You Gotta Dance with The Authentics

Sejarah terbentuknya kongegrasi ini dimulai pada 2005 ketika dua anak muda berselera musik seragam, Dawny & Arnold, bersepakat bersekutu di bawah nama The Authentics. Pemilihan titel band sedemikian rupa semata karena mereka menginginkan bunyi-bunyian yang otentik, merepresentasikan keaslian, sebagaimana para pengusung Ska di masa-masa awal. Sudah begitu, di era permulaan The Authentics kerap meng-cover lagu-lagu milik The Slackers, Hepcat, The Skatalites, dan serbaneka Ska tradisional. Namun dalam rentang evolusinya mereka kemudian mulai melebarkan jelajah musikalnya dengan menciptakan senandung yang lebih sederhana, mudah dicerna, kental nuansa bersenang-senang juga ramah-dansa alias danceable; tanpa sama sekali tercerabut dari akar Ska-Swing-Soul-Blues.
Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on email
Email
Share on print
Print

Eksistensi kelompok asal Jakarta ini amat pararel dengan hidup matinya Ska di Nusantara. Terang saja sebab tinggal segelintir kumpulan musisi yang menjaga keberlangsungan musik yang bermula di Jamaika ini. The Authentics merupakan satu dari secuil itu.

Perkenalan kongsi yang beranggotakan Dawny (biduan), Arnold (bas), Dani (gitar, vokal latar), Zendi (sax, vokal latar), Ceky (kibor, vokal latar) + anggota bukan tetap Diaz (drum), Ucok (trombone), Dika (trumpet); dengan Ska pun sejatinya telah berjalan lama. Dawny—lebih dikenal sebagai Dawo—serta Zendi tadinya merupakan personel Jun Fan Gung Foo, salah satu grup pelopor Ska di Indonesia yang sempat jaya wijaya lewat tembang Bruce Lee.

Walau mereka baru bulan depan, Februari 2010, berencana merilis album perdananya, tapi jam terbang mereka mengisi panggung-panggung di Jakarta & sekitarnya sudah terbilang tinggi plus cukup sukses membangun fanbase di banyak penjuru. Single mereka, Untukmu, bisa didengarkan di radio-radio mulai pekan depan. Sementara videoklip untuk karya andalan tersebut, pengambilan gambarnya akan dimulai pada 22 Januari. Jika penasaran menonton aksi mereka, silakan datang ke Hard Rock Cafe Jakarta pada 18 Februari. The Authentics akan tampil bersama-sama dengan Amazing in Bed, Navicula serta Tika & The Dissidents dalam konser Rock—ini yang paling pertama, punya nilai historikal—yang diselenggarakan oleh majalah The Beat Jakarta.

Simak garansi mereka mengenai  gubahan yang mereka mainkan: “The Authentics memberikan jaminan kalau musiknya bisa membuat anda mengangguk-anggukkan kepala, menghentakkan kaki, bahkan membuat anda beranjak meninggalkan kursi, bernyanyi dan berdansa sepanjang malam!”

*Tulisan ini pertama kali dipublikasikan di majalah The Beat Jakarta pada Januari 2010

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on email
Email
Share on print
Print
Rudolf Dethu

Rudolf Dethu

Music journalist, writer, radio DJ, socio-political activist, creative industry leader, and a qualified librarian, Rudolf Dethu is heavily under the influence of the punk rock philosophy. Often tagged as this country’s version of Malcolm McLaren—or as Rolling Stone Indonesia put it ‘the grand master of music propaganda’—a name based on his successes when managing Bali’s two favourite bands, Superman Is Dead and Navicula, both who have become two of the nation’s biggest rock bands.
Rudolf Dethu

Rudolf Dethu

Music journalist, writer, radio DJ, socio-political activist, creative industry leader, and a qualified librarian, Rudolf Dethu is heavily under the influence of the punk rock philosophy. Often tagged as this country’s version of Malcolm McLaren—or as Rolling Stone Indonesia put it ‘the grand master of music propaganda’—a name based on his successes when managing Bali’s two favourite bands, Superman Is Dead and Navicula, both who have become two of the nation’s biggest rock bands.

Leave a Reply

  Subscribe  
Notify of
Scroll to Top