajin mengekspose perkembangan Rockabilly. Kami proklamirkan duluan, meski belum banyak pelakunya, tapi fenomena ini layak diperhatikan,” kata dia. “Memang gua ada <em>hidden agenda</em> untuk memasukkan Bali dalam peta musik Rock nasional.”</p>
<p>“Kenapa ada obsesi seperti itu?”</p>
<p>“Selama ini musisi Bali tidak pernah dianggap dalam percaturan musik nasional. Ada Dewa Budjana tapi orang Bali tidak merasa dekat dengan dia karena dia lahir di Lombok dan besar di Surabaya. Sekarang sudah ada Balawan yang dianggap reprensetatif musik Bali. Mudah-mudahan ke depan akan semakin banyak.”</p>
<p>“Dari yang sudah-sudah, tren yang terlalu banyak mendapat publisitas akan cepat menghilang. Tidak khawatir Rockabilly mengalami hal sama?” tanya saya.</p>
<p>”Biar saja menjadi tren, pada akhirnya akan tersaring mana yang serius dan mana yang bukan. Kayak Ska, dulu begitu banyak band Ska. Tapi ketika yang lain tumbang, sampai sekarang Shaggy Dog tetap produktif dan sangat diperhitungkan. Orang akan selalu ingat pionir akan di tempat khusus.”</p>
<p>Dethu menganggap tren musik dan busana serupa, ada yang akan menjadi sejarah sementara yang lain terbawa lalu angin. “Beberapa tahun lalu ada temen ngetawain gua karena gua masih pakai Dr Martens sementara trennya boots Harley Davidson. Gua bilang, Harley baru bikin boots tahun 1990an, tapi Dr Martens itu punya sejarah, seperti Levi’s 501,” kata Dethu. “Yang kena tren pasti sekarang malu pakai Dr Martens.”</p>
<p>Kini setiap bulan Suicide Glam bisa mengantongi omset Rp 60 juta, belum termasuk penghasilan dari ekspor. Sejak tiga tahun lalu Dethu menjalin jaringan pemasaran di Australia, Jerman, Swedia dan spanyol. Di Würzburg, Jerman, Dethu mengizinkan mitranya membuka toko <em>fashion</em> memakai nama Suicide Glam. “Kalau mengandalkan pasar lokal gua nggak bisa hidup. Mereka yang odernya besar. Untuk <em>brand</em> lokal mungkin harga Suicide Glam tergolong mahal,” kata Dethu.</p>
<p>Harga mahal, menurut Dethu, Cuma konsekwensi karena polah bisnisnya tidak ingin menjadi <em>sweatshop</em>, memeras tenaga karyawan dengan upah tidak setimpal. Suicide glam punya 15 karyawan. “Gaji mereka di atas rata-rata, uang makannya layak. Penghargaan itu yang membuat harga kami agak mahal. Kami nggak mau perang harga, nggak akan ada habisnya. Agak ngos-ngosan mempertahankan prinsip ini,” kata dia.</p>
<p>“Apa yang membuat suicide Glam bertahan?” tanya saya.</p>
<p>“Banyak orang dari luar yang histeris melihat Suicide Glam. Mereka nggak menyangka ketika tiba di Bali ada subkultur seperti ini, harganya murah lagi. Itu terjadi rutin. Orang-orang yang terpukau ini yang bikin kita hidup,” kata Dethu.</p>
<p>Selain di Poppies, sejak setengah tahun lewat Dethu membuka outlet sekaligus kantor Suicide Glam di daerah Renon, Denpasar. Renon termasuk kawasan elit, hampir semua kantor pemerintahan Bali berlokasi di sana. Secara bertahap Dethu ingin melengkapi outlet di Renon dengan perpustakaan. “Kami ingin membuat konsep yang <em>homie</em>, kalau nggak belanja orang bisa duduk baca buku dan minum bir. Pasar yang ingin kami bentuk adalah orang yang sadar busana tapi intelektual. Orang yang mandi dua kali sehari, bersih, sadar busana, suka baca, suka mabuk juga.”</p>
<p>Semakin mengenal Dethu, saya jadi teringat pada sosok Malcolm McLaren, konseptor band punk fenomenal Sex Pistols, dalam derajat tertentu. McLaren pernah terpukau pada gerakan situationis internasional yang mempromosikan absurditas seni dan aksi provokatif untuk mendorong perubahan sosial. McLaren mengadopsi tradisi <em>anti-art</em> kaum situasionis dalam mempromosikan Sex Pistols. Dia menyarankan <em>God Save the Queen</em> menjadi judul album Sex Pistols dan menunda peluncurannya agar bertepatan dengan perayaan 60 tahun Ratu Elizabeth II pada Maret 1977. <em>God Save The Queen</em> dilarang dinyanyikan di seluruh Inggris Raya dan subkultur punk&#8212;bahkan hingga kini&#8212;mengalami tekanan budaya.</p>
<p>Bersama istrinya, Vivienne Westwood yang sampai kini dijuluki “The punk princess of fashion,” McLaren mendandani Sex Pistols dengan baju penuh pin, pisau cukur, rantai sepeda atau rantai anjing. Juga dengan <em>make-up</em> berlebihan dan rambut berduri. Meski umur Sex Pistols tak panjang, McLaren peletak dasar <em>attitude</em> berpakaian sebagai syarat melambungkan grup musik.</p>
<p>“Banyak yang bilang Rudolf Dethu adalah Malcolm McLaren Melayu,” saya bergurau.</p>
<p>Dethu tertawa. “Sebenarnya tidak dimulai seperti itu. Setelah jalan gua memang mempelajari McLaren. Gua memang suka busana, SID juga begitu. Tapi gua nggak mau ini semata <em>fashion</em>. Gua nggak bakal pakai baju Nike, atau bikin sepatu sport,” kata Dethu.</p>
<blockquote><p>Busana adalah hidup matimu. You are what you wear.</p></blockquote>
<p><span style="color: #ff0000;">*</span><small>Artikel ini pertama kali tayang di majalah Playboy Indonesia pada tahun, um, 2006 (?). Semua foto adalah milik Playboy Indonesia<br />
</small></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.rudolfdethu.com/2010/02/08/rockabali/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kebangkrutan Aksara adalah Kebangkrutan Musik Indonesia?</title>
		<link>http://www.rudolfdethu.com/2010/01/22/kebangkrutan-aksara-adalah-kebangkrutan-musik-indonesia/</link>
		<comments>http://www.rudolfdethu.com/2010/01/22/kebangkrutan-aksara-adalah-kebangkrutan-musik-indonesia/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 22 Jan 2010 02:04:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rudolf Dethu</dc:creator>
				<category><![CDATA[Perspectives]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.rudolfdethu.com/?p=957</guid>
		<description><![CDATA[Bicara dinamika musik di dalam negeri—apakah membaik meingindikasikan kemajuan, semata semenjana alias stagnan, atau malah total kemunduran—tampaknya bisa disimpulkan lewat dua fenomena yang lucunya terjadi di bulan paling akhir 2009, Desember.
