February 24th, 2010 §
Bagi rekan-rekan yang telah lanjut usia—30 tahun ke atas, atau penggemar fanatik The Rolling Stones, atau punya ketertarikan gigantik pada so-called “Sex, Drugs & Rock ‘n Roll”, pasti pernah menonton film dokumenter Gimme Shelter atau minimal sempat mendengar kisah legendaris tentang konser gratis pada 6 Desember 1969 di Altamont Speedway, California, Amerika Serikat.
Tonton trailer-nya di sini
Pertunjukan tanpa tiket—lebih populer dengan tajuk Altamont Free Concert—yang menghadirkan nama-nama besar macam Santana, Jefferson Airplane, The Flying Burrito Brothers, The Grateful Dead, Crosby, Stills, Nash, and Young; serta Mick Jagger & co. sebagai penampil utama itu bukan saja mampu mengundang hingga 300 ribu orang untuk datang, seraya menyisipkan sisi tak terduga: 4 bayi dikabarkan lahir di arena konser, pula menyertakan sisi kelam: 2 orang tewas akibat kecelakaan bermotor, 1 orang tenggelam, dan—ini dia—1 orang terbunuh. Mari menyimak lebih jauh soal apa/siapa/kenapa sampai terjadi huru-hara berujung maut. » Read the rest of this entry «
February 22nd, 2010 §
Jika menyebut nama Slash, selain rambut keriting serta kepiawaiannya bergitar, apa yang paling benderang kita ingat dari dia? Topinya, tentu. Begitu juga The Blues Brothers serta Brian Johnson biduan AC/DC, sama sebangun, segendang sepenarian, ciri khas mereka ada pada aksesori yang dikenakan di kepalanya.
Cuman, giliran ditanyain penutup kepala nan panjang yang gemar dipakai oleh pria bernama asli Saul Hudson itu tepatnya bernama apa, saya berani jamin pasti sebagian besar dari anda bakal bengong kebingungan. Hey, sebutan tepatnya adalah “Top Hat”. Sementara topi khas The Blues Brothers dikenal dengan “Fedora”.
Slash ber-Top Hat » Read the rest of this entry «
December 17th, 2009 §
Masih ingat dengan lagu Ice Ice Baby dari Vanilla Ice?
Atau dansa-dansi sejuta umat Macarena?
Atau Right Said Fred I’m Too Sexy, Afroman Because I Got High, Baha Men Who Let the Dogs Out, Blind Melon No Rain, Deep Blue Something Breakfast at Tiffany’s, juga yang lawas macam The Knack My Sharona, Nena 99 Luftballons, a-ha Take On Me, dan banyak lagi.
Fenomena artis yang bersinar cuma lewat satu lagu setelah itu kilapnya perlahan redup lalu sirna sama sekali, gejala macam begitu di industri musik diistilahkan dengan: One-Hit Wonder. » Read the rest of this entry «
November 27th, 2009 §
Familiar gak dengan pidato—atau tepatnya caci maki—berikut:
And that goes for all you punks in the press
That want to start shit by printin’ lies
Instead of the things we said
That means you
Andy Secher at Hit Parader
Circus Magazine
Mick Wall at Kerrang
Bob Guccione Jr. at Spin,
What you pissed off cuz your dad gets more
pussy than you?
Fuck you
Suck my fuckin’ dick
Iya, tepat sekali, sumpah serapah di atas adalah penggalan dari tembang Get in the Ring dari Guns N’ Roses. Lagu yang aslinya ditulis oleh Duff McKagan—tadinya diberi judul Why Do You Look at Me When You Hate Me—dan merupakan bagian dari album Use Your Illusion II rilisan 17 September 1991 tersebut jelas sekali menggambarkan kekesalan Axl Rose dkk terhadap segepok media macam Circus, Hit Parader (khususnya Andy Secher), Kerrang (utamanya Mick Wall), serta Spin (yaitu Bob Guccione Jr.). Apa pasal?
Kurang jelas apa pasal penyebab Axl & co. sebegitu kebakaran jenggot. Bob Guccione Jr. hingga hari ini tak memberi penjelasan benderang mengenai asal mula kisruh band vs kritikus musik itu. Bob cuma merespons ajakan berantem dari Axl. Eh, belakangan malah Axl yang ogah “get in the ring”. He he, dasar mulut besar…
Use Your Illusion II » Read the rest of this entry «
November 16th, 2009 §
Kalian yang bukan penggemar Band Melayu Full Selingkuh, anda yang muak dengan maraknya jiplak-mejiplak di ranah Pop cengeng (I’m talkin’ to ya, d’Masiv), rekan yang mengaku penikmat berat musik cadas, pasti-oh-pasti familiar dengan AC/DC, kan? Paham bahwa grup legendaris dengan ikon pemain gitar berseragam anak sekolahan—namanya Angus Young, in case you don’t know—tersebut asalnya dari Australia. Melek bahwa kontingen asal Sydney yang di negaranya dikenal juga sebagai “Acca Dacca” itu lahir pada tahun 1973.
