Titik Normal: Menggugat Status Quo

Titik Normal adalah trio musisi yang justru ajaib, band yang tak pantas dicap normal.
Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on email
Email
Share on print
Print
Share on facebook
Facebook
TitikNormal-mnpg

Titik Normal adalah trio musisi yang justru ajaib, band yang tak pantas dicap normal.

Bayangkan, personelnya satu bermukim di Sydney, Australia, dua sisanya di Jawa. Genrenya jauh dari pop—definisi umum untuk “normal”. Ditambah kemampuan bermusik masing-masing personel yang bukan biasa-biasa saja, di atas rata-rata. Barangkali yang masih bisa disebut “normal” adalah prilaku dari tiap anggotanya yang hangat, rendah hati, bak saat bersua dengan kawan lama saja.

Tapi memang, Titik Normal maksudnya bukan mendeskripsikan tentang sesuatu yang normal. Malah mempertanyakan keabsahan dari standar normal. “Abnormal or unusual for many but for a few people it’s a normal thing. Titik Normal is in fact questioning the normal,” jelas Haniel Ko, pendiri Titik Normal.

Selain Haniel, grup yang baru resmi berdiri di awal tahun 2016 ini beranggotakan Arief Ramadhan serta Uziel Jayadi. Haniel (bas) sendiri sempat berkiprah di grup alternative rock Nutrix saat ia berkuliah di Universitas Udayana, Denpasar – Bali, mengisi bas di album kompilasi 1000 Gitar untuk Anak Indonesia keluaran majalah Rolling Stone Indonesia, membantu Baron di album Baron Soulmate, menjajal beragam klub musik di Sydney, Australia. Sementara Arif Ramadhan (gitar) merupakan personel grup musik metal Tumenggung, dan terlibat dalam konser monumental Duel Rock 2015 (Gribs vs Sangkakala). Sedangkan Uziel Jayadi (drum) adalah sosok lumayan beken lewat keterlibatannya di unit heavy metal veteran, Down For Life.

Tiga sekawan yang bersikeras menempuh jalur indie serta menolak terpaku pada satu jenis musik dan lebih doyan mencampur aduk metal, pop, groove rock, industrial, ini bakal unjuk kebolehan di panggung Festival Mata Air.

Jika anda termasuk orang yang gerah dikatai normal alias ogah disebut membosankan dan menolak status quo, sudah saatnya membuka pikiran serta segera memberi ruang di hati anda kepada Titik Normal.

Screw the norms!

________________

Rilis pers ini saya tulis di sekitar pertengahan Februari 2016, beberapa hari sebelum Festival Mata Air 2016 dimulai.

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on email
Email
Share on print
Print
Rudolf Dethu

Rudolf Dethu

Music journalist, writer, radio DJ, socio-political activist, creative industry leader, and a qualified librarian, Rudolf Dethu is heavily under the influence of the punk rock philosophy. Often tagged as this country’s version of Malcolm McLaren—or as Rolling Stone Indonesia put it ‘the grand master of music propaganda’—a name based on his successes when managing Bali’s two favourite bands, Superman Is Dead and Navicula, both who have become two of the nation’s biggest rock bands.
Rudolf Dethu

Rudolf Dethu

Music journalist, writer, radio DJ, socio-political activist, creative industry leader, and a qualified librarian, Rudolf Dethu is heavily under the influence of the punk rock philosophy. Often tagged as this country’s version of Malcolm McLaren—or as Rolling Stone Indonesia put it ‘the grand master of music propaganda’—a name based on his successes when managing Bali’s two favourite bands, Superman Is Dead and Navicula, both who have become two of the nation’s biggest rock bands.

Leave a Reply

  Subscribe  
Notify of
Scroll to Top