Sampul Album Cadas Monumental: DOOKIE

Dookie, album ke-3 Green Day (dan debut album mereka dengan label mayor) yang dirilis pada 1 Februari 1994, merupakan salah satu tonggak signifikan Punk Rock 90-an. Dengan melibatkan produser ternama, Rob Cavallo, karya ini kemudian pada 1995 meraih predikat adiluhung: Grammy Award for Best Alternative Music Album. Whoa.

Kisah tentang sampul album bergaya komik khas anak SD tersebut, well, that’s another story…

Sampul Album Cadas Monumental: KILLERS

Setelah menerbitkan debut album self-titled, Iron Maiden, kontingen asal Layton, Inggris, ini melanjutkan gebrakan keduanya dengan merilis Killers.

Selain merupakan partisipasi perdana dari gitaris Adrian Smith serta sebaliknya partisipasi terakhir dari vokalis Paul Di’Anno, yang patut pula diperhatikan adalah perubahan imej dari maskot Iron Maiden, “Eddie”. Jika sebelumnya tampang Eddie cenderung datar dan kosong plus berambut jabrik (perhatikan foto paling atas) maka di album keluaran 9 Februari 1981 tersebut imej Eddie sedikit diimprovisasi oleh Derek Riggs, sang kreator. Rambut dibuat lebih lebat dan berisi, khas gaya “big hair” yang memang sedang populer pada masa itu (konon terinspirasi oleh Farah Fawcett). Ekspresi wajah juga jadi lebih galak. Selain itu, Eddie digambarkan membawa kapak (ax). “Eddie adalah sosok gitaris (dalam bahasa gaul musik Rock sering juga diistilahkan dengan axman) maka itu dia menenteng kapak (ax)”, ujar seniman yang hingga 20 tahun berikutnya aktif menggarap sampul album Iron Maiden.

Derek menegaskan bahwa pengembangan karakter Eddie tidaklah direncanakan. Semuanya mengalir saja.

Sampul Album Cadas Monumental: BRITISH STEEL

Bagi anda penggemar musik cadas—apalagi yang tumbuhkembang di era “Hair Metal”—dijamin familiar dengan imej ekstrem di sebelah kiri ini.

Benar, foto jari-jari menggenggam silet berukuran masif tersebut adalah sampul album Judas Priest terbitan 14 April 1980, British Steel. Lagu-lagu dari album karya kontingen asal Birmingham, Inggris Raya, macam Breaking The Law dan Living After Midnight itu sempat menjadi lagu wajib band-band Rock Nusantara di tahun 80-an (mind you, saat itu membawakan tembang karya sendiri belumlah sepopuler sekarang, menjadi duplikat Iron Maiden, dijuluki “The Indonesian Metallica”, dsb, adalah sebuah kebanggaan tersendiri).

Tangan yang memegang silet tersebut adalah milik Roslav Szaybo, art director British Steel yang asal Polandia. Sementara fotografernya adalah Bob Elsdale. Sebelumnya, di tahun 1979, Roslav dan Bob mengerjakan pula album Priest lainnya yaitu Hellbent For Leather—yang di Inggris diberi judul berbeda, Killing Machine.

Blitzkrieg 3-Chords Gabba Gabba Hey

Semua bermula di klub CBGB, New York, tanah Paman Sam alias Amrik. Saat itu, sekitar 1974, band sebangsa Ramones, Talking Heads, Television serta penulis puisi merangkap penyanyi bernama Patti Smith, telah ofensif menggugah pemerhati musik Rock dengan konsep bermusik “marah, murah, meriah”nya (komplet dengan lirik bersahaja namun jujur bin “nendang”). Jaman itu, formula minimalis sedemikian rupa bukan hal lazim.

Mo’ Mohawk, Mo’ Mohican

Sebagian sejawat pasti amat kenal grup musik The Exploited. Benar, kontingen asal Edinburgh, Skotlandia, tersebut merupakan entitas yang amat disegani hingga kini dan sering disebut sebagai salah satu pionir Punk Rock. Oleh penganut “sekte” Street Punk, gaya rambut sang vokalis, Wattie Buchan, bak dijadikan identitas resmi, simbol paling sahih.

Lalu band-band dengan kadar ekstrem setingkat, bak terbawa arus. Sebut saja misalnya The Casualties dan projek sampingan gitaris Rancid, Lars Frederiksen & The Bastards.

Apa julukan rambut bak cendrawasih itu? Di Amerika disebut Mohawk. Sementara di Inggris lebih dikenal dengan Mohican.

ALTAMONT SPEEDWAY FREE FESTIVAL

Bagi rekan-rekan yang telah lanjut usia—30 tahun ke atas, atau penggemar fanatik The Rolling Stones, atau punya ketertarikan gigantik pada so-called “Sex, Drugs and Rock & Roll”—pasti pernah menonton film dokumenter Gimme Shelter atau minimal sempat mendengar kisah legendaris tentang konser gratis pada 6 Desember 1969 di Altamont Speedway, California, Amerika Serikat.

