POHON TUA CREATORIUM: REGENERASI MAKSIMUM

Keberadaan Dadang Pranoto menjadi kian penting di skena Bali khususnya serta Nusantara umumnya pada hari ini. Manuvernya membangun label rekaman Pohon Tua Creatorium terbukti telah sangat membantu mendongkrak harkat musik Bali di kancah nasional. Padahal labelnya belum lama berdiri. Dua entitas yang ia bina misalnya, Nosstress dan Made Mawut, melambung gila ketenarannya sejak dibidaninya.
Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on email
Email
Share on print
Print
Dadang Pranoto, sosok utama di balik Pohon Tua Creatorium.

“Berkesenian itu berarti membangun sebuah formula yang berbeda,” demikian Dadang Pranoto bilang seolah hendak menegaskan bahwa main musik bukanlah sekadar genjrang-genjreng, gedebak-gedebuk, dan jumpalitan di atas panggung agar terkesan keren, gagah semringah, cool schmool. Khususnya bagi seniman dan seniwati yang memang berniat serius terjun di belantika musik.

Keberadaan Dadang Pranoto alias Dankie kala ia di Navicula, Pohon Tua saat di Dialog Dini Hari, alias DMA – Dan the Mad Axeman waktu di Electric Gypsy (nama yang disebut terakhir itu fiktif belaka, ngarang); menjadi kian penting di skena Bali khususnya serta Nusantara umumnya pada hari ini. Manuvernya membangun label rekaman Pohon Tua Creatorium terbukti telah sangat membantu mendongkrak harkat musik Bali di kancah nasional. Padahal labelnya belum lama berdiri. Dua entitas yang ia bina misalnya, Nosstress dan Made Mawut, melambung gila ketenarannya sejak dibidaninya.

Made Mawut dan albumnya yang semarak puja-puji, Merdeka 100%.

Namun ia dengan rendah hati tidak gamblang menyebut bahwa akibat intervensi intensif dirinyalah maka Nosstress dan Mawut seketika mengangkasa.

“Aku merekrut band dan artis yang sudah jadi, yang sudah siap di paling tidak 3 hal: skill, knowledge, attitude. Artinya tidak turut menanam sedari awal, tidak ikut merawat agar berkembang. Tapi mereka ya pada dasarnya sudah jadi dan memang bagus. Namun sedikit bingung mau kemana, harus ngapain setelah merilis album. Di situlah aku mulai mengambil peran, membukakan pintu,” jelas Dadang seperti meluruskan mengapa ia sedikit menolak disebut paling berjasa kolosal dalam karir musisi yang ia produseri. Pohon Tua Creatorium (PTC) semata memoles sang artis, di bagian mana ia sejatinya sudah bersinar di situ PTC menggosoknya agar lebih mengkilap. Lalu berlanjut membantu dalam isu pasca-produksi.

“Setelah beres rekaman itu album mau dibawa ke mana agar beredar nasional, aktivasi promosinya macam apa, gimmick harus terus dikebut, dsb,” lanjutnya.

Bicara soal pemilihan band dan artis yang pantas masuk PTC, Dadang mengaku tak membatasi kepada genre tertentu. Yang penting, ya seperti yang telah disebut, mereka sudah “jadi” serta memenuhi standar minimum skill-knowledge-attitude tadi. Pun tiada menutup diri dari orang-orang yang mengirimkan profil serta hasil karyanya.

Soul & Kith, duo yang kian mengkilap sejak diurusi serius oleh Pohon Tua Creatorium.

“Wah, ada banyak yang kirim proposal. Entah kerjasama, entah semacam ingin diorbitkan. Bukan cuma dari Bali. Dari seluruh Indonesia malah. Lumayan ada beberapa yang bagus. Cuman kayaknya bakal mahal jatuhnya di urusan produksi kalau ngerjain yang berdomisili di luar Bali. Apalagi di Bali ada bertebaran bakat-bakat yang masih perlu didukung. Mending fokus di Bali saja dulu,” papar gitaris panutan banyak orang ini.

Hal yang pula selalu tajam disorot Dadang adalah tentang regenerasi. “Setelah Superman Is Dead, Navicula, The Hydrant, Nosstress, dan sedikit lainnya, kita punya siapa lagi? Belum ada kan yang terlalu menonjol? Berarti regenerasi kurang jalan,” kata dia dengan pandangan nanar, “Seperti pengalaman Navicula yang karir sedikit tersendat karena seperti kehilangan arah di tengah jalan—untungnya kami ini musisi tahan banting, kebal segala cuaca—tapi seiring waktu lalu kami paham peta belantika musik, punya kompas kuat karena digembleng pengalaman, jadi tahu mesti ngapain berikutnya. Habis ini apa, dibawa ke mana, ditambahin siapa, yang gitu-gitu.”

