Bondan: And Crossover For All

3 tahun setelah meluncurkan tembang eklektik nan fenomenal bertajuk Kroncong Protol dari album Unity yang notabene sanggup merekonstruksi perspektif anak muda terhadap musik Keroncong, lalu mengorganisir sendiri pertunjukan penghormatan untuk sang maestro Keroncong yang baru saja wafat, “Tribute to Gesang”, pada 16 Juni silam di Bentara Budaya, Jakarta; kini Bondan Prakoso menggebrak lagi dengan album paling mutakhirnya: For All.
Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on email
Email
Share on print
Print
Share on facebook
Facebook

3 tahun setelah meluncurkan tembang eklektik nan fenomenal bertajuk Kroncong Protol dari album Unity yang notabene sanggup merekonstruksi perspektif anak muda terhadap musik Keroncong, lalu mengorganisir sendiri pertunjukan penghormatan untuk sang maestro Keroncong yang baru saja wafat, “Tribute to Gesang”, pada 16 Juni silam di Bentara Budaya, Jakarta; kini Bondan Prakoso menggebrak lagi dengan album paling mutakhirnya: For All.

Masih mengajakserta hulubalang Hip Hop dari Fade 2 Black dengan formasi Titz, Santoz, dan Lezzano sebagai partner, Bondan di album berisikan 11 lagu ini mengemban jabatan multi fungsi: ya produser, ya arranger, ya biduan, ya pemain bas. Warna musik yang dimunculkan di album ini pun tetap serbaneka. Sentuhan Ska/Reggae tampak di lagu Tetap Semangat, sementara di Tidurlah nuansa Pop sejenis The Everly Brothers/Bob Tutupoli/Rinto Harahap kuat terasa, padu padan Funk dan Soul tersimak jelas di Good Times yang sekaligus mempertunjukkan seberapa dewasa kemampuan Bondan mengolah bas kesayangannya plus selingan menakjubkan berupa human beatbox oleh Titz.

Di urusan tema, album yang telah digarap sejak pertengahan tahun 2009 ini juga lumayan bineka. Sebut saja Kita Untuk Selamanya yang menyenandungkan soal prom night para remaja di SMU. Atau Sang Juara yang diharapkan bisa digunakan sebagai anthem pengobar semangat di kancah olah raga. Pula Ya Sudahlah yang dijadikan single unggulan, menyinggung bahwa tak ada gunanya sedih berkepanjangan ketika mimpi belum bisa terwujud.

Yang patut juga disorot adalah kebesaran hati Bondan sebagai mastermind yang  memberi keleluasaan cukup besar pada sejawatnya untuk mengeksplorasi lirik lagu. Titz, Santoz, serta Lezzano, dipersilakan menginterpretasi tembang pilihannya sesuai kemauan & karakter masing-masing. Lezzano lalu berimprovisasi dengan gaya Alternative Funk di Bumi ke Langit, Santoz bergaya Rap Rock di Terinjak Terhempas, serta Titz memilih koridor Rock Ballad di Not With Me yang mana ia juga menyanyi di sini—hey, ternyata suaranya begitu merdu.

Ayo kita lihat, apa olah crossover B&F2B yang ini sama menggegarkannya seperti yang sudah-sudah. Rezpect!

*Artikel ini pertama kali tayang di majalah The Beat Jakarta edisi Juni 2010

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on email
Email
Share on print
Print
Rudolf Dethu

Rudolf Dethu

Music journalist, writer, radio DJ, socio-political activist, creative industry leader, and a qualified librarian, Rudolf Dethu is heavily under the influence of the punk rock philosophy. Often tagged as this country’s version of Malcolm McLaren—or as Rolling Stone Indonesia put it ‘the grand master of music propaganda’—a name based on his successes when managing Bali’s two favourite bands, Superman Is Dead and Navicula, both who have become two of the nation’s biggest rock bands.
Rudolf Dethu

Rudolf Dethu

Music journalist, writer, radio DJ, socio-political activist, creative industry leader, and a qualified librarian, Rudolf Dethu is heavily under the influence of the punk rock philosophy. Often tagged as this country’s version of Malcolm McLaren—or as Rolling Stone Indonesia put it ‘the grand master of music propaganda’—a name based on his successes when managing Bali’s two favourite bands, Superman Is Dead and Navicula, both who have become two of the nation’s biggest rock bands.

Leave a Reply

  Subscribe  
Notify of
Scroll to Top