ANUGERAH MUSIK BALI 2021: KETIGA, BUGAR, DAN BERJAYA

Musik Menguatkan Kita. Slogan yang digaungkan oleh para tulang punggung Anugerah Musik Bali 2021 tanpa disadari, secara psikologis, telah meneguhkan itikad mereka untuk tetap melanjutkan acara bersejarah tersebut. Seberapapun beratnya. Apapun risikonya. Dan memang, walau dalam situasi pagebluk yang serba sulit, kendala moral pula material nan kolosal, pagelaran di tahun ketiga ini nyatanya bisa terselenggara baik, relatif sukses besar.
Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on email
Email
Share on print
Print

Musik Menguatkan Kita. Slogan yang digaungkan oleh para tulang punggung Anugerah Musik Bali 2021 tanpa disadari, secara psikologis, telah meneguhkan itikad mereka untuk tetap melanjutkan acara bersejarah tersebut. Seberapapun beratnya. Apapun risikonya. Dan memang, walau dalam situasi pagebluk yang serba sulit, kendala moral pula material nan kolosal, pagelaran di tahun ketiga ini nyatanya bisa terselenggara baik, relatif sukses besar.

Kini dikomandoi oleh Gede Bagus, ajang AMB di tahun 2021 bisa dibilang yang paling pelik perjalanannya, bermasalah di hampir tiap jalur. Kian mengenaskan kala bicara dana, unsur ultra krusial di acara penganugerahan macam begini. Wong sedang bukan masa pandemi saja susahnya minta ampun memperoleh sokongan finansial dari sponsor, apalagi di saat pandemi, duh gusti, pasti maha sulit. Sponsor nan baik hati dan kerap bersekutu dengan AMB sekalipun bakal berpikir seribu kali untuk mengulurkan bantuan. Realita pahitnya: prospek untuk memperoleh kucuran dana amat minim, hampir nihil. Sudah begitu, jika mengikuti akal sehat seyogianya laga AMB di tahun 2021 ditiadakan saja. Istirahat sebentar. Tahun depan, semoga, bisa kembali digelar. Diminta berpijak pada akal sehat, dengan dada sedikit membusung syarikat mujahid AMB menolak mundur atau menunda. The show must go on, seru mereka. Wih, hebat. Kenapa sedemikian keukeuh?

Sedari awal Gede Bagus telah memiliki program jelas lagi komprehensif, perencanaan pra-acara pun rinci-holistik, baik daring juga luring, bahkan jauh sebelum pagebluk menggebuk. Kala Covid meluluhlantakkan hampir seluruh sendi kehidupan, segala agenda Road to AMB mesti disimpan rapat dulu. Tiarap sebentar hingga saat tepat tiba. Maju terus. Mengapa begitu ngoyo agar AMB tetap terselenggara di tahun ini, menurut Gede Bagus disebabkan oleh antusiasme publik yang sedemikian tinggi. Baru saja pendaftaran karya untuk dilombakan dibuka, seketika panitia dibuat sibuk mengakomodir sambutan meriah dari jajaran seniman musik lokal. Sebagai perbandingan, tahun lalu 187 karya yang masuk meja penjurian, tahun ini melonjak ratusan persen menjadi 421 karya, itu baru dari online saja. Faktor ini signifikan mempengaruhi suasana hati para hulubalang AMB 2021, mereka berpikir bahwa sayang sekali jika respons berapi-api dari khalayak ini dinafikan. Kobar semangat harus dijaga agar senantiasa menyala.

Itu tadi daring. Belum lagi luring. Kala situasi mulai “membaik”, masyarakat sudah cukup mampu beradaptasi dengan kebiasaan baru (new normal), Road to AMB juga beringsut dijalankan. Tepat dugaan, saat tim AMB memulai kunjungan ke kantong-kantong kreatif di masing-masing ibukota kabupaten di Bali, gairah masyarakat mencuat membuncah. Sesi diskusi selalu berjalan seru dan riuh diminati orang-orang, yang didominasi anak muda. Komplet sudah, keyakinan Gede Bagus dan kawan-kawan untuk tetap mengadakan ajang AMB 2021 kian menggumpal menebal.

Akhirnya pada 25 April 2021 silam ajang adiluhung Anugerah Musik Bali yang ke-3 diselenggarakan di B Live Studio, Denpasar. Walau cuma daring—disiarkan langsung lewat YouTube—namun gegarnya lumayan setara meriah dengan AMB yang sudah-sudah. Pun berlimpah kejutan dari jajaran peraih anugerah, selain cukup banyak nama-nama baru turut bertarung. Ada beberapa fakta menarik yang patut dicatat semisal kolektif yang memang sudah tenar di skena, MANJA, trio ini merenggut penghargaan Duo/Grup Terbaik serta Pendatang Baru Terbaik; pendatang anyar di arena konser namun terhitung paling hiperaktif menyelenggarakan pertunjukan musik hidup, The Balkan, memang pantas dihadiahi Music Venue of the Year; veteran musik cadas kebanggaan Pulau Dewata, Navicula, diberkahi Lifetime Achievement Awards, penghargaan nan mulia sekaligus kejutan membahagiakan bagi mereka karena tahun ini juga merupakan dirgahayu perak, 25 tahun perjalanan karirnya.

Musik membebaskan, mempersatukan, dan menguatkan kita! Sampai jumpa di Anugerah Musik Bali 2022!

• Read also ANUGERAH MUSIK BALI 2019: PUNCAK DIGDAYA SKENA PULAU DEWATA.

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on email
Email
Share on print
Print
Rudolf Dethu

Rudolf Dethu

Music journalist, writer, radio DJ, socio-political activist, creative industry leader, and a qualified librarian, Rudolf Dethu is heavily under the influence of the punk rock philosophy. Often tagged as this country’s version of Malcolm McLaren—or as Rolling Stone Indonesia put it ‘the grand master of music propaganda’—a name based on his successes when managing Bali’s two favourite bands, Superman Is Dead and Navicula, both who have become two of the nation’s biggest rock bands.
Rudolf Dethu

Rudolf Dethu

Music journalist, writer, radio DJ, socio-political activist, creative industry leader, and a qualified librarian, Rudolf Dethu is heavily under the influence of the punk rock philosophy. Often tagged as this country’s version of Malcolm McLaren—or as Rolling Stone Indonesia put it ‘the grand master of music propaganda’—a name based on his successes when managing Bali’s two favourite bands, Superman Is Dead and Navicula, both who have become two of the nation’s biggest rock bands.
0 0 votes
Article Rating

Leave a Reply

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Scroll to Top