Rock-n-Roll Exhibition: EKA ANNASH

Edition: June 02, 2010

Rock-n-Roll Exhibition: EKA ANNASH
Past, Present, Heron & Morphine

:: Playlist, notes and (a few) photos, written and handpicked by Eka Himself ::

Some of these tracks are obvious classic. But I’m going to try to include a few obscures that I thought was brilliant and didn’t have the chance to be explored by (or exposed to) the mass at the time of its release. But then again, maybe it didn’t have to. It only belongs to those whom had intimate relation with (and appreciation to) these songs, that makes them extremely vital and relevant from the first place.

These songs connect with me in a special way. It has relation to momentum, mental state and memories that happened during the stretch of my childhood, puberty and adulthood. It helped shaping me into a better human being that I am today. Enjoy!

read more...

Sampul Album Cadas Monumental: BRITISH STEEL

Bagi anda penggemar musik cadas—apalagi yang tumbuhkembang di era “Hair Metal”—dijamin familiar dengan imej ekstrem di sebelah kiri ini.

Benar, foto jari-jari menggenggam silet berukuran masif tersebut adalah sampul album Judas Priest terbitan 14 April 1980, British Steel. Lagu-lagu dari album karya kontingen asal Birmingham, Inggris Raya, macam Breaking The Law dan Living After Midnight itu sempat menjadi lagu wajib band-band Rock Nusantara di tahun 80-an (mind you, saat itu membawakan tembang karya sendiri belumlah sepopuler sekarang, menjadi duplikat Iron Maiden, dijuluki “The Indonesian Metallica”, dsb, adalah sebuah kebanggaan tersendiri).

Tangan yang memegang silet tersebut adalah milik Roslav Szaybo, art director British Steel yang asal Polandia. Sementara fotografernya adalah Bob Elsdale. Sebelumnya, di tahun 1979, Roslav dan Bob mengerjakan pula album Priest lainnya yaitu Hellbent For Leather—yang di Inggris diberi judul berbeda, Killing Machine.

read more...

Rock-n-Roll Exhibition: STEVE GAMBOA

Edition: May 26, 2010

Rock-n-Roll Exhibition: STEVE GAMBOA
Inspirations/Mutations

:: Playlist, notes, and a few photos, handpicked & written by Steve Himself ::

This selection of tracks is a synoptic reflection of the music and bands that greatly influenced me as a youth playing in punk bands in Washington, DC from 1988 – 2000.

Growing up in ‘The Chocolate City,’ a southern town with an incredible musical legacy the likes of Duke Ellington, Marvin Gaye, Go-Go and D.C. Hardcore, I was very fortunate to have been exposed to a diverse range of music from my peers in the D.C. scene where I was brought up with the understanding that being a punk rocker meant not only that you listened to punk rock, but were also open to listening to all underground music regardless of genre, an ideology that I still maintain today as an active DJ. While it’s impossible to list most of the songs that influenced me during this period that was the most formative phase of my life, this playlist gives you a brief but personal idea of the groups and individuals that impacted my musical direction, manifested my politics, determined my style and made it on the tour van mix tapes.

Hope you can dig on it…

read more...

Tonite! Radio Kentang Internasional!

Tonite! Wednesday, July 07, 2010; 8-10 PM!

Upcoming Rock-n-Roll Exhibition: DAVID TARIGAN
Radio Kentang Internasional

:: Playlist & notes, handpicked & written by David Himself ::

Radio Kentang Internasional adalah obsesi lama saya bersama teman-teman seperjuangan, Bla dan Toma. Kutukan musik Indonesia lama yang sudah kita emban sejak jaman kuliah di Bandung harus segera dibagi ke khalayak ramai.

Tuhan Musik telah bersabda!
From Arulan to Zaharah!
Here they are!

read more...

