LEONARDO RINGO – KARENA WAKTU SAJA TAKKAN CUKUP

If Bertrand Belin is the French Nick Cave, well, then, Leonardo Ringo is the Indonesian Bertrand Belin. And if you're big into Waits and Cohen, too, you'll enjoy this beautiful melancholia.
Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on email
Email
Share on print
Print

MANIFESTO BALADA LOKAL LEONARDO RINGO

Memang, pagebluk yang sedang mengguncang sekarang masif membawa sengsara, menestapakan nyaris seluruh sendi-sendi kehidupan. Walau begitu, bak kata para tetua: selalu ada hikmah di balik masalah. Pandemi telah dengan sengit mengingatkan kita mengenai makna kekerabatan sejati, soal lingkup sosial terdekat, sosok siapa pantas disebut karib-bagai-keluarga.

Ya, senandung sepoi-sendu karya terbaru Leonardo Ringo bertajuk “Karena Waktu Saja Takkan Cukup” ini berkisah tentang sosok terdekat, support system si biduan bariton, yaitu sang istri. Bencana global Covid-19 telah membuatnya tersadar total soal seberapa suci-mulia keberadaan pasangan hidupnya. Bahwa ia tak kuasa hidup tanpanya, mereka adalah satu kesatuan, sinergi bilateral, pakta dwitunggal.

Manifesto cinta, kasih, dan sayang terhadap si perempuan support system bukan diungkap lewat rangkaian lirik mendayu menggebu. Namun justru menggunjing perkara ringan dan “tidak penting”: berdua kehujanan malam-malam, minum hingga larut sampai diusir barista/bartender. Terkesan sepele. Padahal signifikan. Pijar kecil api asmara berkelip terang dan semarak, wowza, sensasinya kuat terasa di sepanjang lagu.

“Gue belum pernah rilis ballad sebagai single pertama. Apalagi ballad yang berbahasa Indonesia. Bisa dibilang gue nantang diri gue sendiri untuk keluar dari kebiasaan gue,” ujar Leo menjelaskan kenapa komposisi ini cukup anomali. “Juga, ini lirik Indonesia pertama yang berlatar belakang love song yang gue tulis. Waktu bersama Impeccables Six, temanya aja udah beda, dan liriknya lebih ‘bercanda’ waktu itu,” tambah si trubadur.

Gita teduh berwibawa ini diluncurkan tepat pada hari ini, 18 Maret, bersamaan dengan videoklipnya; menjadi semacam penyela jeda, penyemarak bulan puasa, agar tak senyap berkepanjangan sebelum album penuh dirilis.

Karena hikmah saja takkan cukup. Mesti diwujudkan lewat lagu. Ditambah puji syukur pada support system, pasifisme, dan Cohen pula Waits.

RUDOLF DETHU

• Baca juga HARI KITA: LAGU NATAL SEGAR DARI LEONARDO & HIS IMPECCABLE SIX

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on email
Email
Share on print
Print
Rudolf Dethu

Rudolf Dethu

Music journalist, writer, radio DJ, socio-political activist, creative industry leader, and a qualified librarian, Rudolf Dethu is heavily under the influence of the punk rock philosophy. Often tagged as this country’s version of Malcolm McLaren—or as Rolling Stone Indonesia put it ‘the grand master of music propaganda’—a name based on his successes when managing Bali’s two favourite bands, Superman Is Dead and Navicula, both who have become two of the nation’s biggest rock bands.
Rudolf Dethu

Rudolf Dethu

Music journalist, writer, radio DJ, socio-political activist, creative industry leader, and a qualified librarian, Rudolf Dethu is heavily under the influence of the punk rock philosophy. Often tagged as this country’s version of Malcolm McLaren—or as Rolling Stone Indonesia put it ‘the grand master of music propaganda’—a name based on his successes when managing Bali’s two favourite bands, Superman Is Dead and Navicula, both who have become two of the nation’s biggest rock bands.
0 0 vote
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Scroll to Top