QT: Aku, Chairil Anwar, dan Cinta Laura

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on email
Email
Share on print
Print

Sejawat Penyuka Bahasa Indonesia,

Ini ada tulisan menggelitik dari Qaris Tajudin yang saya pinjam-pakai dari rubrik “Bahasa!” majalah Tempo, edisi 18 Agustus 2008. Qaris, sang Redaktur Halaman Nasional Koran Tempo, amat jeli mengamati—sekaligus menguliti—gejala sosial kecil nan signifikan yang sedang terjadi di keseharian kita. Pria tamatan universitas di Kairo ini ultra cermat membaca dinamika di sekelilingnya. Coba saja baca.


____________________

Aku, Chairil Anwar, dan Cinta Laura

Enam puluh lima tahun lalu Chairil Anwar menulis puisi yang kemudian dikenang sepanjang masa: Aku. Ada keangkuhan pada kalimat “Aku ini binatang jalang”. “Aku” dan bukannya “saya” yang dia pilih untuk kata ganti orang pertama, karena Chairil memang ingin menegaskan keangkuhan itu. “Saya” tidak dapat menjalankan tugas menepuk dada, seperti yang “aku” lakukan. “Aku” adalah “saya” dengan ego yang meluber.

Kata ganti orang pertama yang beragam ini memang keunikan bahasa Indonesia (atau Melayu) yang tidak dimiliki sebagian besar bahasa lain. Bahasa daerah yang bertingkat, seperti Jawa dan Sunda, memiliki beberapa kata ganti orang pertama. Bedanya, pemilihan kata tersebut tidak berdiri sendiri, tapi satu paket dengan pemilihan tingkat bahasa, seperti ngoko atau kromo inggil. Yang ada bukan perbedaan makna, melainkan perbedaan tingkat kehalusan bahasa.

Dalam bahasa Indonesia, selain “saya” yang netral dan “aku” yang angkuh, ada “hamba” yang dipakai untuk merendahkan diri. “Hamba” untuk menunjuk orang pertama sudah tak lagi digunakan seiring dengan hilangnya kerajaan dan pengaruh keraton. Tapi, di Kerajaan Malaysia, saat berbicara dengan Yang Dipertuan Agong, masih ada orang yang memakai kata “hamba” untuk menunjuk dirinya.

Di Indonesia, “hamba” memang tidak dipakai lagi untuk kata ganti orang pertama. Maknanya kembali menyempit menjadi budak. Sedangkan “aku” dan “saya” tetap bertahan. Masalahnya, meski masih bertahan, ada perubahan makna yang luar biasa. Terutama untuk “aku”. “Aku” Chairil Anwar 65 tahun lalu jauh berbeda, bahkan benar-benar bertolak belakang, dengan “aku” milik generasi Cinta Laura.

Saat Chairil memilih “aku” untuk mewakili dirinya, kita tahu ada keangkuhan, ketegaran, dan ketidakinginan untuk dikalahkan di sana. Tapi, saat Cinta Laura mengatakan “aku” (Cinta memang selalu memakai “aku”, bukan “saya”), yang tertangkap adalah kemanjaan remaja belasan tahun. Bukan keliaran, tapi kegemasan. Kesan ini tidak hanya dapat kita tangkap saat Cinta yang mengatakannya, tapi juga saat remaja perempuan lain mengatakan hal yang sama.

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on email
Email
Share on print
Print
Rudolf Dethu

Rudolf Dethu

Music journalist, writer, radio DJ, socio-political activist, creative industry leader, and a qualified librarian, Rudolf Dethu is heavily under the influence of the punk rock philosophy. Often tagged as this country’s version of Malcolm McLaren—or as Rolling Stone Indonesia put it ‘the grand master of music propaganda’—a name based on his successes when managing Bali’s two favourite bands, Superman Is Dead and Navicula, both who have become two of the nation’s biggest rock bands.
Rudolf Dethu

Rudolf Dethu

Music journalist, writer, radio DJ, socio-political activist, creative industry leader, and a qualified librarian, Rudolf Dethu is heavily under the influence of the punk rock philosophy. Often tagged as this country’s version of Malcolm McLaren—or as Rolling Stone Indonesia put it ‘the grand master of music propaganda’—a name based on his successes when managing Bali’s two favourite bands, Superman Is Dead and Navicula, both who have become two of the nation’s biggest rock bands.

Leave a Reply

  Subscribe  
Notify of
komang putri
Guest
komang putri

ini mengingatkan saya pada penggunaan kata “penulis” daripada “saya” pada penulisan skripsi atau laporan ilmiah. padahal, “saya” lebih terasa bertanggungjawab daripada kata “penulis”…

@revolusianto
Guest
@revolusianto

aku adalah tuhan untuk diriku sendiri.

Ade Putri
Guest
Ade Putri

Di lingkungan saya di Jakarta, menggunakan kata “aku” justru memang seperti Cinta Laura. Menunjukkan kedekatan, ada sedikit kemanjaan memang. Tapi yang jelas; bagaikan tanpa ada jarak. Contohnya, kami menggunakan kata “aku” pada kekasih, kakak, adik, orang tua, atau keluarga.

Saya menggunakan kata “saya” kepada orang yang baru saya kenal, klien, rekan kerja, atau guru – misalnya. Ini saya gunakan untuk menunjukkan rasa hormat saya.

Pasti ada yang berkomunikasi dengan kekasih menggunakan kata “saya”. Bagi saya, sah-sah saja. Tapi memang terkesan, errr, kurang hangat.

Well, Rudolf Dethu, saya berterima kasih kamu telah berbagi wawasan lagi. Akiu saiank qmu! ;p

Scroll to Top