DERU & HARUBIRU TANDA SERU

Jangan eksesif, kurangi foya-foya memakai tanda seru. Substansi ada pada pemilihan kata, seleksi diksi, dan kecermatan kolokasi. Bukan simbol eksklamasi.
Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on email
Email
Share on print
Print

Suatu ketika, seorang karib perempuan menanyai pendapat saya: “Aku barusan ngepos di Facebook, semacam curhat, sekalian belajar menulis, biar mengalir. Udah baca? Pengen tau pendapatmu.”

Saya lalu menyimaknya dan sumbang saran: narasi yang dibuatnya masih sedikit agak belum terlalu lumayan cukup sempurna (baca: jelek).

Haha. Bercanda.

Narasi yang dikreasinya sudah bagus, bertuturnya lumayan mengalir. Namun saya terganggu dengan penggunaan tanda seru yang berhamburan berlebih: berdesakan terselip di tiap paragraf, juga eksesif foya-foya dengan tiga atau lebih simbol eksklamasi.

Tanpa bermaksud seksis, sebuah riset membeberkan data menarik: perempuan memang boros dalam pemakaian tanda seru. Barangkali ini lekat konteksnya dengan kenyataan bahwa kaum hawa itu takdirnya sensitif, cenderung emosional, mudah terombang-ambing perasaan (ini pujian, lho).

Berbeda dengan laki-laki kebanyakan. Irit lagi kikir dalam pemakaian tanda seru. Bukan hal aneh, sebab bawaan orok insan adam itu kurang sentimental, non-nmelankolis, paceklik sinyal emosi, dominan datar dalam merespons dan bereaksi. Alias: bebal, bgzd.

Saya sendiri termasuk di kategori bebal-bgzd tadi (tapi sadar busana hihi). Cenderung jarang membrojolkan tanda seru kala menulis, terutama saat berhadapan dengan publik. Walau saya tak seultra pelit Ernest Hemingway. Di novelnya, The Old Man and the Sea, yang berjumlah kata 27 ribu, tahu tidak berapa lambang sentak yang ia pakai berseru? Satu. Ya, satu.

Benar, bagi saya penekanannya bukan pada berlimpahnya tanda seru. Rahasia mendongeng lewat tulisan itu semata ada di pemilihan kata, seleksi diksi, kecermatan kolokasi. Bujubuneng, hampir mustahil saya bakal menggunakan huruf kapital diikuti banjir tanda seru saat hendak menegaskan sebuah pernyataan.

Ini pongah pula pandir: KAU HARUS PAHAM APA ITU DUNNING-KRUGER EFFECT BIAR PINTER!!!

Ini cihuy woyoyo: Kecilkan volume teriakan, besarkan mutu literasi, agar dirimu terhindar dari vonis Efek Dunning-Kruger. Hore.

Cukup ya. Kalau kepanjangan, takut tak laik Instagram tauk!

Penutup, peluk dan percayai filosofi Aldous Huxley: “Words can be like X-rays if you use them properly—they’ll go through anything. You read and you’re pierced.”

• Baca juga BHINNEKA, BINEKA, DAN PECEL LELE.

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on email
Email
Share on print
Print
Rudolf Dethu

Rudolf Dethu

Music journalist, writer, radio DJ, socio-political activist, creative industry leader, and a qualified librarian, Rudolf Dethu is heavily under the influence of the punk rock philosophy. Often tagged as this country’s version of Malcolm McLaren—or as Rolling Stone Indonesia put it ‘the grand master of music propaganda’—a name based on his successes when managing Bali’s two favourite bands, Superman Is Dead and Navicula, both who have become two of the nation’s biggest rock bands.
Rudolf Dethu

Rudolf Dethu

Music journalist, writer, radio DJ, socio-political activist, creative industry leader, and a qualified librarian, Rudolf Dethu is heavily under the influence of the punk rock philosophy. Often tagged as this country’s version of Malcolm McLaren—or as Rolling Stone Indonesia put it ‘the grand master of music propaganda’—a name based on his successes when managing Bali’s two favourite bands, Superman Is Dead and Navicula, both who have become two of the nation’s biggest rock bands.
0 0 votes
Article Rating

Leave a Reply

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Scroll to Top