Menelisik Biopik Musik: Memuja-muji Dan Mendemistifikasi

Sebelum bergulir jauh, mari samakan persepsi dulu.
Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on email
Email
Share on print
Print

Sebelum bergulir jauh, mari samakan persepsi dulu. 

Film musik, gambar bergerak yang dilimpahi nyanyi dan tari, apa bisa disebut biopik musik? Grease, La La Land, Blues Brothers, Bohemian Rhapsody, Sid & Nancy, Walk the Line, itu biopik musik bukan?

Jika ditelisik maknanya, biopik (biopic—dari biographical film) adalah film yang diambil dari kisah non-fiksi tentang seseorang atau sekumpulan manusia, berhubungan dengan sisi kesejarahan insan tersebut. Berbeda dengan dokumenter yang cenderung “kering” maka biopik ini ada unsur dramatisasi, diperciki sedikit pemanis di sana-sini.

Oleh karenanya tiga gambar bergerak yang disebut di awal—Grease, La La Land, serta Blues Brothers—bukanlah biopik namun semata film musikal. Sementara yang selanjutnya memang masuk kategori biopik musik: Bohemian Rhapsody yang bertutur tentang Freddie Mercury dan Queen, Sid & Nancy soal hubungan brutal sepasang kekasih, Sid Vicious dengan Nancy Spungen, dengan latar belakang Sex Pistols, lalu Walk the Line mengenai the man in black, Johnny Cash.

Selain ketiganya yang kerap masuk di peringkat terbaik biopik musik bisa pula disebut karya keren lainnya macam Straight Outta Compton yang mengulas sepak terjang grup gangsta rap N.W.A., The Runaways yang menguliti masa remaja Joan Jett, Lita Ford, Cherie Currie, dan Kim Fowley, Control mengenai Ian Curtis dan Joy Division, serta tentu saja Ray—menyoroti sang legenda Ray Charles—yang kerap dipredikati biopik musik paling moncer yang pernah ada.

Oke, mungkin anda tak setuju jika The Runaways terpampang di peringkat elit biopik musik dan memvonisnya buruk, silakan protes. Saya memang susah objektif jika ini menyangkut grup The Runaways. Buat saya kuartet ini pas sekali dianugerahi cap badass, pejuang perempuan di kancah hard rock di era nan misoginis. Pun dandanannya keren. Jadinya apa pun kabar soal mereka—apalagi ini bentuknya biopik musik—saya (hampir selalu) pasti suka. 

Membuat biopik pastinya butuh riset dengan kejelian tinggi, amat menguras waktu dan tenaga, dan umumnya berujung pada besarnya biaya yang timbul. Selain itu ada kecenderungan pada pemujaan berlebih pada sosok yang sedang dikisahkan. Seperti di Bohemian Rhapsody Freddie Mercury tersimak sebagai sosok protagonis, peduli pada lingkungan sosial sekitar. Atau profil Ian Curtis yang digambarkan oleh Anton Corbijn sebagai sosok rapuh namun tak menyebalkan, penonton bisa digiring menjadi simpati padanya. 

Norman J. Sheffield, pemilik Trident Studios, tempat direkamnya album pertama Queen, Queen, pernah bilang di Daily Mail pada 2013 bahwa Freddie merasa dirinya seperti Tuhan, lalu belakangan sikapnya pun layaknya Tuhan, berkuasa penuh.

Deborah Curtis, istri mendiang Ian Curtis, kala diwawancara The Guardian pada 2005, 25 tahun sejak bunuh dirinya Ian, menggolongkan suaminya itu sebagai tipe dominan dan cukup otoriter, bertindak menjadi penentu keputusan dalam relasi mereka. Sedikt berbeda dengan kesan yang didapat orang di Control lewat gesturnya yang cenderung introvert, pasif, seolah lebih suka mengalah. Belum lagi skandal selingkuh Ian dengan jurnalis asal Belgia, Annik Honoré, saat Deborah baru saja melahirkan putri mereka, Natalie.

Biopik memang cenderung memberi sang tokoh singgasana protagonis. Jika pun kekurangannya diungkapkan biasanya dengan halus digradasi abu-abu, sekadar khilaf, bahwa ia manusia biasa, sepantasnya diberi maaf.  

