RUDOLF DETHU

Roars Rants Raves Rigid Rebel Rock-n-Roll

Domestic Groove: DOCHI SADEGA

DOMESTIC GROOVE ~ Celeb’s Chosen Nine tadinya adalah kolom khusus dwi-bulanan saya di majalah The Beat (Jakarta). Kini saya alihkan dan muat secara eksklusif di blog saya.

Kolom ini pada dasarnya adalah sebuah wawancara lewat surat elektronik yang mengupas sosok tenar lokal secara intim, hangat, domestik.

Untuk edisi ke-55 ini saya menelisik akrab sisi pribadi Dochi Sadega.


Ngabuburit & Akustikan: Peluncuran Situs Web MBB

Acara peluncuran situs web forum pluralisme MBB — Muda Berbuat Bertanggung Jawab, forumMBB.org, sukses digelar pada Kamis silam, 25 Juni 2015, di Rumah Sanur – Creative Hub, Denpasar, Bali.

Ajang penyadaran kembali tentang pentingnya menghargai kebinekaan tersebut—yang sejatinya cukup “berat” dan membutuhkan nalar yang jernih untuk memahaminya secara utuh—berhasil menggaet perhatian publik muda akibat kemasan yang dibuat agak pop. Tak cuma melulu berisikan introduksi tentang situs web saja, tapi juga dibarengi dengan talk show, pagelaran musik akustik, serta aksi DJ.

Ratusan penonton yang menjejali tempat acara tampak antusias mengikuti jalannya acara yang diawali dengan diskusi bertajuk “Muda dan Merdeka: Menjadi Jawa, Menjadi Arab, Menjadi Indonesia”. Sesi yang melibatkan penyanyi Glenn Fredly, seniwati Ayu Laksmi, biduan sekaligus aktivis lingkungan Robi Navicula, dan budayawan Sugi Lanus, dan saya sebagai moderator sekaligus konseptor acara, membahas soal kegamangan anak muda mencari jati diri keindonesiaannya itu disimak dengan tekun oleh audiens serta sesekali dihadiahi tepuk tangan saat muncul kalimat motivasional dari para nara sumber.

Setelah diskusi dilanjutkan dengan acara utama yaitu memperkenalkan situs web forumMBB.org. Saya terangkan soal latar belakang lahirnya forum pluralisme bahwa fondasi kebinekaan di Nusantara sedang terancam. Forum MBB ini adalah salah satu cara yang ditawarkan untuk mempertahankan dan memperkuat pluralisme yang sedang digerogoti dan mulai agak goyah itu.

Pasca acara yang cukup serius, segera disambung dengan sesi bersenandung dengan menampilkan musisi-musisi lokal Bali berbakat cemerlang yaitu Nosstress, lalu NYMPHEA, diselingi oleh Glenn Fredly tampil solo yang kemudian berbagi panggung dengan Navicula. Koor-koor dadakan muncul di sana-sini sejak band pertama tampil. Pun ajakan-ajakan untuk selalu menjunjung pluralisme, terus menghormati tinggi Bhinneka Tunggal Ika, sesekali diserukan oleh penampil.

Acara kemudian ditutup oleh duo DJ yang berbeda aliran, Soundbwoy Dodix yang mengarah ke Jamaican chunes dengan DJ Electrondust yang asik menggeber rupa-rupa electronic music.

Sampai jumpa di acara MBB ke berikutnya. Teruslah merdeka menjadi bianglala!


Aimee Saras Menjadi Pemeran Utama di Halfworlds

Selain bersenandung swing, bakat biduanita Aimee Saras lainnya adalah berakting—teater, drama musikal, dan sejenisnya. Kala ia masih tinggal di New York ia terbilang akrab dengan gono-gini Broadway. Salah satu yang menonjol, wanita bernama asli Dyah Rahmi Saraswati ini sempat selama tiga tahun memerankan Gigi di musikal Miss Saigon. Saat ia kembali ke Indonesia ia langsung terlibat di beberapa pentas teatrikal besar salah satunya Onrop garapan Joko Anwar.

