¡Feliz Aniversario Sandinista!

Tepat setahun—di bulan yang sama, Desember—setelah London Calling, The Clash merilis Sandinista! di tahun 1980, tanggal 12. Album ke-4 ini kian kuat menggambarkan minat besar Joe Strummer dan Rekan pada "world music"—bagi saya merekalah pionir "ethno punk". Eksplorasi yang telah dilakukan di London Calling makin dilebarkan di Sandinista! Unsur funk, calypso, disco, serta rap ikut disertakan.
Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on email
Email
Share on print
Print
Share on facebook
Facebook

¡Feliz aniversario Sandinista!

Tepat setahun—di bulan yang sama, Desember—setelah London Calling, The Clash merilis Sandinista! di tahun 1980, tanggal 12. Album ke-4 ini kian kuat menggambarkan minat besar Joe Strummer dan Rekan pada “world music”—bagi saya merekalah pionir “ethno punk”. Eksplorasi yang telah dilakukan di London Calling makin dilebarkan di Sandinista! Unsur funk, calypso, disco, serta rap ikut disertakan.

Sementara itu pemilihan tajuk Sandinista! merujuk pada organisasi pejuang kemerdekaan—yang bertransformasi menjadi partai sosialis demokratik—di Nicaragua, Frente Sandinista de Liberación Nacional. Pula menunjukkan evolusi The Clash menjadi grup musik yang kental nuansa sosial politik.

Sebagaimana London Calling, Sandinista! turut termaktub di jajaran prestisius 500 Greatest Albums of All Time versi majalah Rolling Stone.

Video di atas diambil dari konser The Clash di Tokyo, 1982. Tembang “Police on My Back” merupakan salah satu paling favorit dari semua terbitan The Clash. Kerap saya jadikan lagu pembuka saat masih siaran di program radio yang saya produseri di masa silam, Alternative Airplay.

Pun saya—thanks to internet, so-called information super highway—baru tahu bahwa sejatinya “Police on My Back” adalah karya biduan reggae pop Eddy Grant dan dibawakannya kala bergabung di grup The Equals. Posisi vokalis di “Police on My Back” versi The Clash bukan diemban oleh Joe Strummer tapi Mick Jones.

Versi asli “Police on My Back” saya sertakan juga di sini agar ada perbandingan. Dan jika bicara selera, saya lebih suka versi The Clash. Nuansa “gawat”, rasa Sandinista-nya amat menonjol.

Well, I’m running, police on my back!

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on email
Email
Share on print
Print
Rudolf Dethu

Rudolf Dethu

Music journalist, writer, radio DJ, socio-political activist, creative industry leader, and a qualified librarian, Rudolf Dethu is heavily under the influence of the punk rock philosophy. Often tagged as this country’s version of Malcolm McLaren—or as Rolling Stone Indonesia put it ‘the grand master of music propaganda’—a name based on his successes when managing Bali’s two favourite bands, Superman Is Dead and Navicula, both who have become two of the nation’s biggest rock bands.
Rudolf Dethu

Rudolf Dethu

Music journalist, writer, radio DJ, socio-political activist, creative industry leader, and a qualified librarian, Rudolf Dethu is heavily under the influence of the punk rock philosophy. Often tagged as this country’s version of Malcolm McLaren—or as Rolling Stone Indonesia put it ‘the grand master of music propaganda’—a name based on his successes when managing Bali’s two favourite bands, Superman Is Dead and Navicula, both who have become two of the nation’s biggest rock bands.
avatar
  Subscribe  
Notify of
Scroll to Top