search
PF-featuredimagex

PULP FICTION IN ACTION

On this day in 1994, Pulp Fiction opens in theatres.
Bumblebee-poster
Finally had a chance to see Bumblebee last night. I bet most of you have seen it already. I don't really follow Transformers, Star Wars, Star Trek, anything in that genre. I mean I'd still go to the cinemas to see those flicks. But mostly due to FOMO—fear of missing out. Plus I always like the ritual of going to the movies, watch motion pictures from a huge screen, and experiencing Dolby/THX/DTS, any sophisticated sound system.
DOMESTIC GROOVE ~ Celeb's Chosen Seven is my new column in The Beat (Jakarta) mag. Basically it's an interview via e-mail which focuses on small, intimate, domestic stuff; what Indonesia's public figures are really into, musically speaking. For the second edition I went upclose-and-personal with Ario Bayu.
BitzMegaplex
Kebetulan tidak jauh dari tempat saya biasa numpang tinggal di Jakarta, di Kebayoran Baru, belum lama ini dibuka mal baru kelas premium, Pacific Place. Nah, di lantai 6 (atau 7?) terdapat jaringan bioskop rivalnya kelompok Cineplex 21 bernama Blitz Megaplex yang sebagian besar sahamnya dimiliki oleh Ananda Siregar, anak mantan gubernur Bank Indonesia Arifin Siregar. Yang saya suka dari Blitz Megaplex di antaranya adalah konsep interiornya yang post-mo (well, saya sebenernya gak terlalu paham apa mazhab arsitektur tersebut tepat untuk menyebut gaya yang dianut blitzmegaplex, pokoknya modern minimalis, banyak bentuk kubus, dim lighting, aksen metal di beberapa sudut, sedikit futuristik). Seolah kita sedang berada di tempat berbeda, di megapolitan makmur mana gitu. Pokoknya kayak bukan di Jakarta. Sentuhan artistik millenium namun tetap relatif hangat. Masih cukup bernyawa. Kalo di musik mungkin bisa diumpamakan sebagai post-punk (think Talking Heads, The Fall, New Order, Public Image Ltd.). Tetap tersimak nyeni, tidak kelewat sintetik. Tidak sedingin komposisi, katakanlah, Gary Numan. See what I mean?

rudolfdethu

RUDOLF DETHU

Scroll to Top