Musisi muda berbakat yang baru saja direkrut oleh Pohon Tua Creatorium, Manja.

Dadang mengklaim nihil ambisi muluk dalam menjalankan PTC. “Ambisiku sudah digeber di Navicula. Hampir semua hal ideal yang ada di benakku bisa dibilang sudah terpenuhi di Navicula.” Ia bilang bahwa PTC ini bak taman bermainnya, menjalankan rasa senang. Baginya adalah sebuah hal indah jika bisa mengulurkan tangan memberi bantuan, membukakan jalan bagi musisi-musisi berbakat—utamanya Bali—yang tinggal digas saja agar larinya lebih ngebut. “Aku gak pasang target apa-apa. Ini caraku bersenang-senang. Seandainya ternyata PTC berkembang membesar ya bagus, disyukuri saja.”

Soal orang-orang yang diajaknya bekerjasama, tim buru sergapnya, mereka merupakan kontingen yang biasa diajaknya kerjasama, kolega kerjanya di Navicula. Sebut saja misalnya Gun dan Ira. Dadang ultra bersyukur mereka membantunya dengan ikhlas, tanpa mengharap imbalan bejibun atau memiliki agenda tertentu. Mereka percaya dengan apa yang Dadang lakukan dan tawakal mendukung. “Bagaimana ujungnya kemudian, mereka itu, istilahnya, ah, kerja saja dulu, senang-senang saja dulu. Barang bagus semestinya, seperti seleksi alam pada umumnya, juga bakal berujung bagus,” jelas Dadang berbinar.

Gun menyumbangkan studionya untuk dipakai rekaman serta seluruh proses produksi. Ira berzakat tenaga, layaknya road manager. Serta ada beberapa lagi yang Dadang belum mau sebutkan nama-namanya

Dadang didampingi penyokong setianya, Gun.

Jajaran musisi yang ia garap di antaranya adalah Nosstress, Made Mawut, Soul & Kith, R.I.V.A.B.A, Manja, dan beberapa lagi dalam proses. Empat nama pertama sudah resmi menerbitkan album di bawah bendera PTC. Nosstress dan Mawut telah mulai merajalela di panggung-panggung adiluhung skala nasional. Soul & Kith serta R.I.V.A.B.A pamornya di kancah lokal pun mulai benderang. Sementara Manja—Mark, Nick, dan James; trio art-pop yang sedang moncer di skena Tanah Dewata—sedang berkutat di studio dan dibujuk halus oleh Dadang agar segera menyelesaikan albumnya (baca: diintimidasi). Mutlak diketahui: Dadang kurang percaya dengan ketibaan mood berkesenian. Ia lebih suka mencarinya sendiri, merebutnya langsung, tak harus senantiasa menunggu si mood datang.

Aksi termutakhir Pohon Tua Creatorium, pesta penerbitan album mini R.I.V.A.B.A.

Halo Nusantara, setelah Anugerah Musik Bali, Grammy Awards versi daerah satu-satunya di Indonesia, kini Bali menggebrak lagi lewat Pohon Tua Creatorium. Terus menggeliat; skena kecil tapi duh-gusti kuat. Nah, sejawat anak negeri bagaimana, siap?

_________

· Artikel yang saya tulis ini pertama kali diterbitkan di DCDC
· Seluruh foto dipinjampakai dari arsip Pohon Tua Creatorium, kecuali foto Manja milik RD, Soul & Kith milik Rumah Sanur, dan featured image milik Klikpositif

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on email
Email
Share on print
Print
Rudolf Dethu

Rudolf Dethu

Music journalist, writer, radio DJ, socio-political activist, creative industry leader, and a qualified librarian, Rudolf Dethu is heavily under the influence of the punk rock philosophy. Often tagged as this country’s version of Malcolm McLaren—or as Rolling Stone Indonesia put it ‘the grand master of music propaganda’—a name based on his successes when managing Bali’s two favourite bands, Superman Is Dead and Navicula, both who have become two of the nation’s biggest rock bands.
Rudolf Dethu

Rudolf Dethu

Music journalist, writer, radio DJ, socio-political activist, creative industry leader, and a qualified librarian, Rudolf Dethu is heavily under the influence of the punk rock philosophy. Often tagged as this country’s version of Malcolm McLaren—or as Rolling Stone Indonesia put it ‘the grand master of music propaganda’—a name based on his successes when managing Bali’s two favourite bands, Superman Is Dead and Navicula, both who have become two of the nation’s biggest rock bands.

Leave a Reply

  Subscribe  
Notify of
Scroll to Top