Rock The Vote: #MelawanLupa

If you are neutral in situations of injustice, you have chosen the side of the oppressor.
Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on email
Email
Share on print
Print
Share on facebook
Facebook
Eflyer-RocktheVote

“If you are neutral in situations of injustice, you have chosen the side of the oppressor. If an elephant has its foot on the tail of a mouse and you say that you are neutral, the mouse will not appreciate your neutrality.”

Kalimat mahsyur dari Desmond Tutu tersebut bisa secara lugas menjelaskan alasan lahirnya inisiatif kami untuk menyelenggarakan konser ROCK THE VOTE: #MelawanLupa. Sikap tidak netral atau golput dan tegas menetapkan pilihan muncul dari kekhawatiran kami akan kembalinya sosok cacat sejarah yang potensial bakal memimpin kehidupan bernegara.

Jangan sampai figur bermasalah yang diduga melakukan pelanggaran HAM, menculik para aktivis yang hingga kini belum kembali—entah masih hidup atau telah berpulang, sungguh mengerikan jika kemudian menduduki tahta kekuasaan.

Tindak kejahatannya saja belum tuntas diusut, rasa keadilan bagi pihak-pihak yang sanak keluarganya dilenyapkan pun belum sama sekali terselesaikan, kenapa tiba-tiba ia bahkan diberi jalan untuk mencalonkan diri sebagai presiden, pemegang kekuasaan tertinggi di Republik ini?

Sosok bermasalah bersama koalisinya ini, sekali lagi, jangan sampai terpilih menjadi pemimpin negara ini. Caranya adalah dengan membuka lebih lebar wawasan, pengalaman terutama di kalangan anak-anak muda (pemilih pemula) yang minim pengetahuan sejarah, khususnya kasus-kasus pelanggaran HAM yang terjadi pada 1998, serta kejahatan terhadap kemanusiaan lainnya di masa lalu. Menolak ahistoris. Melawan lupa.

Berbagi sudut pandang bahwa bersikap netral, memilih golput, membiarkan sang capres terduga pelanggar HAM melenggang merebut tahta, adalah sama saja dengan membiarkan Indonesia kembali ke jaman Orde Baru, masa otoriter, era kegelapan.

Penyampaian pesan-pesan tersebut kami pikir paling efektif adalah melalui medium hiburan, melalui musik-musik yang penuh semangat, menghentak, riang, menggugah, via humor cerdas, merangkul dan mencerahkan.

RIF

Bakal tampil nantinya di panggung ROCK THE VOTE: #MelawanLupa adalah band glam rock /rif, grup industrial rock KOIL, band folk Indonesiana Payung Teduh serta supergrup pop Indonesia Trio Lestari (Glenn Fredly, Sandhy Sondoro, Tompi).

Selain itu akan tampil pula membacakan puisi yaitu Pangeran Siahaan, Dinda Kanya Dewi dan Rieke Dyah Pitaloka. Stand-up comedian, Sammy @NotASlimBoy juga akan tampil mengocok perut para penonton semua. Sekaligus nantinya mendengar testimoni Rahardja Waluya Jati dan Mugiyanto yang merupakan aktivis 1998 yang dulu sempat menjadi korban penculikan.

Sampai jumpa pada hari Rabu, 11 Juni 2014 mulai pukul 19:00 – 23:00 WIB di Rolling Stone Café, Jl. Ampera Raya No.16, Jakarta Selatan.

Untuk para penonton yang ingin menyaksikan para penampil-penampil ROCK THE VOTE: #MelawanLupa yang keren ini Anda hanya cukup dikenakan First Drink Charge sebesar Rp 50 ribu (soft drink).

Untuk informasi lebih lanjut tentang ROCK THE VOTE: #MelawanLupa dapat menghubungi Media Relations Staff: Fakhri 0813-2857 -8673 / fakhrizakaria@yahoo.com.

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on email
Email
Share on print
Print
Rudolf Dethu

Rudolf Dethu

Music journalist, writer, radio DJ, socio-political activist, creative industry leader, and a qualified librarian, Rudolf Dethu is heavily under the influence of the punk rock philosophy. Often tagged as this country’s version of Malcolm McLaren—or as Rolling Stone Indonesia put it ‘the grand master of music propaganda’—a name based on his successes when managing Bali’s two favourite bands, Superman Is Dead and Navicula, both who have become two of the nation’s biggest rock bands.
Rudolf Dethu

Rudolf Dethu

Music journalist, writer, radio DJ, socio-political activist, creative industry leader, and a qualified librarian, Rudolf Dethu is heavily under the influence of the punk rock philosophy. Often tagged as this country’s version of Malcolm McLaren—or as Rolling Stone Indonesia put it ‘the grand master of music propaganda’—a name based on his successes when managing Bali’s two favourite bands, Superman Is Dead and Navicula, both who have become two of the nation’s biggest rock bands.

Leave a Reply

  Subscribe  
Notify of
Scroll to Top