Softexcore: Riot Grrrl, Rock ‘N’ Roll, Revolusi

Musik, harus diakui, punya peran signfikan dalam mempopulerkan feminisme, pemahaman pada kesetaraan gender. Bahwa laki-laki dan perempuan pada hakikatnya sepadan.
Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on email
Email
Share on print
Print
Share on facebook
Facebook
Bikini Kill | Foto: PicsWe

Musik, harus diakui, punya peran signfikan dalam mempopulerkan feminisme, pemahaman pada kesetaraan gender. Bahwa laki-laki dan perempuan pada hakikatnya sepadan.

Yang masih lekat di ingatan barangkali gerakan Riot Grrrl beberapa dasawarsa silam, di awal 90an.

Dipercaya pertama kali bermula di Olympia, negara bagian Washington, Amerika Serikat; manuver musikal ini melahirkan nama-nama seperti Bikini Kill, Bratmobile, Heavens to Betsy, Huggy Bear, Team Dresch, The Third Sex, hingga Sleater-Kinney.

Allison Wolfe (Bratmobile) | Foto: Albert Licano

Riot Grrrl ini memiliki akar punk rock yang kuat. Etos kerjanya segendang sepenarian: Do-It-Yourself, semangat merdeka-mandiri, rutin menerbitkan zine, campur sari kegiatan sosial dengan seni serta politik, pula pekat nafas aktivisme—dalam konteks ini: musik dan feminisme.

Selain aksi nyata turun ke jalan di era Riot Grrrl inilah internet mulai dilibatkan. Antara aspal dan virtual. Isu-isu yang diangkat umumnya menyangkut seksisme, rasisme, homofobia, kekerasan dalam masa pacaran. Pun para pegiat dan penggiatnya rajin menyelenggarakan pertemuan, konferensi, juga konser yang mengedepankan partisipasi perempuan.

Pertunjukan musik skala cukup besar yang jadi penanda lahirnya Riot Grrrl adalah International Pop Underground Convention. Festival yang berlangsung selama enam hari ini di hari pertamanya khusus menyasar perempuan. Perhatikan saja tajuknya: Love Rock Revolution Girl Style Now. Para seniwati punk rock dan queercore tampil sepanjang malam: Bikini Kill, Bratmobile, Heavens to Betsy, 7 Year Bitch, Kicking Giant, dan banyak lagi.

Riot Grrrl Zine, July 1991 edition | Foto: The Guardian

Istilah Riot Grrrl sendiri konon berawal dari surat Jen Smith kepada Allison Wolfe (keduanya anggota Bratmobile) soal kerusuhan rasial di Mount Pleasant, Washington, AS; pada 1991. Jen Smith kala itu sudah menyebut frasa “girl riot”. Berikutnya Allison Wolfe berkolaborasi dengan Kathleen Hanna dan Tobi Vail membuat zine yang dinamai Riot Grrrl. Penggunaan tiga huruf “r” memang sengaja dengan maksud menghindari kata “girl” yang kerap diposisikan rendah atau sengaja direndahkan.

Bikini Kill saat ditanya apa sejatinya makna Riot Grrrl menjabarkannya gamblang: “Kami perempuan ingin mencipta alat perantara yang menyuarakan siapa kami dengan cara kami. Untuk perempuan dan oleh perempuan. Kami lelah dengan skena yang melulu isinya laki-laki, didominasi cowok. Sementara media-media yang ada hampir selalu menjadikan kami objek—ditampar, dibungkam, ditertawai, dirisak, diperkosa. Mesti ada ruang aman dan nyaman bagi perempuan.”

Eksistensi Riot Grrrl sering dikaitkan dengan feminisme gelombang ke-3 yang menyeruak pada awal-awal 90an di Amerika Serikat. Gerakan ini bercirikan individualisme serta keberagaman. Penghargaan tinggi pada kebebasan pribadi yang berlanjut penghargaan pada keberagaman—bahwa pilihan pribadi tersebut (heteroseksual, homoseksual, aborsi, vegetarian, anggota band seluruhnya perempuan, dsb) adalah bagian dari kebinekaan.