ICEMA: Memisahkan Diri Dari Arus Utama

ICEMA? Indonesia Cutting Edge Music Award, begitu kepanjangannya. Menyimak namanya sepertinya pihak penyelenggara—dengan didukung oleh Windows Live—memang menyasar segmen berbeda dibanding festival musik pada umumnya di Nusantara. Target yang dituju sepertinya sengaja ke koridor yang bukan arus utama, tak tergolong konsumsi untuk umum, non-mainstream. Memang, ajang yang agak mirip dengan ICEMA sejatinya ada yaitu LA Lights Indie Fest. Bedanya, jika LA Lights Indie Fest cenderung menyeleksi grup-grup musik relatif pemula, sebaliknya filterisasi ICEMA lebih kepada jajaran musisi yang telah moncer reputasinya di ranah alternatif. Sebut saja misalnya Ras Muhamad, Goodnight Electric, Navicula, Adrian Adioetomo, Efek Rumah Kaca, dan masih banyak lagi.

read more...

Rock-n-Roll Exhibition: MARCEL THEE

Edition: May 19, 2010; 8-10 PM

Rock-n-Roll Exhibition: MARCEL THEE
It’s Fascist-lite, I Know, But Yeah…

:: Playlist & notes, handpicked & written by Marcel Himself ::

These are songs I grew up and down with. Songs I took my first and last hit with. Songs I played various livid games to. Some of them are current, most are old, but all are part of my 29-odd years in the world.
Tentu aja ada terlalu banyak yang juga dapat merepresentasikan hidup gue dengan sempurna sampai sekarang; tapi gue memilih spesifik lagu-lagu ini karena kontrasnya mereka yang mencerminkan kontrasnya public persona gue dan band gue sehubungan dengan pertanyaan: “Kok Sajama Cut berubah-rubah terus sih musiknya?”
Don’t limit your love, that’s what I say.

Lastly, I hope this song will let people know how to approach your love for music to as opposed to listening to what the white jeans-ed guy next to them – or SPIN (Yuhhccc) or maximumrocknroll or RS or whatever is telling them to. It’s fascist-lite, I know, but yeah…

read more...

Bondan: And Crossover For All

3 tahun setelah meluncurkan tembang eklektik nan fenomenal bertajuk Kroncong Protol dari album Unity yang notabene sanggup merekonstruksi perspektif anak muda terhadap musik Keroncong, lalu mengorganisir sendiri pertunjukan penghormatan untuk sang maestro Keroncong yang baru saja wafat, “Tribute to Gesang”, pada 16 Juni silam di Bentara Budaya, Jakarta; kini Bondan Prakoso menggebrak lagi dengan album paling mutakhirnya: For All.

read more...

Tonite! Butuh Beli Kaset C Berapa?

Tonite! Wednesday, June 30, 2010; 8 – 10 PM

Upcoming Rock-n-Roll Exhibition: BIN HARLAN
Butuh Beli Kaset C Berapa?

:: Playlist & notes, handpicked and written by Bin Himself ::

Saat masih kuliah, cukup sering saya melihat eksekutif muda memborong CD progressive rock di Aquarius Pondok Indah. Waktu itu saya hanya terus membatin,”Nanti kalau gue udah kerja, giliran gue yang kayak begitu. Gue borong CD-CD kesukaan gue”. Kenyataannya, sampai sekarang saya tak kunjung mapan. Hingga di era penampakan dan perdagangan vinyl di Facebook, saya hanya mampu membeli sedikit demi sedikit CD band luar negeri di toko-toko tenar yang kian sepi.

Menggeluti permusikan menggiring pada dua hal: rasa penasaran dan jiwa koleksi.
Penasaran ketika bertemu visual, membaca resensi album, atau mendapat informasi tentang sebuah band dari teman-teman. Jiwa kolekasi membuat suasana toko rekaman musik seperti sekuntum dongeng hangat. Tapi, rasa penasaran dan jiwa koleksi senantiasa dihadang hambatan: akses mendapatkan barang yang diinginkan dan kondisi keuangan. Sulit. Solusinya: teman-teman dan kaset (belakangan CD) kosong

Merekam dan direkamin adalah petualangan. Berlama-lama di kamar teman untuk membuat kompilasi. Menulis judul-judul lagu. Menyalin sampul CD impor menjadi sampul kaset fotokopian. Pertanyaan penutup saat ingin direkamin sebuah album rekaman bisanya masalah durasi, “Butuh beli kaset C berapa?”

