The Hydrant: Hepcat, Greaser, atau Rockabali?

Foto di atas berlokasi di Wina, Austria, kala Pompadour Four melakoni tur Eropa, Juli 2017.
Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on email
Email
Share on print
Print

Foto di atas berlokasi di Wina, Austria, kala Pompadour Four melakoni tur Eropa, Juli 2017. Selain tampil di 2 festival skala gigantik, Pohoda (Slovakia) dan Mighty Sounds (Ceko), mereka juga menyambangi Austria & Hongaria guna syuting videoklip. Hanya saja yang mau dibahas di sini bukan soal konser tapi gono-gini busana Rockabilly The Hydrant.

Ada 3 kiblat dandan di foto paling depan: Adi dan Vincent bergaya Hepcat, Chris Greaser, lalu Marshello, well, mari namai dengan “Rockabali”.

Hepcat merujuk pada subkultur di tahun 1940an. Pelaku skena jazz menyebut dirinya sebagai “Hepcat” lengkap dengan unggah-ungguh busana nan khas: baju bowling, rompi sweater motif argyle, celana bahan, blazer bercorak, sepatu creepers.

Gaya busana Greaser menyeruak pada pasca Perang Dunia II. Dipopulerkan awalnya oleh anggota geng motor dengan identitas lugas: kaos, jaket kulit, jins (kerap digulung hingga mata kaki), dan boots. Sudah nonton Grease? Danny Zuko (John Travolta) dan geng T-Birds, arah dandannya Greaser totok.

Foto: Pohoda People.
Foto: Pohoda People.
Foto: Pohoda People.
Foto: Pohoda People.

Rockabali, nah, ditajuki demikian sebab kuat cengkok busana tradisional Bali. Ornamen di pundak, di lengan bawah, dan di sana-sini, mengadopsi kostum penari pria Bali. The Hydrant pertama kali mengenakannya April 2016 kala tampil di Viva Las Vegas. Niatnya memang hendak menonjolkan bahwa mereka bumiputra Bali. Memang juga tak ngotot memakai pakaian tradisional Bali. Kurang pas. Terlalu memaksa untuk ditabrakkan dengan pakem dandan Rockabilly. Mending improv. Syukurnya publik Viva Las Vegas merespons positif, banjir pujian. Lucunya banyak yang mengira bahwa ini gaya Mariachi, busana Mexico. Mereka mesti menerangkan ulang bahwa ini kultur Bali bukan Mariachi. Rockabilly x Bali = Rockabali.

Selain tiga arah dandan tadi sang Empat Klimis Parlente sesekali juga bergaya macam, aye, Teddy Boy! Tren ini ditenarkan oleh anak muda Inggris. Inspirasinya dari para dandy (pria sadar busana) di periode Edwardian. Pesohor yang gemar ber-Teddy Boy salah satunya adalah manajer Sex Pistols, Malcolm McLaren.

Foto: Budy Artayasa.

Situ paling doyan gaya yang mana?

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on email
Email
Share on print
Print
Rudolf Dethu

Rudolf Dethu

Music journalist, writer, radio DJ, socio-political activist, creative industry leader, and a qualified librarian, Rudolf Dethu is heavily under the influence of the punk rock philosophy. Often tagged as this country’s version of Malcolm McLaren—or as Rolling Stone Indonesia put it ‘the grand master of music propaganda’—a name based on his successes when managing Bali’s two favourite bands, Superman Is Dead and Navicula, both who have become two of the nation’s biggest rock bands.
Rudolf Dethu

Rudolf Dethu

Music journalist, writer, radio DJ, socio-political activist, creative industry leader, and a qualified librarian, Rudolf Dethu is heavily under the influence of the punk rock philosophy. Often tagged as this country’s version of Malcolm McLaren—or as Rolling Stone Indonesia put it ‘the grand master of music propaganda’—a name based on his successes when managing Bali’s two favourite bands, Superman Is Dead and Navicula, both who have become two of the nation’s biggest rock bands.

Leave a Reply

  Subscribe  
Notify of
Scroll to Top