Sebagian barangkali mahfum pula bahwa asal muasal nama AC/DC bermula gara-gara Angus dan saudaranya, Malcolm Young, melihat inisial “ac/dc” di mesin jahit saudara perempuannya, Margaret Young. TAPI saya yakin hampir nihil yang tahu sejarah bagaimana logo klasik AC/DC bermula. Saya jamin cuma sedikit bisa bercerita tentang awal mula simbol “samber geledek” itu. Saya juga baru ngeh kok. Begini kisahnya…

Lambang khas nan adiluhung itu diciptakan oleh desainer grafis/tipografer bernama Gerard Huerta. Muncul pertama kali pada 1977, tepatnya di album Let There Be Rock (versi internasional, yang notabene sampul albumnya berbeda dengan yang diedarkan di Australia). » Read the rest of this entry «
November 16th, 2009 §
Iya, 27 tahun adalah usia ideal untuk mati.
Huh?
Jangan terburu-terburu kelojotan terjengkang ke belakang lalu menuduh saya sebagai sosok yang menyarankan mengakhiri hidup lebih cepat alias segera bunuh diri. Oh, tidak. Saya adalah sosok yang mencintai hidup. To me, to commit suicide is stupid. Plain stupid.
Namun sebagian rockstar rupanya kurang sependapat. Lihat Kurt Cobain. Atau Jimi Hendrix. Atau Jim Morrisson. Ketiganya mangkat ketika menginjak usia 27 tahun, umur yang menurut perspektif normal justru dikategorikan “produktif”, sedang segar-segarnya untuk bergiat melakoni hidup. Nah, fenomena ganjil “wafat di usia 27″ yang banyak terjadi pada musisi rock ini oleh pengamat subkultur diistilahkan dengan 27 Club—sebagian menjuluki sebagai Forever 27 Club.


Kongsi pemberi nama 27 Club tadinya hanya memasukkan para rockstar yang meninggal di antara tahun 1969 dan 1971 sebagai “anggota tetap” klub tersebut semisal Brian jones (meninggal di tahun 1969) atau Janis Joplin (1970). Namun di pertengahan, Kurt Cobain—yang (diperkirakan) bunuh diri pada 1994, mungkin atas pertimbangan peran gigantiknya terhadap “pop culture”, karena kontribusi eksesifnya pada kemaslahatan rock ‘n’ roll, Cobain lalu dianugerahi kehormatan: diangkat menjadi warga permanen 27 Club (Cobain pasti amat bahagia akhirnya diajak bergabung sebab menurut buku Heavier Than Heaven saudara perempuan Cobain bilang bahwa saat remaja Kurt Donald Cobain pernah bercita-cita masuk 27 Club…) » Read the rest of this entry «
November 11th, 2009 §
I wish I could remember more, but I suppose you just stop keeping track after the first few hundred paintings or so!
Demikian komentar Don Brautigam (almarhum) kepada Revolver saat diminta kilas balik berkisah tentang pembuatan sampul album nan tak lekang oleh waktu: Master of Puppets.
If you look closely at the bottom corner of the pictures, you can see my initials, D.B., in the grass
Lanjut mendiang kelahiran New Jersey seolah berusaha meyakinkan bahwa karya bersejarah tersebut–paling tidak di skena musik cadas–memang benar merupakan karyanya (well, matter of fact, saya sudah maksimal membelalakkan mata saya tapi inisial “D.B.” tetap saja tak terdeteksi. Tampaknya saya perlu foto dengan resolusi lebih tinggi agar dapat menangkap singkatan yang disebut pria bernama lengkap Donald P. Brautigam ada di hamparan rumput, di bagian pojok)
» Read the rest of this entry «
November 11th, 2009 §
The Day the Music Died alias hari kiamatnya musik, wih, serem amat…
Tapi memang begitulah kenyataannya ketika pada 3 Februari 1959 terjadi sebuah kecelakaan pesawat terbang di sekitar Clear Lake, Iowa, Amerika Serikat. Musibah tragis itu merenggut nyawa tiga musisi terkenal di era tersebut yaitu Buddy Holly, Ritchie Valens serta J.P. Richardson a.k.a The Big Bopper.