Kadang-kadang saya membuat rekaman Single atau EP. Saat meminjam sebuah album, saya malah membeli kaset kosong C 15, memilih lagu-lagu tertentu di CD pinjaman itu untuk dijadikan rekaman mini versi sendiri. Atau kebalikannya, membeli kaset C90 untuk bisa membikin split album versi suka-suka.

Pernah juga seorang teman mengirim surat dari luar negeri disertai kaset kosong yang telah diisi oleh lagu-lagu James Iha.

Tapi sayangnya, sesungguhnya tak banyak teman-teman saya yang menyukai musik-musik yang “sealiran” dengan saya. Atau dengan kata lain: saya kurang bergaul dengan “anak underground”. Akibatnya, sumber untuk membuat kaset-kaset rekaman tidaklah banyak. Sangat sering saya penasaran dengan sebuah band tapi tak kunjung bisa mendengarkan dan memiliki albumnya karena keterbatasan sumber tersebut.

Cara membuat playlist saya ini adalah dengan metode “Rekamin gue, dong” yang klasik itu. Saya ke kamar kerja seorang teman, mengecek lagu-lagu di komputernya, dan membuat kompilasi dari stock lagu yang tersedia di sana. Lebih spesifik lagi, lagu-lagu yang saya pilih dari komputer itu adalah lagu-lagu yang pernah saya rekam atau pernah direkamin oleh teman untuk saya.

Kaset dan CD kosong membantu dahaga musik dengan lika-likunya. Termasuk lupa memencet tombol “record”…

read more...

Konspirasi Arogansi, Grunge & Lelaki Jantan

Telah lahir grup musik berlimpah bintang yang menyebut diri Konspirasi, dengan menetapkan Grunge sebagai fondasi genre. Digagas pertama kali oleh Edwin Syarif alias Edwin Cokelat (gitar) serta Kirana Hamonangan a.k.a. Marcell Siahaan (drum). Berikutnya masuk Denny Hidayat ditugasi menjaga ritme di departemen bas. Dan, seolah terpanggil memenuhi standar “ramah Seattle Sound”, Candra Johan—lebih dikenal sebagai Che Cupumanik—lalu dipasang sebagai biduan.

Entah memang takdir kelompok all stars memang sedemikian rupa, walau relatif miskin gembar-gembor, eksistensi kelompok bentukan Oktober 2008 ini relatif mudah menggaet atensi publik. Namanya jadi salah satu pembicaraan paling hangat di skena musik Indonesia.

Kabar paling anyar, mereka sedang berkutat menggarap album perdana. Selain itu, Romy Sophiaan mengambil alih posisi Denny. Silakan simak wawancara berikut ini.

read more...

St. Patrick’s Day: Irish Whiskey, Celtic Punk, & More Whiskey

Tonite! Wednesday, June 23, 2010; 8 -10 PM!

St. Patrick’s Day: Irish Whiskey, Celtic Punk, and More Whiskey

:: Playlist, note and photos, written and handpicked by Rudolf Dethu ::

…A long time ago, way back in history,
when all there was to drink was nothin but cups of tea.
Along came a man by the name of Charlie Mops,
and he invented a wonderful drink and he made it out of hops…

Begitu senandung tradisional pekat alkohol yang berkisah tentang Charlie Mops, sosok yang begitu dihormati di Dublin, Donegal, dan seantero tanah Irlandia. Kreativitas Charlie Mops mencipta bir terbukti gemilang menyemangati para “paddy” (sebutan bernada merendahkan kepada Irishmen oleh orang Inggris), membebaskan mereka dari dingin yang mencekik, membuat mereka lebih bergembira lalu riang ria bernyanyi serta berdansa. Oh, tak usah mengernyitkan dahi atau mengendorkan testikel, sosok Charlie Mops ini cuma fiktif. Sahibul hikayat, eksistensi khayali Charlie ini sudah muncul sejak era baheula, dipopulerkan pertama kali oleh angkatan laut kerajaan Inggris Raya. Nama Charlie Mops sendiri adalah rima dari barley dan hops, dua unsur utama dari bir. Ha.

