Ketika garage rock bertempo lebih cepat dan berdurasi lebih pendek alias protopunk—cikal bakal punk rock—mulai menggeliat di CBGB, New York, pada pertengahan 70an lewat aksi Ramones, Patti Smith, Dead Boys, Mink DeVille, Blondie, Television, dsb; Indonesia masih belum terlalu terimbas dampaknya. Kebanyakan metropolitan di Nusantara justru sedang keranjingan hard rock; salah satunya gara-gara kedatangan Deep Purple ke Jakarta. Baru saat album Sex Pistols Never Mind the Bollocks yang sejatinya terbit pada 1977 namun baru beredar di negeri ini di awal 80an berpindah dari satu tangan anak muda ke anak muda lainnya, virus punk rock lambat lagi keramat mulai menginfeksi.
The conference is organised on the occasion of the 50th anniversary of Universitas Udayana. I’m one of the participants, as the discussant on Wednesday, 18 July 2012, 09.00-11.00.
Emma Baulch and I, we talked to RN Drive with Waleed Aly, ABC Radio, Australia, on February 09, 2012.
Go to the main page to download and listen to the podcast.
Sebagaimana kota-kota atau pun pulau-pulau lainnya di Indonesia, Bali punya keunikan dan sejarahnya yang tersendiri (sebutlah agama dan kepercayaan, adat istiadat, pesona alam dan ragam pantai, tempat tujuan turis yang mahsyur, hingga peristiwa Bom Bali) yang menjadikan musik non-tradisional di sana tercipta dan menyebar dengan cara-caranya—berpadu dengan hal-hal global seperti teknologi membuat musik, politik dan pembajakan musik Indonesia, trend musik dunia dan MTV, juga internet—hingga menampakkan ciri-ciri khasnya yang memberikan keberagaman pada musik Nasional dan dunia. Buku ini mencatatnya dengan gaya yang telanjang, membeberkannya lugas dan menyeluruh. Jelas bukan sedang berlebihan mengagungkan kedaerahan belaka, kita tahu penggagas buku Rudolf Dethu terlalu keren untuk terjebak di situ.
“Ini dokumentasiku. Mana dokumentasimu?!” Demikian Rudolf Dethu berseru dengan angkuh, dalam bukunya yang berjudul “BLANTIKA | LINIMASA: Kaleidoskop Musik Non-Trad Bali”. Barangkali, sambil menenggak segelas Jim Beam.
Tapi ada benarnya juga. Dokumentasi musik Indonesia memang sangat minim, jika tidak mau disebut nyaris nihil. Bangsa ini, yang belakangan semakin kelihatan cerewet di ranah media sosial, ternyata masih terus mewarisi kebodohan nenek moyangnya: enggan menuliskan sejarah. Padahal, seperti yang juga ditulis Rudolf Dethu dalam buku ini, sejarah milik orang yang menulis.
Dalam 111 halamannya, “Blantika | Linimasa” mengisahkan perjalanan musik non-tradisional Bali periode 1960-2000. Lengkap tertuang di dalamnya adalah kisah perubahan corak musik yang digemari masyarakat Bali, pergantian musisi yang jadi idola di setiap era, dan bagaimana insan bisnis musik Bali menyikapi itu semua.
Sangat menarik, setidaknya bagi saya yang memang buta soal sejarah musik Bali (bukan berarti saya tidak sama butanya soal sejarah musik Indonesia), membaca bahwa orang Bali ternyata sangat menggemari musik pop Mandarin yang mendayu-dayu. Tak kurang dari dua dekade lamanya, dari awal ’80-an hingga akhir ’90-an musik Bali dikuasai oleh dua sosok penting pengusung aliran ini: Yong Sagita dan Widi Widiana.
Sampai kemudian hadir Lolot, band rock yang menyanyikan lagu-lagu keras berbahasa Bali…
Bali Creative Festival adalah upaya untuk membawa Bali ke masa depan. Saya hanya menduga bahwa upaya tersebut adalah untuk mempersiapkan Bali untuk masuk ke sebuah masa post-exoticism di mana turis datang ke Bali tidak hanya untuk pantai indah, souvenir murah, upacara adat serta budaya tradisional semata. Dan jika itu adalah alasannya, banyak kota lain di Indonesia selayaknya harus memiliki festival-festival kreatif semacam ini. Dan jika negara tidak bisa membantu membidani lahirnya industri kreatif paling tidak mereka bisa mendukung acara semacam ini di banyak daerah. Itu lebih dari cukup.
A new book telling the story of non-traditional music in Bali over the past four decades was released and launched at Antiba Arts in Sanur last weekend. The book called Blantika | Linimasa (Scene | Timeline) is curated and edited by local rock ‘n’ roll luminary, long-time beat magazine contributor and former Superman is Dead manager, Rudolf Dethu.
It’s written in Bahasa by a group of writers; Alfred Pacifico Ginting, Anton Muhajair, Gede Roby Supriyanto and Dethu, and looks into the way that pop, rock and every other modern music form, outside the traditional Balinese music sphere, has evolved on the island. There have been many highs and lows on the way to where local music finds itself now but has it actually made it all the way?
Dozens of Balinese performers of various music genres gathered at the Serambi Arts Antida studio on Saturday night to celebrate the launch of a book on the journey of non-traditional music from Bali over the last decades.
Launched by the Bali Creative Community (BCC), the book, titled Blantika Linimasa, Kaleidoskop Musik Non-Trad Bali, was initiated by Rudolf Dethu and several writers. The book is said to be the first document that comprehensively records the progress of Balinese music.
“There are not many documents on Balinese music. We have lost a lot of history; the current generation doesn’t know about the struggle of their previous generations in the musical industry,” said Jimmy Sila’a, a famous music arranger from the 1980s.
What is punk rock? Is it colored, spiky hair held up by glue? Is it abrasive three chord rock ’n’ roll played at breakneck speed? Is it leather pants, pierced noses and discordant noise atop irate, socially conscious lyrics? Or is it something much more, a symbol of an independent mind frame that goes beyond all of these stereotypes?
・Tuesday 31 May 8 PM
Gendo – Political/Environmental Activist
in conversation with Kartika Jahja
He will be speaking about controversial environmental issues including the impact of tourism on Bali.
・ Wednesday 1 June 8 PM
David Berman – Communications Designer & UN Advisor
He will discuss the role of designers in a changing world, focusing on ‘What role will design and designers play in delivering a positive future?’
・ Thursday 2 June 8 PM
Rudolf Dethu – Musical Activist
in conversation with Robi Navicula
+ acoustic set after the discussion with Robi and Dankie featuring Belinda Kazanci
I will be speaking about the Indonesian youth music scene and how Bali fits into this scene.