RUDOLF DETHU

Roars Rants Raves Rigid Rebel Rock-n-Roll

JALANAN

Rupanya antara saya dan film JALANAN terbangun hubungan progresif. Tadinya saya adalah sebatas penggemar berat film dokumenter karya Daniel Ziv ini. Pertama kali, pada 2011, saya mengundang Daniel tampil menjadi salah satu pembicara di salah satu program di Bali Creative Festival di mana saya merupakan salah satu penggagas acara. Saat itu ia sedang di tahap akhir mengedit JALANAN dan membagi pengetahuannya ke audiens yang antusias memenuhi ruang diskusi. Berikutnya, pada Oktober 2013, saya berkesempatan menonton film yang diuliknya selama bertahun-tahun tersebut di Ubud Writers & Readers Festival. Saya jatuh cinta setelah menontonnya—dan ternyata bukan cuma saya yang kasmaran, seribuan penonton di Ubud Writers tampaknya terjerat asmara senada. Kami serempak tertawa, sesenggukan, berseru hore, bersungut protes, tersenyum ngikik, meneteskan air mata, tertawa lagi, bolak-balik terseret fluktuasi emosi. Tak aneh ketika akhirnya ketika sang sutradara asal Kanada menyelenggarakan pengumpulan dana sukarela oleh publik (crowdfunding) agar filmnya bisa dibawa dan diadu di festival-festival film bergengsi di luar negeri, ia sanggup melewati target dana yang dikejarnya. Saya lupa nilainya berapa, yang jelas dana yang didapat melimpah, melampaui sasaran. Oh ya, mohon dicamkan, saya juga ikut menyumbang. Hehe.


JFCC Charity Jam 2014

Setelah kini masuk tahun ke-5 dan menghadirkan grup-grup musik terbaik dari skena alternatif seperti Efek Rumah Kaca, Sajama Cut, Seringai, KOIL, White Shoes and The Couples Company, The Brandals, Sigmun, Jamie Aditya, dsb; tahun ini menjadi era pamungkas JFCC Charity Jam in memory of Tim Mapes.

Demi mengucap selamat dengan penuh kesan, menutup pertemuan paling terahuir kali dengan menawan maka JFCC Charity Jam kembali diadakan pada Sabtu, 22 Maret 2014, di Autopia, lantai 1, The Akmani Hotel; serta menampilkan jajaran paguyuban musisi sidestream istimewa yaitu Vague, Sore, ((AUMAN)) juga Teenage Death Star.


The Magnificent Zoot Suit Seven: Built for Speed

Just like the terminator once promised, a certain Leonardo has returned and this time he’s been built for speed! Yes, you read correctly, the Jakartan singer/songwriter has released a new album, Built to Race.

Leonardo, who used to go solo troubadour-style, has expanded into an institution of seven and named his new group Leonardo and His Impeccable Six. Once upon a time, circa his 2010′s The Sun album Leonardo was more of an adult contemporary, Jeff Buckley-esque, Tom Waits-ish composition kind of guy. This latest record sees him evolve into a zoot-suit era swing/jazz/rockabilly persona.


Island Skank: Jari Tengah adalah Diplomasi. Dari Bali.

Di mata umum, barangkali ska disangka sedang sekarat. Atau minimal semaput. Beritanya sepi. Pingsan dari segala kegiatan. Padahal faktanya tidak. Secara global, ska relatif baik-baik saja. Hanya sedang minim ekspos media. Dalam skala Nusantara, walau publikasi karya musik baru memang terbilang jarang namun skenanya sejatinya tetap jaya wijaya. Island Skank – Never Forget Your Roots, album kompilasi dari Bali yang baru saja terbit beberapa pekan silam mencoba menggebrak keheningan ska dari anggapan publik tersebut.


Domestic Groove: ARIE DAGIENKZ

DOMESTIC GROOVE ~ Celeb’s Chosen Nine is my bimonthly column in The Beat (Jakarta) mag. Basically it’s an interview via e-mail which focuses on small, intimate, domestic stuff; what Indonesia’s public figures are really into.

For the 51st edition I went upclose-and-personal with Arie Dagienkz.


Meracau Memantau Portmanteau

Belakangan saya sedang menyukai—oh, mungkin lebih tepat: belakangan saya sedang kembali menyukai serta tergerak untuk mengulik lebih dalam lagi—segala projek musikal oleh biduan bariton kalem/menenangkan/mematikan Bill Callahan. Menyebut nama itu tentu kita tak bisa lepas dari Smog, pseudonimnya sekaligus sebagai nama band-nya.