Yang paling pertama adalah kabar buruk: Aksara Records memutuskan untuk berhenti beroperasi. Label independen yang menaungi kongsi musisi rancak macam Efek Rumah Kaca, White Shoes [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bicara dinamika musik di dalam negeri—apakah membaik meingindikasikan kemajuan, semata semenjana alias stagnan, atau malah total kemunduran—tampaknya bisa disimpulkan lewat dua fenomena yang lucunya terjadi di bulan paling akhir 2009, Desember.</p>
<p><a href="http://www.rudolfdethu.com/wp-content/uploads/2009/12/AksaraRecords1.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-960" title="AksaraRecords" src="http://www.rudolfdethu.com/wp-content/uploads/2009/12/AksaraRecords1.jpg" alt="AksaraRecords" width="300" height="210" /></a>Yang paling pertama adalah kabar buruk: Aksara Records memutuskan untuk berhenti beroperasi. Label independen yang menaungi kongsi musisi rancak macam Efek Rumah Kaca, White Shoes &amp; The Couples Company, Sore, The Brandals, dll; serta pernah menerbitkan puluhan album lokal + beberapa manca negara ini menghentikan aktivitasnya karena alasan klasik: kehabisan aliran dana. Aldo Sianturi, pemegang tampuk Managing Director, ketika berbincang bersamanya beberapa waktu lalu, secara implisit pernah menyebut bahwa sejatinya Aksara Records kendalinya sudah oleng bahkan semenjak dia belum bergabung. Usaha keras mantan petinggi di Universal Records Indonesia tersebut nyatanya kemudian nihil membuahkan hasil akibat cedera di Aksara yang telah begitu berat. Apalagi sang pemilik juga menolak mengucurkan subsidi. Opsi yang tersisa bagi usaha rekaman yang telah berpraktek sepanjang enam tahun itu memang tinggal satu: tutup.<span id="more-957"></span></p>
<p>Kolapsnya maskapai musik terhormat itu cukup jitu menggambarkan situasi yang sedang menimpa musik Nusantara yang juga sedang terhuyung-huyung. Utamanya penjualan fisik album rekaman. Eksistensi &#8220;musisi sejuta kopi&#8221; sudah tinggal kenangan. Artis yang mengklaim albumnya laku hingga 420.000 keping adalah Kangen Band via <em>Bintang 14 Hari</em>. Itu pun silam, di tahun 2008. Pada 2009, sanggup ludes puluhan ribu saja sudah dikategorikan ultra luar biasa. Nada Sambung Pribadi (<em>ring back tone</em>) serta Nada Dering (<em>ring tone</em>), yang sempat menjadi tumpuan harapan, belakangan popularitasnya perlahan menurun. Sambutan publik tak segegap gempita seperti di awal kemunculan dan sinarnya terus makin meredup. Penghasilan ekstra dari konser juga—jika si artis masih di peringkat menengah, belum sekelas, katakanlah, Slank—nilai nominalnya masih rendah, jauh dari standard &#8220;sehat sejahtera.&#8221; Belum lagi, toko kaset dan cakram digital makin menciut jumlahnya. Carut marut ini makin lengkap dengan aktivitas pembajakan yang bukannya berkurang tapi justru meningkat.</p>
<p>Kiamat sudah tinggal sejengkal bagi industri musik Indonesia?  Tidak juga. Sebab di sisi lain pengakuan terhadap eksistensi para musisi Indonesia beserta karyanya malah terus meroket. Utamanya di Asia Tenggara. Artis tanah air merajai jajaran tembang plus memperoleh penghargaan bergengsi di Malaysia bukanlah kisah baru. Tahun demi tahun dijamin pasti ada nama seniman musik Indonesia meraih piala ini dan itu di negeri jiran. Dan yang paling mutakhir, ini kabar sungguh menggembirakan, perhelatan tahunan berskala Asia Tenggara (Indonesia/Malaysia/Singapura/Filipina/Thailand) bertajuk Junksound Awards, Indonesia merebut 9 dari 10 trofi yang dilombakan. The S.I.G.I.T. merupakan grup yang meraih rekognisi terbanyak yaitu Best Pop/Indie Rock Act, Best Live Act serta Album/EP of the Year.</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://www.rudolfdethu.com/wp-content/uploads/2009/12/TheSIGIT-edited.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-961" title="TheSIGIT-edited" src="http://www.rudolfdethu.com/wp-content/uploads/2009/12/TheSIGIT-edited.jpg" alt="TheSIGIT-edited" width="500" height="409" /></a><em>The S.I.G.I.T.</em></p>
<p>Semoga saja apresiasi sedemikian tinggi mampu mengobarkan semangat lagi menebalkan kepercayaan musisi-musisi dalam negeri agar terus berkarya demi tetap tegaknya kejayaan musik Indonesia.</p>
<p>Keep the faith.</p>
<p><span style="color: #ff0000;">*</span><small>Tulisan ini pertama kali tayang di majalah The Beat Jakarta edisi Desember 2009</small></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.rudolfdethu.com/2010/01/22/kebangkrutan-aksara-adalah-kebangkrutan-musik-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Rock-n-Roll Exhibition: AYIP MATAMERA</title>
		<link>http://www.rudolfdethu.com/2010/01/22/rock-n-roll-exhibition-ayip-matamera/</link>
		<comments>http://www.rudolfdethu.com/2010/01/22/rock-n-roll-exhibition-ayip-matamera/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 22 Jan 2010 02:03:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rudolf Dethu</dc:creator>
				<category><![CDATA[The Block Rockin' Beats]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.rudolfdethu.com/?p=970</guid>
		<description><![CDATA[Edition: November 25, 2009
Rock-n-Roll Exhibition: AYIP MATAMERA
Hear It See It

&#8230;Mungkin momen yang tak terjadi pada setiap orang bisa mengenal musik Rock semenjak usia 8.
