Blitz Megaplex a.k.a. Aku Cinta Jakarta

Kebetulan tidak jauh dari tempat saya biasa numpang tinggal di Jakarta, di Kebayoran Baru, belum lama ini dibuka mal baru kelas premium, Pacific Place. Nah, di lantai 6 (atau 7?) terdapat jaringan bioskop rivalnya kelompok Cineplex 21 bernama Blitz Megaplex yang sebagian besar sahamnya dimiliki oleh Ananda Siregar, anak mantan gubernur Bank Indonesia Arifin Siregar. Yang saya suka dari Blitz Megaplex di antaranya adalah konsep interiornya yang post-mo (well, saya sebenernya gak terlalu paham apa mazhab arsitektur tersebut tepat untuk menyebut gaya yang dianut blitzmegaplex, pokoknya modern minimalis, banyak bentuk kubus, dim lighting, aksen metal di beberapa sudut, sedikit futuristik). Seolah kita sedang berada di tempat berbeda, di megapolitan makmur mana gitu. Pokoknya kayak bukan di Jakarta. Sentuhan artistik millenium namun tetap relatif hangat. Masih cukup bernyawa. Kalo di musik mungkin bisa diumpamakan sebagai post-punk (think Talking Heads, The Fall, New Order, Public Image Ltd.). Tetap tersimak nyeni, tidak kelewat sintetik. Tidak sedingin komposisi, katakanlah, Gary Numan. See what I mean?
Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on email
Email
Share on print
Print

Artikel di bawah ini sejatinya merupakan kisah yang saya tulis pada pertengahan 2008 silam namun saya pikir masih cukup layak untuk diberi atensi. Nikmati sajalah, daripada butek mikirin manuver Tifatul Sembiring di masa depan…

_______________________

Saya baru saja kembali dari Jakarta dalam rangka menghadiri Rolling Stone Private Party. Dan, biasa, bawaannya pasti pengen cerita.

Bukan, yang sekarang ini bukan kisah tentang seberapa banjir Jack D pas pestanya Rolling Stone tersebut. Tapi tentang Blitz Megaplex.
BlitzMegaplex-logo

Kebetulan tidak jauh dari tempat saya biasa numpang tinggal di Jakarta, di Kebayoran Baru, belum lama ini dibuka mal baru kelas premium, Pacific Place. Nah, di lantai 6 (atau 7?) terdapat jaringan bioskop rivalnya kelompok Cineplex 21 bernama Blitz Megaplex yang sebagian besar sahamnya dimiliki oleh Ananda Siregar, anak mantan gubernur Bank Indonesia Arifin Siregar.

Yang saya suka dari Blitz Megaplex di antaranya adalah konsep interiornya yang post-mo (well, saya sebenernya gak terlalu paham apa mazhab arsitektur tersebut tepat untuk menyebut gaya yang dianut Blitz Megaplex, pokoknya modern minimalis, banyak bentuk kubus, dim lighting, aksen metal di beberapa sudut, sedikit futuristik). Seolah kita sedang berada di tempat berbeda, di megapolitan makmur mana gitu. Pokoknya kayak bukan di Jakarta. Sentuhan artistik millenium namun tetap relatif hangat. Masih cukup bernyawa. Kalo di musik mungkin bisa diumpamakan sebagai post-punk (think Talking Heads, The Fall, New Order, Public Image Ltd.). Tetap tersimak nyeni, tidak kelewat sintetik. Tidak sedingin komposisi, katakanlah, Gary Numan. See what I mean?

Juga pilihan film-filmnya. Eksploratif, tidak terpaku pada Hollywood saja. Film-film dari Thailand, Perancis, dll, sering juga diputar dari sini. Bagi yang menyukai film-film alternatif, bolehlah sedikit berharap pada blitz.

Sound system? Ultra dahsyat. Sementara di Denpasar masih sekelas THX, Blitz—yang di Pacific Place dan di Grand Indonesia—semuanya menggunakan teknologi Dolby terkini. Tertulis Dolby Stomp. Entah apa itu nama teknologinya atau bukan. Yang jelas kick major ass!
Dolbylogo

Harga tiket? Terjangkau. Lebih murah dari Cineplex 21 pastinya.

Jangan heran kenapa tiba-tiba Cineplex 21 yang selama ini jumawa memonopoli perbioskopan di Indonesia langsung berbenah begitu Blitz nongol. Harga tiket langsung diturunkan, disesuaikan dengan Blitz. Beberapa bioskop 21 juga gaya bangunannya dirombak ulang (salah satunya yang di Plaza Senayan). Langsung bergaya agak-agak modern. Tapi improvisasinya masih kalah dengan Blitz. Shame on ya, 21.

Pula konfigurasi tempat duduknya. Selain nyaman, juga curam. Kecil kemungkinan saat nonton kita bakal terhalang orang yang duduk di depan kita (kecuali yang duduk depan kita itu Godzilla). Plus penomorannya jelas, user-friendly nan tetap artistik.

Hal kecil lain namun tetap menarik adalah himbauan semisal “jangan ngobrol semasa pertunjukan berlangsung” dan sejenisnya. Ditampilkan dengan cara berbeda, tidak terlalu konvensional. Ilustrasinya khas. Dibumbui kalimat-kalimat pendek segar, keluar dari pakem standar 21 (apalagi 21 yang di Denpasar).
BlitzMegaplex-ilustrasi

Sebagai putra daerah, saya sejujurnya bengong disuguhi fenomena seperti Blitz. Hikz.

Dan saya duh-jarang berdendang mengikuti C’mon Lennon: Aku Cinta J.A.K.A.R.T.A!

Goodbye Monopoly, Hello Megaplex.

Featured image: teropongbisnis.com

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on email
Email
Share on print
Print
Rudolf Dethu

Rudolf Dethu

Music journalist, writer, radio DJ, socio-political activist, creative industry leader, and a qualified librarian, Rudolf Dethu is heavily under the influence of the punk rock philosophy. Often tagged as this country’s version of Malcolm McLaren—or as Rolling Stone Indonesia put it ‘the grand master of music propaganda’—a name based on his successes when managing Bali’s two favourite bands, Superman Is Dead and Navicula, both who have become two of the nation’s biggest rock bands.
Rudolf Dethu

Rudolf Dethu

Music journalist, writer, radio DJ, socio-political activist, creative industry leader, and a qualified librarian, Rudolf Dethu is heavily under the influence of the punk rock philosophy. Often tagged as this country’s version of Malcolm McLaren—or as Rolling Stone Indonesia put it ‘the grand master of music propaganda’—a name based on his successes when managing Bali’s two favourite bands, Superman Is Dead and Navicula, both who have become two of the nation’s biggest rock bands.

Leave a Reply

  Subscribe  
Notify of
Scroll to Top