• Versi Bahasa Indonesia silakan klik di sini
Another young talented Jakarta band: Drew.
The story started in 2007. Sashi Gandarum (vocal, guitar) was asked to be a regular performer doing acoustic cover version sets at a cafe in Kemang. Sashi then asked her old band mates Putra Praditya (guitar) and Aji Yudo (drum) to back her up. Drew, a unisex name, was also chosen due to an admiration to Drew Barrymore. Thus, a band was born.
During three years when they played in bars and lounge around Kemang, they had a chance to release an original single, “Unromantic”. From here, they became more enthusiastic to release their own original works. Then in 2009 they recruited Shanda Singgih (bass) to join the team. Finally in late October 2011 their debut album, Sing With Drew, was released. It consisted of 11 songs, the compositions are basically easy listening pop songs but more deep and meaningful, yet based on non-fictions. Two well-known guys also participated behind the scene for Drew debut album: Tommy P. Utomo as the sound engineer, and Andi Rianto as the music director. Their first single, “Radio”, has currently played heavily on national radios.
Go to MySpace and type “singwithdrew” to listen to their songs and find out more about them.
Homegrown & Well Known is my biweekly column in The Beat (Bali) mag. Basically it’s an interview via e-mail with Bali’s local big shots.
For the first edition I went upclose-and-personal with Brozio Orah.
Emma Baulch and I, we talked to RN Drive with Waleed Aly, ABC Radio, Australia, on February 09, 2012.
Go to the main page to download and listen to the podcast.
DOMESTIC GROOVE ~ Celeb’s Chosen Nine is my biweekly column in The Beat (Jakarta) mag. Basically it’s an interview via e-mail which focuses on small, intimate, domestic stuff; what Indonesia’s public figures are really into.
For the 32nd edition I went upclose-and-personal with Arian13.
Sebagaimana kota-kota atau pun pulau-pulau lainnya di Indonesia, Bali punya keunikan dan sejarahnya yang tersendiri (sebutlah agama dan kepercayaan, adat istiadat, pesona alam dan ragam pantai, tempat tujuan turis yang mahsyur, hingga peristiwa Bom Bali) yang menjadikan musik non-tradisional di sana tercipta dan menyebar dengan cara-caranya—berpadu dengan hal-hal global seperti teknologi membuat musik, politik dan pembajakan musik Indonesia, trend musik dunia dan MTV, juga internet—hingga menampakkan ciri-ciri khasnya yang memberikan keberagaman pada musik Nasional dan dunia. Buku ini mencatatnya dengan gaya yang telanjang, membeberkannya lugas dan menyeluruh. Jelas bukan sedang berlebihan mengagungkan kedaerahan belaka, kita tahu penggagas buku Rudolf Dethu terlalu keren untuk terjebak di situ.
“Ini dokumentasiku. Mana dokumentasimu?!” Demikian Rudolf Dethu berseru dengan angkuh, dalam bukunya yang berjudul “BLANTIKA | LINIMASA: Kaleidoskop Musik Non-Trad Bali”. Barangkali, sambil menenggak segelas Jim Beam.
Tapi ada benarnya juga. Dokumentasi musik Indonesia memang sangat minim, jika tidak mau disebut nyaris nihil. Bangsa ini, yang belakangan semakin kelihatan cerewet di ranah media sosial, ternyata masih terus mewarisi kebodohan nenek moyangnya: enggan menuliskan sejarah. Padahal, seperti yang juga ditulis Rudolf Dethu dalam buku ini, sejarah milik orang yang menulis.
Dalam 111 halamannya, “Blantika | Linimasa” mengisahkan perjalanan musik non-tradisional Bali periode 1960-2000. Lengkap tertuang di dalamnya adalah kisah perubahan corak musik yang digemari masyarakat Bali, pergantian musisi yang jadi idola di setiap era, dan bagaimana insan bisnis musik Bali menyikapi itu semua.
Sangat menarik, setidaknya bagi saya yang memang buta soal sejarah musik Bali (bukan berarti saya tidak sama butanya soal sejarah musik Indonesia), membaca bahwa orang Bali ternyata sangat menggemari musik pop Mandarin yang mendayu-dayu. Tak kurang dari dua dekade lamanya, dari awal ’80-an hingga akhir ’90-an musik Bali dikuasai oleh dua sosok penting pengusung aliran ini: Yong Sagita dan Widi Widiana.
Sampai kemudian hadir Lolot, band rock yang menyanyikan lagu-lagu keras berbahasa Bali…