Dan lagi, yang dikenal adalah grup macam Alice Cooper, Uriah Heep, Led Zeppelin, dll seangkatannya di tahun 1978.
Itu karena Oom saya yang nge-Rock abis dimana kita tinggal di Bandung.
Lagunya, cover kaset dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Edition: November 25, 2009</p>
<p><strong>Rock-n-Roll Exhibition: AYIP MATAMERA<br />
<em>Hear It See It</em></strong><br />
<a href="http://www.rudolfdethu.com/wp-content/uploads/2010/01/TBRB-Ayip.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-971" title="TBRB-Ayip" src="http://www.rudolfdethu.com/wp-content/uploads/2010/01/TBRB-Ayip.jpg" alt="TBRB-Ayip" width="400" height="400" /></a><br />
<em>&#8230;Mungkin momen yang tak terjadi pada setiap orang bisa mengenal musik Rock semenjak usia 8.<br />
Dan lagi, yang dikenal adalah grup macam Alice Cooper, Uriah Heep, Led Zeppelin, dll seangkatannya di tahun 1978.<br />
Itu karena Oom saya yang nge-Rock abis dimana kita tinggal di Bandung.<br />
Lagunya, cover kaset dan LPnya plus majalah Aktuil yang jadul itu ada di sana.</em></p>
<p><em>Ya, di ujung jalan deket rumah disitulah bangsanya Deddy Stanzah, Gito Rollies kongkow kongkow sama si Oom.<br />
Thanks ya Oom, Rocknya demikian berkesan sampai sekarang walau gak jaminan lebih tau banyak dari yang baru suka…</em></p>
<p><em>Selebihnya, perjalanan mengenal Rock mulai lewat konser di Jakarta masa SMP-SMA jamannya Acid Speed Band, Cockpit, dsb.<br />
Selera juga mulai bergeser dari apa yang disebut Hard Rock ke Classic atau Art rock dan belakangan Progressive Rock.<br />
Gak tau ya… Barangkali frekuensinya buat kerja kreatif tuning sekali!</em></p>
<p><em>Di bawah ini, walau tidak secara timeline, adalah yang pernah menggurat waktu dan beberapa still OK buat bikin suasana khusus.</em></p>
<p><em>Sekali lagi lagu-lagu Rock saat itu memang surealis dan itu erat hubungannya dengan penggambaran ‘art’nya di cover.<br />
Story-nya bukan hanya digambarkan dalam desain tapi lagu-personalitas group dan gaya covernya seperti dua kutub seni yang saling mengimbangi dan memperkaya.<br />
Banyak lagu yang berkesan tapi digitalnya tak dapat dijumpai dan, maaf, referensi saya dominan below 2002 saja agar ada sense of jadul-nya.<br />
(Hanya seorang Dethu yang bisa membuat hal personal ini terdengar untuk umum)</em></p>
<p><em>Ingat, dengerin lagunya sambil liat seni di cover albumnya&#8230;</em></p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>::</strong></span> Playlist, notes, and photos, written and handpicked by Ayip Himself <span style="color: #ff0000;"><strong>::</strong></span></p>
<p><a href="http://www.rudolfdethu.com/wp-content/uploads/2010/01/RS-HeartofStone.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-973" title="RS-HeartofStone" src="http://www.rudolfdethu.com/wp-content/uploads/2010/01/RS-HeartofStone.jpg" alt="RS-HeartofStone" width="500" height="257" /></a><strong>1. Heart of Stone &#8211; The Rolling Stones</strong><br />
Dramatik ballad dengan bungkusan blues dan R&amp;B ini sangat berkesan buat para green activist.<br />
Kisah tentang logo kondang Lips &amp; Tongue karya John Pasche ini dibuatnya sewaktu dia masih mahasiswa desain dan hanya dihargai sekitar 80 pound. Ternyata logo itu cocok banget dan dipakai hingga saat ini. Sketsa desain awal desain itu laku 92.500 US$ dan kini menjadi koleksi the Victoria and Albert Museum<br />
<em><small>Album/Year Released: The Rolling Stones, Now! (1965)</small></em></p>
<p><strong>2. Play With Fire &#8211; The Rolling Stones</strong><br />
<em><small>Out of Our Heads (1965)</small></em></p>
<p><a href="http://www.rudolfdethu.com/wp-content/uploads/2010/01/HousesoftheHoly.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-974" title="HousesoftheHoly" src="http://www.rudolfdethu.com/wp-content/uploads/2010/01/HousesoftheHoly.jpg" alt="HousesoftheHoly" width="500" height="250" /></a><strong>3. The Rain Song &#8211; Led Zeppelin</strong><br />
Lagu ini menjadi momen baru bagi LZ dalam urusan mengemasnya di dapur rekaman. Tapi kisah sang pembuat cover desain Storm Thorgerson demikian menariknya: &#8220;People say I&#8217;m terrible to work with and I imagine I am.&#8221; &#8220;As a designer, I&#8217;m completely amoral,&#8221; Kata Thorgerson. &#8220;I don&#8217;t care about the money, the time or the energy it takes: it&#8217;s the design that matters. I don&#8217;t really care about people&#8217;s inconvenience.&#8221;<br />
<em><small>Houses of the Holy (1973)<span id="more-970"></span></small></em></p>
<p><a href="http://www.rudolfdethu.com/wp-content/uploads/2010/01/Kiss-Destroyer.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-975" title="Kiss-Destroyer" src="http://www.rudolfdethu.com/wp-content/uploads/2010/01/Kiss-Destroyer.jpg" alt="Kiss-Destroyer" width="400" height="212" /></a><strong>4. Beth &#8211; Kiss</strong><br />
<em><small>Destroyer (1976)</small></em></p>
<p><strong>5. Dont Let It Show &#8211; Alan Parson Project</strong><br />
<em><small>Don&#8217;t Let It Show [Single] (1977)</small></em></p>