Dari penelisikan nan obsesif tersebut akhirnya secara natural melebar ke aspek kebahasaan, hal lain yang saya sukai selain musik (dan buku dan busana dan wiski). Saya berani menebak pasti banyak yang sudah ngeh bahwa “smog” merupakan penggabungan dari dua kata yaitu smoke dan fog. Mungkin cukup berlimpah juga yang paham jika istilah smog muncul di awal abad 20 untuk mendefiniskan jenis awan mutakhir seiring berkembangnya peradaban: awan yang lahir akibat kentalnya polusi udara. Awan “biasa” disebut cloud, awan dari pencemaran udara dijuluki smog.

Tapi, sudah tahu belum kalau kreasi padu padan kata-kata sedemikian rupa sehingga memunculkan makna baru disebut sebagai portmanteau?


Superman Is Dead: Anarchy for the Nation

One gig after another, Superman Is Dead is constantly on the road, almost always away from home and, thus, until recently, the Bali-born and raised three-chord combatants have had next to zero spare time to get their heavily tattoo’d arses back into the recording studio. The last time the Kuta boys released an album, Angels and The Outsiders, was in February 2009. That was four years ago, a figure which represents the longest interval between albums in the entire history of their career. Well, the good news that you’ve been waiting for has been and gone. Yes, the wait is over, because, just few weeks ago, otherwise described as this October just gone, the biggest punk rock band in Indonesia smacked us with their latest opus: Sunset di Tanah Anarki.


Domestic Groove: MARCEL THEE

DOMESTIC GROOVE ~ Celeb’s Chosen Nine is my bimonthly column in The Beat (Jakarta) mag. Basically it’s an interview via e-mail which focuses on small, intimate, domestic stuff; what Indonesia’s public figures are really into.

For the 50th edition I went upclose-and-personal with Marcel Thee.


Whiskey Makes Me Crazy: Kumpulan Video The Tossers

Dulu saya pernah bilang, dan kini saya bilang lagi: The Tossers adalah kolektif Celtic Punk yang duhai saya ultra sukai. Mereka, menurut saya, adalah yang paling pantas menerima obor estafet dari grup proto Celtic Punk asal Irlandia paling terhormat sejagat: The Pogues. Kebetulan di bulan Oktober 2013 enam sekawan ini baru saja merilis video terbarunya, “USA”. Untuk memberi penghormatan kepada musisi diaspora Irlandia di Chicago yang telah malang melintang selama lebih dari 20 tahun ini—mereka berdiri sejak Juli 1993—maka saya sengaja kumpulkan video-video resmi yang pernah mereka rilis, secara periodikal, mundur ke belakang. Selamat menikmati! Sláinte!


Imanez: Sunset & Sunrise

English version click here

Sosok Imanez (almarhum) tidak banyak dikenal di masa sekarang. Ketika dilacak ke Google cuma sedikit sekali informasi yang bisa diserap. Pun di Wikipedia Indonesia, walau menyediakan keterangan tentang apa dan siapa Imanez, masih belum bisa dikategorikan komperehensif. Cukup tapi tidak cukup. Dan itu bukan sebuah fakta yang menggembirakan.

Musisi berbakat ini semestinya disuguhi ekspos lebih besar oleh media massa serta diberi apresiasi lebih tinggi oleh masyarakat penyuka seni khususnya skena senandung dalam negeri. Sebab sumbangsihnya kepada blantika musik Indonesia terhitung signifikan. Yang paling bisa dicatat adalah jasanya dalam mempopulerkan genre reggae ke publik luas, ke seantero Nusantara. Ia merupakan salah satu sosok penting yang memberi warna berbeda terhadap musik Indonesia pada pertengahan 90an yang notabene monokrom, statis di sekitar tema asmara picisan dengan irama pop mendayu-dayu. Tak hanya sampai di sana, satu tembang yang membuat namanya menjulang, “Anak Pantai”, pula secara bawah sadar bak menegaskan bahwa identitas reggae Indonesia adalah menyukai pesta, berperangai santai, bukan kriminal—mendamba damai, serta dekat dengan pantai. Seperti deretan syair yang tertuang di lagunya,

Gak kenal waktu / Party selalu / Yang ku suka hanyalah sunset dan sunrise…
Ooo…Anak pantai / Ooo…Suka damai / Ooo…Anak pantai / Ooo…Hidup santai


designed by: Saylow