RUDOLF DETHU

Roars Rants Raves Rigid Rebel Rock-n-Roll

Swingout Session with the Space Cadets

An amazing evening of rockabilly swing, space rock, and psychedelic groove.


JFCC Charity Jam 2015 – Photos

Hot bands.

Cold beers.

Warm crowd.


ForBALI di Greaser Party, Jak; dan Aksi 8-9 April, Dps

Bagi kawan-kawan yang berdomisili di Jakarta yang bersimpati dengan gerakan kami, Bali Tolak Reklamasi, mulai hari ini hingga Minggu malam, 10-12 April 2015, anda bisa mendapatkan rupa-rupa merchandise di gerai ForBALI—Forum Rakyat Bali Tolak Reklamasi—di acara Indonesia Greaser Party (IGP) di Plaza Barat Senayan.

Kebetulan panitia IGP telah berbaik hati kepada kami dan menghibahkan gerai gratis. Perlu diketahui, gerakan kami adalah gerakan independen, mandiri, bebas merdeka, bisa bernafas panjang berjuang semata dari kebaikan hati anggota serta dukungan material-moral dari pihak luar.

Terima kasih banyak kawan-kawan yang begitu tulus membantu kami. Ya, kami takkan pernah mau berunding dengan maling yang hendak menjarah tanah tercinta kami!

Lihat juga foto-foto aksi terbaru ForBALI turun ke jalan/parade budaya pada 8-9 April 2015.


Belajar Menulis Musik yang Apik Bersama Dethu

Oleh Diah Dharmapatni

Akhir pekan panjang patut diisi aktivitas ciamik, seperti kelas menulis musik.

Kemarin, BaleBengong bekerja sama dengan Kumpul Coworking Space menggelar Kelas Menulis Musik. Rudolf Dethu didapuk menjadi pembicara untuk kelas ini.

Dethu membagi pengalamannya dalam menulis rilis pers, profil band dan reportase konser. Menurut Dethu, tak perlu keahlian main musik untuk menulis tiga hal tadi. “Yang penting punya kesukaan kronis pada musik, itu sudah cukup,” katanya.

Kemampuan menulis musik bisa diawali dengan mengumpulkan album musisi tertentu. Penulis musik dengan album sangat banyak dan lengkap berarti sudah punya kelebihan dibanding pendengar musik lainnya. Kelebihan itu akan mempengaruhi kedalaman tulisan.


Kelas Menulis Musik

KELAS MENULIS MUSIK BERSAMA RUDOLF DETHU

Lokakarya ini meliputi materi tentang penulisan rilis pers, profil band, dan reportase konser.

Sabtu, 4 April 2014, mulai pukul 14.00.

Di Kumpul Coworking Space
RUMAH SANUR – Creative Hub
Jl. Danau Poso 51A, Sanur

Investasi: Rp100.000 (sudah termasuk piranti lokakarya, makan sore, door prize).

Pembelian tiket: Sloka Institute
Jl. Noja Ayung (Gatsu Timur) no. 3—mulai pukul 14.00-17.00

Kontak:
Diah 081916299442 | diah@balebengong.net


Reklamasi Vs Revitalisasi: Eufeisme Tipu-Tipu

Warga Pulau Bali, belakangan lekat sekali mendengar istilah reklamasi dan revitalisasi. Kata reklamasi diakrabi lebih awal sejak isu reklamasi terhadap Teluk Benoa berhembus medio 2012. Sejak mulai terdengar ke publik, megaproyek reklamasi Teluk Benoa telah memicu pro dan kontra, menjadi perbincangan hangat di bale banjar hingga ke segala sudut pulau.

Bentuk-bentuk penolakan pun mewujud dalam baliho-baliho penolakan yang dipasang di segala sudut kota. Namun, muncul aksi tandingan yang ‘menjual’ wacana revitalisasi Teluk Benoa. Seakan tak mau kalah, baliho dukungan terhadap revitalisasi pun ramai dipasang di segala sudut kota.

Warga Bali pun jadi bimbang. Yang tadinya menolak reklamasi mulai beralih menyetujui revitalisasi. Ada juga yang teguh menolak reklamasi dan revitalisasi. Akibatnya, perang argumen pun masih berlanjut di masyarakat. Yang teguh menolak beralasan revitalisasi hanya kedok untuk tetap menguruk Teluk Benoa. Sementara itu, yang setuju mengajukan alasan revitalisasi bagus untuk perekonomian warga.