Pertunjukan tanpa tiket—lebih populer dengan tajuk Altamont Free Concert—yang menghadirkan nama-nama besar macam Santana, Jefferson Airplane, The Flying Burrito Brothers, The Grateful Dead, Crosby, Stills, Nash, and Young; serta Mick Jagger & co. sebagai penampil utama itu bukan saja mampu mengundang hingga 300 ribu orang untuk datang, seraya menyisipkan sisi tak terduga: 4 bayi dikabarkan lahir di arena konser, pula menyertakan sisi kelam: 2 orang tewas akibat kecelakaan bermotor, 1 orang tenggelam, dan—ini dia—1 orang terbunuh. Mari menyimak lebih jauh soal apa/siapa/kenapa sampai terjadi huru-hara berujung maut.

Fedora-O-Rama

Jika menyebut nama Slash, selain rambut keriting serta kepiawaiannya bergitar, apa yang paling benderang kita ingat dari dia? Topinya, tentu. Begitu juga The Blues Brothers serta Brian Johnson biduan AC/DC, sama sebangun, segendang sepenarian, ciri khas mereka ada pada aksesori yang dikenakan di kepalanya.

Cuman, giliran ditanyain penutup kepala nan panjang yang gemar dipakai oleh pria bernama asli Saul Hudson itu tepatnya bernama apa, saya berani jamin pasti sebagian besar dari anda bakal bengong kebingungan. Hey, sebutan tepatnya adalah “Top Hat”. Sementara topi khas The Blues Brothers dikenal dengan “Fedora”.

Rockabali

Oleh Alfred Pasifico Ginting

Dari Bali mereka menolak keseragaman selera bermusik. Dengan tato, alkohol dan, simbol-simbol judi, memainkan Rockabilly lebih menarik minat wanita.

One-Hit Wonder

Masih ingat dengan Ice Ice Baby dari Vanilla Ice?

Atau dansa-dansi sejuta umat Macarena?

Atau Right Said Fred I’m Too Sexy, Afroman Because I Got High, Baha Men Who Let the Dogs Out, Blind Melon No Rain, Deep Blue Something Breakfast at Tiffany’s, juga yang lawas macam The Knack My Sharona, Nena 99 Luftballons, a-ha Take On Me, dan banyak lagi.

Fenomena artis yang bersinar cuma lewat satu lagu setelah itu kilapnya perlahan redup lalu sirna sama sekali, gejala macam begitu di industri musik diistilahkan dengan: One-Hit Wonder.

Get In the Ring, Mick Wall!

Familiar gak dengan pidato—atau tepatnya caci maki—berikut:

“…And that goes for all you punks in the press
That want to start shit by printin’ lies
Instead of the things we said
That means you
Andy Secher at Hit Parader
Circus Magazine
Mick Wall at Kerrang
Bob Guccione Jr. at Spin,
What you pissed off cuz your dad gets more
pussy than you?
Fuck you
Suck my fuckin’ dick…”

Iya, tepat sekali, sumpah serapah di atas adalah penggalan dari tembang Get in the Ring dari Guns N’ Roses. Lagu yang aslinya ditulis oleh Duff McKagan—tadinya diberi judul Why Do You Look at Me When You Hate Me—dan merupakan bagian dari album Use Your Illusion II rilisan 17 September 1991 tersebut jelas sekali menggambarkan kekesalan Axl Rose dkk terhadap segepok media macam Circus, Hit Parader (khususnya Andy Secher), Kerrang (utamanya Mick Wall), serta Spin (yaitu Bob Guccione Jr.). Apa pasal?

Logo Klasik AC/DC

Sebagian barangkali mahfum bahwa asal muasal nama AC/DC bermula gara-gara Angus dan saudaranya, Malcolm Young, melihat inisial “ac/dc” di mesin jahit saudara perempuannya, Margaret Young. TAPI saya yakin hampir nihil yang tahu sejarah bagaimana logo klasik AC/DC bermula. Saya jamin cuma sedikit bisa bercerita tentang awal mula simbol “samber geledek” itu. Saya juga baru ngeh kok. Begini kisahnya…

27 Club

Iya, 27 tahun adalah usia ideal untuk mati.

Lihat Kurt Cobain. Atau Jimi Hendrix. Atau Jim Morrisson. Ketiganya mangkat ketika menginjak usia 27 tahun, umur yang menurut perspektif normal justru dikategorikan “produktif”, sedang segar-segarnya untuk bergiat melakoni hidup. Fenomena ganjil “wafat di usia 27” yang banyak terjadi pada musisi rock ini oleh pengamat subkultur diistilahkan dengan 27 Club—sebagian menjuluki sebagai Forever 27 Club.

Scroll to Top