CAMPUR SARI INDIE & TOP 40 DI BALI

Fenomena campur sari indie x Top 40 sedang riuh terjadi di Bali belakangan ini. Walau sejatinya sudah ada sejak cukup lama, jajaran pegiat indie mulai dari Zat Kimia, Aray Daulay (alM.), hingga bahkan Navicula, pernah cukup aktif “ngamen” di bar-bar di Bali selatan. Namun “serbuan” para aktivis indie di masa pagebluk ini mengalami peningkatan signifikan. Musisi seperti Manja, Modjorido, Soulfood, Truedy, dsb. silih berganti meramaikan panggung-panggung pertunjukan bar dan restoran di Canggu, Seminyak, Nusa Dua, sampai Uluwatu. Bergantian dengan paguyuban dendang Top 40 veteran seperti, sebut saja misalnya, Ika & the Soul Brothers serta Djampiro. Apakah merupakan aksi terlarang ketika sebuah band indie menyanyikan lagu orang lain? Bisakah dikategorikan dalam perbuatan tidak menyenangkan kala sekelompok grup musik yang mengaku indie namun faktanya kerap tampil menyanyikan tembang-tembang populer/Top 40?
Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on email
Email
Share on print
Print

Apakah merupakan aksi terlarang ketika sebuah band indie menyanyikan lagu orang lain? Bisakah dikategorikan dalam perbuatan tidak menyenangkan kala sekelompok grup musik yang mengaku indie namun faktanya kerap tampil menyanyikan tembang-tembang populer/Top 40?

Fenomena menarik tersebut sedang riuh terjadi di Bali belakangan ini. Walau sejatinya sudah ada sejak cukup lama, jajaran pegiat indie mulai dari Zat Kimia, Aray Daulay (almarhum), hingga bahkan Navicula, pernah cukup aktif “ngamen” di bar-bar di Bali selatan. Namun “serbuan” para aktivis indie di masa pagebluk ini mengalami peningkatan signifikan. Grup-grup musik seperti Manja, Modjorido, Soulfood, Ras Muhamad x Bhismo, serta solis macam Truedy dan Rivaba, silih berganti meramaikan panggung-panggung pertunjukan bar dan restoran di Canggu, Seminyak, Nusa Dua, sampai Uluwatu. Bergantian dengan paguyuban dendang Top 40 veteran seperti, sebut saja misalnya, Ika & the Soul Brothers serta Djampiro.

Mengapa peristiwa seperti ini bisa terjadi? Lama-lama sulit membedakan yang mana band indie yang mana Top 40. Apa masih pantas—katakanlah—Manja dan Modjorido, mengklaim diri sebagai grup indie? Wong nyatanya mereka bagai tanpa beban bersenandung lagu-lagu orang. Nyaris tiada independensi tersisa sebab melulu menyuguhkan bukan karya sendiri.

Jika menilai kemandirian dari aspek seberapa luhur karya sendiri, pantang (sering-sering) menyanyikan milik orang maka—sekadar menyebut nama—Manja dan Modjorido sungguh kurang pantas mengaku sebagai band indie. Namun kalau menaksir independensi dari persepektif “hidup-mati dari musik” maka Manja dan Modjorido sangat layak dikategorikan sebagai musisi mandiri. Sebab bermain musik menjadi elemen vital di keseharian mereka. Istilahnya: bisa makan dari main musik. Tak tergejala setengah hati: musisi bukan, kantoran segan.

Itulah kenapa, karena Manja, Modjorido, Soulfood, Truedy, dkk, telah berikrar untuk hidup dari/oleh/untuk musik maka mereka giat menempa diri mengakrabi tembang-tembang populer (utamanya) manca negara lalu dinyanyikan di sejumlah bar dan restoran di Bali selatan tanpa rasa sungkan dan merasa bertanggungjawab menyandang predikat band indie.

Faktor unik lainnya yang tak terjadi di masa lalu adalah pihak bar dan restoran mempersilakan para pegiat indie tersebut menyelipkan karya-karya mereka sendiri saat unjuk aksi. Tiada lagi larangan seperti dahulu kala yaitu para penampil diharuskan membawakan tembang-tembang populer saja. Kini sudah jamak terjadi, di pertengahan, sang biduan bakal berujar: “Alright, guys, this next song will be our own song, the single from our second album ….”

Praktik macam begini banyak dilakukan umumnya berlatar belakang survival, agar tetap bisa bertahan. Sambil ngamen, sambil mempromosikan lagu-lagu karya sendiri, seraya berharap semoga di kemudian hari keberuntungan menghampiri lalu berevolusi menjadi musisi yang tenar dengan karya sendiri. Dan berdendang lagu-lagu orang hanya untuk bersenang-senang, bukan mencari uang.

________

Artikel yang saya tulis ini pertama kali tayang di DCDC.

• Baca juga PTC PARTICIPLES CIRCUIT: THE SCENE THAT CELEBRATES ITSELF.

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on email
Email
Share on print
Print
Rudolf Dethu

Rudolf Dethu

Music journalist, writer, radio DJ, socio-political activist, creative industry leader, and a qualified librarian, Rudolf Dethu is heavily under the influence of the punk rock philosophy. Often tagged as this country’s version of Malcolm McLaren—or as Rolling Stone Indonesia put it ‘the grand master of music propaganda’—a name based on his successes when managing Bali’s two favourite bands, Superman Is Dead and Navicula, both who have become two of the nation’s biggest rock bands.
Rudolf Dethu

Rudolf Dethu

Music journalist, writer, radio DJ, socio-political activist, creative industry leader, and a qualified librarian, Rudolf Dethu is heavily under the influence of the punk rock philosophy. Often tagged as this country’s version of Malcolm McLaren—or as Rolling Stone Indonesia put it ‘the grand master of music propaganda’—a name based on his successes when managing Bali’s two favourite bands, Superman Is Dead and Navicula, both who have become two of the nation’s biggest rock bands.
5 2 votes
Article Rating

Leave a Reply

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Scroll to Top