<p><a href="http://www.rudolfdethu.com/wp-content/uploads/2010/01/Yes-Fragile.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-976" title="Yes-Fragile" src="http://www.rudolfdethu.com/wp-content/uploads/2010/01/Yes-Fragile.jpg" alt="Yes-Fragile" width="500" height="216" /></a><strong>6. Long Distance Runaround &#8211; Yes</strong><br />
<em><small>Fragile (1971)</small></em></p>
<p><strong>7. Why Cant This Be Love &#8211; Van Halen</strong><br />
“Blind fans” Lee Roth gak suka sama lagu ini, padahal energik sekali untuk ungkapan keraguan cinta<br />
<em><small>Why Can&#8217;t This Be Love [Single] (1986)</small></em></p>
<p><a href="http://www.rudolfdethu.com/wp-content/uploads/2010/01/Aerosmith.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-977" title="Aerosmith" src="http://www.rudolfdethu.com/wp-content/uploads/2010/01/Aerosmith.jpg" alt="Aerosmith" width="400" height="195" /></a><strong>8. What It Takes &#8211; Aerosmith</strong><br />
Aerosmith pernah jadi teman perjalanan overland Bandung-Bali yang mantap<br />
<em><small>Pump (1989)</small></em></p>
<p><strong>9. Living on the Edge &#8211; Aerosmith</strong><br />
<em><small>Get a Grip (1993)</small></em></p>
<p><a href="http://www.rudolfdethu.com/wp-content/uploads/2010/01/RoxyMusic.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-978" title="RoxyMusic" src="http://www.rudolfdethu.com/wp-content/uploads/2010/01/RoxyMusic.jpg" alt="RoxyMusic" width="500" height="240" /></a><strong>10. Strictly Confidential &#8211; Roxy Music</strong><br />
<em><small>For Your Pleasure (1973)</small></em></p>
<p><a href="http://www.rudolfdethu.com/wp-content/uploads/2010/01/CollectiveSoul-Dosage.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-979" title="CollectiveSoul-Dosage" src="http://www.rudolfdethu.com/wp-content/uploads/2010/01/CollectiveSoul-Dosage.jpg" alt="CollectiveSoul-Dosage" width="500" height="209" /></a><strong>11. Run &#8211; Collective Soul</strong><br />
<em><small>Dosage (1999)</small></em></p>
<p><a href="http://www.rudolfdethu.com/wp-content/uploads/2010/01/Tesla-FiveManAcousticalJam.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-980" title="Tesla-FiveManAcousticalJam" src="http://www.rudolfdethu.com/wp-content/uploads/2010/01/Tesla-FiveManAcousticalJam.jpg" alt="Tesla-FiveManAcousticalJam" width="250" height="249" /></a><strong>12. Try So Hard &#8211; Tesla</strong><br />
<em><small>Five Man Acoustical Jam (1990)</small></em></p>
<p><strong>13. Paradise &#8211; Tesla</strong><br />
<em><small>The Great Radio Controversy (1990)</small></em></p>
<p><strong>14. The Brazillian &#8211; Genesis</strong><br />
<em><small>Invisible Touch (1986)</small></em></p>
<p><strong><a href="http://www.rudolfdethu.com/wp-content/uploads/2010/01/LennyKravitz-IBelongtoYou.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-981" title="LennyKravitz-IBelongtoYou" src="http://www.rudolfdethu.com/wp-content/uploads/2010/01/LennyKravitz-IBelongtoYou.jpg" alt="LennyKravitz-IBelongtoYou" width="500" height="241" /></a>15. I Belong to You &#8211; Lenny Kravitz</strong><br />
<em><small>5 (1998)</small></em></p>
<p><strong>16. Fly Away &#8211; Lenny Kravitz</strong><br />
<em><small>5 (1998)</small></em></p>
<p><strong>17. Always On The Run &#8211; Lenny Kravitz</strong><br />
<em><small>Mama Said (1991)</small></em></p>
<p><strong><a href="http://www.rudolfdethu.com/wp-content/uploads/2010/01/Genesis-Foxtrot.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-982" title="Genesis-Foxtrot" src="http://www.rudolfdethu.com/wp-content/uploads/2010/01/Genesis-Foxtrot.jpg" alt="Genesis-Foxtrot" width="500" height="244" /></a>18. Supper’s Ready &#8211; Genesis</strong><br />
Ini lagu terpanjang yang terbagi atas 5 sequel dan Genesis mampu menjaganya tetap berkesan dari awal sampai akhir<br />
<em><small>Foxtrot (1972)</small></em></p>
<p><strong>19. Trilogy &#8211; ELP</strong><br />
<em><small>Trilogy (1972)</small></em></p>
<p><a href="http://www.rudolfdethu.com/wp-content/uploads/2010/01/Muse-OriginofSymmetry.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-983" title="Muse-OriginofSymmetry" src="http://www.rudolfdethu.com/wp-content/uploads/2010/01/Muse-OriginofSymmetry.jpg" alt="Muse-OriginofSymmetry" width="500" height="219" /></a><strong>20. Citizen Erased &#8211; Muse</strong><br />
Ini barangkali band terakhir yang mampu membuat karakter yang hampir sama dengan Proggressive Rock yang mendahuluinya. Kecerdasannya mampu menghadirkan Neo Prog yang advance dan kontinuitas bagi penggemar progressive Rock di era sebelumnya<br />
<em><small>Origin of Symmetry (2001)</small></em></p>
<p><strong>21. Space Dementia &#8211; Muse</strong><br />
<em><small>Origin of Symmetry (2001)</small></em></p>
<p><strong>22. Feeling Good &#8211; Muse</strong><br />
<em><small>Origin of Symmetry (2001)</small></em></p>
<p><a href="http://www.rudolfdethu.com/wp-content/uploads/2010/01/Rush-ExitStageLeft.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-984" title="Rush-ExitStageLeft" src="http://www.rudolfdethu.com/wp-content/uploads/2010/01/Rush-ExitStageLeft.jpg" alt="Rush-ExitStageLeft" width="500" height="241" /></a><strong>23. Freewill &#8211; Rush</strong><br />
