ICEMA: Memisahkan Diri Dari Arus Utama

ICEMA? Indonesia Cutting Edge Music Award, begitu kepanjangannya. Menyimak namanya sepertinya pihak penyelenggara---dengan didukung oleh Windows Live---memang menyasar segmen berbeda dibanding festival musik pada umumnya di Nusantara. Target yang dituju sepertinya sengaja ke koridor yang bukan arus utama, tak tergolong konsumsi untuk umum, non-mainstream. Memang, ajang yang agak mirip dengan ICEMA sejatinya ada yaitu LA Lights Indie Fest. Bedanya, jika LA Lights Indie Fest cenderung menyeleksi grup-grup musik relatif pemula, sebaliknya filterisasi ICEMA lebih kepada jajaran musisi yang telah moncer reputasinya di ranah alternatif. Sebut saja misalnya Ras Muhamad, Goodnight Electric, Navicula, Adrian Adioetomo, Efek Rumah Kaca, dan masih banyak lagi.
Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on email
Email
Share on print
Print
Share on facebook
Facebook

“ICEMA adalah wadah apresiasi dan penghargaan bagi komunitas-komunitas musik di seluruh Indonesia, khususnya musik yang dihasilkan oleh komunitas-komunitas musik non-mainstream yang berkembang pesat, hal ini tidak lepas karena penerimaan dan dukungan para penggemarnya. ICEMA menjadi salah satu ajang penghargaan terhadap karya musik Indonesia untuk menanggapi perkembangan terkini di dunia musik Indonesia,” ungkap Denny Sakrie, pengamat musik handal yang menduduki posisi Ketua Dewan Kategorisasi di ajang ICEMA, dalam siaran persnya.

ICEMA? Indonesia Cutting Edge Music Award, begitu kepanjangannya. Menyimak namanya sepertinya pihak penyelenggara—dengan didukung oleh Windows Live—memang menyasar segmen berbeda dibanding festival musik pada umumnya di Nusantara. Target yang dituju sepertinya sengaja ke koridor yang bukan arus utama, tak tergolong konsumsi untuk umum, non-mainstream. Memang, ajang yang agak mirip dengan ICEMA sejatinya ada yaitu LA Lights Indie Fest. Bedanya, jika LA Lights Indie Fest cenderung menyeleksi grup-grup musik relatif pemula, sebaliknya filterisasi ICEMA lebih kepada jajaran musisi yang telah moncer reputasinya di ranah alternatif. Sebut saja misalnya Ras Muhamad, Goodnight Electric, Navicula, Adrian Adioetomo, Efek Rumah Kaca, dan masih banyak lagi.

Sementara itu 20 kategori yang dilombakan ialah: Favorite Solo Artists, Favorite Band, Group or Duo, Favorite Alternative Song, Favorite Pop Song, Favorite Rock Song, Favorite Metal Song, Favorite Electronica Song, Favorite Jazz Song, Favorite Hip-Hop/R&B Song, Favorite Dance Song, Favorite Punk/Hard Core Song, Favorite Emo Song, Favorite Reggae/Ska Song, Favorite Blues Song, Favorite Comedy Song, Favorite Folk/Country Song, Favorite Singer-Songwriter, Favorite World Music Song, Favorite Artwork from Album, Favorite Album Packaging.

Karya-karya yang berhak dilombakan adalah yang dirilis antara tahun 2008 hingga 2010.  Pemilihan lima band paling favorit di tiap kategori diawali di periode pertama mulai 29 April sampai 29 Mei. Berikutnya, sesi kedua, 29 Mei – 29 Juni adalah proses seleksi pemilihan pemenang yang kemudian diumumkan pada 18 Juli 2010. Untuk keterangan lebih rinci bisa berselancar ke situs resminya: http://www.icema.co.id

Hey, revolusi baru saja dimulai!

*Artikel ini pertama kali dipublikasikan di majalah The Beat Jakarta edisi Mei 2010
*Foto Tika adalah milik Muhammad Asra Nur

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on email
Email
Share on print
Print
Rudolf Dethu

Rudolf Dethu

Music journalist, writer, radio DJ, socio-political activist, creative industry leader, and a qualified librarian, Rudolf Dethu is heavily under the influence of the punk rock philosophy. Often tagged as this country’s version of Malcolm McLaren—or as Rolling Stone Indonesia put it ‘the grand master of music propaganda’—a name based on his successes when managing Bali’s two favourite bands, Superman Is Dead and Navicula, both who have become two of the nation’s biggest rock bands.
Rudolf Dethu

Rudolf Dethu

Music journalist, writer, radio DJ, socio-political activist, creative industry leader, and a qualified librarian, Rudolf Dethu is heavily under the influence of the punk rock philosophy. Often tagged as this country’s version of Malcolm McLaren—or as Rolling Stone Indonesia put it ‘the grand master of music propaganda’—a name based on his successes when managing Bali’s two favourite bands, Superman Is Dead and Navicula, both who have become two of the nation’s biggest rock bands.

Leave a Reply

  Subscribe  
Notify of
Scroll to Top