search

BALI VINYL MOVEMENT: KANCAH TERMERIAH DI 2021

Kisah tentang seberapa gempita skena piringan hitam di Bali. Makanya menjadi kancah termeriah di 2021.
Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on email
Email
Share on print
Print

Digawangi oleh Nicodemus Freddy Hadiyanto bersama BRAM (Bali Records and Merchandise), Bali menyelenggarakan Record Store Day pada 2016 di Rumah Sanur – Creative Hub yang disambut amat meriah oleh publik baik itu penjual, kolektor, musisi juga khalayak umum. Seperti penyelenggaraan Record Store Day pertama kali di Jakarta, acara di wilayah selatan Denpasar ini juga punya peran besar dalam mendorong skena lokal untuk merangkul rilisan fisik kembali.


“Jatuh hati kepada piringan hitam memang mudah adanya, aural experience yang hangat dan intim. Piringan hitam mempunyai daya tarik visual yang tinggi. Secara fisikal-artistik, piringan hitam menarik dilihat, dipegang dan umumnya sampul dan kemasan album didesain sebagai ekspresi estetis, bisa berdiri sendiri sebagai karya seni rupa. Belum lagi aktivitas memburu, mencari dan memilah piringan hitam record hunting adalah pengalaman yang mengasyikkan dan penuh kejutan. Record Store Day pertama di Bali pada 2016 memiliki magnet sosial luar biasa, kecintaan mendalam akan rilisan fisik menggugah orang berkumpul, saling kenal dan berinteraksi. Memiliki, memajang, memutar dan membicarakan koleksi akhirnya bermuara pada pemahaman akan seni dan pengetahuan musik yang lebih komprehensif. Dampaknya bombastis,” ungkap Marlowe Bandem panjang lebar, mengingat kembali seberapa gempita pesta dan parade rilisan fisik tersebut.


Sosok lain yang memiliki peran menonjol pada solidnya gerakan cinta piringan hitam dan rilisan fisik ini adalah Andhika Gautama alias Westside MuzeeQ. Pria jangkung klimis yang memiliki piringan hitam sejak usia 8 tahun (single Rick James “Give It to Me Baby”) ini menjadi energi tambahan bagi Spin Sugar. Saat Marl dan Ridwan sedang keteteran membagi waktu antara piringan hitam, kerja, dan keluarga, Andhika yang mengambil alih kendali Spin Sugar. Latar belakangnya sebagai penyelenggara acara profesional dan pernah wira-wiri di label rekaman mayor secara alami membuatnya lincah bergerak serta tersimak tak kenal lelah menggagas acara. 120 acara Spin Sugar yang telah terselenggara hingga minggu lalu tersebut (Januari 2017 – Desember 2021), sebagian adalah hasil kerja kerasnya.

Baca lebih lengkap di Superlive: BALI VINYL MOVEMENT: SKENA TERMERIAH DI 2021

• Read also POHON TUA CREATORIUM TAK TUNDUK PADA PAGEBLUKUK PADA PAGEBLUK.

━━━━━

Featured image via Tribun Bali.

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on email
Email
Share on print
Print
Rudolf Dethu

Rudolf Dethu

Music journalist, writer, radio DJ, socio-political activist, creative industry leader, and a qualified librarian, Rudolf Dethu is heavily under the influence of the punk rock philosophy. Often tagged as this country’s version of Malcolm McLaren—or as Rolling Stone Indonesia put it ‘the grand master of music propaganda’—a name based on his successes when managing Bali’s two favourite bands, Superman Is Dead and Navicula, both who have become two of the nation’s biggest rock bands.
Rudolf Dethu

Rudolf Dethu

Music journalist, writer, radio DJ, socio-political activist, creative industry leader, and a qualified librarian, Rudolf Dethu is heavily under the influence of the punk rock philosophy. Often tagged as this country’s version of Malcolm McLaren—or as Rolling Stone Indonesia put it ‘the grand master of music propaganda’—a name based on his successes when managing Bali’s two favourite bands, Superman Is Dead and Navicula, both who have become two of the nation’s biggest rock bands.

Related

RUDOLF DETHU

Scroll to Top