Profil Umum 7 Calon Pimpinan KPK 2010

Artikel ini saya peroleh dari Transparency International Indonesia. Sepertinya layak untuk kita ketahui. Semoga saja yang akhirnya terpilih adalah sosok yang kompeten sehingga penyakit kronis korupsi di negeri ini bisa segera habis dibasmi. Semoga saja.

Twitter Wars in Asia

by Hera Diani

Conservative and liberal Muslims in Indonesia are taking their fight for hearts and minds to Twitter. Is that good or bad?

Rock-n-Roll Exhibition: UCOK HOMICIDE

Edition: December 16, 2009

Rock-n-Roll Exhibition: UCOK HOMICIDE
An Ode to Septian Dwicahyo and Random Mantras on Waking Up The Dead B-Boyism

:: Playlist, notes and photos, written and handpicked by Ucok Himself ::

…Kalender menunjukkan 1982 saat gelombang pertama hiphop mampir di Indonesia,
tepatnya saat breakdance booming pertama kali
dan mendadak generasi Catatan si Boy menari kejang di setiap lapangan volley kosong.
Mungkin saat itu pertama kalinya saya berkenalan dengan skema bernama Rap, dan musik bernama Hiphop.

Long story short, Hiphop was my first love, menggugah dan menginspirasi.
Membangkang dan menyalakan nyali.
Sesuatu yang sulit didapat jika kalian mendengar hiphop hari ini

So in the name of the shadows of Septian Dwi Cahyo’s moonwalk sight,
celana sport merecet, sarung tangan kulit, headband dan spirit melawan kebosanan,
here goes the list of 31 cuts,
chosen randomly to represent the spectre of once banality-bashing passion called Hiphop…

LANJUTKAN!

Kiamat mungkin memang sudah dekat.
Keadilan untuk semua bisa jadi cuma dusta, fana
Kebahagiaan abadi, surga-neraka, semata tinja

Tapi jangan pernah putus berhasrat
Harus ogah menyerah
Sebab tinggal asa, harapan, yang kita punya
Agar senyum senantiasa benderang di wajah kita

Bagai musafir, melanglang berkelana, berlari
Kejar mimpi
Kejar mimpi
Kejar terus mimpi

Berharap, bermimpi, berlari

SELAMAT TAHUN BARU 2010

Bersulang,
RUDOLF DETHU

NASAKOM: Nasionalisme Aku Ompong. Hiya!

Tampaknya belakangan ini makin banyak telunjuk dari Nusantara deras mengarah menuju kerajaan jiran, Malaysia. Jari itu berbalutkan amarah membuncah. Lontaran kalimat beringas “tidak makan bangku sekolahan” pun melengkapinya. Plus bonus barbekyu bendera Jalur Gemilang…

Segala kegerahan tingkat nasional itu diawali oleh manuver Malaysia yang dianggap telah melangkahi kewibawaan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Tindak tanduk tetangga—nasionalisasi batik, Reog Ponorogo, lagu Rasa Sayange, tari Pendet, pulau Jemur—memunculkan ketersinggungan gigantik. Mendadak saja pemuda pemudi mulai Aceh hingga Papua lebur jadi satu bersepakat bersikap anti pada si tetangga yang sama-sama Melayu, lalu menyebutnya dengan nama baru: Malingsia. Bukan cuma itu, ada yang lebih spektakuler, sesosok sesepuh partai besar terang-terangan menyerukan komando, “Ganyang Malaysia!” Benar, gairah kebangsaan, jumawa pada negeri sendiri, semangat mengabdi, bela negara & tindak chauvinistik, serbaneka bau nasionalisme mendadak merebak menyengat ke seluruh penjuru. Ranah virtual—utamanya Facebook dan Twitter—didominasi oleh gemuruh gerutu masygul. Para tua-muda tiba-tiba menunjukkan simpati besar pada Merah Putih, Garuda Pancasila, Indonesia Raya, ultra bangga memproklamirkan dirinya sebagai orang Indonesia.

Video: Pengunduran Diri Soeharto

Asal tahu saja, setiap kali saya merasa bete, putus asa, gairah jeblok, hiburan saya salah satunya yang paling efektif agar saya girang lagi adalah menonton video pengunduran diri daripada Soeharto ini. Jika manusia bengis nan tak terbantahkan se-Maha Esa Soeharto saja bisa terjungkal, masa saya dengan persoalan seiprit saja tak bisa bangkit dan bangun? Yip yip.

Ganyang Malaysia. Bikin Soekarno Senang. Ahem

Lagi, Indonesia kelojotan gara-gara urusan klaim budaya (baca: tari Pendet). Berlanjut, kegerahan Rakyat Nusantara terhadap Malaysia akibat isu serupa sebelumnya, serobot menyerobot kultur (Reog Ponorogo, lagu Rasa Sayange & batik). Spontan saja orang-orang di negeri ini berbondong-bondong menunjukkan rasa “nasionalisme”nya lewat, salah satunya, jejaring virtual. Facebook & Twitter langsung riuh berisikan sumpah serapah “Ganyang Malaysia”, “Serbu Malingsia”, “Boikot Produk Malay-shit”, hingga “Pendet is ours! Noordin M Top is yours!”—tentu saja, yang paling seru dan “terorganisir” dalam urusan memaki negeri jiran adalah kontingen IndonesiaUnite…

Kami Tidak Takut. Huh?

Saya perhatikan belakangan ini berbondong-bondong orang di sekitar saya—kebanyakan anak muda—menggabungkan dirinya di Indonesia Unite, sebuah komunitas yang dibentuk untuk merespons peristiwa bom Ritz-Marriot 17 Juli 2009 sekaligus menyebarkan semangat anti terorisme. Saat tulisan ini dibuat, sudah lebih dari 170 ribu orang menjadi anggota Indonesia Unite di Facebook. Komplet dengan limpah ucapan-ucapan berbau nasionalisme di Wall-nya. Sungguh mencengangkan lagi membanggakan bagaimana sejawat se-Nusantara membusungkan dada menunjukkan kecintaannya pada negara bernama Indonesia, bahu membahu melawan penjahat HAM berkedok agama bersenjatakan bom, seraya penuh patriotisme berteriak: Kami Tidak Takut!

Kami tidak takut. Huh? Ini masalahnya. Saya kurang paham apa sejawat, sobat, kerabat, saya itu benar-benar tidak takut dengan bom yang mematikan tersebut. Saya pribadi mah masih sedikit menggigil merinding dan agak trauma dengan peristiwa mengerikan itu (ketika Bom Bali I saya berada hanya lusinan meter dari lokasi ledakan bom dan menyaksikan sendiri semburan api nan masif & merasakan gelegarnya yang gigantik). Hanya saja mungkin karena ledakan bom di negara ini sudah jadi makanan sehari-hari, makanya saya, dan mungkin juga rekan-rekan di Indonesia Unite, merasa bahwa peristiwa bom adalah semacam “same shit different day” alias sudah terbiasa.

Follow Instagram

Scroll to Top