Sama trionya dengan Muse dan sama hebatnya dalam membuat “licking” yang memudahkan kita mengenalnya<br />
<em><small>Exit&#8230;Stage Left (1981)</small></em></p>
<p><strong>24. Red Barchetta &#8211; Rush</strong><br />
<em><small>Exit&#8230;Stage Left (1981)</small></em></p>
<p><strong>25. The Spirit of Radio &#8211; Rush</strong><br />
<em><small>Exit&#8230;Stage Left (1981)</small></em></p>
<p><a href="http://www.rudolfdethu.com/wp-content/uploads/2010/01/AlanParsonsProject-EyeintheSky.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-985" title="AlanParsonsProject-EyeintheSky" src="http://www.rudolfdethu.com/wp-content/uploads/2010/01/AlanParsonsProject-EyeintheSky.jpg" alt="AlanParsonsProject-EyeintheSky" width="500" height="238" /></a><strong>26. Old &amp; Wise &#8211; Alan Parsons Project</strong><br />
<em><small>Eye in the Sky (1982)</small></em></p>
<p><strong>27. Remedy &#8211; The Black Crowes</strong><br />
<em><small>The Southern Harmony and Musical Companion (1992)</small></em></p>
<p><strong>28. Fanfare for the Common Man &#8211; ELP</strong><br />
<em><small>Works Volume I (1977)</small></em></p>
<p><strong>29. Firth of Fifth &#8211; Genesis</strong><br />
<em><small>Selling England by the Pound (1973)</small></em></p>
<p><a href="http://www.rudolfdethu.com/wp-content/uploads/2010/01/Genesis-WindWuthering.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-986" title="Genesis-Wind&amp;Wuthering" src="http://www.rudolfdethu.com/wp-content/uploads/2010/01/Genesis-WindWuthering.jpg" alt="Genesis-Wind&amp;Wuthering" width="300" height="300" /></a><strong>30. Afterglow &#8211; Genesis</strong><br />
Cover album designed by Hipgnosis.<br />
<em><small>Wind &amp; Wuthering (1976)</small></em></p>
<p><a href="http://www.rudolfdethu.com/wp-content/uploads/2010/01/DalisDilemma-ManifestoforFuturism.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-987" title="DalisDilemma-ManifestoforFuturism" src="http://www.rudolfdethu.com/wp-content/uploads/2010/01/DalisDilemma-ManifestoforFuturism.jpg" alt="DalisDilemma-ManifestoforFuturism" width="300" height="300" /></a><strong>31. Andromeda Sunrise &#8211; Dali’s Dilemma</strong><br />
<em><small>Manifesto for Futurism (1999)</small></em></p>
<p><strong><a href="http://www.rudolfdethu.com/wp-content/uploads/2010/01/LiquidTensionsExperiment.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-988" title="LiquidTensionsExperiment" src="http://www.rudolfdethu.com/wp-content/uploads/2010/01/LiquidTensionsExperiment.jpg" alt="LiquidTensionsExperiment" width="400" height="192" /></a>32. Acid Rain &#8211; Liquid Tensions Experiment</strong><br />
<em><small>Liquid Tension Experiment 2 (1999)</small></em></p>
<p><strong>33. Chewbacca &#8211; Liquid Tensions Experiment</strong><br />
<em><small>Liquid Tension Experiment 2 (1999)</small></em></p>
<p><strong>34. When The Water Breaks &#8211; Liquid Tensions Experiment</strong><br />
<em><small>Liquid Tension Experiment 2 (1999)</small></em></p>
<p><strong>35. Summerdream &#8211; Lucifer’s Friend</strong><br />
<em><small>Where the Groupies Killed the Blues (1972)</small></em></p>
<p><a href="http://www.rudolfdethu.com/wp-content/uploads/2010/01/SteveVai.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-989" title="SteveVai" src="http://www.rudolfdethu.com/wp-content/uploads/2010/01/SteveVai.jpg" alt="SteveVai" width="400" height="212" /></a><strong>36. Freak Show Excess &#8211; Steve Vai</strong><br />
<em><small>Real Illusions: Reflections (2005)</small></em></p>
<p><strong>37. God Gave Rock ‘n’ Roll to You &#8211; Kiss</strong><br />
<em><small>Revenge (1992)</small></em></p>
<p><small>Note: Ayip is the founder of Matamera, the pioneer of graphic design and communication company in Bali. A big-time Prog Rock aficionado. He used to organize many jazz festivals in Bali. He initiated Bali Jazz Forum, too. Currently he&#8217;s the head of Bali Creative Community</small></p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>::</strong></span> Listen to the podcast in here <span style="color: #ff0000;"><strong>::</strong></span></p>
<p>___________________</p>
<p>Upcoming exhibitions<span style="color: #ff0000;"><strong>*</strong></span>:</p>
<p>- January 27, 2010: Robi Navicula (The Last Grunge Gentleman)<br />
- February 03, 2010: Aldo Sianturi (Managing Director of Raksasa Records)<br />
- February 10, 2010: Paulus Panggabean (Managing Director of Hard Rock Indonesia)<br />
- February 17, 2010: Indra7 (half body of Media Distorsi, half body of Microchip)<br />
- February 24, 2010: Keke Tumbuan (photographer, editor of Free! magazine)<br />
- March 03, 2010: Riann Pelor (MC from hell)<br />
- March 10, 2010: Soleh Solihun (journalist of Rolling Stone)<br />
- March 17, 2010: Sayap Imaji (writer, atheist)<br />
- March 24, 2010: Otong (vocalist of Koil)</p>
<p>Boozed, Broozed, and Broken-boned,<br />
