RUDOLF DETHU

Roars Rants Raves Rigid Rebel Rock-n-Roll

Pop Punk dan Revivalisme

Di Indonesia, barangkali hanya Bali satu-satunya daerah di mana punk rock menjadi musik arus utama, paling populer, menyalip genre apa pun.

Fenomena yang amat menarik. Sebuah anomali. Bisa jadi erat hubungannya dengan kedigdayaan Superman Is Dead dalam menaklukkan blantika musik Indonesia. Trio asal Pulau Dewata tersebut menjadi inspirasi utama bagi rekan-rekan sedaerahnya untuk memainkan aliran sejenis.

Dalam skala Nusantara, well, saya nihil data sahih bahwa memang Bobby Kool, Jon Eka Rock, dan JRX yang menggiring anak-anak muda beramai-ramai merangkul punk rock model mereka. Namun saya berjubel keyakinan bahwa tiga putra daerah tersebut memiliki porsi kolosal dalam mendongkrak popularitas punk rock hingga se-mainstream sekarang.

Orang-orang yang tadinya kurang yakin dengan pilihan punk rock-nya kemudian menetapkan hatinya secara penuh. Musisi yang sebelumnya memainkan punk rock garang, bukan yang tipe easy listening, berbelok lalu megentalkan sisi popnya agar lebih ramah di kuping. Para remaja tanggung bak diberikan petunjuk cepat-tepat haluan apa yang sebaiknya dipilih, lengkap dengan bukti seberapa manjur petunjuk tersebut. Gejala sedemikian rupa terjadi di banyak kota besar Indonesia.


Domestic Groove: RICKY SIAHAAN

DOMESTIC GROOVE ~ Celeb’s Chosen Nine tadinya adalah kolom khusus dwi-bulanan saya di majalah The Beat (Jakarta). Kini saya alihkan dan muat secara eksklusif di blog saya.

Kolom ini pada dasarnya adalah sebuah wawancara lewat surat elektronik yang mengupas sosok tenar lokal secara intim, hangat, domestik.

Untuk edisi ke-53 ini saya menelisik akrab sisi pribadi Ricky Siahaan.


Selamat Saraswati. Dirgahayu Hardiknas.

2 Mei 2015 menjadi kurun bersejarah bagi saya. Bagaimana tidak, dua momen penting bergabung menjadi satu: Saraswati, hari besar umat Hindu, jatuhnya bersamaan dengan Hari Pendidikan Nasional.

Hari Saraswati adalah hari pemujaan terhadap Dewi Saraswati, dewi ilmu pengetahuan dan seni. Di hari itulah, Sabtu Umanis Watugunung, umat Hindu percaya bahwa ilmu pengetahuan turun ke dunia.

Sementara Hari Pendidikan Nasional diperingati bertepatan dengan saat lahirnya sang pelopor pendidikan di Indonesia, Ki Hadjar Dewantara. Ia adalah juga pendiri lembaga pendidikan Taman Siswa.

Ilmu pengetahuan, pendidikan, serta seni, menurut saya merupakan kunci paling penting dari pembentukan akal budi seseorang. Lewat pendidikan yang baik—di sekolah dan luar sekolah—serta ilmu pengetahuan yang memadai manusia akan bisa mengambil keputusan yang tepat dan lebih piawai menyiasati masalah. Selain tentu pandai mengasah akal, menjadikannya cerdas, dan terbentuk sebagai sosok yang berpikir panjang jauh ke depan (visioner).

Oleh karenanya, sekolah dan perpustakaan merupakan elemen amat adiluhung di dalam konteks ini.

Jika satu tempat ibadah dibangun maka satu perpustakaan pula mesti didirikan.


Swingout Session with the Space Cadets

An amazing evening of rockabilly swing, space rock, and psychedelic groove.


JFCC Charity Jam 2015 – Photos

Hot bands.

Cold beers.

Warm crowd.


ForBALI di Greaser Party, Jak; dan Aksi 8-9 April, Dps

Bagi kawan-kawan yang berdomisili di Jakarta yang bersimpati dengan gerakan kami, Bali Tolak Reklamasi, mulai hari ini hingga Minggu malam, 10-12 April 2015, anda bisa mendapatkan rupa-rupa merchandise di gerai ForBALI—Forum Rakyat Bali Tolak Reklamasi—di acara Indonesia Greaser Party (IGP) di Plaza Barat Senayan.

Kebetulan panitia IGP telah berbaik hati kepada kami dan menghibahkan gerai gratis. Perlu diketahui, gerakan kami adalah gerakan independen, mandiri, bebas merdeka, bisa bernafas panjang berjuang semata dari kebaikan hati anggota serta dukungan material-moral dari pihak luar.

Terima kasih banyak kawan-kawan yang begitu tulus membantu kami. Ya, kami takkan pernah mau berunding dengan maling yang hendak menjarah tanah tercinta kami!

Lihat juga foto-foto aksi terbaru ForBALI turun ke jalan/parade budaya pada 8-9 April 2015.


Belajar Menulis Musik yang Apik Bersama Dethu

Oleh Diah Dharmapatni

Akhir pekan panjang patut diisi aktivitas ciamik, seperti kelas menulis musik.

