Tak Ada Gunanya Punya Akun Bejibun

God bless the internet. Ungkapan syukur atas kemunculan internet di jagat raya belakangan ini sering terucap di tengah masyarakat. Saya termasuk salah satu pendukung militan piranti komunikasi via dunia maya ini. Sebab keberadaannya terbukti amat memudahkan manusia dalam bermanuver. Tak cuma di urusan komunikasi tapi kini telah meluas ke berbagai bidang kehidupan. Selain itu, jika bicara faktor biaya, internet tergolong barang murah. Saat hendak menyapa saudara kamu yang sedang bersekolah di Sydney, Australia, tinggal menyalakan akun Skype masing-masing, sudah, langsung ngobrol dah. Dan gratis. Beda dengan jaman dulu yang masih harus menggunakan telepon biasa serta sambungan internasional yang mahalnya minta ampun. Dalam konteks musik, internet jelas merupakan berkah besar bagi para musisi di Indonesia. Terutama di perkara promosi. Anak sekarang sudah tinggal leha-leha ketika ingin eksis. Begitu punya band langsung saja bikin akun di, katakanlah, Facebook. Pada akhir 90an, fasilitas senikmat demikian belum ada. Saat ingin mengumumkan pada dunia bahwa kita baru saja membentuk Trio Kiamat Raya---sebut saja begitu---dan telah memiliki album perdana, yang harus dilakukan adalah turun langsung ke lapangan, bergaul, memberikan satu persatu kepada kawan serta kerabat. Jika ingin melebarkan sayap hingga keluar pulau, kirimi lewat pos para sahabat pena yang kita punya. Tak lupa pula berharap semoga salah satu rekan kita di Jakarta berbaik hati meneruskan album debut kebanggaan Trio Kiamat Raya ke kenalannya yang bekerja di record label. Sungguh butuh proses yang panjang, berliku, lagi mahal. Jangan dulu lah bicara soal albumnya bakal meledak di pasaran. Sudah didengerin ama petinggi di label rekaman saja sudah untung. Read More
Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on email
Email
Share on print
Print

God bless the internet. Ungkapan syukur atas kemunculan internet di jagat raya belakangan ini sering terucap di tengah masyarakat. Saya termasuk salah satu pendukung militan piranti komunikasi via dunia maya ini. Sebab keberadaannya terbukti amat memudahkan manusia dalam bermanuver. Tak cuma di urusan komunikasi tapi kini telah meluas ke berbagai bidang kehidupan. Selain itu, jika bicara faktor biaya, internet tergolong barang murah. Saat hendak menyapa saudara kamu yang sedang bersekolah di Sydney, Australia, tinggal menyalakan akun Skype masing-masing, sudah, langsung ngobrol dah. Dan gratis. Beda dengan jaman dulu yang masih harus menggunakan telepon biasa serta sambungan internasional yang mahalnya minta ampun.

Dalam konteks musik, internet jelas merupakan berkah besar bagi para musisi di Indonesia. Terutama di perkara promosi. Anak sekarang sudah tinggal leha-leha ketika ingin eksis. Begitu punya band langsung saja bikin akun di, katakanlah, Facebook. Pada akhir 90an, fasilitas senikmat demikian belum ada. Saat ingin mengumumkan pada dunia bahwa kita baru saja membentuk Trio Kiamat Raya—sebut saja begitu—dan telah memiliki album perdana, yang harus dilakukan adalah turun langsung ke lapangan, bergaul, memberikan satu persatu kepada kawan serta kerabat. Jika ingin melebarkan sayap hingga keluar pulau, kirimi lewat pos para sahabat pena yang kita punya. Tak lupa pula berharap semoga salah satu rekan kita di Jakarta berbaik hati meneruskan album debut kebanggaan Trio Kiamat Raya ke kenalannya yang bekerja di record label. Sungguh butuh proses yang panjang, berliku, lagi mahal. Jangan dulu lah bicara soal albumnya bakal meledak di pasaran. Sudah didengerin ama petinggi di label rekaman saja sudah untung.

Dua paragraf ringkas padat di atas sekadar ilustrasi bahwa jika dibandingkan antara masa lalu dengan masa sekarang sungguh bak bumi dan langit. Generasi mutakhir adalah generasi duhai beruntung. Dengan memahami itu maka sudah seharusnya ketika kita serius nge-band maka memanfaatkan internet juga kita sepatutnya serius juga bijak. Berpromolah dengan benar alias efektif (jitu) dan akan makin cool jika bisa efisien (irit tenaga dan waktu).