Bisa jadi karena 3 artis yang mempunyai nama besar tewas sekaligus secara bersamaan maka gelagat pesimistik langsung menyeruak di banyak orang seolah serentak menyimpulkan: hari akhir musik telah tiba, the day the music died! » Read the rest of this entry «
November 11th, 2009 §
Bagi para “fundamentalis”—yang populasinya sudah drastis menipis di era digital ini—ritual mengunduh lagu gratisan hampir tidak mendapat tempat di ranah musikal mereka. Kumpulan manusia langka itu pasti sebisanya memilih untuk membeli album orisinil. Apalagi, memang, harus diakui, sampul album—utamanya terbitan artis-artis Barat—memang rata-rata menarik, digarap serius, tinggi estetika seni. Mengkoleksi karya asli London Calling, misalnya, akhirnya menjadi sebuah kepuasan batin nomor wahid. Memiliki cakram digital otentik Rattlesnakes, The First of a Million Kisses, Rum Sodomy and the Lash, Songs of Leonard Cohen, dsb; serasa sedang membangun museum musik yang kelak di kemudian hari akan menjadi ensiklopedia adiluhung buat anak cucu kita: bukan saja lagu-lagu dari album tersebut amat rancak, artwork-nya juga sungguh yahud.
Namun, jika diperhatikan lebih jeli, ada juga sebenarnya sekelompok kecil album dalam konteks musikal berkualitas fenomenal, single-nya meraih popularitas menjulang, tapi sampul depannya garing banget (100% garansi, itu himpunan fundamentalis bakalan terjebak dilema gigantik: beli atau kagak). Tau sendiri kan, harga cakram digital sekarang ini duh-gusti mahal abis. Apalagi yang bertajuk “import”. Asli bakal bikin kantong bolong. Jika tak terlalu laik koleksi ya bijaksananya sih jangan dibeli. Eh, tapi, lagu-lagunya kickass semua… Beken sih, keren sih, cuman (artwork-nya) butut. Gimana dong?
Oh well, silakan putuskan sendiri. Saya hanya mencoba membeberkan fakta.
Berikut daftarnya. Go buy. Or go download.
1. IGGY POP
Blah Blah Blah
Rilis: Oktober 1986
Label: A&M
Jenjang Tertinggi: # 90 Billboard “Top 200 Albums”, tembang Real Wild Child # 27 di Billboard “Mainstream Rock” chart & masuk Top Ten di Inggris; Cry for Love # 19 Billboard “Hot Dance” chart
Fakta Beken-Tapi-Butut: Album yang diproduseri David Bowie ini merupakan rilisan Iggy paling sukses secara komersial. Di Kanada saja Blah Blah Blah meraih status “gold”, terjual lebih dari 50,000 kopi. Tapi, coba simak artwork-nya, whew, mengingatkan kita dengan iklan celana jeans di majalah remaja, eh? » Read the rest of this entry «
November 3rd, 2009 §
Jika belakangan ini anda berkunjung ke Bali anda pasti akan cukup sering berpapasan dengan anak muda yang menyisir klimis rambutnya, pekat mengingatkan pada gaya rambut Elvis Presley atau para personel Stray Cats, atau konseptor Social Distortion, Mike Ness. Tahukah anda bahwa gaya rambut—yang juga sempat dipakai sebagai identitas khas oleh The Changcuters—itu memiliki sebutan spesifik bertajuk Pompadour?
Sebutan berbau borjuis itu memang berasal dari Perancis, tepatnya diambil dari wanita penari merangkap penyanyi terhormat bernama Madame de Pompadour. Trend rambut ini sendiri mulai populer di tahun 50-an. Biduan seperti Elvis Presley, Jerry Lee Lewis, Johnny Cash, Buddy Holly, Little Richard serta aktor macam Marlon Brando dan James Dean adalah figur-figur distingtif penganut model rambut yang sering disebut juga sebagai pomp ini.

Konsep penataan rambutnya sendiri adalah dengan menyisir rambut bagian pinggir dan depan penuh ke belakang menggunakan pomade/minyak rambut, lalu bagian depan agak ditarik kembali ke depan agar terbentuk jambul yang menjulang. Untuk rambut ikal, bagian depan rambut ditarik sedikit agar muncul aksen keriwil. Petunjuk lebih detail untuk hasil terbaik Pompadour silakan klik di sini » Read the rest of this entry «