Max RNR Monarchy #2: RD & JRX

Ini lanjutan kisah dari foto yang saya unggah sebelumnya. Terutama dalam konteks saya dengan JRX.
Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on email
Email
Share on print
Print
Share on facebook
Facebook

Ini lanjutan kisah dari foto yang saya unggah sebelumnya. Terutama dalam konteks saya dengan JRX.

Foto ini memperlihatkan kami di masa paling sekarang. Kami sedang di Chaps, sebuah bar funky baru di Canggu, Bali. Sesaat setelah The Hydrant−salah satu dari band yang kini saya manajeri−tampil di Deus. Setelah 2001, dari foto yang lalu itu, saya jungkir balik mengurusi 3 band sekaligus: SID, Navicula, & Postmen. Di saat bersamaan saya juga tetap menjalankan bisnis adibusana rock-n-roll maksimum: Suicide Glam. Pun cukup aktif menulis untuk majalah The Beat serta sesekali menjadi kontributor beberapa majalah nasional. Oh, saya punya acara radio juga: Suicide Beat Show, berlanjut dengan Oz Clash Pistol, lalu The Block Rockin’ Beats, hingga Vive Le Rock.

Ya, sibuk berat. Tapi tetap susah kaya. Mungkin karena terlalu sibuk berfoya-foya dan bergaya glam hingga titik darah penghabisan. Tajir tidak. Glam iya.

Sementara dengan JRX saya tetap lekat bersahabat. Baik saat saya masih memanajeri SID maupun setelahnya. Berantem juga kita sering−malah pernah kita adu mulut saat sedang konferensi pers, di depan para wartawan haha. Tapi kita berdua sangat mudah saling memaafkan. Malah kerap tiada peduli siapa yang sebenarnya bikin kesalahan. Udah ah, minta maaf saja. Kadang dia duluan. Kadang saya. Saya tahu, hati dia sejatinya halus. Orangnya baik & berpikiran positif. Di banyak hal saya amat klop dengan sudut pandangnya. Pula bagi saya ia punya bakat brilian di soal menulis propaganda. Titel propagandis tepat juga untuk dia sandang sebenarnya.

Pria yang di tengah, Agung Oka, adalah kawan saya dulu di kapal pesiar. Kita sempat bareng di kapal yang sama, MS Rotterdam, pada tahun−si Young Lex mungkin belum lahir−1993. Ia kini tinggal di Seattle. Kami menghabiskan beberapa malam bersama kala ia dan saya sama-sama berada di Bali. Malam ini Jameson, besoknya Blue Label dan Talisker, lalu Glenfiddich dan Macallan. Gusti Alloh ora sare.

Sudah begitu, saya dan JRX sepertinya tak banyak berubah. Usia saja bertambah serta sedikit lebih bertanggung jawab (hore!). Selebihnya masih sama: young (well, kinda), drunk, and handsome.

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on email
Email
Share on print
Print
Rudolf Dethu

Rudolf Dethu

Music journalist, writer, radio DJ, socio-political activist, creative industry leader, and a qualified librarian, Rudolf Dethu is heavily under the influence of the punk rock philosophy. Often tagged as this country’s version of Malcolm McLaren—or as Rolling Stone Indonesia put it ‘the grand master of music propaganda’—a name based on his successes when managing Bali’s two favourite bands, Superman Is Dead and Navicula, both who have become two of the nation’s biggest rock bands.
Rudolf Dethu

Rudolf Dethu

Music journalist, writer, radio DJ, socio-political activist, creative industry leader, and a qualified librarian, Rudolf Dethu is heavily under the influence of the punk rock philosophy. Often tagged as this country’s version of Malcolm McLaren—or as Rolling Stone Indonesia put it ‘the grand master of music propaganda’—a name based on his successes when managing Bali’s two favourite bands, Superman Is Dead and Navicula, both who have become two of the nation’s biggest rock bands.

Leave a Reply

  Subscribe  
Notify of
Scroll to Top