Homegrown & Well Known: ROBI NAVICULA

Flamboyant and charismatic, Robi, supported by his band, Navicula, is one of a few pioneers of all this green activism among Indonesian musicians.

Southeast Asia Closeup: Indonesian Punk Rock

Emma Baulch and I, we talked to RN Drive with Waleed Aly, ABC Radio, Australia, on February 09, 2012.

Go to the main page to download and listen to the podcast.

Negara dalam Keadaan Bahaya

Aktivis hiphop mbalela Marzuki Mohammad alias Kill the DJ kali ini datang bersuara lantang, mengingatkan semua orang bahwa negeri ini sedang limbung dan goyang lewat tembang “Negara dalam Keadaan Bahaya”.

Sangat direkomendasikan untuk disimak serta silakan diunduh bebas bea.

At a Glimpse: Ambassador Dethu from Bali

by Felix Dass

This music veteran from the land of gods has some simple inspiration for everyone.

Rudolf Dethu comes from Bali, a place where local music is in the minority from time to time.

Although the island is often noted as the melting pot of cultures, the local music scene is way behind that of other parts of Indonesia, and not many local acts have made their way to national recognition.

Acting as manager and propagandist, in 2003 Dethu led his revolutionary legion, Superman is Dead. With words, he simultaneously promoted the band via the Internet. Slowly but surely, the band’s music was heard and started to gain new fans nationwide.

LANJUTKAN!

Kiamat mungkin memang sudah dekat.
Keadilan untuk semua bisa jadi cuma dusta, fana
Kebahagiaan abadi, surga-neraka, semata tinja

Tapi jangan pernah putus berhasrat
Harus ogah menyerah
Sebab tinggal asa, harapan, yang kita punya
Agar senyum senantiasa benderang di wajah kita

Bagai musafir, melanglang berkelana, berlari
Kejar mimpi
Kejar mimpi
Kejar terus mimpi

Berharap, bermimpi, berlari

SELAMAT TAHUN BARU 2010

Bersulang,
RUDOLF DETHU

NASAKOM: Nasionalisme Aku Ompong. Hiya!

Tampaknya belakangan ini makin banyak telunjuk dari Nusantara deras mengarah menuju kerajaan jiran, Malaysia. Jari itu berbalutkan amarah membuncah. Lontaran kalimat beringas “tidak makan bangku sekolahan” pun melengkapinya. Plus bonus barbekyu bendera Jalur Gemilang…

Segala kegerahan tingkat nasional itu diawali oleh manuver Malaysia yang dianggap telah melangkahi kewibawaan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Tindak tanduk tetangga—nasionalisasi batik, Reog Ponorogo, lagu Rasa Sayange, tari Pendet, pulau Jemur—memunculkan ketersinggungan gigantik. Mendadak saja pemuda pemudi mulai Aceh hingga Papua lebur jadi satu bersepakat bersikap anti pada si tetangga yang sama-sama Melayu, lalu menyebutnya dengan nama baru: Malingsia. Bukan cuma itu, ada yang lebih spektakuler, sesosok sesepuh partai besar terang-terangan menyerukan komando, “Ganyang Malaysia!” Benar, gairah kebangsaan, jumawa pada negeri sendiri, semangat mengabdi, bela negara & tindak chauvinistik, serbaneka bau nasionalisme mendadak merebak menyengat ke seluruh penjuru. Ranah virtual—utamanya Facebook dan Twitter—didominasi oleh gemuruh gerutu masygul. Para tua-muda tiba-tiba menunjukkan simpati besar pada Merah Putih, Garuda Pancasila, Indonesia Raya, ultra bangga memproklamirkan dirinya sebagai orang Indonesia.

Scroll to Top