search

99 PROBLEMS

Sungguh kaget kala karib saya menyebut Jay-Z sebagai pengusung lagu “99 Problems”. Huh? Bitch please. Setahu saya Ice-T—disokong personel 2 Live Crew, Brother Marquis—merekalah yang paling bertanggungjawab dalam memborbardirkan frase monumental “Got 99 problems and a bitch ain’t one” ke jagat Hip Hop.
Facebook
Twitter
WhatsApp
Email
Print

Sedikit curhat colongan. Ahem.

Asal tahu saja, saat muda-berangkat-dewasa saya pekat teracuni oleh Hip Hop. Coretan “I Rap-a-Lot” banyak berceceran di buku tulis (terinspirasi Sir Mix-a-Lot, indeed), bak mendeklarasikan opsi musik favorit saya ketika itu. Selain b-boys langgam gagap macam Public Enemy, Beastie Boys, Eric B. & Rakim, Kool Moe Dee, Compton’s Most Wanted, dan N.W.A.; Ice-T merupakan salah satu suri paling tauladan. Dan tembang “99 Problems” dari album Home Invasion ini kerap menjadi lagu penyemangat ketika saya sedang ketiban masalah (baca: disia-siakan lawan jenis).

Got 99 problems but a bitch ain’t one – hit it
Nah, a bitch ain’t one
…”

Refrain tersebut relatif efektif menghibur bencana asmara saya—tidak selalu sih, namanya juga patah hati, daya gegarnya jelas berbeda dong dengan sekadar kehilangan iPod Nano…

Nah, kemarin, dalam sebuah percakapan ringan, karib saya sempat menyebut Jay-Z sebagai pengusung lagu “99 Problems”. Huh? Really? Setahu saya Ice-T—disokong personel 2 Live Crew, Brother Marquis—merekalah yang paling bertanggungjawab dalam memborbardirkan frase monumental “Got 99 problems and a bitch ain’t one” ke jagat Hip Hop.

Well, Jay-Z is not my shot of tequila. Him (and P. Diddy, too), I never think they are oh-so special. Utamanya improvisasi mereka dalam mendaur-ulang sebuah karya. Semenjana saja. Mostly mediocre. Tapi saya penasaran, secanggih apa sih, reinterpretasi Jay-Z terhadap “99 Problems”? Padahal single tersebut diproduseri sosok selegendaris Rick Rubin, setelah saya dengarkan seksama, bagi saya tidaklah ultra istimewa. Just another me-myself-and-I cliché. Atau, hey, mungkin saya sekadar sirik, lebih karena faktor Jay-Z sukses mem-frenchkiss-i (dan selanjutnya) Beyonce? Sedangkal itu? Ah, tidak juga. Sejujurnya memang kurang nendang. Lucunya lagi, Jay-Z dengan culasnya me-hak paten-kan judul tersebut. Buset.

Yang meradang malah Brother Marquis (lihat foto di bawah, berjaket hijau). Jay-Z spontan dituntut. Tak cuma itu, Ice-T, yang dulu diajaknya bekerjasama pula diminta pertanggungjawaban royalti. UUD, ujung-ujungnya duit. Ha.

Brother Marquis (jaket hijau) | Foto: Reverbnation

Kemelut ini memang sudah lama, November 2005. Sementara saya sendiri kurang berminat membahas lebih jauh (told ya, homie, I got 99 problems and Jay-Z ain’t one). Namun yang bisa dipelajari di sini, moral dari curhat colongan ini adalah ketika—b-boys and fly girls, listen up y’all—anda mendaur ulang sebuah lagu sebaiknya pelajari aspek legal-formalnya agar terhindar dari kisruh hukum di kemudian hari.

Paling terakhir, jika anda punya pengetahuan lebih tentang kapan disebut menjiplak lagu kapan belum, mohon beri komentar. Word.

• Baca juga RAPPERS DELIGHT: HIP HOP’S FIRST TOP 40 HIT EVER.

___________

Featured image: Sus Rap Lyrics.

Catatan: Artikel ini sudah sedikit direvisi. Yang orisinil dimuat di Musikator pada Mei 2008.

Facebook
Twitter
WhatsApp
Email
Print
Rudolf Dethu

Rudolf Dethu

Music journalist, writer, radio DJ, socio-political activist, creative industry leader, and a qualified librarian, Rudolf Dethu is heavily under the influence of the punk rock philosophy. Often tagged as this country’s version of Malcolm McLaren—or as Rolling Stone Indonesia put it ‘the grand master of music propaganda’—a name based on his successes when managing Bali’s two favourite bands, Superman Is Dead and Navicula, both who have become two of the nation’s biggest rock bands.
Rudolf Dethu

Rudolf Dethu

Music journalist, writer, radio DJ, socio-political activist, creative industry leader, and a qualified librarian, Rudolf Dethu is heavily under the influence of the punk rock philosophy. Often tagged as this country’s version of Malcolm McLaren—or as Rolling Stone Indonesia put it ‘the grand master of music propaganda’—a name based on his successes when managing Bali’s two favourite bands, Superman Is Dead and Navicula, both who have become two of the nation’s biggest rock bands.

Related

RUDOLF DETHU

Scroll to Top