RUDOLF DETHU

ROARS. RANTS. RAVES. RIGID. REBEL. ROCK-N-ROLL

Trans Nevada-California & Death Valley Boogie Woogie

Menyusuri padang gurun Nevada, menembus terik matahari, menuju Lembah Kematian, menjalankan ritual pemotretan, pengambilan gambar video, disertai penyucian barang-barang pusaka: sisir dan pomade. Demi menuju klimis-makmur pompadour, gemah ripah loh jinawi rockabilly.

Sejatinya kedatangan the Rockabali Rebels ke Amerika Serikat bukan cuma untuk tampil di ajang adiluhung Viva Las Vegas Rockabilly Weekend serta pertunjukan lainnya, namun juga membuat film dokumenter serta video klip. Makanya turut di dalam rombongan si pembuat video klip termahsyur di Bali, Erick Est, serta kru setia The Hydrant yang di tur Las Vegas-Los Angeles ini dirangkapkan statusnya menjadi asisten videografer, Budi SD.

Sejak dari Bali, sebelum the Pompadour Four berangkat ke negeri Abang Sam, Erick telah mulai mencicil adegan-adegan (stock shot) untuk film dokumenter serta video klip tersebut. Menyasar seputaran Denpasar, di bandara Ngurah Rai, saat transit di Taipei, dalam pesawat, ketika tiba di Tom Bradley LAX, pula tentu saja kala The Hydrant mencengangkan audiens Viva Las Vegas di Bienville Room.

Salah satu lokasi paling penting dalam isu dokumentasi ini adalah Death Valley. Taman nasional yang terletak di antara Nevada dan California ini merupakan wilayah paling rendah, paling kering, dan paling panas di sepanjang Amerika Utara. Beragam fakta mencekam tersebut barangkali membuatnya pantas digelari sebagai Lembah Kematian. Dan memang, ketika kami tiba di situ setelah 2-3 jam berkendara dari Las Vegas, nuansa horor tersebut sayup-sayup terasa. Tandus. Terik. Masif. Keji.


The Hydrant Menggoyang Viva Las Vegas dengan Parlente

Datang, berdendang, dan menang. Datang dari jauh, berdendang boogie woogie, & menang banyak.

Tak percuma The Hydrant melanglang buana ribuan kilometer demi misi suci: pembuktian diri, bahwa integritas & konsistensi membawa hasil mumpuni. Bahwa 4 putra daerah asal Pulau Bali ini, the Rockabali Rebels, bisa. Bahwa keterbelakangan ekonomi, paceklik finansial, bukanlah penghalang. Miskin pun tetap bisa menghasilkan karya bermutu tinggi.

Bienville Room di hotel-kasino The Orleans menjadi saksinya. Kuartet klimis tersebut mampu mengguncang ballroom yang merupakan salah satu lokasi keriaan di acara Viva Las Vegas Rockabilly Weekend itu. Sebagian besar penonton yang sepertinya kurang familiar dengan The Hydrant nyaris sedari awal hingga akhir pertunjukan meringis histeris terus.

Semua kisah manis The Fabulous Four Kruisin to Fabulous Vegas bermula dari keisengan sang pencabik bas betot, Adi, yang berkirim surat elektronik sekitar satu tahun silam. Ia mencoba menyapa Tom Ingram, sosok legendaris penggagas Viva Las Vegas Rockabilly Weekend (selanjutnya disingkat Viva Las Vegas). Adi bermimpi sekiranya The Hydrant bisa tampil di festival musik rockabilly terbesar sejagat—dihadiri belasan ribu orang setiap kalinya—serta terkonsisten sepanjang sejarah (tahun 2016 adalah penyelenggaraan yang ke-19) tersebut. Tautan tentang The Hydrant komplet disertakannya di surel itu. Selanjutnya? Ya menunggu. Harap-harap cemas. Well, bukan harap-harap cemas sebenarnya. Lebih tepatnya: kalau diterima ya tentu girang bukan kepalang, kalau ditolak ya mau gimana, yang penting sudah berusaha. Alias lebih banyak rasa pesimistik dibanding optimisitik.