Sejatinya ada satu tip sederhana dan tepat guna namun tak mudah mempraktekkannya, yaitu:
“Buat website band atau minimal akun band di jejaring sosial. Dan rawat dengan baik”

Itu harus, sebab itu adalah langkah paling awal pengumuman kepada dunia: Halo, kami Trio Kiamat Raya, dengarkan kami yang ganteng-ganteng ini!
Lengkapi dengan segala pernak-pernik pendukung seperti biografi, foto para personel dan aktivitas/konser, contoh lagu sampai videoklip jika memang punya. Jangan belum apa-apa sudah mengeluh bikin website mahal dan buang-buang uang. Bandingkan dengan era baheula, berapa banyak duit yang melayang sekadar promosi doang. Apalagi kian hari tampaknya biaya bikin situs pribadi kian anjlok harganya alias makin murah. Kecuali jika kamu memang ultra pra sejahtera, okelah, cukup bikin akun band di jejaring sosial saja.

Yang lebih penting dari membangun website adalah: kemauan untuk merawatnya. Kerap saya temui fakta, halaman website band tersebut jarang banget di-update. Terakhir kali kolom “News” diperbaharui adalah tiga bulan yang lalu. Whew. Padahal para personel band itu saya tau rajin sekali meng-update status pribadinya di Facebook. Sementara berita di website band-nya masih yang jaman Majapahit. Ingat-oh-ingat, umumnya orang ketika setelah 3-4 kali mengunjungi website sebuah band dan nihil ditemui kisah baru maka sulit untuk mengharapkan ia meluangkan waktu untuk bertandang lagi di kemudian hari. Kalau band-nya saja malas memelihara dirinya, sulit mengharapkan orang lain jadi rajin berkunjung. Itu sudah konsekuensi logis.

Jadi, tiada gunanya kamu punya banyak alamat semisal triokiamatraya.com, facebook.com/triokiamatraya, myspace.com/triokiamatraya dan entah apa lagi. Kurang efisien jika menurut saya. Cukup punya satu website dan, untuk sekarang ini, Facebook (tergantung jejaring sosial yang mana yang sedang trendy). Udah, itu aja. That’s it. Sebab yang utama adalah bukan seberapa berlimpah kamu punya akun di jagat virtual, tapi seberapa rajin, seberapa penuh cinta, kamu merawat akun itu. Dipahami?

________________

*Artikel yang saya tulis ini pertama kali tayang di blog Langit Musik pada 28 Maret 2011
*Baca juga artikel terkait lanjutannya: Propaganda Sederhana Tepat Guna
*foto di halaman depan dipinjampakai dari fineartamerica.com, sedangkan halaman dalam dari techchunks.com

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on email
Email
Share on print
Print
Rudolf Dethu

Rudolf Dethu

Music journalist, writer, radio DJ, socio-political activist, creative industry leader, and a qualified librarian, Rudolf Dethu is heavily under the influence of the punk rock philosophy. Often tagged as this country’s version of Malcolm McLaren—or as Rolling Stone Indonesia put it ‘the grand master of music propaganda’—a name based on his successes when managing Bali’s two favourite bands, Superman Is Dead and Navicula, both who have become two of the nation’s biggest rock bands.
Rudolf Dethu

Rudolf Dethu

Music journalist, writer, radio DJ, socio-political activist, creative industry leader, and a qualified librarian, Rudolf Dethu is heavily under the influence of the punk rock philosophy. Often tagged as this country’s version of Malcolm McLaren—or as Rolling Stone Indonesia put it ‘the grand master of music propaganda’—a name based on his successes when managing Bali’s two favourite bands, Superman Is Dead and Navicula, both who have become two of the nation’s biggest rock bands.

Leave a Reply

  Subscribe  
Notify of
awe
Guest
awe

rawat dengan baikakun anda,seperti anda merawat diri anda sendiri,,,,great??

Malcolm McDadang
Guest
Malcolm McDadang

And the more important is : Bagaimana para musisi sedari dini mendokumentasikan proses dan karya kreatifnya. Bermain media dengan selaras karya, thats perfect.

Scroll to Top