DIALOG DINI HARI: GARIS DEPAN

Karya termutakhir dari power trio Dialog Dini Hari yang lahir dari rasa lara, sengsara, sekaligus empati nan gigantik: Garis Depan.
Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on email
Email
Share on print
Print

Great art comes from pain. Rasa lara dan sengsara telah secara alami mendorong power trio Dialog Dini Hari kian kreatif dan langkas melahirkan jajaran karya mengagumkan. Yang termutakhir: “Garis Depan”.

Pengalaman pribadi nan pilu dari opsir departemen bas dan synthesizer, Brozio Orah, yang menimpa sepupunya: masuk rumah sakit akibat Covid-19 serta dirawat cukup lama, sempat mengalami situasi gawat, hingga akhirnya sembuh; Zio menyaksikan sendiri bagaimana perjuangan paramedis di garis depan menghadapi Covid-19. Keringat, darah, air mata, hidup atau mati. Hal ini menumbuhkan rasa hormat pada diri Zio serta rekan sekelompoknya, Pohon Tua (penulis lagu utama, gitar) dan Deny Surya (drums). Apresiasi ini kemudian dikembangkan menjadi tembang.

“Ada beberapa temanku dokter dan paramedis yang sudah terlalu lama nggak pulang ke rumah,” tambah Pohon Tua, menguatkan pernyataan bahwa keberadaan paramedis di garis depan pantas diberi apresiasi tinggi.

Faktor berikutnya adalah banyaknya tersedia waktu luang sepoi-sepoi di kala pandemi. “Ketika band nggak ada kesibukan lain ya waktunya dipakai untuk ngobrol dan diskusi. Akhirnya bikin sesuatu. Dari satu lagu jadi dua lagu, jadi tiga lagu dan seterusnya. Prosesnya terus berlangsung,” terang Pohon Tua.

“Garis Depan” sendiri diluncurkan terhitung tiga minggu sejak terbitnya single “Kulminasi II”. Rencana menjadikan “Kulminasi II” sebagai single lepas, sejalan katastrofe pandemi serta inspirasi membuat karya yang mendadak gempita, akhirnya berubah di tengah perjalanan.

Dirilisnya “Garis Depan” belum lama ini lalu disusul oleh penyusupan gambar hidup bikinan seniman bengal-mahsyur Erick Est. Dengan cerdik sang sutradara bermarga Tambunan ini menggabungkan beragam cuplikan suasana lockdown di banyak kota di Indonesia sehingga atmosfer mencekam akibat wabah Covid-19 jitu terpancar di videoklip “Garis Depan”. Perjuangan paramedis dan harubiru ketidakpastian amat bisa dirasakan saat menontonnya.


“Garis Depan” (juga “Kulminasi II”) nantinya bakal termaktub di album mini Setara yang rencananya brojol Juni depan. Namun bisa saja berubah. Tergantung suasana hati personel DDH dalam menjalani fluktuasi pandemi.

Ya sudah, terserah. Yang jelas, bagi saya pribadi, yang paling penting adalah sensi, mudah tersentuh pada persoalan sekitar. Olah rasa dan seni adalah selalu tentang simpati dan empati.

________

Foto featured image oleh Gus Wib.
Foto di halaman ini dipinjampakai dari Majalah Cobra.

• Baca juga POHON TUA CREATORIUM: REGENERASI MAKSIMUM.

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on email
Email
Share on print
Print
Rudolf Dethu

Rudolf Dethu

Music journalist, writer, radio DJ, socio-political activist, creative industry leader, and a qualified librarian, Rudolf Dethu is heavily under the influence of the punk rock philosophy. Often tagged as this country’s version of Malcolm McLaren—or as Rolling Stone Indonesia put it ‘the grand master of music propaganda’—a name based on his successes when managing Bali’s two favourite bands, Superman Is Dead and Navicula, both who have become two of the nation’s biggest rock bands.
Rudolf Dethu

Rudolf Dethu

Music journalist, writer, radio DJ, socio-political activist, creative industry leader, and a qualified librarian, Rudolf Dethu is heavily under the influence of the punk rock philosophy. Often tagged as this country’s version of Malcolm McLaren—or as Rolling Stone Indonesia put it ‘the grand master of music propaganda’—a name based on his successes when managing Bali’s two favourite bands, Superman Is Dead and Navicula, both who have become two of the nation’s biggest rock bands.

Leave a Reply

  Subscribe  
Notify of
Scroll to Top