Happy 40th Anniversary, Grease!

16 Juni, 40 tahun yang lalu, Grease resmi diluncurkan. Film ini punya peran vital dalam perkembangan Rockabilly di Indonesia. Terutama di segi busana.
Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on email
Email
Share on print
Print

Happy 40th anniversary Grease!

16 Juni, 40 tahun yang lalu, Grease resmi diluncurkan. Film ini punya peran vital dalam perkembangan Rockabilly di Indonesia. Terutama di segi busana.

Awalnya di negeri ini hanya dikenal terminologi Rock ‘n’ Roll. Yang dijadikan acuan adalah Elvis Presley. Rock ‘n’ Roll ini ya maksudnya Rockabilly. Namun kala itu—sebelum demam Punk Rock dan New Wave masuk Indonesia—belum terlalu populer istilah Rockabilly. Dalam konteks berdandan “Rock ‘n’ Roll” ini masih kental unsur koboinya.

Istilah Rockabilly pelan tapi pasti merangsek ke kehidupan anak muda kala Punk Rock dan New Wave mulai menggejala—terima kasih mesti dialamatkan kepada Stray Cats. Sejatinya apa yang disodorkan oleh Brian Setzer, Lee Rocker, dan Slim Jim Phantom; bukanlah Rockabilly dalam makna tradisional. Trio tersebut merevitalisasinya lewat Rockabilly Revival. Rockabilly dengan sentuhan Punk Rock di sana-sini. Unsur dandanan koboi (Hillbilly) jauh berkurang di Rockabilly Revival.

Sebelumnya film Grease juga, seingat saya, sudah masuk Nusantara. Namun baru menjadi tren saat Stray Cats diidolakan anak muda pada tahun 80an. Film Grease yang dirilis pada 1978 mengalami masa keemasan di Indonesia pada pertengahan 80an. Muda-mudi di kota-kota besar menontonnya kembali di pemutar VHS di rumah masing-masing, didapat melalui persewaan-persewaan video.

Fashion Danny Zuko (John Travolta) dkk menjadi salah satu tolok ukur penting berdandan Rockabilly yang baik dan benar. Dan jika jeli memperhatikan, Grease hampir nihil memasukkan gaya koboi dalam tata busananya.

Dirgahayu Grease! Born to hand jive!

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on email
Email
Share on print
Print
Rudolf Dethu

Rudolf Dethu

Music journalist, writer, radio DJ, socio-political activist, creative industry leader, and a qualified librarian, Rudolf Dethu is heavily under the influence of the punk rock philosophy. Often tagged as this country’s version of Malcolm McLaren—or as Rolling Stone Indonesia put it ‘the grand master of music propaganda’—a name based on his successes when managing Bali’s two favourite bands, Superman Is Dead and Navicula, both who have become two of the nation’s biggest rock bands.
Rudolf Dethu

Rudolf Dethu

Music journalist, writer, radio DJ, socio-political activist, creative industry leader, and a qualified librarian, Rudolf Dethu is heavily under the influence of the punk rock philosophy. Often tagged as this country’s version of Malcolm McLaren—or as Rolling Stone Indonesia put it ‘the grand master of music propaganda’—a name based on his successes when managing Bali’s two favourite bands, Superman Is Dead and Navicula, both who have become two of the nation’s biggest rock bands.

Leave a Reply

  Subscribe  
Notify of
Scroll to Top