Morfem: Baru Tapi Lama Tapi Baru

Kuartet asal Jakarta ini secara eksistensi tergolong duhai belia, baru resmi berdiri pada 17 Juli 2009. Belum genap setahun. Namun jika menganalisa oknum-oknum yang berada di gerbongnya, murtad rasanya menyebut orang-orangnya sebagai koalisi “kemarin sore.” Coba kita mulai dari sang biduan, Jimi Multazham, misalnya. Di alter egonya yang lain, lebih dikenal sebagai Jimi Upstairs. Benar, dialah frontman dari grup New Wave paling mahsyur setanah air: The Upstairs. Lalu penanggungjawab gitar, Pandu Fathoni, adalah juga anggota kongsi Post-Punk muram, The Porno. Kemudian divisi bas dikomandoi oleh Bramasta Juan Sasongko, yang sekaligus merupakan konseptor JARB, sebuah band beragamakan Stoner Rock. Sementara di departemen drum bercokol Freddie Alexander Warnerin yang berkedudukan pararel sebagai personel kongegrasi Hardcore bernama Nervous Breakdown.
Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on email
Email
Share on print
Print

Lelah dengan segala stagnasi? Letih dicekoki cengkok Melayu melulu? Jangan putus harapan dulu. Masa depan musik Indonesia masih bingar bersinar. Nusantara sedang diberkahi oleh kemunculan pendatang baru: Morfem.

Kuartet asal Jakarta ini secara eksistensi tergolong duhai belia, baru resmi berdiri pada 17 Juli 2009. Belum genap setahun. Namun jika menganalisa oknum-oknum yang berada di gerbongnya, murtad rasanya menyebut orang-orangnya sebagai koalisi “kemarin sore.” Coba kita mulai dari sang biduan, Jimi Multazham, misalnya. Di alter egonya yang lain, lebih dikenal sebagai Jimi Upstairs. Benar, dialah frontman dari grup New Wave paling mahsyur setanah air: The Upstairs. Lalu penanggungjawab gitar, Pandu Fathoni, adalah juga anggota kongsi Post-Punk muram, The Porno. Kemudian divisi bas dikomandoi oleh Bramasta Juan Sasongko, yang sekaligus merupakan konseptor JARB, sebuah band beragamakan Stoner Rock. Sementara di departemen drum bercokol Freddie Alexander Warnerin yang berkedudukan pararel sebagai personel kongegrasi Hardcore bernama Nervous Breakdown.

Dalam koalisinya di Morfem satu sama lain bersepakat menjalankan ritual berbeda dari kultur yang biasa dijalankan. Di Morfem mereka lebih menonjolkan lagu-lagu ringan dengan lirik lugas bertema keseharian, mengusung formula naratif deskriptif, ditingkahi sound gitar noisy yang ramah kuping, bassline nan lincah berzig-zag, ketukan drum bersahaja, dengan harapan agar penikmatnya termotivasi untuk berdansa-dansi kecil lagi riang.

“Morfem” sendiri adalah sebuah istilah dalam tata bahasa yang sempat agresif mengusik Jimi saat belajar Bahasa Indonesia kala masih SMP. Pun—jika ditarik ke cakrawala visual—“Morfem” memiliki padu padan huruf sungguh juara, baik dari sisi grafis maupun estetika.

Setelah beberapa kali berkesempatan menunjukkan kebolehannya di panggung-panggung seputaran Jakarta, akhirnya pada 11 Februari 2010 dirilislah tembang paling perdana bertajuk Gadis Suku Pedalaman yang didistribusikan secara bebas bea via dunia maya—hingga berita ini diturunkan konon telah ratusan orang bersuka ria mengunduh lagu beraliran Post Alternative tersebut.

Siapa bilang kiamat (musik nasional) sudah dekat?

*Artikel ini tayang pertama kali di The Beat Jakarta edisi Maret 2010

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on email
Email
Share on print
Print
Rudolf Dethu

Rudolf Dethu

Music journalist, writer, radio DJ, socio-political activist, creative industry leader, and a qualified librarian, Rudolf Dethu is heavily under the influence of the punk rock philosophy. Often tagged as this country’s version of Malcolm McLaren—or as Rolling Stone Indonesia put it ‘the grand master of music propaganda’—a name based on his successes when managing Bali’s two favourite bands, Superman Is Dead and Navicula, both who have become two of the nation’s biggest rock bands.
Rudolf Dethu

Rudolf Dethu

Music journalist, writer, radio DJ, socio-political activist, creative industry leader, and a qualified librarian, Rudolf Dethu is heavily under the influence of the punk rock philosophy. Often tagged as this country’s version of Malcolm McLaren—or as Rolling Stone Indonesia put it ‘the grand master of music propaganda’—a name based on his successes when managing Bali’s two favourite bands, Superman Is Dead and Navicula, both who have become two of the nation’s biggest rock bands.

Leave a Reply

  Subscribe  
Notify of
Scroll to Top