Beberapa bulan belakangan ini Aimee banyak menghabiskan waktunya di Batam. Ia mesti syuting untuk serial televisi orisinil produksi HBO Asia, Halfworlds. Aimee menjadi salah satu pemeran utama dalam thriller tersebut.

Di halaman dalam saya sertakan artikel dari Detikcom, mengisahkan antusiasme Aimee terlibat di produksi serial ini. Terutama karena ia memerankan seniman rajah serta nihil adegan Aimee menyanyi jazz sama sekali.


Domestic Groove: REBECCA REIJMAN

DOMESTIC GROOVE ~ Celeb’s Chosen Nine was once my bi-monthly column in The Beat (Jakarta) mag but now I move exclusively to this blog. Basically it’s an interview via e-mail which focuses on small, intimate, domestic stuff; what Indonesia’s public figures are really into.

For the 54th edition I went upclose-and-personal with Rebecca Reijman.


Aimee Saras – Lenggang Temaram

Sadar akan pentingnya aspek visual sebagai salah satu kiat untuk mengenalkan musiknya ke khalayak, Aimee Saras meluncurkan video musiknya yang kedua, “Lenggang Temaram”, yang diambil dari album perdana Aimee Saras berjudul Swingin’ Aimee.

Video musik yang disutradarai oleh sosok muda berbakat Fahrul Rahman yang juga seorang fotografer dan seniman, diproduksi bersama oleh Rooftopsound Records dan MiniMax. Menampilkan deretan profil yang sudah tidak asing lagi di dunia perfilman seperti Ario Bayu, Fahri Albar, Joko Anwar, Kenes Andari dan Aghi Narottama. Pengerjaan video klip ini berlangsung sehari semalam dan mengambil beberapa lokasi di Jakarta seperti gereja Kanisius, taman Menteng, pertokoan Glodok Jaya, dan kantor Rooftopsound Records.

Ketika ditanyai tentang konsep video klip ini, Fahrul sang sutradara yang mengidolakan sutradara Guy Ritchie, Christopher Nolan, Michelle McLaren dan Joko Anwar, menjawab bahwa dia mengambil pendekatan ke film dengan konsep surealis. Dengan membaca lirik lagu “Lenggang Temaram” berulang-ulang serta disuguhi lirik yang tidak biasa, bernada getir seperti “Abuku selalu menunggu disapu sang waktu”, Fahrul mencoba memvisualkan lirik di seorang wanita yang tidak bisa melihat dirinya ditinggalkan oleh pasangannya lalu memutuskan untuk mengkakhiri hidup pasangannya sehingga cintanya tetap abadi.

Lagu “Lenggang Temaram” diciptakan sendiri oleh Aimee Saras dengan lirik dibuat oleh Sigit Praman dari Tiga Pagi dan Ade Paloh dari SORE. “Lenggang Temaram” merupakan salah satu lagu di album perdana Aimee Saras, Swingin’ Aimee yang dirilis dan didistribusikan oleh Rooftopsound Records di iTunes mulai Desember 2014 dan juga secara fisik mulai Mei 2015. Album yang berisi sepuluh lagu ini hampir semuanya diciptakan oleh Aimee Saras sendiri dengan Aghi Narottama sebagai music producer serta music director dan Doni Sundjoyo sebagai music arranger di bawah naungan label Rooftopsound Records.


Leonardo & His Impeccable Six feat. Rebecca Reijman

Dalam rangka penampilan mendatangnya di acara Bali Unite’s Media Gathering septet rockabilly swinger LAHIS tertarik untuk sedikit riang ria bereksperimen dengan mengajak serta Rebecca Reijman yang sempat cukup lama vakum berdendang karena sibuk mengurusi keluarga. Di konser nanti rencananya LAHIS membuka lebar pintu bagi Rebecca untuk menyanyikan dua lagu: yang pertama ia bersenandung solo dengan diiringi oleh LAHIS, yang kedua berduet dengan LAHIS.


Domestic Groove: LEONARDO RINGO

English version click here

DOMESTIC GROOVE ~ Celeb’s Chosen Nine tadinya adalah kolom khusus dwi-bulanan saya di majalah The Beat (Jakarta). Kini saya alihkan dan muat secara eksklusif di blog saya.