RUDOLF DETHU</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>*</strong></span><small>subject to change</small></p>
<p>____________________</p>
<p><em>The Block Rockin&#8217; Beats<br />
Every Wednesday, 8 &#8211; 10 PM<br />
The Beat Radio Plus &#8211; Bali, 98.5 FM</em></p>
<p><em>120 minutes of cock-melting tunes.<br />
No bullcrap.<br />
Zero horse shit.<br />
Rad-ass rebel without a pause.</em></p>
<p><em>Shut up and slamdance!</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.rudolfdethu.com/2010/01/22/rock-n-roll-exhibition-ayip-matamera/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Denpasar: Menjabat Kontra Kultura, Menuju Kosmopolitan</title>
		<link>http://www.rudolfdethu.com/2009/12/30/denpasar-menjabat-kontra-kultura-menuju-kosmopolitan/</link>
		<comments>http://www.rudolfdethu.com/2009/12/30/denpasar-menjabat-kontra-kultura-menuju-kosmopolitan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 29 Dec 2009 23:43:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rudolf Dethu</dc:creator>
				<category><![CDATA[Perspectives]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.rudolfdethu.com/?p=949</guid>
		<description><![CDATA[Tulisan ini saya buat dalam rangka merespons seni instalasi Ebullience yang merupakan kolaborasi bineka seniman berbakat Denpasar, Bali; di Denpasar Festival pada 28 &#8211; 30 Desember 2009
Denpasar kini adalah Denpasar yang (harus) berani. Denpasar mutakhir adalah Denpasar yang (wajib) kaya makna, terbuka, puspawarna.
Ayo kilas balik dulu. Di kala remaja, di pertengahan tahun 80-an, saya adalah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><small><em>Tulisan ini saya buat dalam rangka merespons seni instalasi </em>Ebullience <em>yang merupakan kolaborasi bineka seniman berbakat Denpasar, Bali; di Denpasar Festival pada 28 &#8211; 30 Desember 2009</em></small></p>
<p><a href="http://www.rudolfdethu.com/wp-content/uploads/2009/12/KontraKultura-word.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-951" title="KontraKultura-word" src="http://www.rudolfdethu.com/wp-content/uploads/2009/12/KontraKultura-word.jpg" alt="KontraKultura-word" width="400" height="384" /></a>Denpasar kini adalah Denpasar yang (harus) berani. Denpasar mutakhir adalah Denpasar yang (wajib) kaya makna, terbuka, puspawarna.</p>
<p>Ayo kilas balik dulu. Di kala remaja, di pertengahan tahun 80-an, saya adalah termasuk satu di antara banyak anak muda yang minim minat, lesu gairah, paceklik selera, pada <em>so-called</em> &#8220;kebudayaan&#8221;. Setiap kali bersinggungan dengan kata tersebut, gambar yang instan muncul di kepala adalah sebentuk wujud statis, membosankan, kisah reyot masa lalu, melenceng dari apa yang terjadi sekarang. Alias kuno. Saya—beserta berlimpah anak sebaya lainnya—sebisanya menghindari keterlibatan dengan akitivitas antik non progresif itu.<span id="more-949"></span></p>
<p>Sementara Bapak-Ibu guru di sekolah, orang tua di rumah, para petinggi di jajaran pemerintah, pula agresif tanpa jeda beramai-ramai mengingatkan bahwa kita sebagai orang lokal wajib menghargai budaya Bali. Bentuk apresiasi bisa berupa terjun langsung belajar menari/melukis/memahat/dsb. Bisa juga rutin mendatangi tempat semacam Museum Bali untuk mengenal lebih dekat asal-usul tanah kelahiran. Atau minimal bertandang ke acara sejenis Pesta Kesenian Bali menikmati varian kesenian yang dipersembahkan.</p>
<p>Didikte sedemikian rupa, sedemikian ofensif, sebagian dari kita sekadar mengangguk seolah mengiyakan, sebagian langsung melengos tanpa acuh, sebagian lagi frontal bilang ogah. Sebab di realita yang ada saat itu, yang justru gigantik menarik minat anak muda salah satunya adalah fenomena sub kultur bertajuk <em>Rock</em>. Ya musiknya: bising, keras, cepat, berlirik jujur. Ya dandanannya: baju ngepas, rambut jabrik, celana ketat dengan variasi <em>bell bottom</em> (cut bray). Ya falsafahnya: menjunjung kebebasan berpikir, menghargai kemerdekaan berpendapat, mendorong otonomi untuk bertindak menuruti kata hati. Saya dan berjubel sejawat lainnya tanpa dipaksa pun dengan senang hati, ikhlas lagi tawakal, riang ria membuka diri terhadap <em>Rock</em>. Bumbu-bumbu kisah semisal musik ini pernah dilarang, dilabeli &#8220;Ngak Ngik Ngok&#8221; di era Soekarno; dituduh dekat dengan setan dan kebatilan, didiskreditkan sebagai senandung kaum pecundang, justru menimbulkan rasa keingintahuan nan masif serta, di lain sisi, segala vonis miring kepada eksistensi <em>Rock</em> malah menguatkan rasa persatuan, kesetiakawanan, solidaritas, di antara kita semua.</p>
<p>Rasa ultra suka tersebut jelas tergambarkan lewat aktivitas kita yang tak pernah absen mendatangi konser <em>Rock</em> di mana pun di penjuru Denpasar—bahkan seantero Bali, jika harus. Menonton Harley Angels, Full of Shit, Ayu Laksmi, Roger, dan &#8220;pahlawan bumiputra&#8221; lainnya, otomatis menjadi menu wajib. Ditambah lagi kegiatan rutin membeli kaset artis dalam dan luar negeri, berburu majalah yang memuat berita tentang perkembangan musik cadas.</p>
