KNUCKLEHEAD NATION: BALI’S PUNK PIONEERS

SRSLY? Knucklehead Nation were pioneers? Pioneers as in very first punk rock band in Bali? Pernyataan tersebut disemburkan oleh Ary Astina aka JRX kala ia sedang diwawancara oleh Bobby dalam sesi podcast AMWAVE. Membuat batang kemaluan yang tadinya lemas menjadi bangun dan bersemangat.
Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on email
Email
Share on print
Print

SRSLY? Pioneers as in very first punk rock band in Bali?

Pernyataan tersebut disemburkan oleh Ary Astina aka JRX kala ia sedang diwawancara oleh Bobby dalam sesi podcast AMWAVE. Membuat batang kemaluan yang tadinya lemas menjadi bangun dan bersemangat.

Saya sendiri tak bisa memastikan seberapa sahih pernyataan tersebut. Sebab saat itu saya sedang bekerja di kapal pesiar. Pula, jalur komunikasi kala itu belum se-information super highway sekarang. Di tahun 95an itu Indonesia masih kanibal dan menyembah pohon. Namun, balik ke topik, saya punya kaitan erat dengan Knucklehead Nation. Di masa itu, dari koleksi album saya di kamar sempit di kapal pesiar Holland America Line, saya kerap membuat album kompilasi sendiri/mixtape baik dalam format CD mau pun kaset lalu mengirimkannya ke para karib di Denpasar, Bali. Tiap mixtape saya beri tajuk khusus: Hysteric Glamour, Knucklehead Nation, dan entah apa lagi, saya lupa
Rupanya Knucklehead Nation (dicomot dari judul lagu milik Dead Fucking Last) ini bertransformasi menjadi sebuah band. Dibentuk oleh karib saya di pertengahan 90an itu: Jaler (lihat foto, ia berdiri di tengah) dan Opet (rambut panjang berdiri di belakang). Di sebelah Opet adalah Lolot dan paling kanan Ed Eddy. Menghadap ke belakang, rambut panjang: Mad Made.

Konser Knucklehead Nation paling pertama terjadi pada 20 Oktober 1996 di acara bawah tanah fenomenal Total Uyut 1 besutan Sapta Mulya di GOR Ngurah Rai. Jaler dan Opet pada vokal, Lolot gitar, Adi Botel bas, dan Kadek Astina drum. Dalam perjalanannya Ed Eddy kadang ikutan nge-jam juga.

Nah, jika dilihat dari perjalanan waktunya, Superman Is Dead telah lebih dulu berdiri (1995). Namun masih memakai nama Superman Silvergun (Lolot salah satu anggotanya). Berkaca dari namanya, Superman Silvergun, yang merupakan tembang milik Stone Tempe Pilots, sepertinya Bobby Bekool dan Rekan belum sepenuhnya memainkan punk rock. Barangkali dari situlah makanya muncul ujaran dari JRX bahwa Knucklehead Nation merupakan band punk rock pertama di Bali.

Di ajang Total Uyut 1 sendiri, menurut Jaler, lagu-lagu yang dibawakan oleh Knucklehead Nation malah bukan punk rock, cenderung hardcore dan hard rock/metal: Beastie Boys (album Polly Wog Stew), Orange 9mm, Biohazard, White Zombie dan Black Sabbath. Namun secara attitude memang lumayan punk rock.

Karena hanyalah band bersenang-senang (dan ada keterlibatan NAPZA campur arak) personel Knucklehead Nation kerap gonta-ganti. Cukup hebat karena bisa bertahan hingga 3 tahun: diam-diam bubar pada 1998.

Mantan Knucklehead Nation lalu membelah diri menjadi 2 band berbeda pada 1999. Lolot, Kadek Astina, dan saya mendirikan Emocore Revolver; Jaler dan Opet serta Adi Botel menggebrak lewat Commercial Suicide. Di tahun yang sama (atau setahun setelahnya, 2000, lupa) bersama Superman Is Dead—dibantu arak serta obat-obatan terlarang—kami lalu menginisiasi sebuah album kompilasi punk/hardcore yang cukup bersejarah: 100% Attitude – A Definitive Guide to Rock ‘n’ Roll Radio Stars.

Oh ya, saya dan Mad Made berikutnya menggelindingkan maximum rock-n-roll couture: Suicide Glam.


Sejawat pemerhati musik Bali silakan ditambahkan jika memang punya informasi menarik.

Tulisan ini pertama kali tayang di Facebook, 18 Agustus 2019.

• Baca juga EMOCORE REVOLVER & 100% ATTITUDE.

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on email
Email
Share on print
Print
Rudolf Dethu

Rudolf Dethu

Music journalist, writer, radio DJ, socio-political activist, creative industry leader, and a qualified librarian, Rudolf Dethu is heavily under the influence of the punk rock philosophy. Often tagged as this country’s version of Malcolm McLaren—or as Rolling Stone Indonesia put it ‘the grand master of music propaganda’—a name based on his successes when managing Bali’s two favourite bands, Superman Is Dead and Navicula, both who have become two of the nation’s biggest rock bands.
Rudolf Dethu

Rudolf Dethu

Music journalist, writer, radio DJ, socio-political activist, creative industry leader, and a qualified librarian, Rudolf Dethu is heavily under the influence of the punk rock philosophy. Often tagged as this country’s version of Malcolm McLaren—or as Rolling Stone Indonesia put it ‘the grand master of music propaganda’—a name based on his successes when managing Bali’s two favourite bands, Superman Is Dead and Navicula, both who have become two of the nation’s biggest rock bands.
0 0 votes
Article Rating

Leave a Reply

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Scroll to Top