ORDE BAIK

Buat yang bilang, Prabowo itu akan jadi suruhannya Jokowi, atau Prabowo itu cuman nunut berkuasa … berpikirlah! Dia akan mengatur TNI, habitatnya. Dia akan menentukan anggaran TNI. Dia masih memiliki pengaruh dikalangan perwira-perwira militer. Klean yakin dia hanya akan jadi pesuruh? Dan bukannya idola klean itu yang justru akan jadi pesuruh? Kemudian kalian bilang ini adalah langkah jenius dari grandmaster catur politik?
Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on email
Email
Share on print
Print

Loot The Burning House

Buat yang bilang, Prabowo itu akan jadi suruhannya Jokowi, atau Prabowo itu cuman nunut berkuasa … berpikirlah!

Dia akan mengatur TNI, habitatnya. Dia akan menentukan anggaran TNI. Dia masih memiliki pengaruh dikalangan perwira-perwira militer.

Klean yakin dia hanya akan jadi pesuruh? Dan bukannya idola klean itu yang justru akan jadi pesuruh?

Kemudian kalian bilang ini adalah langkah jenius dari grandmaster catur politik?

Saya sebenarnya tidak heran akan langkah pragmatis yang diambil Jokowi. Dulu saya berspekulasi bahwa dia politisi yang mau mengorbankan apa saja demi mengamankan kursi kekuasaannya. Ketika itu terjadi, saya sama sekali tidak heran.

Yang saya heran adalah bagaimana klean membebek dan terus menerus memberikan pembenaran dan permakluman. Klean melekat pada politisi ini seperti permen karet lengket di sepatu dekil.

Mari saya bawa klean ke bulan Juni 2014. Ada berita (https://www.merdeka.com/…/video-prabowo-rampok-tetanggamu-y…) ceramah Prabowo tentang strategi.

Dia bicara tentang strategi ‘loot a burning house.’ Di ceramah itu dia bilang, “Bapak ibu kita kalau mengajarkan kita, ‘Nak belajar yang baik, jadi orang yang baik, kalau besar jadi orang baik membantu orang, membantu tetangga’. Kalau strategi tidak begitu, kalau perlu kau rampok tetanggamu yang sedang kesusahan”

Dia juga melanjutkan, “Strategi kelima bunyinya ‘loot a burning house’ rampoklah rumah yang sedang terbakar. Arti daripada strategi ini, penjelasan aslinya adalah: jika rumah seseorang sedang terbakar, gunakan kesempatan daripada kekacauan yang timbul, untuk mencuri harta kekayaannya.”

“Saya ulangi, jika rumah seseorang sedang terbakar, gunakan kesempatan daripada kekacauan yang timbul, untuk mencuri harta kekayaannya.”

Pikirkan ketika negara ini sedang krisis. Seperti pada waktu ketika demonstrasi siswa/mahasiswa kemarin (krisis politik). Ditambah lagi dengan krisis lingkungan karena kebakaran hutan. Jika saja pada waktu itu ada krisis ekonomi seperti jatuhnya rupiah terhadap dollar.

Krisis negara itu persis seperti rumah yang kebakaran. Klean yakin dia tidak akan merampok dan mengambilalih kekuasaan?

Saya tidak mengada-ada. Kata-kata itu dari Prabowo sendiri.

Itulah kalau klean cuma mendengarkan buzzer-buzzer yang menjadi ‘henchmen’ dari penguasa. Pikiran klean cuman bagaimana membenarkan dan memaklumi kegagalan presiden ini. Tidak pernah klean menuntut bahwa dia harus berdiri diatas ideal yang klean cita-citakan.

Pikirkan sekali lagi apakah ini baik untuk Republik atau tidak. Pikirkanlah untuk bergabung memperkuat basis-basis sosial yang menuntut pemerintahan ini untuk bertanggungjawab, peka terhadap keadilan sosial dan hak-hak asasi manusia, peka terhadap mereka yang berada di lembah kemiskinan dan tidak mampu bangkit tanpa pertolongan tangan pemerintah.

Tidak ada yang salah untuk setia kepada Rakyat.

MADE SUPRIATMA

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on email
Email
Share on print
Print
Rudolf Dethu

Rudolf Dethu

Music journalist, writer, radio DJ, socio-political activist, creative industry leader, and a qualified librarian, Rudolf Dethu is heavily under the influence of the punk rock philosophy. Often tagged as this country’s version of Malcolm McLaren—or as Rolling Stone Indonesia put it ‘the grand master of music propaganda’—a name based on his successes when managing Bali’s two favourite bands, Superman Is Dead and Navicula, both who have become two of the nation’s biggest rock bands.
Rudolf Dethu

Rudolf Dethu

Music journalist, writer, radio DJ, socio-political activist, creative industry leader, and a qualified librarian, Rudolf Dethu is heavily under the influence of the punk rock philosophy. Often tagged as this country’s version of Malcolm McLaren—or as Rolling Stone Indonesia put it ‘the grand master of music propaganda’—a name based on his successes when managing Bali’s two favourite bands, Superman Is Dead and Navicula, both who have become two of the nation’s biggest rock bands.

Leave a Reply

  Subscribe  
Notify of
Scroll to Top