<p>Masuk ke kurun 90-an hingga awal tahun 2000, pergerakan sub kultur ini makin berkembang, melebar, menggurita, terbungkus dalam pergerakan bertitel <em>Indie</em> (dari kata &#8220;independen&#8221;) lengkap dengan paham bernama <em>D.I.Y.</em> (<em>Do It Yourself</em>) yang mengedepankan prinsip swakelola, swadaya, swasembada. <em>Movement</em> yang menginvasi Bali ini tak cuma berupa musik, tapi juga gaya busana nan berbeda dengan <em>trend</em> sebelumnya, dilengkapi &#8220;adat istiadat&#8221; yang sama sekali baru dari generasi paling hari ini: <em>skateboard</em>, sepeda BMX, <em>surfing</em>, dll.</p>
<p>Pelan tapi pasti, kebiasaan anyar ini posisinya makin solid dan bertransformasi menjadi sebuah kekuatan baru: <em>counter culture</em>, kontra kultura, budaya tandingan. Kedatangan <em>Indie</em> yang menawarkan sesuatu yang amat segar tentu disambut gempita oleh anak muda Bali pada umumnya, dan Denpasar pada utamanya. Hingga kemudian melahirkan satria-satrianya sendiri. Dari bidang musik muncul Superman Is Dead, yang bukan cuma merupakan <em>band</em> asal Bali paling pertama mampu <em>go-national</em> dalam arti sesungguhnya, telah menjadi ikon baru di industri musik Indonesia dengan puluhan ribu penggemarnya dari Aceh sampai Papua, sukses menuntaskan pertunjukan di Australia dan Amerika Serikat, serta disebut sebagai grup <em>Punk Rock</em> terbesar di tanah air. Berikutnya The Hydrant, pelopor genre <em>Rockabilly</em> di Nusantara, memiliki <em>fans</em> fanatik di banyak metropolitan di negara ini, gemilang mencengangkan penonton di 3 negara berbeda: Austria, Ceko, dan Slowakia. Lalu Navicula. Pamornya tinggi sekali, disebut sebagai grup pengusung <em>Grunge</em> termahsyur setanah air. Plus, akibat konsistensinya memperjuangkan kehijauan lingkungan, biduannya dipilih oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia sebagai duta Tsunami.</p>
<p>Kemudian dari aspek <em>fashion</em> terdapat Suicide Glam. Sebuah merek lokal berpusat di Renon, Denpasar, yang berjaya menyebarkan koleksinya ke berbagai penjuru dunia, dan bahkan secara waralaba sanggup membuka cabang di Jerman dan Australia. Fenomena yang sungguh menarik, karena biasanya orang Indonesia yang menjadi <em>franchisee</em> merek luar negeri, ini malah sebaliknya: orang luar minta menjadi terwaralaba. Ha.</p>
<p>Yang signifikan untuk dicatat pula adalah ketika Forrest Club, partner Suicide Glam—lokasinya berdampingan satu sama lain—yang berjualan kopi dan makanan kecil, kafe beserta halaman parkirnya berevolusi menjadi ruang kongkow-kongkow penggiat ideologi <em>Indie</em>. Bedah buku, pergelaran musik, pameran karya seni, diskusi, serbaneka perspektif non-konvensional terakomodasi dengan baik di Forrest Club. Sub kultur, budaya tandingan, peradaban urban, apa pun istilahnya, bak mendapat rumah teduh lagi nyaman.</p>
<p>Dan masih banyak dedengkot lain yang belum disebut. Namun yang jelas, fenomena <em>Rock</em> kemudian <em>Indie</em> ini jika dipahami secara dangkal memang seolah nihil keterkaitan dengan eksistensi budaya Bali. Kalau dimaknai via permukaan saja terkesan sepi apresiasi kepada kultur Bali. Bisa jadi benar. Bisa jadi kurang tepat. Namun titik persoalannya bukan di situ. Ini soal strategi pendekatan ke anak muda agar lebih menghargai kearifan lokal serta berimplikasi pada menipisnya anggapan bahwa &#8220;kebudayaan&#8221; adalah entitas menjenuhkan, lamban, <em>old-fashioned</em>. Pihak-pihak penentu kebijakan mesti makin membuka ruang lebih lebar dan mengakomodasi lebih luas sub kultur ini. Sebab pada kenyataannya budaya tandingan ini mampu berkibar, kukuh diidolakan, ijo royo-royo, padahal minim campur tangan negara. Sihir kontra kultura yang begitu kuat membius kaum belia sejatinya bisa digunakan sebagai jalan masuk baik oleh pemerintah maupun patriot Budaya Bali. Dengan merangkul mereka, menjabat tangan mereka, maka penetrasi pemikiran tentang seberapa adiluhungnya Budaya Bali bisa pelan-pelan disisipkan dengan halus, bersahabat, minus kesan menggurui. Sebab cara pendekatan feodalistik, pengedepanan asas senioritas, anjuran berbau pemaksaan, terbukti tak efektif. Yang muncul justru resistensi. Para remaja menolak mengikuti instruksi, lalu memilih suri tauladannya sendiri.</p>
<p><em>Approach</em> masa kini yang pro-anak muda ini sejatinya secara tanpa sadar telah dipraktekkan dengan baik—dan relatif sukses besar—oleh, sekadar menyebut contoh, para pegiat sub kultur di Forrest Club. Setiap kali membikin acara di tempat ini hampir selalu ditanggapi dengan antusiasme berkobar. Bahkan acara sekelas <em>Chromatic Forest</em> pada Juli 2009 silam yang menampilkan seniman lintas negeri (Kroasia, Singapura, Thailand, Bali sebagai tuan rumah) dengan riuh pertunjukan seni kontemporer—dari band garda depan hingga puisi elektronik—yang notabene bukan merupakan jenis yang mudah dicerna, sulit dimengerti orang kebanyakan, tetap saja memperoleh atensi luar biasa. Umat sub kultur tampaknya sengaja menafikan kebingungan mereka terhadap apa yang akan diperoleh di <em>Chromatic Forest</em>. Mereka sepertinya sejak awal telah membebaskan dirinya dari praduga. Yang mereka bawa cuma rasa percaya pada kawan-kawan penyelenggara acara. Mereka ingin diasosiasikan sebagai bagian integral dari skena Forrest Club. Apa pun yang kemudian muncul di hadapan, puisi mbeling, musik planet Mars, bahasa antah berantah, respons yang diberikan biasanya positif. Atau minimal berujar, &#8220;Belum mengerti, tapi menarik buat dipelajari&#8230;&#8221;</p>