Kemarin, BaleBengong bekerja sama dengan Kumpul Coworking Space menggelar Kelas Menulis Musik. Rudolf Dethu didapuk menjadi pembicara untuk kelas ini.

Dethu membagi pengalamannya dalam menulis rilis pers, profil band dan reportase konser. Menurut Dethu, tak perlu keahlian main musik untuk menulis tiga hal tadi. “Yang penting punya kesukaan kronis pada musik, itu sudah cukup,” katanya.

Kemampuan menulis musik bisa diawali dengan mengumpulkan album musisi tertentu. Penulis musik dengan album sangat banyak dan lengkap berarti sudah punya kelebihan dibanding pendengar musik lainnya. Kelebihan itu akan mempengaruhi kedalaman tulisan.


Kelas Menulis Musik

KELAS MENULIS MUSIK BERSAMA RUDOLF DETHU

Lokakarya ini meliputi materi tentang penulisan rilis pers, profil band, dan reportase konser.

Sabtu, 4 April 2014, mulai pukul 14.00.

Di Kumpul Coworking Space
RUMAH SANUR – Creative Hub
Jl. Danau Poso 51A, Sanur

Investasi: Rp100.000 (sudah termasuk piranti lokakarya, makan sore, door prize).

Pembelian tiket: Sloka Institute
Jl. Noja Ayung (Gatsu Timur) no. 3—mulai pukul 14.00-17.00

Kontak:
Diah 081916299442 | diah@balebengong.net


Reklamasi Vs Revitalisasi: Eufeisme Tipu-Tipu

Warga Pulau Bali, belakangan lekat sekali mendengar istilah reklamasi dan revitalisasi. Kata reklamasi diakrabi lebih awal sejak isu reklamasi terhadap Teluk Benoa berhembus medio 2012. Sejak mulai terdengar ke publik, megaproyek reklamasi Teluk Benoa telah memicu pro dan kontra, menjadi perbincangan hangat di bale banjar hingga ke segala sudut pulau.

Bentuk-bentuk penolakan pun mewujud dalam baliho-baliho penolakan yang dipasang di segala sudut kota. Namun, muncul aksi tandingan yang ‘menjual’ wacana revitalisasi Teluk Benoa. Seakan tak mau kalah, baliho dukungan terhadap revitalisasi pun ramai dipasang di segala sudut kota.

Warga Bali pun jadi bimbang. Yang tadinya menolak reklamasi mulai beralih menyetujui revitalisasi. Ada juga yang teguh menolak reklamasi dan revitalisasi. Akibatnya, perang argumen pun masih berlanjut di masyarakat. Yang teguh menolak beralasan revitalisasi hanya kedok untuk tetap menguruk Teluk Benoa. Sementara itu, yang setuju mengajukan alasan revitalisasi bagus untuk perekonomian warga.

Reklamasi dan revitalisasi sebenarnya menjadi kata baru dan asing buat warga Bali. Reklamasi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia bermakna ‘usaha memperluas tanah (pertanian) dengan memanfaatkan daerah yang semula tidak berguna (misal dengan cara menguruk daerah rawa-rawa)’. Dalam terminologi tata lingkungan, reklamasi dimaknai sebagai pekerjaan atau usaha dalam pemanfaatan suatu kawasan atau lahan yang tidak berguna dan berair untuk dijadikan lahan yang berguna dengan cara dikeringkan. Di lain hal, KBBI memberi makna revitalisasi sebagai proses, perbuatan menghidupkan atau menggiatkan kembali.


Vive Le Banksy, Je Suis Charlie

Saya sering mendadak bingung—sehingga membuat saya segera meremas testikel sendiri—ketika, contoh paling aktual, terjadi pembantaian biadab terhadap belasan pegawai Charlie Hebdo belum lama ini, selang sebentar muncul argumen-argumen pembenar. Tindakan yang sangat jahat, primitif, barbar, sedemikian rupa dicarikan justifikasi ini-itu. Baik secara terang-terangan (“Yang menghina agama pantas dibantai!”), pasif-agresif (“Ketika menghina sebuah isu hipersensitif ya mesti siap terima risiko…”), atau malu-malu (“Pembunuhan adalah tindakan biadab, sungguh turut berduka. Namun jika mengingat apa yang Barat telah lakukan terhadap Timur sebenarnya tragedi Charlie Hebdo bukan apa-apa…”). Argumennya dilanjutkan dengan penjabaran statistik serta teori-teori canggih pembenar dari tokoh-tokoh terkenal.

Jika saya perhatikan, kecenderungan demikian cukup kerap muncul di media sosial, terutama di Indonesia. Hingar bingar itu umumnya dikarenakan satu hal: simbol agamanya diusik.

Sementara itu, saya pribadi setiap kali terjadi kejadian sebangsat itu, di mata saya yang terlihat cuma pembunuhan, keluarga yang terbunuh menangis, kesedihan tiada tara. Barangkali berikutnya saya ikut membahas apa penyebabnya. Tapi saya tak pernah ikut membenarkan baik secara frontal, pasif-agresif, atau malu-malu.


designed by: Saylow