RUDOLF DETHU

Roars Rants Raves Rigid Rebel Rock-n-Roll

Domestic Groove: JASON TEDJASUKMANA

DOMESTIC GROOVE ~ Celeb’s Chosen Nine was once my bi-monthly column in The Beat (Jakarta) mag but now I move exclusively to this blog. Basically it’s an interview via e-mail which focuses on small, intimate, domestic stuff; what Indonesia’s public figures are really into.

For the 52nd edition I went upclose-and-personal with Jason Tedjasukmana.


Tanda Petik, Tegak atau Miring: Menjuduli Album dan Menajuki Tembang

Coba perhatikan kalimat ini:

• Billy Idol baru saja menerbitkan Kings & Queens of the Underground. Sebelumnya, ia juga menggarap ulang “Flesh for Fantasy”.

Nah, bisa tidak situ membedakan mana judul album dan mana tajuk tembang? Ah, seandainya situ memang penjelajah musik pasti dengan mudah menjawab pertanyaan di atas. Namun seumpamanya sampeyan adalah kader militan PKS, beringas menghabiskan waktu cuma untuk mengkafirkan orang lain, memandang sesuatu melulu harfiah, tentu bakal sulit mengenali yang mana judul lagu yang mana tajuk rekaman.


Indonesia Maharddhika di Rock Spot

Setelah peluncuran resmi album kompilasi INDONESIA MAHARDDHIKA yang memperoleh sambutan amat hangat di Galeri Indonesia Kaya, mal Grand Indonesia, pada 21 Agustus silam, legiun progressive rock rasa Nusantara kembali naik panggung pertunjukan.

Kali ini mereka akan tampil di acara Rock Spot, sebuah acara yang di bulan September ini diselenggarakan tiap Kamis malam di Rolling Stone Cafe. Dari 10 grup yang terlibat di album, 6 di antaranya dipersilakan unjuk aksi di Rock Spot yaitu:

• The Miracle ft. Ezra Simanjuntak (Zi Factor)
• The KadriJimmo ft. Arry Syaf (Cockpit)
• Imanissimo ft. Andy /rif & Kadri
• Van Java
• Vantasma
• In Memoriam

Di acara yang tak dipungut karcis masuk alias bebas bea ini nantinya akan bisa didapatkan cakram digital INDONESIA MAHARDDHIKA serta merchandise pelengkapnya. Sementara itu, nama-nama beken di blantika musik Indonesia juga aktif terlibat di acara ini: Bens Leo sebagai kurator, Andre Opa menjadi host, serta trio ahli hukum, Kadri, Yeni, dan Ninot (YenNinotz Journey), yang menjabat Executive Producer, bakal hadir memeriahkan konser (Kadri, khususnya, akan bersenandung dengan beberapa pengisi acara). Tiap-tiap band nantinya dijatahi 2-3 tembang untuk dimainkan di depan publik.


INDONESIA MAHARDDHIKA

Beberapa bulan belakangan ini saya ikut terlibat dalam penggarapan album kompilasi INDONESIA MAHARDDHIKA (IM) yang berisikan sepuluh lagu dengan padu padan antara rock, jazz, pop, serta sedikit klasik, dengan warna-warni nuansa Nusantara yang lumayan pekat. Album ini telah dirilis secara resmi beberapa hari lalu dalam format cakram digital dan rencananya disusul dengan piringan hitam dalam beberapa bulan ke depan.

Untuk memperoleh gambaran lebih lengkap tentang IM di sini saya tampilkan rilis pers resminya yang saya tulis untuk kebutuhan peluncuran formal album IM di Galeri Indonesia Kaya, Grand Indonesia, pada 21 Agustus 2014. Saya sisipkan juga videoklip IM yang menampilkan nukilan 4 tembang utama yang ada di album, juga video art karya Ayip dan tim grafis, serta album foto yang menampilkan rupa-rupa suasana peluncuran albumnya di Galeri Indonesia Kaya.


Rock in Capital

Duo laki-bini keren, Leo Sinatra dan Liz Oprandi, kembali berkolaborasi menggebrak pulau Dewata. Dalam rangka merayakan ulang tahun yang ke-2 institusi rock ‘n’ roll milik mereka, St. Lukas Company, akan diselenggarakan acara bertajuk St. Lukas Fest #2: Rock in Capital pada Jumat, 22 Agustus 2014, di lapangan Kompyang Sujana/Buyung, Lumintang.

