MAI MABASA BALI: MERANGKUL KULTUR, MERAWAT BAHASA

Mai Mabasa Bali adalah program yang sedang saya jalankan sejak semingguan lalu, dengan harapan mampu menggaet minat khalayak, utamanya anak muda Bali, agar kembali mengakrabi budaya serta bahasa Bali.

MAI MABASA BALI: KAYIKA MILENIAL

Mai Mabasa Bali (let’s speak Balinese) is a program that I run at the moment & the goal is to attract young people’s interest to embrace their roots, their mother tongue: Balinese language. The dream is that Balinese language will be actively used again as a means of daily communication, as the lingua franca. Or at least the Balinese language is no longer considered as an obsolete object, uncool, being left to rot.
We’ll release some new and exciting Balinese songs by Navicula, The Hydrant Bali, James Manja, Alien Child, and the Balinese music veteran: Widi Widiana.

MAI MABASA BALI: PASANTIAN ALT-ROCK

Semeton, niki pragata kel wenten acara renteb #MaiMabasaBali Timpal-timpal leket tiyang lan pisaga ajak patawangan sareng maruket diki (The Hydrant, Navicula, James Manja, Alien Child, Widi Widiana).

EMBRACE THE MUSIC

No need to be ecstatic in welcoming 2021. Let’s keep it quietly. We, human being are fragile and vulnerable. Covid has almost killed us all. So, yeah, just stay calm. And embrace the music.

Reklamasi Vs Revitalisasi: Eufeisme Tipu-Tipu

Warga Pulau Bali, belakangan lekat sekali mendengar istilah reklamasi dan revitalisasi. Kata reklamasi diakrabi lebih awal sejak isu reklamasi terhadap Teluk Benoa berhembus medio 2012.

Meracau Memantau Portmanteau

Dari penelisikan nan obsesif tersebut akhirnya secara natural melebar ke aspek kebahasaan, hal lain yang saya sukai selain musik (dan buku dan busana dan wiski).

Terrifically Derelict

This small yet unique question and answer between Devendra Banhart and Joanna Newsom was originally published on Uncut mag, Take 164, January 2011; right after Newsom’s Have One On Me won Uncut’s Album of the Year.

Hikayat Pemakzulan & Senggama Terputus

Mencabut alat kemaluan sesaat sebelum ejakulasi alias coitus interruptus ternyata, dahulu kala, pernah bermakna serupa dengan “pemakzulan”. Karena pada dasarnya, ‘azl (bahasa Arab), berarti mencabut. Entah mencabut seseorang dari tanah airnya (mengasingkan) entah mencabut penis dari vagina.

Silakan baca argumen Qaris Tajudin di halaman dalam, ketika ia mencoba memberi sudut pandang berbeda terhadap tulisan Saidi A. Xinnalecky di edisi Tempo sebelumnya: Hikayat Pemakzulan.

Disodomi Genderuwo

Berikut adalah sebuah tulisan menarik oleh Eric Sasono, seorang kritikus film, yang dimuat di majalah Tempo edisi Maret 2010 silam. Eric, yang juga redaktur www.rumahfilm.org, menelisik isu linguistik, tentang seberapa “tembak langsung” judul film ini: Diperkosa Setan.

Memang, makin ke sini para penggiat film lokal tersimak makin berani. Tak hanya terang-terangan mengajakserta bintang film porno sebagai pemicu atensi—sudah pasti berujung riuh kontroversi—tapi juga blak-blakan di urusan memberi judul sinemanya. Eksotika bahasa, akrobat cantik demi menghasilkan titel yang bernas bahkan beradab bukan lagi menjadi prioritas. Komunikasi, antara pembikin dan penyuka film, cenderung satu arah, nihil basa-basi. Di perkara pemberian tajuk, yang lebih dikedepankan justru sisi sensasi. Jika di masa lalu masih mencoba berimprovisasi cukup sopan lalu menyorongkan sebatas Gairah Malam serta Ranjang Yang Ternoda, kini makin miskin estetika sama sekali. Coba perhatikan: Diperkosa Setan. Bukan mustahil dalam waktu dekat akan kian berani lagi, tiada tedeng aling-aling lagi, bombastis skala paling maksi: Disodomi Genderuwo.

Scroll to Top