Asal Muasal

Munculnya fenomena Riot Grrrl ini kuat terinspirasi dari sosok-sosok pemberontak di era sebelumnya, tahun 70an dan 80an. Sebut saja misalnya Debbie Harry, Siouxsie Sioux, Poly Styrene, The Slits, Au Pairs, The Raincoats, Patti Smith, Chrissie Hynde, The Runaways/Joan Jett, Lydia Lunch, Exene Cervenka, dsb.

Chrissie Hynde bersama grupnya, The Pretenders | Foto: The Fat Angel Sings

Kenekatan Ari Up, Palmolive, dan Viv Albertine yang berfoto tanpa busana (hanya ditutupi lumpur sekujur tubuh) untuk sampul album Cut pada 1979 diikuti dengan aksi yang lebih vulgar oleh L7. Saat unjuk gigi di Reading Festival, 1992, biduanita Donita Sparks melemparkan Softex/pembalut dari selangkangannya, sebagai bentuk balasan kepada penonton yang sedang memborbardir L7 dengan sambitan lumpur.

Keberanian Poly Styrene (X-Ray Spex) menjadi perempuan yang bertindak sebagai kapten di band di masa skena punk rock dikuasai lelaki secara tidak langsung menginspirasi Kathleen Hanna (Bikini Kill) yang terus menerus meminta audiens perempuan untuk maju ke barisan depan dan menyanyi bersama dia diikuti dengan tanpa ragu stage diving ke kumpulan penonton laki-laki.

Riot Grrrl yang bisa dibilang paling menonjol di masa kini? Pussy Riot, siapa lagi.

Segala persyaratan agar “lulus” dianugerahi gelar RG (Riot Grrrl) di belakang nama masing-masing sukses terpenuhi: kritis, sinis, vokal, frontal, bandel, berani.

Riot Grrrl Nusantara

Grup musik Indonesia yang seluruhnya beranggotakan perempuan dan liriknya bernuansa politik atau protes sosial pada dekade 90an tampaknya nihil. Wondergel (Jakarta) dan Boys Are Toys (Bandung), dua all-female group yang saya ingat di jaman itu, lebih berkisah tentang romansa cinta serta bersenang-senang.

Malah justru penyanyi dari era 70-80an, Ully Sigar Rusadi, lebih tepat dicap sebagai (proto-)Riot Grrrl mengingat kepeduliannya yang kolosal pada lingkungan hidup.

Kartika Jahja dan Yacko adalah dua nama yang pantas diberi predikat Riot Grrrl mutakhir. Mereka berdua selain tergabung di Bersama Project yang giat menggaungkan kesetaraan lewat musik juga memang dalam kapasitas pribadi selalu vokal menyuarakan soal posisi sepadan laki-laki dengan perempuan.

Selamat Hari Kartini! Kesetaraan! Sekarang!

Berikut adalah playlist yang berfokus pada Riot Grrrl. Para pelakunya, pihak-pihak yang punya pengaruh kuat, dianggap suri tauladan dalam fenomena Riot Grrrl, serta para penerusnya.

__________

*Artikel ini saya tulis untuk DCDC. Judulnya saya ubah sedikit. Ada juga beberapa kata yang saya ubah.
*Foto di featured image adalah milik 8tracks

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on email
Email
Share on print
Print
Rudolf Dethu

Rudolf Dethu

Music journalist, writer, radio DJ, socio-political activist, creative industry leader, and a qualified librarian, Rudolf Dethu is heavily under the influence of the punk rock philosophy. Often tagged as this country’s version of Malcolm McLaren—or as Rolling Stone Indonesia put it ‘the grand master of music propaganda’—a name based on his successes when managing Bali’s two favourite bands, Superman Is Dead and Navicula, both who have become two of the nation’s biggest rock bands.
Rudolf Dethu

Rudolf Dethu

Music journalist, writer, radio DJ, socio-political activist, creative industry leader, and a qualified librarian, Rudolf Dethu is heavily under the influence of the punk rock philosophy. Often tagged as this country’s version of Malcolm McLaren—or as Rolling Stone Indonesia put it ‘the grand master of music propaganda’—a name based on his successes when managing Bali’s two favourite bands, Superman Is Dead and Navicula, both who have become two of the nation’s biggest rock bands.

Leave a Reply

  Subscribe  
Notify of
Scroll to Top