Naif Menyongsong Planet Cinta

Total bicara soal cinta, demikian ungkap Naif mengenai albumnya yang akan datang. Planet Cinta, seolah berusaha menegaskan, disepakati dipakai sebagai judul. Besutan ke-9 yang rencananya dirilis Februari lalu, rupanya sedikit mengalami perubahan jadwal. Hingga berita ini diturunkan, kabarnya David, Jarwo, Emil & Pepeng, masih berkutat di proses mixing. Disebutkan pula bahwa jika semua berjalan lancar akan ada 10 lagu menghiasinya. Dan yang agak berbeda dari yang sudah-sudah, seperti disebutkan di atas, temanya melulu soal asmara. Sementara ramuan retro 80an khas Naif tetap jadi resep unggulan.
Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on email
Email
Share on print
Print
Share on facebook
Facebook

Total bicara soal cinta, demikian ungkap Naif mengenai albumnya yang akan datang. Planet Cinta, seolah berusaha menegaskan, disepakati dipakai sebagai judul.

Besutan ke-9 yang rencananya dirilis Februari lalu, rupanya sedikit mengalami perubahan jadwal. Hingga berita ini diturunkan, kabarnya David, Jarwo, Emil & Pepeng, masih berkutat di proses mixing.

Disebutkan pula bahwa jika semua berjalan lancar akan ada 10 lagu menghiasinya. Dan yang agak berbeda dari yang sudah-sudah, seperti disebutkan di atas, temanya melulu soal asmara. Sementara ramuan retro 80an khas Naif tetap jadi resep unggulan.

Grup yang menjulang pamornya lewat Mobil Balap (dari album perdana, Naif), lalu cukup menggemparkan skena musik lokal lewat video klip kontroversial sekaligus merupakan tembang jawaranya, Posesif (dari album kedua, Jangan Terlalu Naif), mengawali semuanya pada 1995 dari sebuah kampus seni di Cikini Raya 73: Institut Kesenian Jakarta. Kebiasaan nongkrong sambil main gitar tersebut akhirnya mengerucut pada 5 anggota tetap: David sebagai biduan, Jarwo fokus pada gitar, Chandra pada keyboard, Emil di departemen bas, serta Pepeng mengurusi drum. Oleh seorang karib, Dodot, diusulkan memakai nama Naif . Alasannya karena tembang-tembang mereka terdengar begitu sederhana, namun tetap berisi pula terdengar harmonis. Selain juga kata “Naif” relatif gampang diingat.

Sejak saat itu pula Naif mulai aktif mengisi acara–acara internal di IKJ. Lagu-lagu mereka macam Jauh, Benci Libur, Piknik 72, segera saja menjadi tenar di seputar kampus. Belum lagi aksi panggung David yang atraktif serta kental humor menjadi semacam value added yang efektif membantu mendongkrak ketenaran mereka melebar ke publik yang lebih luas. Tak lama berselang, pada 1998, mereka mampu menerbitkan album debut bertajuk sama dengan nama kelompoknya.

Lalu berturut-turut mereka merilis Jangan Terlalu Naif (tahun 2000), Titik Cerah (2002), The Best of Naif (2005), Retropolis (2005), Televisi (2007), Let’s Go (2008), sampai yang terakhir A Night At Schouwburg (2009). Di sela-sela karir mereka ini sempat pula diselingi gejolak dimana pada 2003 Chandra memutuskan untuk  mengundurkan diri. Posisi yang ditinggalkan Chandra akhirnya dibiarkan lowong dan Naif bertahan dengan formasi kuartet hingga hari ini.

Mari songsong Planet Cinta dengan penuh cinta!

*Tulisan ini pertama kali tayang di majalah The Beat Jakarta edisi Maret 2010

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on email
Email
Share on print
Print
Rudolf Dethu

Rudolf Dethu

Music journalist, writer, radio DJ, socio-political activist, creative industry leader, and a qualified librarian, Rudolf Dethu is heavily under the influence of the punk rock philosophy. Often tagged as this country’s version of Malcolm McLaren—or as Rolling Stone Indonesia put it ‘the grand master of music propaganda’—a name based on his successes when managing Bali’s two favourite bands, Superman Is Dead and Navicula, both who have become two of the nation’s biggest rock bands.
Rudolf Dethu

Rudolf Dethu

Music journalist, writer, radio DJ, socio-political activist, creative industry leader, and a qualified librarian, Rudolf Dethu is heavily under the influence of the punk rock philosophy. Often tagged as this country’s version of Malcolm McLaren—or as Rolling Stone Indonesia put it ‘the grand master of music propaganda’—a name based on his successes when managing Bali’s two favourite bands, Superman Is Dead and Navicula, both who have become two of the nation’s biggest rock bands.

Leave a Reply

  Subscribe  
Notify of
Scroll to Top