KEMERDEKAAN BERMURAL ADALAH KEBEBASAN BEREKSPRESI

Membeli kaus dan dagangan pendukung adalah juga menjaga marwah demokrasi.
Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on email
Email
Share on print
Print

Membeli kaus, terkesan sebagai laku tersier dan mikro-mini, tapi bisa sejati turut menjaga marwah demokrasi.

Pengawasan melekat di dunia nyata pula maya adalah ekspresi pemerintahan mega paranoia. Sensor yang cenderung brutal dan sapu bersih, belakangan kian banal menimpa jagat berkesenian jalanan: mural. Ini manuver pra-kondisi yang mengamputasi demokrasi. Berbahaya jika kita diam saja, menganggap semua baik-baik saja. Karena pelakunya adalah “orang baik”, maksudnya pasti baik. SRSLY?

Kini saatnya kita, rakyat, turut menjaga marwah demokrasi seraya mengambil sikap waspada seperti senandung Efek Rumah Kaca di lagu “Jalang”,
“Siapa yang berani bernyanyi
Nanti akan dikebiri
Siapa yang berani menari
Nanti kan dieksekusi ….”

Seniman visual @vantiani dan @naomicassyane merespons lagu “Jalang” itu dengan kolase yang visual kuncinya adalah mata sebagai lambang pengawasan dan gunting—simbol sensor.

Mari dukung upaya bersama mendorong kebebasan berkesenian di Indonesia bareng Koalisi Seni, yang menggagas kolaborasi #merekabilangkamijalang ini.

Caranya, beli hasil kolaborasi ini di tokopedia.com/tokokoalisiseni. Hasil penggalangan dana bakal dipakai untuk advokasi kebebasan berkesenian, dan 2,5% akan disalurkan ke pegiat seni terdampak pandemi lewat platform bagirata.id.

Untuk membeli kaus dan ragam merchandise lainnya (tote bag, masker, dsb) silakan ketuk tautan di bio.

Merdeka menjadi bianglala! 🔥

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on email
Email
Share on print
Print
Rudolf Dethu

Rudolf Dethu

Music journalist, writer, radio DJ, socio-political activist, creative industry leader, and a qualified librarian, Rudolf Dethu is heavily under the influence of the punk rock philosophy. Often tagged as this country’s version of Malcolm McLaren—or as Rolling Stone Indonesia put it ‘the grand master of music propaganda’—a name based on his successes when managing Bali’s two favourite bands, Superman Is Dead and Navicula, both who have become two of the nation’s biggest rock bands.
Rudolf Dethu

Rudolf Dethu

Music journalist, writer, radio DJ, socio-political activist, creative industry leader, and a qualified librarian, Rudolf Dethu is heavily under the influence of the punk rock philosophy. Often tagged as this country’s version of Malcolm McLaren—or as Rolling Stone Indonesia put it ‘the grand master of music propaganda’—a name based on his successes when managing Bali’s two favourite bands, Superman Is Dead and Navicula, both who have become two of the nation’s biggest rock bands.
0 0 votes
Article Rating

Leave a Reply

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Scroll to Top