Kita Kintamani: Acara Amal Bagi Korban Longsor Kintamani

KITA KINTAMANI: Acara Amal bagi Korban Longsor Kintamani
Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on email
Email
Share on print
Print

Press Release

KITA KINTAMANI: Acara Amal bagi Korban Longsor Kintamani

Pemerintah negara Indonesia beserta gurita jajaran birokrasi di bawahnya merupakan salah satu institusi yang paling tidak becus dalam menangani bencana. Baik pra, di Hari H, serta pasca.

Apa pun jenis bencananya, tak pernah pemerintah benar-benar mampu menanggulanginya secara baik. Hampir selalu sifatnya reaksioner. Begitu bencana terjadi langsung kalang kabut mengambil tindakan. Segala cara dilakukan. Sebagian sukses, sebagian kurang efektif. Tapi yang paling sering terjadi: bantuan melimpah namun jenis bantuannya kurang tepat. Akhirnya hanya terbuang percuma, menumpuk membusuk.

Dan kala bencana yang sama datang, seharusnya bisa dicegah adanya korban yang jatuh serta segala gerak cepat yang efisien-efektif. Atau akan lebih baik jika bencana tersebut bisa dicegah sama sekali karena manuver preventif yang kompak dan menyeluruh. Sedihnya, fakta di lapangan kerap menunjukkan seberapa amburadulnya kerja pemerintah.

Kita, rakyat biasa, seyogianya jangan terpengaruh menjadi gamang seperti pemerintah. Kita tetap mesti lugas pro-aktif menolong sesama. Dengan terukur dan terstruktur.

Setelah sebelumnya kami bergotong royong membantu korban bencana Aceh—berhasil mengumpulkan dana sebesar Rp40 juta lebih—maka kali ini kami tergerak lagi untuk kembali bergerak membantu sesama. Tragedi tanah longsor di Kintamani, kabupaten Bangli, Bali; yang menimpa lima desa—Songan, Batur Selatan, Sukawana, Awan, dan Subaya—yang menewaskan hingga 13 orang pada 10-11 Februari 2017 silam menjadi fokus kami kali ini.

Strategi kami mirip dengan apa yang telah kami lakukan sebelumnya: menyelenggarakan acara amal dengan menggunakan musik sebagai media penegas pesan. Hasil sumbangan nanti sepenuhnya bakal digunakan untuk membantu pembangunan rumah bagi para korban yang tertimpa musibah.

Besok, Jumat, 24 Februari kami akan menyelenggarakan KITA KINTAMANI di Rumah Sanur – Creative Hub dengan menampilkan mulai dari grup-grup kebanggaan Pulau Dewata macam Devildice feat. Lolot, The Hydrant, The Crotochip, hingga si cantik bersuara sendu-menghipnotis dari Los Angeles, Leanna Rachel. Selain itu bakal ada juga lelang barang-barang seni milik seniman-seniman berbakat lokal seperti Apel, Bayak, Aswino Aji, dsb.

Untuk turut berpartisipas di acara ini anda diharapkan membeli tiket seharga Rp50 ribu di hari penyelenggaraan di pintu masuk.

Sampai jumpa besok. Kita semua cinta Kintamani!

• Narahubung: Rudolf Dethu 08111882502

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on email
Email
Share on print
Print
Rudolf Dethu

Rudolf Dethu

Music journalist, writer, radio DJ, socio-political activist, creative industry leader, and a qualified librarian, Rudolf Dethu is heavily under the influence of the punk rock philosophy. Often tagged as this country’s version of Malcolm McLaren—or as Rolling Stone Indonesia put it ‘the grand master of music propaganda’—a name based on his successes when managing Bali’s two favourite bands, Superman Is Dead and Navicula, both who have become two of the nation’s biggest rock bands.
Rudolf Dethu

Rudolf Dethu

Music journalist, writer, radio DJ, socio-political activist, creative industry leader, and a qualified librarian, Rudolf Dethu is heavily under the influence of the punk rock philosophy. Often tagged as this country’s version of Malcolm McLaren—or as Rolling Stone Indonesia put it ‘the grand master of music propaganda’—a name based on his successes when managing Bali’s two favourite bands, Superman Is Dead and Navicula, both who have become two of the nation’s biggest rock bands.

Leave a Reply

  Subscribe  
Notify of
Scroll to Top