Dibandingkan dengan pesta tahun kemarin yang cenderung bersahaja, dalam kapasitas kecil, maka kali ini skalanya lebih eksesif. Selain diadakan di tempat sekelas lapangan juga mengajak serta grup-grup papan atas dan veteran di skena musik nasional. Sebut saja misalnya Superman Is Dead, The Hydrant, dan band psychobilly yang digitari Leo, Suicidal Sinatra. Pula yang sedang naik daun di blantika lokal macam Jackknife Blues, Deep Sea Explorer, Garden Grove, serta Natterjack.

Yang menjadikan St. Lukas Fest kali ini makin pantas diberi perhatian lebih adalah akan tampilnya Travis Demsey, mantan penggebuk drum band punkabilly mahsyur asal Australia, The Living End. Selain itu bakal beraksi juga drummer Wolfmother, Dave Atkins.


Jokowi, Anies Baswedan, Amien Rais, dan Koar-koar Apolitis

Berondongan kalimat berikut ini sejatinya saya ungkapkan di status Facebook saya belasan menit yang lalu. Saya rasa perlu saya munculkan juga di situs pribadi saya untuk menegaskan sudut pandang saya tentang pro-kontra copras-capres di lini masa: bagaimana sebagian orang merasa terganggu bahwa linimasanya riuh oleh publik yang membahas siapa capres paling pas di masa depan. Ada yang marah besar. Ada yang menggerutu. Ada yang menggurui.

Berikut adalah sikap saya tentang hal tersebut, sekaligus menjelaskan pilihan politik saya—yang dituturkan dengan tutur kata terjaga serta mengedepankan akal sehat oleh Anies Baswedan di video terlampir.

…Sejujurnya saya memang menyukai Jokowi. Walau tidak sampai setengah mati. Sebab saya masih mencoba kuat menjaga keberpihakan yang rasional, dengan akal sehat. Yang jelas, saya bermula menyukai Jokowi karena ia penggemar musik rock, sebuah fenomena ganjil di birokrasi pemerintahan. Penyuka rock sering, bagi saya, terhubung dengan imej “merdeka”, berani melawan arus, tak mudah disetir. Sesuai dengan fitrah rock-n-roll: membebaskan. Lalu mulai saya amati kiprah Jokowi di pemerintahan, wah, memesona. Ia bekerja, turun ke bawah, bukan priyayi. Apalagi ia bukan bagian dari masa lalu, bukan bagian dari masalah, tiada beban sejarah.


ROCK THE VOTE: #MelawanLupa

“If you are neutral in situations of injustice, you have chosen the side of the oppressor. If an elephant has its foot on the tail of a mouse and you say that you are neutral, the mouse will not appreciate your neutrality.”

Kalimat mahsyur dari Desmond Tutu tersebut bisa secara lugas menjelaskan alasan lahirnya inisiatif kami untuk menyelenggarakan konser Rock the Vote: #MelawanLupa. Sikap tidak netral atau golput dan tegas menetapkan pilihan muncul dari kekhawatiran kami akan kembalinya sosok cacat sejarah yang potensial bakal memimpin kehidupan bernegara.

Jangan sampai figur bermasalah yang diduga melakukan pelanggaran HAM, menculik para aktivis yang hingga kini belum kembali—entah masih hidup atau telah berpulang, sungguh mengerikan jika kemudian menduduki tahta kekuasaan.

Tindak kejahatannya saja belum tuntas diusut, rasa keadilan bagi pihak-pihak yang sanak keluarganya dilenyapkan pun belum sama sekali terselesaikan, kenapa tiba-tiba ia bahkan diberi jalan untuk mencalonkan diri sebagai presiden, pemegang kekuasaan tertinggi di Republik ini?

Sosok bermasalah bersama koalisinya ini, sekali lagi, jangan sampai terpilih menjadi pemimpin negara ini. Caranya adalah dengan membuka lebih lebar wawasan, pengalaman terutama di kalangan anak-anak muda (pemilih pemula) yang minim pengetahuan sejarah, khususnya kasus-kasus pelanggaran HAM yang terjadi pada 1998, serta kejahatan terhadap kemanusiaan lainnya di masa lalu. Menolak ahistoris. Melawan lupa.