Tiada dinyana, tanpa disangka, Tom merespons salam dari Adi. Satu tahun kemudian. Ketika Adi bahkan telah (hampir) pupus harapan. Veteran rockabilly asal Inggris itu bukan cuma berbasa-basi sekadar berbalas sapa, berterima kasih lalu menghilang. Namun menawarkan The Hydrant unjuk kebolehan di Viva Las Vegas segala…

Adi jelas kaget gawat. Mimpi menjelma menjadi realita. Yeeha!


Viva Las Vegas: Klimis dan Kolosal

Bicara Viva Las Vegas bak bicara tentang kewajiban dalam agama. Utamanya bagi penganut kepercayaan rockabilly. Menghadiri Viva Las Vegas bagi umat rockabilly nyaris setara maknanya dengan naik haji ke Mekkah. Khidmat dan tawakal berserah diri pada Elvis Presley.

Acara bertitel lengkap Viva Las Vegas Rockabilly Weekend ini pertama kali diprakarsai oleh Tom Ingram. Pria berkebangsaan Inggris ini memutuskan meninggalkan London dan hijrah ke Southern California, Amerika, mengikuti kata hatinya. Padahal saat itu, 1996, ia telah lumayan sukses di Inggris lewat penyelenggaraan Hemsby Rock ’n’ Roll Weekender serta telah berpredikat sebagai DJ rockabilly lumayan terhormat namun jiwa mudanya yang menggelegak lebih mendorongnya untuk mencapai sesuatu yang lebih besar, lebih menantang.


25 Foto Musikal Nan Historikal & Mega Menawan

A picture is worth a thousand words. Ungkapan klasik tersebut jitu memaknai seberapa adiluhung nilai dari sebuah gambar. Pun demikian 25 foto yang ditampilkan di sini. Masing-masing imej sanggup mengisahkan seberapa menggugah, dinamis, dan berwarna dunia musik selama ini. Betapa musik menjadi bagian amat penting dalam kehidupan kita. Coba perhatikan antusiasme anak muda menyaksikan Ramones […]


Speaker Separatis

Diserang culasnya wewenang, pulau ini siap berperang.
Bersenjatakan mesin dan lencana, pagar ketulusan engkau robohkan.
Tunggu aku di jalan, tulusku sudah menjadi bara dan hari ini kau kan kulawan.
Teruslah hisap hingga habis darah dan identitasku, bersama kepulan tebal kanabisku.

Tapi tuan, jam pasir ini berbalik,
detik-detikmu tak bertuan,
menunggu barisan badai yg kan ledakkan istanamu.

Susunan speaker menjulang tinggi, frekwensinya lantang pecahkan Nusantara.
Speaker Separatis kan tebas tanganmu, gilas pionmu, kubur kuasamu.
Speaker separatis.

Dari Bali, jari tengah adalah diplomasi terbaikku.


Titik Normal: Menggugat Status Quo

Titik Normal adalah trio musisi yang justru ajaib, band yang tak pantas dicap normal.

Bayangkan, personelnya satu bermukim di Sydney, Australia, dua sisanya di Jawa. Genrenya jauh dari pop—definisi umum untuk “normal”. Ditambah kemampuan bermusik masing-masing personel yang bukan biasa-biasa saja, di atas rata-rata. Barangkali yang masih bisa disebut “normal” adalah prilaku dari tiap anggotanya yang hangat, rendah hati, bak saat bersua dengan kawan lama saja.

Tapi memang, Titik Normal maksudnya bukan mendeskripsikan tentang sesuatu yang normal. Malah mempertanyakan keabsahan dari standar normal. “Abnormal or unusual for many but for a few people it’s a normal thing. Titik Normal is in fact questioning the normal,” jelas Haniel Ko, pendiri Titik Normal.

