Paranoia itu sirna akhirnya. Brian Molko, Stefan Olsdal, Steve Forrest, memang nyata---dan penuh gaya---berada di depan mata. Obsesi sejak masa baheula tercapai jua.
Dengan dibalut kecanggungan antara fakta dan fantasi, saya berdiri di tengah-tengah di antara empat ribuan penonton yang memadati konser Placebo di Tennis Indoor Senayan, 19 Februari malam silam. Memang, sebelumnya saya sempat ketar-ketir jangan-jangan, seperti beberapa grup manca negara lainnya, bak yang sudah-sudah, band asal London ini tiba-tiba di detik-detik terakhir membatalkan kedatangannya. Untungnya tidak. Kelompok yang baru saja tahun lalu menerbitkan album ke enamnya, Battle for the Sun, rupanya minus rasa takut berlebihan terhadap faktor keamanan di negara ini. Brian Molko beserta rombongan tetap datang dan menghibur publik Nusantara.

About
A music journalist, writer, radio presenter, vinyl DJ, socio-political activist, creative industry leader, band manager, and library diploma holder heavily draws inspiration from punk rock philosophy. Often tagged as the Indonesian version of Malcolm McLaren—or, as Rolling Stone Indonesia put it, the grand master of music propaganda—he is perhaps best known for previously managing Bali’s two biggest bands, Superman Is Dead and Navicula, who have gone on to become two of the nation’s biggest rock bands. The band he now manages is The Hydrant, the pioneer of rockabilly in Indonesia.