Kill the DJ: Bersatu Padu Coblos Nomor Dua

Marzuki Mohammad alias Kill the DJ—berkolaborasi dengan @jah_balance—baru saja menerbitkan sebuah tembang yang bisa diunduh secara gratis. Memang, sang seniman hiphop agraris ini terbilang sering mendistribusikan lagu di jagat maya dengan bebas bea. Namun kali ini, yang membedakan adalah karyanya, “Bersatu Padu Memilih Nomor Dua”, khusus ia ciptakan guna menunjukkan dukungannya kepada Jokowi serta menganggapnya sebagai sosok pemimpin masa depan, membawa negeri ini ke arah yang lebih baik. Sesuai senandung Kill the DJ, “Apa yang dibutuhkan Indonesia, jujur, sederhana dan bekerja.”


Adrian Adioetomo: Sabda Baru

English version please click here

Pada hari Sabtu tanggal 24 Mei 2014 Adrian Adioetomo (MySeeds Records) mengadakan sebuah penampilan di Coffee War, jl Kemang Timur no. 15A.

Acara akan dimulai dengan diputarnya videoclip single ke dua dari albumnya Karat & Arang yang berjudul “Sabda Baru”. Ini sekaligus menandakan diluncurkannya lagu tersebut untuk publik di channel YouTube Adrian.

Selanjutnya, Adrian akan lanjut tampil membawakan lagu2 pilihannya. Lagu yang dimainkan tidak terbatas dari album Karat & Arang saja, tapi juga dari dua album sebelumnya, Delta Indonesia dan Plays Standards… (Sort Of). Bahkan kemungkinan ada lagu dari luar album2 tsb.
Yang istimewa dari penampilan kali ini, Adrian akan bercerita tentang kisah di balik lagu2 yang ia bawakan. Ini kesempatan untuk mengintip apa maksud lagu2 itu sebenarnya, dalam suasana yang santai dan akrab.

Mari saksikan bersama videoklip dan single “Sabda Baru”, simak penampilan Adrian dan berpartisipasi dalam obrolan cerita santai bersama.


Navicula: Ayo Bawa Harimau-Harimau Ini ke Roma!

Ada satu hal yang pantas diteladani dari Navicula: sifat pantang menyerahnya. Walau tak selalu tegap tegak menantang, terkadang limbung juga diterjang badai di skena musik, namun bersikeras maju terus. Lanjutkan langkah. Harus sampai. Mesti tercapai.

Bayangkan, empat sekawan ini telah berkesenian sejak 1996, pantas menyandang gelar veteran. Mulai dari manggung di acara-acara kecil di banjar, bazaar, hingga bar. Berlanjut dengan “nyaris” go-national ketika bergabung dengan label raksasa, Sony BMG/Sony Music Indonesia, dan merilis Alkemis. Namun cita-cita Navicula ketika itu belum bisa kesampaian. Sepertinya penikmat musik Indonesia masih kagok memahami apa maunya paguyuban cadas asal Bali ini. Bisa jadi mereka sedikit terlampau mendahului jaman. Menjadi musisi sekaligus environmentalis, bahkan pada tahun 2005, masih anomali, aneh sendiri, belum se-hipster hari ini.

Robi (gitar, vokal), Dankie (gitar, vokal), Indra (bas), Gembull (drum), kemudian memilih untuk memisahkan diri dengan Sony dan memutuskan indie lagi. Bayangan akan jalur bebas hambatan yang telah menanti—pendistribusian yang lancar mencapai pelosok Nusantara, promosi besar dan gencar di berbagai media, tawaran manggung nan melimpah ruah—harus dikubur dalam-dalam. Mesti mengulang dari awal. Restrukturisasi strategi. Balik jadi gembel.

Kondisi sedemikian celeng ternyata tak sanggup membunuh semangat Navicula. Dukungan moral kuat dari para sahabat, penghormatan dari sesama musisi dan kritikus seni yang gamblang bilang bahwa karya-karya Navicula adalah adiluhung, jitu menggelorakan gairah untuk terus maju. Sirna menghilang bukan pilihan. Apalagi, seperti kata Robi, “Musik adalah agama kami.”


designed by: Saylow