Buzz Osborne salah satu yang menyorot aspek “digradasi abu-abu” ini. Film dokumenter Kurt Cobain: Montage of Heck dituduhnya sebagai 90% omong kosong. Ia yang kenal dekat dengan Kurt merasa apa yang dijabarkan di film terlalu berlebihan. Kurt memang dahulu tergolong remaja badung dan pemberontak namun penggambaran di film bahwa Kurt sebegitu rapuh hingga pernah mencoba bunuh diri sebelumnya dengan membaringkan dirinya di rel kereta api, adalah total bohong. Menurut Buzz, Kurt sebagaimana remaja kebanyakan, bandel serta gemar membuat kegaduhan dan tiada yang aneh dengan itu. Montage of Heck sekadar memistifikasi Kurt Cobain. Maka itu lebih klop digolongkan sebagai biopik, bukan dokumenter, akibat kebanjiran dramatisasi. 

“If people want to believe it and think he was capable of doing all those things, that’s their problem. But, I am not going along with it,” kata Buzz sinis.

Bicara dinamika biopik musik di Indonesia, sungguh miris. Masih kalah populer dengan biopik pahlawan—Soekarno, Habibie, Kartini. 

Dari sepengamatan saya baru ada satu biopik musik yang pernah diproduksi di negeri ini yaitu Chrisye. Ada juga film dokumenter musikal, Kantata Takwa. Selebihnya adalah film-film musikal seperti Badai Pasti Berlalu, Duo Kribo, Slank Nggak Ada Matinya, dsb.

Barangkali terpengaruh minimnya dana Chrisye dibuat dengan riset yang kurang memadai. Terkesan grasa-grusu. Diumumkan ke publik rencana pembuatannya pada 2016 dan filmnya telah terbit di tahun berikutnya, 2017. Bandingkan dengan Ray yang butuh 15 tahun dan Walk the Line perlu 8 tahun. Vino G. Bastian yang memerankan Chrisye konon hanya diberi waktu 2 bulan guna mendalami karakter Chrisye. Berbeda dengan Rami Malek, pemeran Freddie Mercury, setahun ia habiskan belajar menyanyi dan bermain piano seraya mematangkan duplikasinya menjadi seorang Freddie, gestur dan segala tingkah polahnya.

Belum lagi kendala ewuh pakewuh di negeri ini. Hampir mustahil untuk bereksplorasi terlalu jauh. Chrisye, misalnya, di dalam film ditampilkan sebagai sosok kelewat ideal: seorang suami sekaligus ayah pula pria sejati. Sulit membayangkan Chrisye, misalnya, gamblang muncul di film sebagai lelaki yang gemar main perempuan dan pecandu narkotika. Tak seperti Kurt Cobain di Montage of Heck saat remaja diceritakan mencoba berhubungan seksual dengan gadis keterbelakangan mental. Di Nusantara ini besar kemungkinan hal sedemikian rupa bakal ditutup-tutupi, dianggap aib. Padahal kita semua tahu bahwa umumnya seniman dan seniwati adalah tipe anomali, tidak biasa, cenderung liberal dan emoh mengikuti etika umum, tercerabut dari pakem berpikir normal.

Bukan mengejutkan ketika akhirnya Chrisye lalu terjembab di jurang romantisme khas film picisan Indonesia.

Selentingan bilang bahwa biopik Koes Plus juga Dara Puspita akan dirilis dalam waktu dekat. Mari kita tunggu apakah penggalian karakter, riset dan kesejarahan bakal cukup mendalam. Begitu pun dengan ewuh pakewuhnya, apa berani membebaskan diri dari belenggu sosial ini. Semoga saja.

Selamat Hari Film Nasional!

*Daftar lengkap biopik musik yang pernah diproduksi sepanjang sejarah klik di sini.
*Tulisan saya ini pertama kali tayang beberapa minggu lalu di DCDC.

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on email
Email
Share on print
Print
Rudolf Dethu

Rudolf Dethu

Music journalist, writer, radio DJ, socio-political activist, creative industry leader, and a qualified librarian, Rudolf Dethu is heavily under the influence of the punk rock philosophy. Often tagged as this country’s version of Malcolm McLaren—or as Rolling Stone Indonesia put it ‘the grand master of music propaganda’—a name based on his successes when managing Bali’s two favourite bands, Superman Is Dead and Navicula, both who have become two of the nation’s biggest rock bands.
Rudolf Dethu

Rudolf Dethu

Music journalist, writer, radio DJ, socio-political activist, creative industry leader, and a qualified librarian, Rudolf Dethu is heavily under the influence of the punk rock philosophy. Often tagged as this country’s version of Malcolm McLaren—or as Rolling Stone Indonesia put it ‘the grand master of music propaganda’—a name based on his successes when managing Bali’s two favourite bands, Superman Is Dead and Navicula, both who have become two of the nation’s biggest rock bands.

Leave a Reply

  Subscribe  
Notify of
Scroll to Top