<p>Contoh faktual kedua, di pertengahan 2009, beberapa pekan sebelum keberangkatannya ke Eropa Timur, para personel The Hydrant diberikan kesempatan berjumpa langsung dengan Walikota Denpasar. IB Rai Dharma Wijaya Mantra berkeinginan memberi selamat serta memberi sedikit bantuan kepada mereka. Yang lebih hakiki di sini bukanlah soal nominal yang didapat. Faktor esensial di sini adalah bersedianya sang pemimpin region menemui anak-anak muda itu. Warga Denpasar yang selama ini menganggap dirinya kurang terakomodasi, instan berubah sudut pandang sejenak setelah menerima undangan silaturahmi dengan Walikota. Bagi mereka manuver tersebut sungguh impresif. Efeknya segera terasa saat Wis dkk berada di Wina, Praha, &amp; Zagreb. Atas inisiatif sendiri, tiap kali selesai pentas mereka bergerak menyebarkan brosur tentang Bali, bersemangat bercerita tentang kota kelahiran yang dicintainya, Denpasar. <em>Whoa</em>.</p>
<p>Acara bincang santai antara Walikota Denpasar beberapa bulan berikutnya dengan Komunitas Kreatif Bali yang dihadiri wakil-wakil seniman (dominan dari ranah sub kultur, hadir antara lain Superman Is Dead, The Hydrant, Navicula mewakili kelompok musik; videografer, desainer grafis, penulis blog, dj, dsb) pun boleh dibilang cukup berhasil menjungkirbalikkan anggapan kaku yang kerap disematkan terhadap pemerintah. Artinya rasa percaya kerabat kontra kultura pelan tapi pasti mulai terbangun.</p>
<p>Dan yang paling aktual: <a href="http://ebulliencenow.wordpress.com/2009/12/29/tonggak-itu-telah-dimulai-lewat-ebullience/#more-106"><em>Ebullience</em></a>. Gerak pemerintah kota yang miskin campur tangan, sekadar memfasilitasi, serta membiarkan para seniman berbakat Denpasar—yang didominasi anak muda—membentuk kongsi dan menelurkan ide liarnya sendiri, adalah merupakan sebuah langkah cerdik pula progresif. Pembebasan kongregasi artis dari berbagai disiplin kesenian, tradisional mau pun modern/sub kultur, untuk menjelmakan instalasi dalam merespons tema Denpasar Festival, <em>Embracing Tomorrow</em> atau &#8220;Menuju Masa Depan Gemilang&#8221;, sungguh sebuah aksi pemerintah kota nan membesarkan hati. Utamanya bagi pelaku peradaban urban. Keberadaan kultur masa kini yang sering dicap &#8220;nihil merepresentasikan budaya Bali&#8221; ini serasa diberi perhatian, dihargai sepatutnya.</p>
<p>Apalagi jika mau membuka mata lebih lebar, rela membuka hati pada realita, instalasi berjudul <em>Ebullience</em> ini secara kasat mata hampa nuansa Bali. Artinya kecenderungan yang terjadi pada seniman-seniman berbakat Denpasar sekarang lebih kuat unsur modernnya. Namun jika ditilik lebih dalam, konfigurasi <em>Ebullience</em> sejatinya pekat konsep Budaya Bali. Bentuknya yang bak bahtera mengalur fleksibel dengan geladak belakang (arah Timur) yang terbuka dan geladak depan (arah Barat), menonjolkan sebuah silinder bagai sebuah periskop, jika mau dijalinkan dengan kearifan lokal, konstelasi Timur dan Barat merepresentasikan siklus kehidupan, <em>Makara Candraditya</em>, asmara kekal antara kehangatan cahaya Matahari dengan kelembutan sinar rembulan. Belum lagi kalau dihubungkan dengan imaji ruang dan waktu (<em>Asta Bumi</em> dan <em>Atitanagatawartamana</em>) kehadirannya di tengah-tengah alun-alun kota Denpasar menegaskan dimensi sakral -sekuler yang amat dipercaya di Bali.</p>
<p>Sekali lagi, menyediakan ruang untuk sub kultur, mempersilakan kontra kultura hidup berdampingan dengan Budaya Bali, memberi porsi yang adil antara peradaban urban dengan adat kebiasaan setempat, akan menimbulkan efek saling menghargai. Sudut pandang generasi muda—ingat, jumlah mereka jangan dipandang sebelah mata—yang selama ini menganggap Budaya Bali sebagai sosok statis, reyot, membosankan, lebih gampang direjuvenasi jika pemerintah tulus membuka hati bagi tumbuhkembangnya budaya a la mereka sendiri. Yang penting tumbuhkan dulu rasa percaya mereka. Tumbangkan segera persepsi awak negara = kaku, tambun, stagnan.</p>
<p><em>Ebullience</em> sudah tepat. Sub kulturis mesti diajak berjabat erat. Denpasar harus ramah multi kultural. Sebab Denpasar masa depan adalah Denpasar nan kosmopolitan.</p>
<p><strong>RUDOLF DETHU</strong><br />
Pengamat Sub Kultur</p>
<p style="text-align: right;"><em><small>There are only two ways to live your life.<br />
One is as though nothing is a miracle.<br />
The other is as though everything is a miracle<br />
~ Albert Einstein</small></em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.rudolfdethu.com/2009/12/30/denpasar-menjabat-kontra-kultura-menuju-kosmopolitan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
