Max RNR Monarchy #3: Twice Tape Shop & The Birth Of Suicide Glam

Wowza. Ayo lanjut lagi soal skena rock-n-roll maksimum Bali di era awal.
Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on email
Email
Share on print
Print


Wowza. Ayo lanjut lagi soal skena rock-n-roll maksimum Bali di era awal.

Ini antara 1999/2000. Lokasi foto di Twice Tape Shop di jl. Legian, seberang Paddy’s, tempat Bom Bali 1 meledak. Toko kaset milik JRX tersebut merupakan tempat ngumpul kami. Di sekitar tahun itu pula mulai terjadi proses bergabungnya saya dkk dengan geng JRX & co. Saya baru 1-2 tahun kembali dari kapal pesiar dan langsung alih profesi menjadi penyiar radio & memproduseri sendiri program Alternative Airplay, acara khusus musik alternatif pertama di Bali. Acara mingguan itu juga menjadi wadah bertemunya aktivis musik independen di Denpasar. Biasanya, sore bertemu di radio Cassanova lalu beringsut lanjut ke Twice.

Di era ini pula kami bahu-membahu menggagas 100% Attitude: A Definitive Guide to Rock ‘n’ Roll Radio Stars, salah satu album kompilasi penanda jaman, who’s who, di masa itu. Band saya, Emocore Revolver, turut bergabung. Juga SID dan Commercial Suicide (Jaler, baju hitam, ia pernah jadi biduan additional Commercial Suicide, juga model Suicide Glam).

Kemeja hijau, Sadik, karib JRX. Ia sempat menjadi kepala kru SID. Kini ia mengurusi nyaris semua unit wira usaha JRX. Sebelah Sadik, sepupu saya Dein. Pria yang sempat lama tinggal di Los Angeles ini waktu itu sedang mengurusi program radio khusus hair metal di Cassanova−saya lupa tajuk acaranya. Paling kanan: Made Parwata. Partner saya kala itu di Suciide Glam. Seingat saya, Suicide Glam baru mau membuka toko−toko pertama!−di lantai 2 Twice. Kami masih memproduksi baju dalam partai kecil di rumah Made. Biasanya kami mendesain baju untuk diri sendiri dulu, kita pakai pergi berpelesir seraya melihat reaksi sekitar. Jika responsnya bagus maka kita mulai bikin dan perbanyak.

JRX yang membukakan jalan bagi Suicide Glam, dipersilakan menggunakan lantai 2 Twice sebagai toko. Lantai 3, rooftop, berdiri bar yang kita sebut sebagai The Roof is on Fire. Ini sehubungan dengan lagu Bloodhound Gang “Fire Water Burn” yang kerap dibawakan oleh band saya, Emocore Revolver. Lagu tersebut menjadi salah satu tembang paling favorit di kelompok kami dengan refrain fenomenali: “The roof, the roof, the roof is on fire, we don’t need no water let the motherfucker burn.”

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on email
Email
Share on print
Print
Rudolf Dethu

Rudolf Dethu

Music journalist, writer, radio DJ, socio-political activist, creative industry leader, and a qualified librarian, Rudolf Dethu is heavily under the influence of the punk rock philosophy. Often tagged as this country’s version of Malcolm McLaren—or as Rolling Stone Indonesia put it ‘the grand master of music propaganda’—a name based on his successes when managing Bali’s two favourite bands, Superman Is Dead and Navicula, both who have become two of the nation’s biggest rock bands.
Rudolf Dethu

Rudolf Dethu

Music journalist, writer, radio DJ, socio-political activist, creative industry leader, and a qualified librarian, Rudolf Dethu is heavily under the influence of the punk rock philosophy. Often tagged as this country’s version of Malcolm McLaren—or as Rolling Stone Indonesia put it ‘the grand master of music propaganda’—a name based on his successes when managing Bali’s two favourite bands, Superman Is Dead and Navicula, both who have become two of the nation’s biggest rock bands.

Leave a Reply

  Subscribe  
Notify of
Scroll to Top