10 Argumen Kenapa Soeharto Tak Pantas Digelari Pahlawan Nasional

Tulisan berikut merupakan rangkuman ringkas dari artikel 10 Alasan Suharto Bukan Pahlawan Nasional yang dipublikasikan di berdikarionline.com. Saya improvisasi sedikit dengan menambahkan sepercik taburan opini pribadi di sana-sini. 10 Argumen Kenapa Suharto Tak Pantas Digelari Pahlawan Nasional: 1. Menjadi “operator” imperialis untuk gulingkan Soekarno. Harto menggunakan dalih PKI dan hantu komunisme untuk menjungkalkan Soekarno. 2. Menghamba pada kapitalisme global. Freeport, salah satunya, masuk dan mengisap habis Bumi Pertiwi akibat kemudahan dari Harto. 3. Pelanggar HAM berat. Berkuasa selama 32 tahun — diktator! — nyaris tanpa hambatan karena apa? Harto melibas siapa pun yang menghalanginya. Petrus, DOM di Aceh, DOM di Papua, 27 Juli 1996, tragedi Trisakti. Harto adalah Eyang Genosida. 4. Memberangus demokrasi. Kebebasan berserikat dan berkumpul ditindas. Kopkamtib dan Harmoko menjadi dua mesin pembunuh demokrasi bikinan Harto. 5. Melakukan depolitisasi. Normalisasi Kehidupan Kampus. Mahasiswa dibungkam dibikin impoten gairah berpolitik. Parpol cuma boleh tiga — dan semuanya cuma boneka. 6. Terlibat KKN. Harto merampok uang rakyat lewat beragam yayasan seperti Yayasan Supersemar, Yayasan Dana Gotong Royong Kemanusiaan, Yayasan Dana Sejahtera Mandiri, dsb. Itu si Tommy dan saudara-saudranya petantang-petenteng berlagak entrepreneur apa karena mereka pintar berwira usaha? Bukan. Itu karena bapaknya Raja Maling.
Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on email
Email
Share on print
Print
Foto: LIFE.
Foto: LIFE.

Tulisan berikut merupakan rangkuman ringkas dari artikel 10 Alasan Suharto Bukan Pahlawan Nasional yang dipublikasikan di berdikarionline.com. Saya improvisasi sedikit dengan menambahkan sepercik taburan opini pribadi di sana-sini.

1. Menjadi “operator” imperialis untuk gulingkan Soekarno.
Harto menggunakan dalih PKI dan hantu komunisme untuk menjungkalkan Soekarno.

2. Menghamba pada kapitalisme global.
Freeport, salah satunya, masuk dan mengisap habis Bumi Pertiwi akibat kemudahan dari Harto.

3. Pelanggar HAM berat.
Berkuasa selama 32 tahun — diktator! — nyaris tanpa hambatan karena apa? Harto melibas siapa pun yang menghalanginya. Petrus, DOM di Aceh, DOM di Papua, 27 Juli 1996, tragedi Trisakti. Harto adalah Eyang Genosida.

4. Memberangus demokrasi.
Kebebasan berserikat dan berkumpul ditindas. Kopkamtib dan Harmoko menjadi dua mesin pembunuh demokrasi bikinan Harto.

5. Melakukan depolitisasi.
Normalisasi Kehidupan Kampus. Mahasiswa dibungkam dibikin impoten gairah berpolitik. Parpol cuma boleh tiga — dan semuanya cuma boneka.

6. Terlibat KKN.
Harto merampok uang rakyat lewat beragam yayasan seperti Yayasan Supersemar, Yayasan Dana Gotong Royong Kemanusiaan, Yayasan Dana Sejahtera Mandiri, dsb. Itu si Tommy dan saudara-saudranya petantang-petenteng berlagak entrepreneur apa karena mereka pintar berwira usaha? Bukan. Itu karena bapaknya Raja Maling.

