search
BIONJx

MENJUDULI ALBUM & MENAJUKI TEMBANG: PETIK GANDA ATAU MIRING?

Billy Idol menerbitkan 𝘒𝘪𝘯𝘨𝘴 𝘰𝘧 𝘵𝘩𝘦 𝘜𝘯𝘥𝘦𝘳𝘨𝘳𝘰𝘶𝘯𝘥 setelah "Dancing With Myself".
MaiMabasaBali-SanurCoolCats
Mai Mabasa Bali (let's speak Balinese) is a program that I run at the moment & the goal is to attract young people's interest to embrace their roots, their mother tongue: Balinese language. The dream is that Balinese language will be actively used again as a means of daily communication, as the lingua franca. Or at least the Balinese language is no longer considered as an obsolete object, uncool, being left to rot. We'll release some new and exciting Balinese songs by Navicula, The Hydrant Bali, James Manja, Alien Child, and the Balinese music veteran: Widi Widiana.
Umlaut adalah sebuah diakritik yang terdiri dari sepasang titik atau garis-garis yang ditempatkan pada sebuah huruf---biasanya huruf hidup. Diakritik? Huh? Ia berupa tanda kecil yang ditempatkan pada sebuah huruf untuk membedakan pengucapan dari huruf sejenis. Umlaut---yang berasal dari Bahasa Jerman---secara bebas bisa diterjemahkan sebagai "perubahan pengucapan", pula "pergantian bunyi". Huruf a, misalnya, dilafalkan sedikit berbeda dengan ä, o tak sama dengan ö, bunyi ü lebih lemah dibanding u. Demikian seterusnya.
This small yet unique question and answer between Devendra Banhart and Joanna Newsom was originally published on Uncut mag, Take 164, January 2011; right after Newsom's Have One On Me won Uncut's Album of the Year.
Mencabut alat kemaluan sesaat sebelum ejakulasi alias coitus interruptus ternyata, dahulu kala, pernah bermakna serupa dengan "pemakzulan". Karena pada dasarnya, 'azl (bahasa Arab), berarti mencabut. Entah mencabut seseorang dari tanah airnya (mengasingkan) entah mencabut penis dari vagina. Silakan baca argumen Qaris Tajudin di halaman dalam, ketika ia mencoba memberi sudut pandang berbeda terhadap tulisan Saidi A. Xinnalecky di edisi Tempo sebelumnya: Hikayat Pemakzulan.
Berikut adalah sebuah tulisan menarik oleh Eric Sasono, seorang kritikus film, yang dimuat di majalah Tempo edisi Maret 2010 silam. Eric, yang juga redaktur www.rumahfilm.org, menelisik isu linguistik, tentang seberapa "tembak langsung" judul film ini: Diperkosa Setan. Memang, makin ke sini para penggiat film lokal tersimak makin berani. Tak hanya terang-terangan mengajakserta bintang film porno sebagai pemicu atensi---sudah pasti berujung riuh kontroversi---tapi juga blak-blakan di urusan memberi judul sinemanya. Eksotika bahasa, akrobat cantik demi menghasilkan titel yang bernas bahkan beradab bukan lagi menjadi prioritas. Komunikasi, antara pembikin dan penyuka film, cenderung satu arah, nihil basa-basi. Di perkara pemberian tajuk, yang lebih dikedepankan justru sisi sensasi. Jika di masa lalu masih mencoba berimprovisasi cukup sopan lalu menyorongkan sebatas Gairah Malam serta Ranjang Yang Ternoda, kini makin miskin estetika sama sekali. Coba perhatikan: Diperkosa Setan. Bukan mustahil dalam waktu dekat akan kian berani lagi, tiada tedeng aling-aling lagi, bombastis skala paling maksi: Disodomi Genderuwo.

rudolfdethu

RUDOLF DETHU

Scroll to Top