Reklamasi dan revitalisasi sebenarnya menjadi kata baru dan asing buat warga Bali. Reklamasi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia bermakna ‘usaha memperluas tanah (pertanian) dengan memanfaatkan daerah yang semula tidak berguna (misal dengan cara menguruk daerah rawa-rawa)’. Dalam terminologi tata lingkungan, reklamasi dimaknai sebagai pekerjaan atau usaha dalam pemanfaatan suatu kawasan atau lahan yang tidak berguna dan berair untuk dijadikan lahan yang berguna dengan cara dikeringkan. Di lain hal, KBBI memberi makna revitalisasi sebagai proses, perbuatan menghidupkan atau menggiatkan kembali.


Vive Le Banksy, Je Suis Charlie

Saya sering mendadak bingung—sehingga membuat saya segera meremas testikel sendiri—ketika, contoh paling aktual, terjadi pembantaian biadab terhadap belasan pegawai Charlie Hebdo belum lama ini, selang sebentar muncul argumen-argumen pembenar. Tindakan yang sangat jahat, primitif, barbar, sedemikian rupa dicarikan justifikasi ini-itu. Baik secara terang-terangan (“Yang menghina agama pantas dibantai!”), pasif-agresif (“Ketika menghina sebuah isu hipersensitif ya mesti siap terima risiko…”), atau malu-malu (“Pembunuhan adalah tindakan biadab, sungguh turut berduka. Namun jika mengingat apa yang Barat telah lakukan terhadap Timur sebenarnya tragedi Charlie Hebdo bukan apa-apa…”). Argumennya dilanjutkan dengan penjabaran statistik serta teori-teori canggih pembenar dari tokoh-tokoh terkenal.

Jika saya perhatikan, kecenderungan demikian cukup kerap muncul di media sosial, terutama di Indonesia. Hingar bingar itu umumnya dikarenakan satu hal: simbol agamanya diusik.

Sementara itu, saya pribadi setiap kali terjadi kejadian sebangsat itu, di mata saya yang terlihat cuma pembunuhan, keluarga yang terbunuh menangis, kesedihan tiada tara. Barangkali berikutnya saya ikut membahas apa penyebabnya. Tapi saya tak pernah ikut membenarkan baik secara frontal, pasif-agresif, atau malu-malu.


Sejarah Jari Tengah serta Diplomasi Kontra Kultura

Gestur mengacungkan jari tengah seperti yang dilakukan Lemmy di foto yang terpampang di sebelah merefleksikan tindakan derogatori, menghina lawan bicara, melecehkan pihak lain. Isyarat itu bisa dibaca sebagai “fuck you”, “fuck off”, “go fuck yourself”, “shove it up your ass”, “up yours”, “die motherfucker”, “persetan kau”, “kontol barbar”, “bangsat rendah”, “pukimak”, dan macam-macam ungkapan nyolot nan murtad Pendidikan Moral Pancasila, agama, serta sopan santun.

Di jagat Barat, gestur jari tengah tersebut ditajuki the finger (olah tubuh seolah-olah “giving someone the finger”). Dikenal pula dengan nama lain seperti the finger wave, the middle finger, flipping someone off, flipping the bird, the rude finger, the one finger salute, dsb.

Mau tahu sejarahnya?

Manuver the finger ini konon telah digunakan sejak peradaban Yunani Kuno dan Romawi Kuno (antara 8 Sebelum Masehi hingga 600 Masehi). The finger merepresentasikan batang kemaluan. Sementara dua jari di sisi kiri dan kanannya diposisikan mewakili buah zakar. The finger pula melambangkan hubungan badan. Ketika the finger diacungkan ke pihak lain, artinya bahwa si pengacung sedang merendahkan pihak tersebut.


Domestic Groove: JASON TEDJASUKMANA

DOMESTIC GROOVE ~ Celeb’s Chosen Nine was once my bi-monthly column in The Beat (Jakarta) mag but now I move exclusively to this blog. Basically it’s an interview via e-mail which focuses on small, intimate, domestic stuff; what Indonesia’s public figures are really into.

For the 52nd edition I went upclose-and-personal with Jason Tedjasukmana.


Tanda Petik, Tegak atau Miring: Menjuduli Album dan Menajuki Tembang

Coba perhatikan kalimat ini:

• Billy Idol baru saja menerbitkan Kings & Queens of the Underground. Sebelumnya, ia juga menggarap ulang “Flesh for Fantasy”.

Nah, bisa tidak situ membedakan mana judul album dan mana tajuk tembang? Ah, seandainya situ memang penjelajah musik pasti dengan mudah menjawab pertanyaan di atas. Namun seumpamanya sampeyan adalah kader militan PKS, beringas menghabiskan waktu cuma untuk mengkafirkan orang lain, memandang sesuatu melulu harfiah, tentu bakal sulit mengenali yang mana judul lagu yang mana tajuk rekaman.


designed by: Saylow