Selain Haniel, grup yang baru resmi berdiri di awal tahun 2016 ini beranggotakan Arief Ramadhan serta Uziel Jayadi. Haniel (bas) sendiri sempat berkiprah di grup alternative rock Nutrix saat ia berkuliah di Universitas Udayana, Denpasar – Bali, mengisi bas di album kompilasi 1000 Gitar untuk Anak Indonesia keluaran majalah Rolling Stone Indonesia, membantu Baron di album Baron Soulmate, menjajal beragam klub musik di Sydney, Australia. Sementara Arif Ramadhan (gitar) merupakan personel grup musik metal Tumenggung, dan terlibat dalam konser monumental Duel Rock 2015 (Gribs vs Sangkakala). Sedangkan Uziel Jayadi (drum) adalah sosok lumayan beken lewat keterlibatannya di unit heavy metal veteran, Down For Life.


MBB Working for Colorful Indonesia

Perhaps the advent of social media opinion-purging makes a case feel more widespread than it is, but fundamentalism and proudly unadulterated discrimination seems to have done nothing but grow over the years.

With increasing outspokenness, ignorance — self-justified in the oddest of manners — can now be fully distributed with a simple tap of the “enter” or “send” buttons.

By the same token, an increasing number of rationale-pushing, socially conscious movements have increasing visibility.

One of them is Muda Berbuat Bertanggung jawab (MBB), which roughly translates as Young and Doing Responsible Things.

MBB describes itself as a “forum of diversity, a vessel to exchange minds, to encourage progressive thinking among youngsters — open, cultured and diverse. Proud to be different, always ‘dangerous’ while also staying responsible. Forward onto a self-determined and colorful Indonesia.”

While it is still relatively young, MBB, established by music manager Rudolf Dethu (whose CV includes the popular Balinese pop-punk group Superman is Dead), has actively taken its activities all over the country.

Open discussions, seminars, and forums are often held in public spaces, including universities, concert halls (between performances) and other places often frequented by younger audiences.


LEONARDO & HIS IMPECCABLE SIX ~ February Swing!

Rudolf Dethu Showbiz presents:

FEBRUARY SWING!
with LEONARDO AND HIS IMPECCABLE SIX

3 Feb 2016 – Taman Buaya TVRI, Senayan – Jakarta
5 Feb 2016 – Rolling Stone Cafe, Ampera – Jakarta
9 Feb 2016 – 365 Eco Bar, Kemang – Jakarta

All events are free of charge!

Merchandise will be available at each venue!


THE HYDRANT ~ My Music is Rock ‘n’ Roll Tour 2016

Rudolf Dethu Showbiz presents:

THE HYDRANT My Music is Rock ‘n’ Roll Tour • 3-9 Feb 2016

Jakarta-Bandung rockabilly invasion!
Video premiere of the Rockabali Rebels’ second single, “My Music is Rock ‘n’ Roll”!

3 Feb – Taman Buaya TVRI, Jakarta
5 Feb – Rolling Stone Cafe, Jakarta
6 Feb – Sapa Pagi Kompas TV, Jakarta
8 Feb – Ujang Gemi Beerhouse, Bandung
9 Feb – 365 Eco Bar, Jakarta

All events are free of charge!

And yes, tour merchandise also available in each gig!


Help The Hydrant to Perform in Vegas!

The Hydrant has made history. These four guys from Bali, the pioneers of rockabilly revival in Indonesia, have the honor to perform at the biggest rockabilly festival in the world, Viva Las Vegas, in the month of April 2016.

Tom Ingram, the originator of this most prestigious and longest running rockabilly event—it’s now the nineteenth year—personally sent an invitation letter. He warmly requested The Hydrant to perform, together with dozens of other rockabilly artists from around the globe.

Why historical? Till this nearly 20 years of the festival, never ever before an Indonesian band lucky enough to be on that prestigious concert stage in the rockabilly Mecca: Las Vegas. This is also a kind of little reminiscent where in the past a band from Timor, Eastern part of Indonesia, Tielman Brothers, gloriously amazed the Western world with their Indorock musical style.

The issue is, these young men are not really from a financially well-off background. Each member of the band still has their own day job to support themselves and their family. One is a beach life guard, the other a barber, the rest is an illustrator, a guitar teacher.

Yes, they need your help. Marshello, Adi, Vincent, and Christopper, need your support to show their amazing music skills and beautiful stage acts, to let the first-world people know that a band from a developing country is as awesome.

Let’s be part of history!


designed by: Saylow