Ketamakan Harto dibuka lebar ke publik oleh majalah Time.
Ketamakan Harto dibuka lebar ke publik oleh majalah Time.

7. Mewariskan utang luar negeri.
Harto mewariskan utang sampai 1500 triliun yang mesti ditanggung oleh rakyat Indonesia.

8. Melecehkan Bung Karno.
Saat sakit, salah satu penghinaan Harto kepada Soekarno, ia mempersulit keluarga Bung Karno menjenguk. Bahkan Bung Karno tetap dipaksa diinterogasi dalam kondisi sakit.

9. Memanipulasi Pancasila.
Harto memalsukan sejarah. Ia menghilangkan peran Bung Karno sebagai pemrakarsa Pancasila pada 1 Juni lalu menonjolkan 1 Oktober sebagai hari Kesaktian Pancasila alias mengklaim sebagai tokoh Pancasila.

10. The World’s All-Time Most Corrupt Leaders.
Majalah Forbes menganugerahi Harto dengan gelar super besar: Raja Maling di antara yang Paling Maling sepanjang sejarah pemimpin terkorup sedunia.

Harto sungguh tak pantas! Tolak!

____________

• Foto Harto di halaman depan dipinjampakai dari indearchipel.wordpress.com

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on email
Email
Share on print
Print
Rudolf Dethu

Rudolf Dethu

Music journalist, writer, radio DJ, socio-political activist, creative industry leader, and a qualified librarian, Rudolf Dethu is heavily under the influence of the punk rock philosophy. Often tagged as this country’s version of Malcolm McLaren—or as Rolling Stone Indonesia put it ‘the grand master of music propaganda’—a name based on his successes when managing Bali’s two favourite bands, Superman Is Dead and Navicula, both who have become two of the nation’s biggest rock bands.
Rudolf Dethu

Rudolf Dethu

Music journalist, writer, radio DJ, socio-political activist, creative industry leader, and a qualified librarian, Rudolf Dethu is heavily under the influence of the punk rock philosophy. Often tagged as this country’s version of Malcolm McLaren—or as Rolling Stone Indonesia put it ‘the grand master of music propaganda’—a name based on his successes when managing Bali’s two favourite bands, Superman Is Dead and Navicula, both who have become two of the nation’s biggest rock bands.

Leave a Reply

  Subscribe  
Notify of
Herman
Guest
Herman

Jangankan pak harto. Kita aja juga korupsi.suami,istri,anak,
buruh,karyawan swasta dan negri, sampai2 kuli dan pengemis pun korupsi.
Sadar diri dan intropeksi diri ajalah….
Yg penting,aman NKRI.
coba tanya pada rakyat miskin. Sekarang enakan jaman siapa,presidennya…….
Siapa pun presidennya. Pasti bnyk hutang.dan selama politik itu ada. Negara kita tetap berhutang dan rakyat yg sensara…….
Sekali lagi.SOEHARTO YANG TERBAIK…

mataniari hamonangan
Guest
mataniari hamonangan

saya sering kali menyebut para ‘pembela asoeharto’ ini dengan sebutan DUNGU. kosa kata tersebut lebih rendah dari TOLOL dan BEGO (menurut saya). mereka (pembela asoeharto) tidak bisa membedakan antara KOTORAN, SAMPAH atau TAI, karena saking bebalnya!! mereka tidak menggunakan ‘akal budi dan pikiran yang sehat’ yang diberikan oleh Tuhan. mereka juga sama DUNGU-nya dengan keledai. yang bahkan keledai pun tidak ingin masuk kedalam jurang yang sama untuk ke dua kalinya. artinya keledai tahu ‘yang salah dengan yang tidak salah’. asoeharto mengorbankan berjuta-juta rakyat kedalam penderitaan dengan ilusi ‘harga beras murah’, sama murahnya dengan nyawa para kumpulan DUNGU pembela asoeharto.

mataniari hamonangan

Scroll to Top