search

ICEMA: Hitungan Menurun Menuju Pemilihan Kampiun

Setelah melewati 2 periode, 29 April hingga 29 Mei memilih lima grup musik paling favorit di masing-masing kategori, 29 Mei sampai 29 Juni menyeleksi siapa-siapa yang berhak masuk nominasi, maka ajang festival musik bertajuk ICEMA (Indonesia Cutting Edge Music Awards) kini telah memasuki tahap akhir yaitu pengumuman nama-nama pemenang.
Facebook
Twitter
WhatsApp
Email
Print

Setelah melewati 2 periode, 29 April hingga 29 Mei memilih lima band paling favorit di masing-masing kategori, 29 Mei sampai 29 Juni menyeleksi siapa-siapa yang berhak masuk nominasi, maka ajang festival musik bertajuk ICEMA (Indonesia Cutting Edge Music Awards) kini telah memasuki tahap akhir yaitu pengumuman nama-nama pemenang.

Dari sedemikian berlimpah partisipan yang turut serta memberikan suaranya dalam kompetisi musik bukan mainstream—belakangan dikenal juga dengan sebutan cutting edge—ini, akhirnya yang dianggap sah alias sesuai prosedur tinggal 42 ribu orang saja. Ketua Panitia ICEMA 2010, Adhi Djimar, menegaskan, “Yang memilih lebih dari 42 ribu orang, tapi mereka yang tidak verifikasi ulang tidak kami hitung.”

Yang relatif mencengangkan, dari rentang umur para voter, jumlah terbanyak berada di kisaran 16 – 24 tahun, diikuti 25 – 34 tahun, serta 35 – 40 tahun bertengger di urutan ketiga. Simak komentar Adhi, “Kami tidak menyangka yang usia 35 – 40 tahun bisa mendapat porsi yang cukup banyak. Itu juga kami masih bingung, mereka itu entah teman-teman pemilih, entah siapa.”

Sementara itu, raihan penghargaan selain ditentukan dengan banyaknya jumlah voting via dunia maya, tim juri yang tergabung dalam Dewan Kategorisasi akan menetapkan juga juara menurut versi mereka sendiri yang terbagi dalam 3 klasifikasi: Best Album, Lifetime Achievement, pula Most Inspiring Artist. “Bukannya kami tak percaya pada penilaian publik, tapi kami takut hasilnya akan bias,” jelas ketua Dewan Kategorisasi, Denny Sakrie, tentang pengelompokan khusus tersebut.

Acara puncaknya sendiri akan dilangsungkan pada 18 Juli 2010 di di Epicentrum Walk dengan penampil: Tika and The Dissidents, The Upstairs, Goodnight Electric, Burgerkill, dan Pure Saturday. Berikut adalah sebagian kecil dari kategori yang dilombakan beserta salah satu bakal kampiunnya: Favorite Alternative Song (Efek Rumah Kaca – Kenakalan Remaja di Era Informatika), Favorite Singer – Songwriter (Frau – Mesin Penenun Hujan), Favorite Reggae and Ska Song (ShaggyDog – Honey), Favorite Folk/Country Song (Dialog Dini Hari – Pagi), Favorite Blues Song (Gugun and Blues Shelter – When I See You Again), Favorite Artwork for Album (The Upstairs – Magnet! Magnet!), dan lain-lain. Untuk nominasi lengkap silakan pergi ke situs resminya: http://www.icema.co.id

Revolusi. Sekarang. Ya, sekarang.

*Tulisan ini pertama kali saya tayangkan di majalah The Beat Jakarta edisi Juli 2010
*
Foto Efek Rumah Kaca oleh Satria Ramadhan

Facebook
Twitter
WhatsApp
Email
Print
Rudolf Dethu

Rudolf Dethu

Music journalist, writer, radio DJ, socio-political activist, creative industry leader, and a qualified librarian, Rudolf Dethu is heavily under the influence of the punk rock philosophy. Often tagged as this country’s version of Malcolm McLaren—or as Rolling Stone Indonesia put it ‘the grand master of music propaganda’—a name based on his successes when managing Bali’s two favourite bands, Superman Is Dead and Navicula, both who have become two of the nation’s biggest rock bands.
Rudolf Dethu

Rudolf Dethu

Music journalist, writer, radio DJ, socio-political activist, creative industry leader, and a qualified librarian, Rudolf Dethu is heavily under the influence of the punk rock philosophy. Often tagged as this country’s version of Malcolm McLaren—or as Rolling Stone Indonesia put it ‘the grand master of music propaganda’—a name based on his successes when managing Bali’s two favourite bands, Superman Is Dead and Navicula, both who have become two of the nation’s biggest rock bands.

Related

Versi Bahasa Indonesia silakan klik di siniCupumanik are back. These Bandung's grunge veteran just released their newest single with a video clip, "Grunge Harga Mati" a few days ago. This song is their first ever single after quitting from a major label. It's also their significant step to fully apply a kind of Do-It-Yourself ethos. Che, the frontman, said that starting December 2010 they will release one song every two months and give it away a.k.a. free of charge. Another six songs are ready to be distributed thru next year. The single "Grunge Harga Mati" is like a declaration that Cupumanik is identical to grunge, Cupumanik is grunge itself. They have always been tagged as a grunge band by the public, and it naturally has become their flesh and blood so this time they formally declared it. Regarding the video clip, it basically talks about the transformation that happened with Cupumanik, from major label to an indie band. It is expressed in the clip via the change in their fashion statement. Check out their newest single & video clip in YouTube. Keep updated with them via www.cupumanikband.com

RUDOLF DETHU

Scroll to Top