Ketahuan Lip Sync, Anjinc!

Ada paling tidak dua sosok yang gemar lari dari tanggung jawab, memilih mencuci tangan, ketika diminta bersikap tegas, menolak menjawab lugas. Yang pertama orang Indonesia: Ebiet G Ade. Yang kedua duo berkebangsaan Jerman: Milli Vanilli.
Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on email
Email
Share on print
Print
Share on facebook
Facebook
Photo: PopMatters.

Ada paling tidak dua sosok yang gemar lari dari tanggung jawab, memilih mencuci tangan, ketika diminta bersikap tegas, menolak menjawab lugas. Yang pertama orang Indonesia: Ebiet G Ade. Yang kedua duo berkebangsaan Jerman: Milli Vanilli.

Coba rangsek mas Ebiet. Mintai dia pendapat tentang sesuatu, responsnya pasti ngambang: tanyakan saja pada rumput yang bergoyang. Sementara Milli Vanilli malah menghindar seraya menyalahkan hujan: blame it on the rain.

Padahal yang pantas didakwa ya mereka sendiri, Fab Morvan dan Rob Pilatus, pasangan ganda Milli Vanilli.

Oh. Aduh. Pantas divonis bersalah? Kenapa?

Itu akibat “tindak kriminal” yang mereka lakukan. Milli Vanilli tertangkap basah menipu, berlagak bersenandung padahal hanya menggerak-gerakkan bibir menyesuaikan dengan lirik, pada 21 Juli 1989. Fab dan Rob sedang tampil live di acara MTV di Danau Compounce, Connecticut, Amerika Serikat. Saat membawakan tembang “Girl You Know It’s True” akal bulus itu terungkap. Entah pita kaset entah cakram digital yang digunakan, namun yang pasti di pertengahan ngadat, mengulang-ulang bagian “Girl you know it’s, girl you know it’s…”. Milli Vanilli berusaha tenang, terus “menyanyi” dan berdansa. Karena repetisi tak kunjung berhenti, Milli Vanilli jelas malu kolosal, langsung lari ke belakang panggung.

Downtown Julie Brown dari MTV meminta mereka kembali ke panggung. Tapi Milli Vanilli ogah menyanggupinya. Malah memutuskan menutup lembaran Milli Vanilli. “I quit,” kata Rob.

Ada lagi perbuatan tercela sejenis yang ke-gap publik.

Ashlee Simpson pada 2004 di acara tv SNL. Ia dan musisi pengiringnya berlagak hendak tampil live. Tapi ternyata operatornya agak grasa-grusu. Lagu yang dinyalakan salah, bukan yang hendak didendangkan Ashlee.

Whitney Housten di ajang Superbowl, 1991. Ia hanya menggerak-gerakkan bibir, tidak benar-benar bernyanyi. Almarhumah memang telah merekam suaranya sebelumnya. Barangkali ia mencoba menghindari kemungkinan buruk terjadinya kekeliruan teknis dalam acara semegah Superbowl.

Manuver bibir maju/mundur/manyun/monyong/memble yang seolah-olah menyanyi itu disebut dengan “lip synchronization” atau lebih populer dengan “lip sync” saja. Sinkronisasi bibir.

Tindakan lip sync ini merupakan hal yang lumrah terjadi di bisnis musik. Terutama dalam video klip serta konser musik di televisi. Atau film musikal seperti Bohemian Rhapsody. Sink bibir sengaja dipraktikkan kerap sebagai langkah antisipasi agar pertunjukan berjalan sempurna, sengkarut suara bisa ditekan minimal. Sebisanya hingga titik nol.

Nah, di sinilah mulai munculnya masalah. Sering kali pementasan musik di televisi mengundang debat panas antara produser acara dengan artis penampil. Sang produser meminta (baca: bersikeras) lip sync saja. Alasannya kuat: agar tayangan kesenian tanpa cela. Sementara para penampil merespons negatif (gestur: mendesis bengis atau mengaum setengah mengancam). Dalihnya solid: kami bukan boneka. Yang lebih idealis bakal bilang bahwa lip sync haram, menyalahi nilai dasar berkesenian.

Faktanya, banyak musisi yang mengalah dan mengangguk mengiyakan untuk lip sync. Rata-rata karena sudah pipis di celana duluan dengan institusi yang dihadapi seperti BBC yang mengharuskan praktik lip sync di salah satu acara paling terkenalnya, TOTP — Top of the Pops.