Kolom ini pada dasarnya adalah sebuah wawancara lewat surat elektronik yang mengupas sosok tenar lokal secara intim, hangat, domestik.

Untuk edisi ini saya kembali menelisik akrab sisi pribadi Leonardo Ringo.

Oh iya, sebelumnya saya memang sudah pernah mewawancarai Leo untuk rubrik ini, di edisi ke-30. Bedanya, yang sebelumnya dalam bahasa Inggris, yang sekarang ini sepenuhnya dalam Bahasa Indonesia.


Pop Punk dan Revivalisme

Di Indonesia, barangkali hanya Bali satu-satunya daerah di mana punk rock menjadi musik arus utama, paling populer, menyalip genre apa pun.

Fenomena yang amat menarik. Sebuah anomali. Bisa jadi erat hubungannya dengan kedigdayaan Superman Is Dead dalam menaklukkan blantika musik Indonesia. Trio asal Pulau Dewata tersebut menjadi inspirasi utama bagi rekan-rekan sedaerahnya untuk memainkan aliran sejenis.

Dalam skala Nusantara, well, saya nihil data sahih bahwa memang Bobby Kool, Jon Eka Rock, dan JRX yang menggiring anak-anak muda beramai-ramai merangkul punk rock model mereka. Namun saya berjubel keyakinan bahwa tiga putra daerah tersebut memiliki porsi kolosal dalam mendongkrak popularitas punk rock hingga se-mainstream sekarang.

Orang-orang yang tadinya kurang yakin dengan pilihan punk rock-nya kemudian menetapkan hatinya secara penuh. Musisi yang sebelumnya memainkan punk rock garang, bukan yang tipe easy listening, berbelok lalu megentalkan sisi popnya agar lebih ramah di kuping. Para remaja tanggung bak diberikan petunjuk cepat-tepat haluan apa yang sebaiknya dipilih, lengkap dengan bukti seberapa manjur petunjuk tersebut. Gejala sedemikian rupa terjadi di banyak kota besar Indonesia.


Domestic Groove: RICKY SIAHAAN

DOMESTIC GROOVE ~ Celeb’s Chosen Nine tadinya adalah kolom khusus dwi-bulanan saya di majalah The Beat (Jakarta). Kini saya alihkan dan muat secara eksklusif di blog saya.

Kolom ini pada dasarnya adalah sebuah wawancara lewat surat elektronik yang mengupas sosok tenar lokal secara intim, hangat, domestik.

Untuk edisi ke-53 ini saya menelisik akrab sisi pribadi Ricky Siahaan.


Selamat Saraswati. Dirgahayu Hardiknas.

2 Mei 2015 menjadi kurun bersejarah bagi saya. Bagaimana tidak, dua momen penting bergabung menjadi satu: Saraswati, hari besar umat Hindu, jatuhnya bersamaan dengan Hari Pendidikan Nasional.

Hari Saraswati adalah hari pemujaan terhadap Dewi Saraswati, dewi ilmu pengetahuan dan seni. Di hari itulah, Sabtu Umanis Watugunung, umat Hindu percaya bahwa ilmu pengetahuan turun ke dunia.

Sementara Hari Pendidikan Nasional diperingati bertepatan dengan saat lahirnya sang pelopor pendidikan di Indonesia, Ki Hadjar Dewantara. Ia adalah juga pendiri lembaga pendidikan Taman Siswa.

Ilmu pengetahuan, pendidikan, serta seni, menurut saya merupakan kunci paling penting dari pembentukan akal budi seseorang. Lewat pendidikan yang baik—di sekolah dan luar sekolah—serta ilmu pengetahuan yang memadai manusia akan bisa mengambil keputusan yang tepat dan lebih piawai menyiasati masalah. Selain tentu pandai mengasah akal, menjadikannya cerdas, dan terbentuk sebagai sosok yang berpikir panjang jauh ke depan (visioner).

Oleh karenanya, sekolah dan perpustakaan merupakan elemen amat adiluhung di dalam konteks ini.

Jika satu tempat ibadah dibangun maka satu perpustakaan pula mesti didirikan.


designed by: Saylow