Benar, untuk edisi The Block Rockin’ Beats kali ini saya tak menyelenggarakan eksibisi. Agar tak membosankan aja. Jadi sesekali saya selipkan tema khusus tentang sebuah genre musik. Jika beberapa pekan silam saya sodorkan tembang-tembang yang menyasar Desert/Southern/Stoner Rock/Sludge dan sebangsanya—silakan klik Lions of the Desert: Stoner, Southern, & Sludgy Sabbath Symphony—maka kali ini saya menukik bicara rupa-rupa Paddybeat: Celtic Punk, Irish Folk-Rock, serta familinya. Fenomena Paddybeat ini sendiri telah berkembang makin luas. Tak cuma populer di tanah Irlandia saja, tak hanya menyangkut bangsa Irlandia saja, tak semata berhenti soal Irlandia saja, tapi belakangan Skotlandia disertakan pula sebagai bagian dari gejala ini. Selain itu kantong-kantong imigran Irlandia (Irish diaspora) & komunitas Skotlandia yang tersebar di Inggris (London), Australia (Sydney & Australia Selatan), Amerika Serikat (Boston, Chicago, Philadelphia, Los Angeles), Kanada (Vancouver & Newfoundland), dsb; tampak berperan besar juga mendongkrak kemasyhuran genre ini.

Yang khas dari aliran musik ini—sekarang kerap disederhanakan penyebutannya dengan Celtic Punk saja—adalah temanya yang dominan berkisah tentang teritori Irlandia, wilayah Skotlandia, perjuangan kemerdekaan Irlandia serta Skotlandia, I.R.A. (Irish Republican Army), budaya minum alkoholnya—utamanya wiski—yang sinting, Irish diaspora, pula mengenai kebanggaan khas kerah biru (working class pride). Selain itu hulubalang Celtic Punk umumnya memasukkan instrumen tradisional macam akordion, banjo, mandolin, bagpipes, fiddle tin, dll. Kelompok yang dianggap paling bertanggungjawab memperkenalkan genre ini adalah The Pogues dengan biduan slebor lagi puitis nan Maha Mulia bernama Shane MacGowan. Oleh banyak sejarawan musik Shane—dibantu Spider Stacy—dianggap berjasa menjadi figur paling mula mempadupaksa unsur Celtic Folk dengan (attitude) Punk Rock. Untuk era sekarang, menurut saya kongregasi Celtic Punk yang paling keren adalah The Tossers. Berikutnya, um, Flogging Molly, mungkin. Dropkick Murphys? Nay. Gak terlalu suka. Nuansa boneknya kelewat kental, kurang intelek, agak-agak redneck kalau menurut saya. Tembang Dropkick Murphys yang saya tampilkan di sini adalah satu dari ultra sedikit karya mereka yang “indah.” The Dirty Glass ini mengingatkan saya pada Fairytale of New York dengan distorsi lebih bajingan. Well, nanti deh minggu depan saya cerita lagi lebih rinci tentang apa/siapa/kenapa/bijimana Celtic Punk lewat narasi di masing-masing lagu. Happy St. Patrick’s Day everyday!

…He must have been an admiral a sultan or a king,
and to his praises we shall always sing.
Look what he has done for us he’s filled us up with cheer!
Lord bless Charlie Mops, the man who invented beer beer beer
tiddly beer beer beer…

read more...
designed by: Saylow