OneDollarForMusic at Live Encounters

by Mark Ulyseas

Bali is inundated with Yayasans (charities) ranging from free eye operations, education, recycling to animal shelters. A number of these Yayasans are doing good work and have made a positive impact on island life. One such organisation is Onedollarformusic, the brainchild of Raoul Thomas Augustine Maria Wijffels a Dutch national residing in Bali.

When I first came across this organisation I assumed it was another scheme to make money off unsuspecting bleeding hearts with a conscience that continually beseeches them to ‘contribute’ to ‘causes’. However, after meeting Raoul (who has over 20 years experience in music, arts, education and management including working as a teacher and music pedagogue at the Conservatories of Amsterdam, Utrecht and Rotterdam) and the Indonesian chairman Rudolf Dethu, it became apparent that this is an organisation that has the potential of becoming a major force in the creative and economic development of young potential musicians across the Indonesian archipelago.


At a Glimpse: Ambassador Dethu from Bali

by Felix Dass

This music veteran from the land of gods has some simple inspiration for everyone.

Rudolf Dethu comes from Bali, a place where local music is in the minority from time to time.

Although the island is often noted as the melting pot of cultures, the local music scene is way behind that of other parts of Indonesia, and not many local acts have made their way to national recognition.

Acting as manager and propagandist, in 2003 Dethu led his revolutionary legion, Superman is Dead. With words, he simultaneously promoted the band via the Internet. Slowly but surely, the band’s music was heard and started to gain new fans nationwide.


Rockabali

Oleh Alfred Pasifico Ginting

Dari Bali mereka menolak keseragaman selera bermusik. Dengan tato, alkohol dan, simbol-simbol judi, memainkan Rockabilly lebih menarik minat wanita.


Kebangkrutan Aksara adalah Kebangkrutan Musik Indonesia?

Bicara dinamika musik di dalam negeri—apakah membaik meingindikasikan kemajuan, semata semenjana alias stagnan, atau malah total kemunduran—tampaknya bisa disimpulkan lewat dua fenomena yang lucunya terjadi di bulan paling akhir 2009, Desember.


Denpasar: Menjabat Kontra Kultura, Menuju Kosmopolitan

Tulisan ini saya buat dalam rangka merespons seni instalasi Ebullience yang merupakan kolaborasi bineka seniman berbakat Denpasar, Bali; di Denpasar Festival pada 28 – 30 Desember 2009


Sub Kultur Para Klandestin Flanel

Grunge sudah mati? Seattle Sound telah tamat? Mungkin iya. Bisa jadi benar. Sebab di manca negara gelinjang musik yang berporos di Pacific Northwest, Amerika Serikat,—utamanya Seattle—ini terkesan melempem, layu gairah, sempoyongan lalu pingsan. Kalau pun para pembesarnya masih bergentayangan di blantika cadas raya, gaungnya tak cukup signifikan, tipis nuansa kolektif, cenderung melenggang sendirian. Boleh dibilang dari kalangan pesohor berbusana flanel cuma tinggal Pearl Jam, Stone Temple Pilots, Mudhoney, dan Alice in Chains (formasi anyar) yang masih eksis. Sayangnya, umur panjang itu tak disangkutpautkan dengan pergerakan atau rejuvenasi Grunge. Sepak terjang Eddie Vedder dan Rekan dianggap nihil relevansi dengan so-called Seattle Sound


LANJUTKAN!

Kiamat mungkin memang sudah dekat.
Keadilan untuk semua bisa jadi cuma dusta, fana
Kebahagiaan abadi, surga-neraka, semata tinja

Tapi jangan pernah putus berhasrat
Harus ogah menyerah
Sebab tinggal asa, harapan, yang kita punya
Agar senyum senantiasa benderang di wajah kita

Bagai musafir, melanglang berkelana, berlari
Kejar mimpi
Kejar mimpi
Kejar terus mimpi

Berharap, bermimpi, berlari

SELAMAT TAHUN BARU 2010

Bersulang,
RUDOLF DETHU


27 Club

Iya, 27 tahun adalah usia ideal untuk mati.

Lihat Kurt Cobain. Atau Jimi Hendrix. Atau Jim Morrisson. Ketiganya mangkat ketika menginjak usia 27 tahun, umur yang menurut perspektif normal justru dikategorikan “produktif”, sedang segar-segarnya untuk bergiat melakoni hidup. Fenomena ganjil “wafat di usia 27″ yang banyak terjadi pada musisi rock ini oleh pengamat subkultur diistilahkan dengan 27 Club—sebagian menjuluki sebagai Forever 27 Club.


Superman Is Dead: Semangat Pantang Mundur & Seni Mengelola Ego

Jangankan untuk skala lokal Bali, dalam lingkup nasional sekalipun cuma ada sedikit band yang mampu melewati satu dasa warsa. Superman Is Dead (SID) adalah satu dari segelintir kelompok musik yang sanggup eksis bukan hanya melewati rentang sepuluh tahun tapi juga, hebatnya lagi, dengan personel yang sama, tak berubah, sejak awal berdiri.


Blitz Megaplex a.k.a. Aku Cinta Jakarta

Kebetulan tidak jauh dari tempat saya biasa numpang tinggal di Jakarta, di Kebayoran Baru, belum lama ini dibuka mal baru kelas premium, Pacific Place. Nah, di lantai 6 (atau 7?) terdapat jaringan bioskop rivalnya kelompok Cineplex 21 bernama Blitz Megaplex yang sebagian besar sahamnya dimiliki oleh Ananda Siregar, anak mantan gubernur Bank Indonesia Arifin Siregar.

Yang saya suka dari Blitz Megaplex di antaranya adalah konsep interiornya yang post-mo (well, saya sebenernya gak terlalu paham apa mazhab arsitektur tersebut tepat untuk menyebut gaya yang dianut blitzmegaplex, pokoknya modern minimalis, banyak bentuk kubus, dim lighting, aksen metal di beberapa sudut, sedikit futuristik). Seolah kita sedang berada di tempat berbeda, di megapolitan makmur mana gitu. Pokoknya kayak bukan di Jakarta. Sentuhan artistik millenium namun tetap relatif hangat. Masih cukup bernyawa. Kalo di musik mungkin bisa diumpamakan sebagai post-punk (think Talking Heads, The Fall, New Order, Public Image Ltd.). Tetap tersimak nyeni, tidak kelewat sintetik. Tidak sedingin komposisi, katakanlah, Gary Numan. See what I mean?


designed by: Saylow