The Police, misalnya, rela bersandiwara menembangkan “Roxanne”. Simak videonya, gamblang terlacak Sting sekadar membuka mulut. Barangkali The Police lebih memprioritaskan gita tentang pelacur tersebut disimak jutaan orang—yang semoga berujung pada terdongkraknya ketenaran The Police—daripada sibuk saling cakar soal mereka boneka atau bukan.

Nirvana? Mereka setuju pada BBC – TOTP untuk minus one. Semua instrumen tidak dimainkan live, seluruhnya rekaman, kecuali vokal. Ya, seperti karaoke. Dan kebandelan Kurt Cobain & Rekan bukan isapan jempol belaka, lirik paling awal “Smells Like Teen Spirits” diubah menjadi “load up on drugs, kill your friends…”. Belum lagi polah Kurt mencoba menelan mikrofon, Kurt Novoselic jumpalitan memainkan bas yang jelas tak seirama dengan apa yang terdengar di speakers, pula Dave Grohl yang menggebuk drum lucu-lucuan. Saya yakin yang pipis di celana bukan Nirvana tapi BBC. Ha.

Lihat juga Travis di TOTP. Menjalankan minus one …dan nyaris menghentikan pertunjukan karena aksi saling tampol kue ke wajah masing-masing personel band.

Di film “Bohemian Rhapsody” terdapat juga adegan yang menyorot soal lip sync. BBC sedikit arogan memunculkan gestur semacam “kalian jangan main-main dengan media segigantik BBC”.

Bagaimana di negeri ini? Hampir sama sebangun, agak segendang sepenarian. Lip sync digemari produser acara, dinajisi (sebagian) pengisi acara. Bisa dibilang dominan acara-acara musik di televisi Indonesia di pagi hari mensyaratkan lip sync. Saat saya masih memanajeri Superman Is Dead, trio Pulau Dewata ini sangat jarang muncul di acara-acara musik televisi. Salah satu faktor utamanya adalah karena SID menolak beraksi lip sync. Sementara tayangan musik di televisi baik pagi mau pun petang di era itu, pertengahan 2000an, sedikit sekali yang bebas dari praktik lip sync. Ogah lip sync sama dengan minim kemunculan di televisi.

Tapi bukan SID saja yang ogah lip sync kala itu. Setahu saya Padi dan Slank pun menafikannya.

Paling mutakhir adalah ribut-ribut Via Vallen pura-pura berdendang di acara pembukaan Asian Games. Akibat serbuan blitzkrieg-frontal diare verbal dari netijen, mencak-mencak menuduhnya macam-macam, tidak profesional, merendahkan profesi biduan, bahkan dicap melecehkan bendera Tauhid (ini ngarang, biar sensasional saja). Mungkin karena Via doyan bukan tipe konfrontatif akhirnya ia meminta maaf. Tapi Wishnutama—petinggi acara, bukan bapaknya—tak setuju Via minta maaf. Menurut Wishnutama—Creative Director Opening Ceremony Asian Games, bukan ayah Via Vallen, ia memanggil ayahnya “papa” dan ke Wishnutama mungkin “om”—ada standar pertunjukan yang bisa terkorbankan jika nekat dipaksakan live. Berhubungan dengan sinyal dan bisa mengacaukan frekuensi jika terjadi apa-apa.

Saya sendiri tidak anti lip sync. Tergantung situasi. Kasuistis. Tapi saya bukan penyanyi. Anak band juga bukan. Tidak pantas, terlalu sok asik, sebaiknya bungkam, di isu ini. Mungkin Ellyas Pical punya pendapat mencerahkan soal lip sync? Silakan, bung. Monggo!

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on email
Email
Share on print
Print
Rudolf Dethu

Rudolf Dethu

Music journalist, writer, radio DJ, socio-political activist, creative industry leader, and a qualified librarian, Rudolf Dethu is heavily under the influence of the punk rock philosophy. Often tagged as this country’s version of Malcolm McLaren—or as Rolling Stone Indonesia put it ‘the grand master of music propaganda’—a name based on his successes when managing Bali’s two favourite bands, Superman Is Dead and Navicula, both who have become two of the nation’s biggest rock bands.
Rudolf Dethu

Rudolf Dethu

Music journalist, writer, radio DJ, socio-political activist, creative industry leader, and a qualified librarian, Rudolf Dethu is heavily under the influence of the punk rock philosophy. Often tagged as this country’s version of Malcolm McLaren—or as Rolling Stone Indonesia put it ‘the grand master of music propaganda’—a name based on his successes when managing Bali’s two favourite bands, Superman Is Dead and Navicula, both who have become two of the nation’s biggest rock bands.

Leave a Reply

  Subscribe  
Notify of
Scroll to Top